Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
Bonus Chapter 8



Mario terdiam tak bisa bicara, pandangannya kosong setelah lelah menjauhkan diri dari Nara yang selalu gencatan senjata. Benar-benar wanita yang membuat pusing, juga membuat waspada setiap detik. Wanita itu sekarang memang sudah tertidur karena kelelahan memaksa Mario yang terus menolak.


Sofa di dekat jendela kamar, sekarang ini Mario menganggap tempat itu adalah tempat yang paling nyaman dan aman untuknya. Maklum saja, Nara benar-benar sangat sensitif dengan gerakan, sedikit saja Mario bergerak untuk mengubah posisi dia akan langsung terbangun, memeluknya erat-erat tak memberikan waktu untuk bernafas lega. Entah matanya tertutup atau terbuka Nara seperti singa betina yang kehausan, membuat Mario seperti akan jantungan jika dekat dengan Nara dan ketakutan akan diterkam habis olehnya juga.


Semalaman Mario tidur di sofa, sedangkan Nara tidur dengan nyenyak di ranjang yang biasa di gunakan Mario untuk tidur. Sebentar-sebentar Mario terbangun karena merasa tidak nyaman, dia sungguh kesal melihat Nara tidur dengan nyenyak sementara dia harus menderita dengan punggungnya yang terasa pegal.


Pagi harinya, Mario bangun lebih awal karena dia memang tida bisa tidur jadi sebelum Nara bangun pun dia sudah mandi, untuk berjaga-jaga agar tidak di serang lagi oleh Nara, Mario sudah mengenakan pakaian lengkap untuknya berangkat kerja. Benar saja, begitu bangun tidur yang di tanyakan oleh Nara adalah Mario sudah mandi apa belum, benar-benar beruntung sekali Mario pagi ini.


Sarapan pagi.


" Bagaimana pekerjaanmu akhir-akhir ini, Mario? " Tanya Leo, beberapa hari terakhir ini dia juga sibuk dengan bisnisnya yang lain sehingga belum ada waktu untuk memperhatikan pekerjaan Mario.


" Semuanya baik-baik saja, nanti kala ada kendala aku beritahu Ayah. "


" Iya. "


" Lalu, apa kalian sudah mulai membuat cucu untuk Ibu? "


Mario terbatuk-batuk karena tersedak oleh makanannya sendiri begitu mendengar ucapan Ibunya.


" Ibu, jangan bertanya yang seperti itu deh. " Sargah Mario yang membuat Ariel jadi curiga.


" Jangan-jangan kau, kalian belum ewita ya?! " Ariel melotot menatap Nara dan Mario bergantian.


Nara menghela nafas, dia juga sudah janji kepada Ibu mertuanya tidak akan berbohong mengenai itu, jadi dia tidak mungkin mengiyakan padahal tidak kenyataannya.


" Belum Ibu mertua, Mario terus menolak ku. " Nara berbicara dengan begitu santainya, yah bagaimana tidak santai kalau Ibu mertuanya sebaik Ariel? Ditambah lagi Ayah mertuanya yang sama sekali tidak ikut campur dan cuek, semakin saja Nara berani bersuara asalkan berada di zona yang sopan.


Ariel membuang nafasnya, dia menatap Mario yang kini menunduk tak berani menatap Ibunya.


" Sayang, lanjutkan saja selesai sarapan ya? " Bujuk Leo kepada Ariel agar setidaknya Ariel memakan sarapannya dulu jadi dengan begitu dia akan punya banyak tenaga untuk lebih marah dan semangat dalam memarahi Mario kan?


" Tidak bisa! Bagaimana aku bisa sarapan dengan lega kalau putraku saja masih belum ewita degan istrinya?! Kau tahu betapa memalukannya itu kan? " Ariel menatap Mario sembari memegangi dadanya dengan tatapan tidak percaya.


" Jangan bilang, punyamu benar-benar tidak bisa berdiri ya? "


" Berdiri sih bisa, Ibu mertua. Tapi dia selalu menolak untuk melakukan itu denganku. " Ucap Nara begitu jujur, memanah iya sih kenyatannya memang begitu. Milik Mario memang bereaksi, tapi anehnya Mario benar-benar menolak keras melakukan itu, ewita maksudnya.


