Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
BAB 30



Ariel melotot marah setelah berhasil menjauhkan tubuhnya, berikut juga dengan bibirnya dari Presdir Nard. Tak cukup sampai disitu saja, dia juga dengan reflek memberikan tamparan keras di pipi Presdir Nard. Marah? Iya jelas saja dia marah. Dia sudah cukup sabar ketika Presdir Nard mengatai suaminya, mengklaim bahwa suaminya adalah pria yang tidak berguna meski tidak secara langsung. Sebenarnya Ariel sudah menahan diri sedari tadi meski dia merasakan sulit menahan tangannya yang gemetar ingin sekali memukul mulut sialan yang sedari tadi menghina tiada henti.


Ini memang bukan ciuman pertama bagi Ariel, tapi dicium dengan sangat tidak bermartabat siapa orangnya yang tidak akan marah. Benar, Presdir Nard memang tampan, dia juga memiliki pesona tersendiri yang sulit ditolak bagi kaum hawa. Tapi, wanita yang dia cium dengan paksa adalah seorang istri dari seorang pria, apakah dia begitu tidak tahu malu? Ataukah dia ingin mencoba bagaimana rasanya istri seseorang? Entah, apapun alasannya Ariel benar-benar tidak bisa bersabar lebih banyak lagi.


Presdir Nard, pria itu tersenyum dengan tatapan tidak percaya jika akan ada masanya dia di tampar oleh seorang wanita.


" Presdir Nard, aku benar-benar sudah tidak tahan untuk semua hinaan yang kau lontarkan. Apakah tidak cukup menghina suamiku sampai harus mencium ku? Oh, apakah mencium ku juga kau lakukan untuk menghinaku? " Ariel melotot kesal, sungguh dia sama sekali tidak perduli siapa yang berdiri di hadapannya itu. Meskipun nantinya dia akan kebingungan membayar uang ganti rugi, atau mungkin dia akan dikenakan sangsi karena kekurangajaran pria yang tak lain adalah Bosnya sendiri.


Presdir Nard menghela nafas, sebenarnya tamparan Ariel benar-benar tidak sesakit yang dibayangkan. Presdir Nard amat yakin, tangan Ariel saat ini pasti sangat panas dan perih karena memukul pipinya.


" Ariel.... " Presdir Nard mencoba meraih rambut Ariel berniat menyelipkannya kebelakang telinga, tapi Ariel yang sudah kadung kesal menepis tangan itu dengan kasar.


" Apakah ciuman dariku kau anggap sebuah hinaan? "


Ariel mengepalkan kedua tangannya. Kesal, dan juga tak habis pikir dengan pemikiran Presdir Nard yang terlalu dangkal. Padahal sudah jelas perbuatannya terbilang salah, juga sangat memalukan sama sekali tak mencerminkan seorang pemimpin yang seharunya menjadi tokoh terbaik untuk pegawainya. Tapi apa? Cara Presdir Nard memperlakukan Ariel malah seperti bajingan yang tidak tahu malu.


" Apakah kau tahu seberapa banyak wanita yang mengantri untuk ku? Jika aku mau, bahkan aku bisa mengganti wanita setiap hari, jadi mendapat ciuman dariku seharunya kau merasa kau adalah wanita yang spesial. "


Ariel membuang nafasnya, biarlah mau dipecat, atau mau di minta untuk membayar pinalti atau apapun itu masa bodoh saja. Sekarang yang sudah di hina bukan hanya tentang harga diri dan kehormatan sebagai seorang wanita, juga sebagai seorang istri dari Leo. Benar, Leo mungkin tidak segagah Presdir Nard, jelas kalau fisik Presdir Nard merajai kesempurnaan. Tapi, hatinya yang terus menolak seolah membuat egonya tersayat semakin dalam dengan perlakuan Presdir Nard yang sudah di luar akal sehatnya membuat dirinya begitu berani menyuarakan apa yang memang sedang dia pikirkan dan rasakan.


" Presdir Nard, anda adalah seorang Presdir yang seharusnya menjadi contoh baik untukku dan juga untuk pegawai yang lain, saya sungguh sedih karena anda melakukan hal memalukan seperti tadi. "


Presdir Nard tersenyum, dia benar-benar tidak terlihat menyesal sama sekali, justru dia malah merasa jika ucapan Ariel ini sangat menggelitik.


