Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
Bonus Chapter 40



Mike kembali ke apartemen dengan wajah lesu, tubuhnya memang sedang lelah jadi sulit untuknya berpura-pura semangat. Setidaknya ini sudah pulang sebelum waktu yang di tentukan Lope untuknya, tapi tidak bisa berbohong juga kalau dia masih ingin lebih lama berada di dekat Mario dan Wiliam dan menceritakan habis semua yang mengganjal di benaknya. Sungguh menyedihkan sekali memang, dia sih di layani dengan baik oleh Penelope, di memasak setiap hari untuk Mike makan, Lope juga yang mencuci baju, membersihkan apartemen, bahkan Lope juga yang menyiapkan air hangat untuknya setiap pagi, menyiapkan baju kerja, beserta kebutuhan lainnya. Mike sendiri tentu saja sadar benar tidak mudah menjadi Lope sehingga dia bisa merasakan nyaman tinggal di apartemen yang bersih, rapih, dan aroma yang segar setiap hari.


Mike menghela nafasnya, dia duduk di ruang tamu tanpa mengatakan apapun karena dia sendiri sangat malas untuk bicara. Tidak begitu mabuk sih, hanya saja kala teringat Lope yang terus diam membuatnya malas untuk berada di sana.


" Kau mabuk lagi? "


Mike tersentak dan kini dia menatap Lope yang menatapnya dengan tatapan marah. Sangat lucu sekali memang, wajah pendiam dan lugu Lope kalau marah benar-benar sangat menggemaskan.


" Kerjamu hanya seperti ini saja beberapa waktu terakhir, aku sudah meminta mu untuk sedikit saja perduli dengan masa depanmu. Kau ini apa tidak paham dengan bahasa manusia? Setiap hari selalu membuatku pusing memikirkan bagiamana kalau kau tidak berubah, apakah harus bertahan dengan mu, ataukah menyudahi hubungan pernikahan ini? " Ucap Lope sembari melepas kedua sepatu Mike, kaus kakinya, jam tangan, dan sekarang Lope tengah terisak setelah mengomel sembari membuka kancing kemeja Mike. Lope pikir Mike sangat parah mabuknya karena tak bicara sama sekali seperti saat mabuk sebelumnya.


Mike menggerakkan tangannya meraih pinggul Lope, membuat Lope terjatuh dalam pangkuannya. Wajah mereka kini saling menatap dengan jarak yang begitu dekat. Mike menaikan satu tangannya untuk menyentuh wajah Lope dan menyeka air matanya.


" Aku minta maaf, aku salah. Aku akan berusaha menjadi lebih baik, jadi tetaplah bersamaku, bantu aku dan dukung untuk mengubah sikap malas dan sembrono ku. Aku tahu aku salah karena hampir memukulmu saat aku terlena oleh sikap malas ku, aku akan berusaha sebaik mungkin jadi berhentilah mendiamkan aku, aku tidak tahan dengan diam mu. "


Lope mengangguk dan semakin terisak. Mungkin bagi seorang laki-laki tugasnya hanyalah untuk memberi makan dan memenuhi kebutuhan dan anggapan para lelaki apa yang sudah dia berikan kepada istri sudah yang maksimal, tapi jika di pikirkan kembali, bukankah apa yang di berikan istri bahkan tidak bisa di bandingkan dengan secuil pengorbanan seorang suami untuk keluarganya?


Mike, pria itu belum memahami benar bagaimana peran suami yang baik, bagaimana menjadi suami yang sebenarnya, tapi niat di dalam hati untuk berubah, setidaknya tidak perlu melihat wanitanya sendiri menangis seperti sekarang, apalagi harus mengahadapi diamnya seorang istri yang benar-benar bisa mengacaukan suasana hatinya.


" Jangan mendiamkan aku lagi seperti kemarin ya? Terutama saat kita sedang anu. " Ucap Mike dan langsung mendapatkan tawa kecil dari Lope. Tentu saja dia sadar benar sikap dinginnya beberapa hari belakangan ini sangatlah membuat Mike tidak senang, tapi ma bagaimana lagi? Saat itu dia benar-benar merasa sangat lelah dengan Mike yang selalu mengendapkan kata nanti dan pada akhirnya akan merengek meminta bantuan atau meminta uang dari orang tuanya. Memang benar orang tua Mike memiliki cukup uang, tapi kalau Mike yang adalah kepala keluarga, orang yang menjadi nahkoda malah tak memiliki minat untuk menjadi pemimpin, tentu saja Lope hanya bisa kebingungan sendiri dan tidak tahu harus bagaimana lagi sehingga memilih diam setelah lelah terus memohon.