Ariel menghela nafas lega, sementara Lukas yang berada di sana sudah menggunakan earphone buru-buru begitu pembicaraan di antara anggota keluarganya sudah sangat ngawur dan tidak cocok di dengar oleh si pemuda tampan yang katanya unyu itu. Leo, dia juga hanya bisa berpura-pura tidak mendengar, bagaimanapun Mario adalah putranya, meskipun Mario tidak pernah menunjukan kepada orang tuanya, Leo benar-benar tahu pengalaman cinta pertama Mario sangat tidak menyenangkan sehingga butuh waktu untuk Mario bisa melangkah dengan lebih berani lagi. Mau menikah saja sudah seperti keajaiban, jadi dia juga tidak berani terlaku menekan Mario sampai nanti dia siap sendiri untuk melakukan apa yang seharusnya di lakukan oleh seorang suami kepada istri.


" Apanya? Aku tidak begitu kok. "


" Dengar, coba saja deh kau pikirkan ini baik-baik. Lubang yang digunakan oleh pria penyuka sesama jenis itu kan lubang untuk membuang kotoran, kau seharusnya tahu benar itu jorok kan? Sudah begitu apa yang mau kau gunakan untuk pegangan? Dadanya kan rata? Tidak mungkin juga cuma main pedang-pedangan saja kan? "


Leo meraih satu earphone milik Lukas karena dia benar-benar tidak sanggup mendengar apa yang dikatakan istrinya padahal dia sedang makan sekarang. Lukas sebenarnya ingin merebut kembali earphone miliknya, tapi saat sedikit mendengar apa yang dikatakan Ibunya, dia segera meraih tangan Ayahnya, mendekatkan diri dengan Ayahnya, tangannya dan tangan Leo saling menggenggam menahan diri masing-masing.


" Mari kita berdoa bersama, Ayah. "


" Anak baik, bernyanyi saja di dalam hati supaya tidak mendengar sama sekali ya? " Ucapnya dengan nada pelan.


Nara tersenyum menahan tawa, sungguh deh sangat menyenangkan memiliki Ibu mertua yang otaknya benar-benar somplak seperti Ariel. Untung saja dia bukan orang yang mudah merasa jijik jadi dia tidak begitu merasa terganggu dengan apa yang di katakan oleh Ibu mertuanya, berbeda dengan Mario yang berekspresi aneh.


" Ibu ini bicara apa sih? Lobang kotoran apa? Pedang-pedangan apa juga aku tidak mengerti? Ibu jangan berpikir macam-macam aku tidak seperti itu kok. " Mario sebenernya bergidik ngeri saat Ibunya mengatakan hal aneh dan gila tadi, tapi mau bagaimana lagi kalau mulut Ibunya memang tidak punya rem sedikitpun.


" Mario, Ibu ini sangat menyayangimu makanya Ibu mengatakan semua ini. Kau tahu benar tentang ini kan? "


Mario memaksakan senyumnya.


" Aku malah mengira Ibu cuma sayang diri Ibu sendiri loh. "


Ariel melotot tajam menatap Mario.


" Kau bilang apa?! "


" A anu, Ibu. A aku cuma salah bicara kok, maksudnya aku juga sayang kepada Ibu, begitu. " Mario tersenyum karena tidak ingin Ibunya marah.


Ariel tersenyum, dengan lembut dia memeluk kepala Mario.


" Anak yang patuh, benar-benar Ibu sangat bahagia memiliki anak sepertimu. Jadi karena kau sangat menyayangi Ibu, cepat-cepat buat cucu yang banyak untuk Ibu ya? Jangan cuma bisa bilang sayang tapi tidak beri bukti. "


Mario kini berwajah datar karena tidak tahu lagi harus bagaimana berekspresi.


Aku menyesal karena mengatakan kepada Ibu bahwa aku menyayangi Ibu. Bagusnya aku simpan saja sendiri rasa sayangku ini.


Bersambung.