Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
BAB 73



Setelah sadar dari pingsannya, Sephora hanya bisa menerima kenyataan bahwa sekarang toilet adalah teman setianya. Ini sudah ke delapan kali, tapi sepertinya dia belum akan berhenti mondar mandir ke kamar mandi. Rasanya ingin sekali dia membalas Ariel dan membuatnya merasakan apa yang dia rasakan, tapi sekarang ini dia benar-benar tidak bisa melakukanya. Ibunya yang merasa kasihan hanya bisa kebingungan saja melihat putrinya tersiksa seperti ini. Dia ingin membawa Sephora ke Dokter, tapi pelayan mengatakan jika apapun alasannya tidak boleh meninggalkan rumah. Sudah coba membujuk baik-baik, bahkan sampai membentak dengan kasar, makian serta binatang juga sudah tersebut, nyatanya Sephora masih tak di ijinkan keluar dari rumah. Seperti itulah yang Ariel rasakan ketika tinggal bersama Ibu tiri dan Sephora dulu, pernah Sephora memberikan sup ayam yang sudah di campur obat pencuci perut, dan akhirnya membuat Ariel diare parah, tapi dengan alasan tidak punya uang dia di tahan di rumah sampai lemas hingga pingsan beberapa kali. Yang lebih menyakitkan adalah, satu atau dua jam setelah berasalan tidak punya uang, Ibu tiri dan Sephora memesan makanan mewah yang sangat banyak, camilan, juga minuman dari merek terkenal.


" Ariel, aku benar-benar akan membalas apa yang kau lakukan pada ku hari ini! " Kesal Sephora begitu perutnya kembali terasa mulas dan dia harus berlari masuk ke dalam toilet.


" Pft! " Ariel menahan tawanya melihat bagaimana Sephora tersiksa dengan kesakitan nya. Dia keluar dari toilet sekitar enam atau tujuh langkah, tidak berani jauh, karena tidak lama pasti sudah akan masuk ke toilet lagi. Maklum saja, Sephora itu sama sekali tidak suka makanan pedas, jadi tidak heran kalau akan begini respon tubuhnya dengan makanan ekstra pedas yang super ektrim.


Ibu tiri yang menyadari Ariel tertawa kecil dari kejauhan tentu saja dia merasa kesal, dia segera berjalan mendekati Ariel dengan mata yang begitu besar membulat melotot kepada Ariel.


" Kau sengaja ya?! " Tanyanya dengan mimik dan nada bicara yang mengintimidasi.


" Iya, kenapa memang? Lagian dia sendiri kok yang membuat makanan super pedas level neraka jahanam itu, jadi mana aku tahu? Padahal aku tadi Sengaja memintanya untuk ikut makan karena bagaimanapun dia adalah Kakak tiri ku, jadi adalah sedikit rasa kasihan dan sayang, tapi malah dia ingin meracuniku, jadi maaf saja. "


Ibu tiri mengerang kesal, tangannya sudah mengepal tak tahan dengan mimik Ariel yang terlihat begitu menikmati penderitaan yang di alami anaknya.


" Jangan harap kau akan selamat ya?! Disini aku harus menahan diri, tapi jangan lupa kalau aku bisa melakukan apapun yang aku mau nantinya. "


Ariel tersenyum dengan mimik wajah menghina.


" Iyalah tahu, kau kan jahat dan suka berbohong. Tapi sekarang aku tidak akan sebodoh itu kok, jadi jangan pikir bisa melancarkan niat jahat mu itu. "


Ibu tiri mengangkat tangannya kesal ingin memukul atau menampar pipi Ariel, tapi Ibu Maria yang entah sejak kapan berada di sana menahan tangan Ibu tiri dan menepisnya amanat kuat dengan tatapan mata yang begitu tajam.


" Sedikit saja jarimu menyentuh putriku, aku akan membuat mu merasakan bagaimana tidak memiliki jari. "


" Ibu? " Ariel tersenyum berbagai melihat Ibunya yang begitu keren.


" Masuklah sayang, wanita ini biar Ibu yang beri pelajaran. " Ucap Ibu Maria yang langsung di angguki oleh Ariel.