" Kalau begitu, malam ini kau harus ekspresif ya? "


Lope mengangguk dan tersenyum sebelum akhirnya Mike mulai membenamkan bibirnya. Perlahan, dia menikmati bagaimana hangat dan lembutnya bibir Lope, hingga suasana yang memanas membaut ciuman bibir mereka juga semakin memanas. Mungkin ini yang namanya rasa berbeda, karena nyatanya Lope memang berbeda dari wanita sebelumnya. Lope lebih terasa hangat, dia juga memberikan sensasi yang berbeda sulit untuk Mike jelaskan bagiamana rasanya.


Mungkinkah semua itu karena ketulusan Lope? Mungkinkah keindahan yang belum dia dapatkan sebelumnya dari wanita lain karena perbedaan hati mereka? Hah! Kalau boleh jujur sebenarnya Mike sudah sering kali hanya beberapa menit saja untuk mencapai puncak saat dengan yang dulu sebelum menikah, itu karena dia tidak bisa merasakan sensasi seperti yang dia rasakan saat bersama Lope. Jika ada yang keheranan kenapa Mike menyukai wanita yang memiliki dada dan bokong besar, maka semua itu Mike lakukan untuk membangunkan keinginanya dan lama kelamaan menjadi sebuah kebiasaan. Sekarang semua sudah berbeda, dia memiliki Lope yang luar biasa tidak bisa di bandingkan dengan siapapun.


" Mike, kita akan melakukanya di sini? " Tanya Lope saat Mike melepaskan bibirnya dan mulai menyentuh leher dengan bibirnya sembari membuka kancing baju tidur yang di gunakan Lope malam itu.


" Hem..... " Mike benar-benar masa bodoh sekarang mau ada di mana, toh mereka hanya tinggal berdua saja di apartemen jadi untuk apa dan dengan siapa mereka malu?


" Mike...... "


" Fokuslah, Pe. Kalau kau terus memanggilku, bisa-bisa aku- "


" Aku, takut saat kita sedang melakukannya darah datang bulan ku keluar. "


Mike segera menghentikan kegiatannya, lalu menatap Lope dengan tatapan terkejut.


" Belum, ini sudah telat stau hari, aku takut nanti saat kita sedang- "


" Kalau begitu kita harus bergerak cepat, aku tidak mau keduluan oleh darah datang bulanmu! "


Mike membawa tubuh Lope untuk berpindah masuk ke dalam kamar dengan membopongnya.


***


" Sayang....... " Panggil Nara saat Mario sudah selesai mandi. Bukan untuk tujuan mesum, tapi ada hal yang sangat ingin dibicarakan Nara saat ini.


" Kau memanggilku dengan nada seperti itu, apakah kau memiliki niat yang sedang aku pikirkan? " Mario berjalan untuk menuju tempat tidur dimana Nara berada.


" Niat yang kau pikirkan sih memang aku memikirkannya, tapi masalahnya aku ini sedang ingin membicarakan sesuatu denganmu. "


Mario menghela nafas, lalu menatap Nara.


" Apa yang ingin kau bicarakan? "


" Nanti kalau aku belum bisa hamil apakah kau memiliki niat untuk mencari rahim yang bisa di sewa semacam itu? Kalau iya, tolong carilah wanita yang sudah berumur tiga puluh tahun ke atas, sudah memiliki banyak anak, memiliki suami, jangan terlalu cantik, jelek saja kalau bisa. Matanya tidak ada sebelah juga boleh, atau tidak ada hidung, tidak punya mulut, tidak ada- "


" Kau bermimpi lagi? "


" Tidak, mimpiku indah sekali siang tadi. "


" Jadi, kenapa kau bisa tiba-tiba membicarakan tentang rahim yang di sewakan sudah seperti kontrakan saja? "


" Aku, membaca novel setelah tidur siang tadi. "


Mario membuang nafas kasarnya.


" Novel yang sangat kreatif sekali, aku ingin sekali bertemu penulisnya, lalu memberikan saran untuk dia membuat novel tentang menyewakan usus besar saja. "


Bersambung.