Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
Bonus Chapter 54



" Ha hamil?! Kau hamil? Hamil sungguhan?! " Tanya Mike setelah Lope memberitahu hasil alat uji kehamilan yang pagi ini di gunakan oleh Lope.


Lope tersenyum, lalu mengangguk setelahnya. Iya, Lope sadar benar kok sudah hampir satu bulan dia tidak datang bulan. Tapi karena masih ingin menunggu dan tidak mau banyak berharap. Tapi, karena Lope mulai mengalami mood yang kadang tidak jelas, mual, makanya dia mencoba menggunakan alat uji kehamilan, dan yah! Hasilnya adalah positif, dia tengah hamil!


Mike masih terdiam menatap alat uji kehamilan, sungguh dia tidak percaya kalau pada akhirnya dia akan memiliki anak. Padahal sebelumnya dia masih berpikir seperti anak ABG yang hanya akan banyak menghabiskan waktu bersama dengan Lope saja.


" Kenapa diam begitu? Kau tidak senang ya? " Tanya Lope yang jelas akan salah paham karena ekspresi Mike seperti orang yang tidak senang.


Mike menggeleng dengan cepat.


" Bukan, bukan tidak senang. Aku hanya terkejut saja, jadi kita benar-benar akan punya anak ya? "


Lope mengangguk dengan wajah cemberut karena masih saja belum melihat wajah Mike terlihat bahagia.


" Kenapa? Kau benar-benar terlihat tidak senang loh. Apa kau sedang membayangkan kalau nanti badanku gemuk, perutku buncit? Kulitku kusam? Kau pasti tidak akan memiliki selera lagi ya? "


Mike mengeryit mendengarkan ucapan Lope barusan. Gemuk, perut buncit, kulit kusam? Haha.... Bukankah dengan begitu Antonio, atau siapapun juga tidak akan mungkin melirik istrinya? Ya ya ya ya ya ya..... Yes! Dia benar-benar bahagia sekali mendengarnya.


Lope kini menjadi bingung karena malah melihat wajah bahagia Mike di saat yang tidak tepat.


" Jadi, kapan perutmu besar, Lope? "


" Eh? "


" Bukanya bagus kalau perutmu besar? Dengan begitu Antonio, eh! Maksudku kau akan tambah lebih cantik loh. "


" Hah? "


" Aku tidak sabar deh lihat perutmu besar, jadi rencananya kapan perutmu besar? "


Lope menghela nafasnya.


" Butuh beberapa bulan lagi. "


" Apa?! Kenapa harus beberapa bulan lagi sih? Kenapa tidak sekarang, lima menit lagi? Sepuluh menit deh aku beri waktu. Ah, kala tidak, bagaimana dengan besok? " Mike meraih kedua tangan Lope, menciumnya satu persatu dengan wajah tak sabaran yang jelas lah membuat Lope kebingungan sendiri.


" Mike, kau ini sedang kenapa? "


" Sedang menunggu perutmu besar. "


" Sudah aku bilang tunggu beberapa bulan lagi! "


" Kenapa harus beberapa bulan? Bukanya bayi tidak akan cukup tinggal di perutmu yang rata itu? "


" Kemungkinan bayi kita ini ukurannya pasti sebesar titik dai pena. "


" Hah?! Kau ini sedang bercanda ya, Lope? "


" Mike? "


" Iya? "


" Aku ngidam. "


" Yah, terus kenapa? "


" Bodoh! Berarti kau harus menuruti semua yang aku mau! Karena ini adalah permintaan bayi kita. "


" Oh, oke! Mau apa, sayang? "


" Mau memukulmu! "


" Ngidam apa itu? Mana mungkin ada bayi yang mau memukul Ayahnya sendiri? "


***


Moza dan Wiliam kembali ke apartemen dengan perasaan lega. Yah, nyatanya anak itu memang bukan anak Wiliam, dan Wiliam bersedia membantu Julia mencari tahu siapa Ayah dari bayi yang baru ia lahirkan itu.


" Moza, jadi kita sungguhan akan punya bayi ya? " Tanya Wiliam yang sebenarnya sudah sedari tadi menahan diri untuk bertanya. Tapi karena melihat wajah Moza yang sedang tidak baik, maka Wiliam hanya bisa menahannya saja hingga sampai sekarang ini.


