
Paman Daris memporak-porandakan isi ruangan dimana kakek sebelumnya di rawat. Padahal jelas dia sudah mengerahkan banyak orang untuk berjaga, nyatanya mereka tak bisa di andalkan dan kalah oleh anak buahnya Leo. Kesal, marah, kecewa, sedih juga karena kehilangan putranya, dia pikir dia bisa melampiaskan kepada kakek yang dia anggap sumber masalahnya, tapi sial nyatanya Kakek sudah lebih dulu di pindahkan oleh orang-orang Win.
Gun, pria itu baru saja tiba untuk menyusul Paman Daris. Dia tidak bisa selalu bersama Paman Daris hari ini karena dia harus mengurus semua keperluan untuk upacara pemakaman Mark.
" Tuan, aku baru mendapat kabar bahwa Tuan besar sudah dipindahkan ke rumah pribadi Tuan Leo, dan itu sudah disetujui oleh Tuan besar sendiri. "
" Bajingan! " Paman Daris meraih kerah kemeja Gun dengan tatapan marah.
" Kau seharusnya tahu kalau putraku mati gara-gara orang-orang itu! Seharusnya kau menahan mereka, menghancurkan mereka! "
Gun terdiam tak ingin menjawab, padahal jelas dalam situasi ini adalah menyelesaikan upacara pemakaman Mark, barulah pikirkan rencananya lagi. Sebenarnya dari awal Gun sudah melarang untuk melakukan apa yang Paman Daris katakan, tapi dia tidak mendengar pendapat Gun karena menganggap rencana Gun terlalu bertele-tele dan memakan waktu yang lama. Dengan alasan tidak punya banyak waktu bersantai, pada akhirnya Paman Daris menjalankan rencana gegabah itu dan menghancurkan dirinya sendiri.
" Tuan, jika saja anda mengikuti rencana yang sudah aku siapkan, anda tidak akan seperti ini. Anda yang memilih ini tanpa memikirkan akibatnya yang jelas sangat besar, sekarang anda telah kehilangan putra anda, dibanding memikirkan melampiaskan kekesalan anda, bagaimana kalau temui putra anda sebelum dia di kuburkan. "
Paman Daris menepis cengkraman tangannya dari kerah kemeja Gun. Iya, dia harus melihat jenazah putranya sebelum di kuburkan. Apa tadi? Jenazah? Benar-benar sangat benci kata itu, tapi kenyataan malah lagi-lagi membuatnya harus merasakan tidak adilnya dunia ini terhadap dirinya.
" Putri anda sudah menunggu disana, Tuan. Dia sangat sedih dan bahkan sudah pingsan berkali-kali, dia membutuhkan anda sekarang ini. "
Pan Daris berjalan lunglai keluar dari sana, sekarang ini dia hanya punya satu putri saja sebagai keluarga kandung, dan dia juga harus menemui putranya sebelum tubuh putranya menyatu dengan tanah nanti.
Di rumah sakit, tempat dimana Ariel masih dirawat.
Leo masih utuh duduk menatap wajah Ariel yang masih tertidur. Tidak tahu kapan Ariel akan bangun, sudah setengah hari dia tertidur di sana, dan Leo juga sudah setengah hari pula duduk dengan cemas menanti kapan Ariel akan sadar barulah dia bisa merasa tenang. Ini sudah hampir pagi, tapi Leo masih tak memiliki rasa kantuk, dia begitu khawatir hingga bergerak dari sana saja dia enggan melakukannya.
Ariel, wanita itu sudah masuk semakin dalam ke dalam hatinya, mengukir perlahan namanya di sana seperti tato permanen yang tidak akan hilang.
Leo menghela nafas penatnya mengingat betapa ketakutannya Ariel saat dia melihatnya kala itu. Tubuh gemetar, wajah pucat pasi, jelas sekali dia sangat ketakutan, dan juga syok parah. Tentu Leo sangat paham perasaan seperti itu, jadi dia benar-benar akan menunggu dengan sabar sampai Ariel bangun nanti.
Pagi harinya.