" Anakmu yang sudah berbuat jahat, jadi jangan salahkan aku yang tidak tahan dan ingin memberikan sedikit pelajaran. " Alasan Ibu tiri untuk bisa menyelamatkan diri dan juga agar rencananya untuk menikahkan Sephora dengan Bram tetap baik-baik saja dan berjalan lancar.


" Anakku ya? " Ibu Maria tersenyum miring dengan tatapan mengancam.


" Yang membuat makanan adalah putrimu, tapi kau dengan tidak tahu dirinya menuduh putriku? Sepertinya aku perlu menendang mu dan keluargamu keluar dan membiarkan kalian hidup seperti gelandangan. "


" Maaf, Maria! Sumpah aku tidak akan mengulanginya lagi, tolong jangan lakukan itu! "


Ibu Maria tersenyum.


" Kalau begitu, kau harus menerima hukuman karena sudah berbuat salah. "


" Apa?! " Ibu tiri mantap dengan tatapan kaget.


" Ikut aku! "


Beberapa saat kemudian.


Ibu tiri menatap tak percaya dengan hukuman yang diberikan Ibu Maria kepadanya.


Di sebuah kandang anjing yang benar-benar luas, ada banyak sekali anjing mahal seperti, French Bulldog, Afghan Hound, Canadian Eskimo, Azawakh, Tibetan Mastiff, dan ada juga Samoyed. Semua anjing dengan rupa yang berbeda-beda tapi tetap saja begitu menyeramkan bagi Ibu tiri, ditambah lagi mereka terus menggonggong dari dalam kandang membuat Ibu tiri semakin mengkeret ngeri.


" Ma Ma Maria, ba bagaimana kalau hukumannya yang lain saja? " Tanya Ibu tiri yang tubuhnya sudah bergetar hebat, wajahnya juga sudah sangat pucat mirip seperti mayat.


" Tidak, ini adalah hukuman yang paling ringan. Bersihkan kandangnya, jangan lupa memandikan anjing-anjing nya juga. " Setelah mengatakan itu Ibu Maria bergegas meninggalkan Ibu tiri yang berdiri dengan lutut gemetar, pandanganya tak fokus karena takut melihat wajah para anjing itu seperti berniat menggigitnya, merobek kulitnya, mengunyah dengan kasar, ah! Dia sampai pipis di celana sekarang ini.


Ibu Maria memegangi dadanya yang berdegup kencang melihat anjing-anjing peliharaan Leo dari jarak yang sangat dekat tadi. Iya, dia juga sangat takut dengan anjing peliharaan Leo, tapi dia yang ingin menghukum Ibu tiri hanya bisa berlaku sok berani meski dia sendiri seperti ingin pipis di celana.


***


Grade memandangi langit dengan tatapan kosong. Ini sudah sebelas hari dia menikah dengan Onard, dan sebelas hari juga dia merasa begitu sengsara dengan keadaanya. Dia ingin bebas seperti dulu, dia ingin pergi ketempat yang bisa membuatnya tenang, dia rindu teman-temannya, dia rindu suasana rumahnya, kakaknya, juga Ayahnya. Dia merindukan kekasihnya juga, dan semua perasaan itu membuatnya tak berdaya hingga tak mampu tersenyum dengan perasaan lega. Setiap kali dia ingin tidur dengan tenang pun, suara sirine ambulan, dan mobil polisi seperti terus terdengar, terngiang-ngiang tak mau hilang.


Sadar jika dia adalah anak dari seorang penjahat, tapi apakah sebagai seorang anak juga dia harus menghakimi Ayahnya? Mendengar kabar dari pengacara Ayahnya, Grade hanya bisa menahan peluh kesedihan di dada karena Ayahnya kemungkinan besar akan di jatuhi hukuman mati atas dasar pembunuhan berencana, juga percobaan pembunuhan yang belakangan ini dia lakukan, dia juga menyalah gunakan perizinan untuk usaha di luar negeri.


" Ayah, apakah tidak bisa membawa namaku saja agar kita bisa mati bersama-sama? Aku tidak ingin hidup kalau aku tidak memiliki kalian lagi. "


Bersambung.