Wiliam tersenyum, dia menjalankan kakinya mendekati Moza yang sudah ingin membuka bajunya karena dia ingin mandi dan berpakaian dengan pakaian yang bersih.


" Wiliam, lepaskan tanganmu, kau tahu badanku lengket dan bau kan? " Ucap Moza setelah dia menghela nafas sebal karena Wiliam tiba-tiba saja memeluknya dari belakang.


" Bukannya yang bau bau itu enak ya? " Wiliam mengeratkan pelukannya, mencium pundak Moza dengan mesra.


" Sayangnya aku tidak bau bagaimanapun keadaan ku, jadi ucapanku tadi hanyalah untuk mengusirmu menjauh, Wiliam suamiku yang paling baik, pengertian, setia, dan juga mahal. " Moza menekan kalimat mahal di akhir kalimat guna menjauhkan Wiliam dari tubuhnya karena dia benar-benar merasa sangat tidak nyaman dengan keadaan tubuhnya.


" Duh, istriku ini pasti bahagia sekali memiliki suami sepertiku ya? "


Bahagia matamu!


" Jadi, karena kau ingin mandi, aku akan membantu supaya istriku baik-baik saja dan bisa lebih bersih dari biasanya, bagiamana? "


Moza menggigit bibir bawahnya menahan kesal yang luar biasa dia rasakan.


" Terimakasih banyak suamiku, tapi aku tidak begitu menyukai tingkah kemoceng berbulumu yang tidak tahu diri sekali, sebentar-sebentar berdiri. "


" Justru kau harus banyak bersyukur loh kalau si kemoceng berbulu katamu ini nakal dan bisa menggunakan lubangnya dengan baik, nanti kalau sudah tidak bisa nakal kau juga loh yah sedih. "


Moza membuang nafasnya lagi, kali ini dia sudah tida tahan dengan tingkah aneh Wiliam.


" Wiliam, biar aku beritahu baik-baik padamu ya? Kalau kau masih banyak tingkah seperti ini, jangan salahkan aku yang begitu menyukai kemoceng berbulumu itu untuk aku masukkan kedalam mulut seperti dulu. Bagaimana? Kau ingin merasakannya lagi? "


Wiliam langsung melepaskan tubuh Moza dan menjauh darinya. Begitu Moza berbalik menatapnya, Wiliam hanya bisa menahan diri dan tersenyum sebisanya.


" Si silahkan mandi, istriku yang paling cantik. " Ujar Wiliam menata mimiknya sebaik mungkin karena dia juga takut kalau Moza akan tersinggung saat mimik wajahnya salah.


Begitu Moza masuk ke dalam kamar mandi, Wiliam benar-benar menghela nafas lega. Bagaimanapun dia lebih baik colai satu pekan dari pada harus menggunakan mulut Moza yang sangat asal dan kasar saat sedang ehem kemoceng kesayangan miliknya.


" Suamiku, kau benar-benar tidak mau masuk? " Moza kembali mengeluarkan kepalanya karena dia juga benar-benar harus memastikan bahwa Wiliam tidak akan diam-diam masuk ke kamar mandi dan menggangunya yang ingin sebentar saja berendam di bathtub dan melegakan perasannya yang kacau itu.


" Tidak, aku kan sangat sayang istri, kalau istri tidak mau di ganggu ya tidak perlu di ganggu kan? "


Moza tersenyum


" Benar-benar suami yang baik. "


***


" Nara, kau sudah tidak mual lagi kan? Tadi masalah dokumen belum selesai benar, dan Luna sedang menunggu di ruang- "


" Huek! " Nara kembali mual padahal jelas kalau Mario sudah menemani Nara sekitar sepuluh menit dan Nara tidak mual lagi. Tapi begitu dia bilang akan menemui Luna, tiba-tiba saja Nara kembali mual.


" Nara, sebenarnya kau ini sedang kenapa? Aku tidak marah kalau kau cemburu kepada Luna, tapi- "


" Huek! "


" Kau marah dengan Luna ya? "


" Huek! "


" Nara? "


" Diam! Dia kau, Mario! Asal kau tahu ya? Mendengar nama Luna aku mual sekali! "


" Baiklah, jadi masalah dokumen dengan wanita itu- "


" Huek huek huek! "


" Luna Luna Luna " Ucap Mario meledek Nara.


Dan benar saja, Nara mual semakin parah.


Bersambung.