Ariel perlahan-lahan membuka matanya yang terasa begitu berat untuk dia buka. Sedikit terbuka, dan dia mengeryit karena sinar matahari sedikit mengenai wajahnya dan membuatnya merasa agak silau. Sebentar dia menatap melihat dan memperhatikan dimana dia berada sekarang ini.
Deg!
Ariel melotot dengan mimik kaget, dia segera bangkit dan berteriak karena mengingat beberapa waktu terakhir yang membuatnya sangat syok.
" Ah....! Jangan! Tolong jangan bunuh! Hentikan! Tolong ada mayat! Jangan! Jangan mati! Jangan mati disana! "
Leo, dia yang sempat ketiduran sontak terbangun mendengar suara jeritan Ariel. Dengan segera dia bangkit dan memeluk Ariel yang terlibat ketakutan.
" Tenang sayang, tidak apa-apa, semua sudah berakhir, kau sudah aman, ada aku disini. "
" Dia, Mark, pria itu mati, dia di tikam, dan Mark, Mark, dia mati. Dia mati! "
Leo kembali memeluk Ariel dengan kuat.
" Aku tahu, semua sudah berakhir jadi cobalah untuk tenang ya? "
Ariel menangis meraung begitu liku dan sedih. Seumur hidupnya baru pertama kali dia melihat adegan yang sangat menakutkan itu. Dua mayat korban dari tikaman Mark, wajah Mark yang tersenyum sebelum menutup pintu dan suara bom meledak dengan suara yang nyaring benar-benar membuat otaknya tak bisa tenang.
" Hei, lihat aku! " Leo menangkup wajah Ariel dengan tatapan tegas agar Ariel mau mendengarnya. Benar, Ariel benar-benar berhenti sebentar untuk histeris dan menatap Leo dengan tatapan yang fokus.
" Semua yang terjadi ini adalah akibat dari apa yang mereka lakukan, hanya lihatlah apa yang ada sekarang, kau baik-baik saja, aku baik-baik saja. Aku tahu kau sangat terkejut dengan apa yang terjadi, tali aku janji tidak akan membuat kau mengalaminya lagi di masa depan. " Ariel kembali menangis, tapi tangisnya sudah tidak begitu histeris seperti sebelumnya. Sekarang dia sudah mulai tenang di pelukan Leo, dia merasa aman berada di pelukan pria itu hingga merasa jika lebih baik untuk terus berpelukan seperti itu selamanya.
Setelah Ariel cukup tenang, Leo meminta Dokter untuk datang, tak ada yang serius dalam luka fisik, hanya saja Ariel masih butuh waktu cukup lama untuk menyembuhkan diri dari keterkejutannya yang bisa jadi akan menjadi sebuah rasa trauma nantinya. Dengan anjuran Dokter yang menyarankan untuk Ariel tenang, berada di tempat yang bersahabat dengan alam agar bisa kembali menatap pikirannya, Leo sudah mulai mencari-cari tahu dimana tempat seperti yang dikatakan oleh Dokter.
" Sekarang istirahatlah lagi ya? Tidur yang banyak, aku akan tetap menjaga disini, jadi jangan khawatir apapun. " Ucap Leo.
" Jangan melepaskan tangan mu dari tangan ku. Aku ingin kita terus bergandengan dan jangan dilepas. " Ucap Ariel. Bukan karena manja, tapi karena dia benar-benar takut kalau Leo pergi dan dia akan kembali dalam bahaya setelah itu.
Leo tersenyum lalu mengangguk setuju.
" Iya, aku akan disini saja. "
" Tapi aku tetap tidak percaya. " Ucap Ariel yang masih belum Isa merasa tenang.
Leo menghela nafas, lalu bangkit dari duduknya.
" Aku tidur disebelah mu sambil memeluk mu bagaimana? "
Ariel nampak berpikir sebentar, dan dia mengangguk karena sepertinya itu ide yang bagus juga.
Leo tersenyum, dia membantu Ariel membenahi posisinya, barulah dia mulai berbaring di samping Ariel.
" Sekarang ayo kita tidur. " Ajak Leo.
" Iya. "
Bersambung.