" Ariel, ini urusan hati dan juga perasaan tertarik dengan lawan jenis. Memang siapa yang akan memikirkan hal itu ketika sedang jatuh cinta, Hem? " Presdir Nard menatap kedua bola mata indah Ariel dengan begitu lekat, dan itu membuat Ariel semakin tak bisa menahan mulutnya untuk terus melawan dengan berani.


" Saya rasa anda ini sedang kurang refreshing, Presdir Nard. Kalaupun ingin jatuh cinta, setidaknya jatuh cinta lah dengan orang yang sepadan, akan menjadi bahan tertawaan cicak mabuk kalau anda jatuh cinta dengan wanita seperti saya. "


" Benarkah? Sekarang aku semakin penasaran, dan juga semakin ingin menjalin hubungan dengan mu. "


" Aku adalah istri seseorang! " Kesal Ariel.


" Orang itu terlalu tidak pantas untukmu, jadi biarkan aku menggantinya. "


Ariel sudah tidak bisa lagi berkata-kata, dengan segala kemarahan dan kekecewaannya dia meraih tasnya.


Sejenak Presdir Nard terdiam tanpa ekspresi, dia tetap berdiri di tempat sebelumya dengan mata yang terus memandangi pintu setelah Ariel keluar dari sana. Dia menarik nafas panjang dan menghembuskan cepat, tak mengatakan apapun, dia kembali ke kursinya untuk memulai pekerjaannya lagi. Ada sedikit berubah ekspresi ketika dia duduk disana. Iya, dia teringat bagaimana menggemaskannya wajah Ariel saat marah tadi, dia juga meraba bibirnya yang sudah kedua kali mencium bibir indah Ariel.


" Tentu saja aku akan jatuh cinta dengan mu, Marile. Memang siapa yang tidak akan jatuh cinta kalau itu adalah kau? Genggaman ku semakin erat, jadi jangan salahkan aku kalau pada akhirnya aku akan menjadi sangat pemaksa agar kau tetap berada di sisiku, gadis naik ku, Marile. "


Ariel mengeluarkan selembar tisu basah dari tasnya, lalu menggosokkan ke bibirnya beberapa kali berharap rasa bibir Presdir Nard menghilang dari sana. Memalukan, juga merasa terhina, itu adalah gambaran jelas dari apa yang dirasakan Ariel. Siapa sih yang tidak tertarik dengan Presdir Nard yang tampan dan banyak uang itu? Tetapi masalahnya, Ariel sama sekali sudah tidak memiliki ketertarikan dengan pria tampan, jadi bisakah dia jatuh cinta dengan wanita yang lain saja?


Dasar brengsek! Aku saja belum pernah berciuman dengan suamiku sendiri, kau yang hanya seorang Bos berani-beraninya mencium ku seolah aku ini istrimu!


Sesampainya lainya di rumah.


Ariel hanya bisa menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan perlahan berharap kekesalan yang melanda hatinya itu segera menghilang. Iya, walau bagaimanapun, Ariel tidak boleh sampai melampiaskan kekesalannya kepada Leo nantinya.


" Win? Kok ada di rumah? " Tanya Ariel bingung. Bagaimana tidak bingung? Pria tinggi besar yang biasanya bersama dengan Leo seperti gigi dan jigong masa ada di tempat yang berbeda?


" Saya, sedang mengambil barang Tuan yang ketinggalan, Nona Ariel. "


Ariel sungguh tidak memiliki pemikiran apa-apa, jadi dia hanya mengangguk dan berniat masuk ke dalam kamarnya.


" Tumben sudah pulang, Nona Ariel? " Tanya Win.


" Iya, soalnya Presdir di tempatku sangat brengsek, bajingan, bedebah sinting, kutu kupret, ingin sekali aku mencongkel otaknya dan membuatnya menjadi sup! "


Win menelan salivanya, segera di menunduk tak ingin memperlihatkan ekspresi wajahnya.


" Sudahlah, Win. Aku mau masuk ke kamar dulu, mau istirahat dan melupakan masalah dengan laki-laki yang cucungnya bercabang itu. "


Win menatap punggung Ariel yang semakin jauh darinya.


Ya ampun, benar-benar sulit di tebak sekali.


Bersambung.