
Bram menelan salivanya sendiri begitu melihat tiga orang pria hebat menatapnya dengan dingin. Presdir Nard, pria itu memang sudah biasa berwajah dingin dan menakutkan, tapi melihat Leonarde, atau Onard yang baru beberapa bulan terakhir aktif di RC membuatnya semakin sesak. Daniel, pria itu memang hanya salah satu pengusaha makanan yang sukses, tapi kalau sampai dia memutuskan tidak lagi menerima permintaan order dari acara yang diselenggarakan perusahaan Ayahnya, jelas ini akan menjadi masalah besar untuknya.
" Sayang, tadi pria yang mulutnya bau kentut busuk itu mengatakan jika aku ini adalah wanita rendahan, jelek, gendut, dekil, dan sama sekali tidak pantas di pandang mata. " Ucap Garde mengadu yang tidak-tidak kepada Onard. Jelas lah Bram ternganga dengan tatapan kaget, dia menggeleng tanpa bisa mengatakan apapun karena dia takut salah bicara nantinya.
" Sayang, dia itu pernah mengajakku berselingkuh loh beberapa waktu lalu. Dia bilang suamiku kan tidak bisa memuaskan ku, jadi dia menawarkan diri untuk itu. " Ucap Ariel menambah api yang di nyalakan oleh Grade.
" Ti tidak, tidak kok. " Ucap Bram yang kini semakin gemetaran, keringat dinginnya benar-benar sampai bercucuran di wajahnya.
" Sayang, pria ini dulu adalah calon suamiku, tapi dengan lancangnya dia menghinaku hanis-habisan. " Sebenarnya Sephora sama sekali tidak pernah memanggil Sayang kepada Daniel, itu hanyalah untuk menunjukan kepada Bra bahwa dia sudah menemukan pria yang lebih baik dari pada Bram, juga menunjukan bahwa mereka saling mencintai Meksi Sephora masih meragukannya sampai saat ini.
Leo, Onard, dan Daniel semain tajam dan dingin menatap Bram membuat Bram ketakutan semakin kuat biasa. Dia menekan lagi salivanya hingga berkali-kali, menyeka keringatnya yang tak henti bermunculan. Sekarang mereka bertiga kompak melakukan langkahnya mendekat kepada Bram dan membuat Bram tak bisa menahan diri lagi, dia memegangi miliknya yang seperti tak bisa tahan ingin mengeluarkan air seni. Yah! Benar-benar sudah tidak bisa di tahan karena pada akhirnya dia pipis di celana.
" Ba Babe! " Kekasih barunya Bram begitu terkejut karena menyadari jika kedua kaki Bram gemetar hebat, juga sampai kencing di celana.
" Maafkan aku! A aku minta maaf! A aku tidak akan mengulanginya lagi! ma maaf, sungguh aku minta maaf! " Ucap Bram yang sudah tak tahu harus bicara apa, dia bahkan sampai masa bodoh karena harus berucap dengan nada suara yang bergetar hebat.
" Maaf? Memangnya kau pikir maaf saja sudah cukup untuk kami? "
" Ka kabur! " Bram berlari dengan kakinya yang lemas luar biasa, dia benar-benar ketakutan sampai lupa kalau kekasihnya masih tertinggal disana dan terus memanggil namanya.
" Ah, kau masih di sana? Sudahlah! Aku harus cepat kabur! " Ucap Bram lalu segera meninggalkan tempat itu tak perduli bagaimana tatapan semua orang yang menatapnya dengan sinis, terutama penjaga toko yang mau tak mau harus membersihkan bekas air kencing Bram di sana.
" Cih! Dasar banci! " Maki Grade yang sedari tadi benar-benar lengket dengan Onard, dia tidak bangkit dari pangkuan Onard sama sekali, padahal saat mendekati Bram tadi dia cukup tersiksa karena tangannya harus menjalankan roda kursinya lebih kuat.
" Tidak seru! Masa iya dia kabur begitu saja? " Kesal Ariel. Sementara Spehora, dia memilih tak mengatakan apapun karena di banding siapapun dia paling mengenal Bram. Mungkin Bram memang sangat manja dan tidak memiliki pendirian, tapi sebenarnya Ram hanyalah pria dengan kenaifan yang luar biasa hingga begitu mudah percaya dengan apapun yang orang lain katakan. Orang tua bRam sendiri sebenarnya tidak bisa percaya sama sekali kepada Bram, bahkan desas desus yang ia dengar, perusahaan orang tua Jordan akan di berikan kepada adik perempuannya Jordan yang menurut keluarga memiliki kualifikasi untuk memimpin perusahaan mereka.
Beberapa saat kemudian, ketiga pasangan itu kembali ke tempat tinggal mereka masing-masing.
" Aku tidak menyangka kalau mantan kekasih mu itu sangat Cemen sekali. " Ucap Daniel, lalu terkekeh sendiri sembari melepas jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Sephora yang kala itu sedang meletakkan tas nya hanya bisa terdiam, memang seperti inilah Spehora selama beberapa bulan terakhir menikah dengan Daniel. Hatinya masih saja seperti memiliki di dinding penghalang untuk bisa mencintai Daniel dengan leluasa. memang benar Daniel begitu baik dan perhatian selama ini, Sephora juga sudah mulai bisa melupakan bagaimana kesan buruk ketika bersama Daniel di awal.
Sephora membuang nafasnya.
" Sudah tidak ada yang perlu di beli, semua perlengkapan bayi sudah lengkap di beli, keperluan ku untuk masa melahirkan dan merawat bayi nanti juga sudah ada. "
Daniel menatap punggung Sephora, rasanya masih begitu jelas jika Sephora belum bisa menerimanya sepenuh hati. Sebenarnya bukan tidak sedih dengan hubungan pernikahan yang seperti ini, tali bisa apa dia kalau muka nya juga karena kesalahan yang ia lakukan. Sudah lima bulan semenjak dia menikahi Sephora, Ibunya sama sekali tidak pernah mau bertemu dengannya, mantan istrinya juga masi sering membuat gara-gara, semua itu bisa dia terima, tapi kenyataan bahwa Sephora masih belum luluh benar-benar tidak bisa dia abaikan saja.
" Sephora, setelah anak kita lahir nanti, dan kalau dia sudah bisa kuat naik pesawat, bagaimana kalau kita pergi berlibur bersama? "
Sephora tak menjawab, sebenarnya dia benar-benar tak berharap banyak dengan pernikahan ini. Seperti yang di katakan Ariel bahwa penting baginya untuk memperjelas status putrinya agar suatu saat nanti putrinya tidak akan malu menghadapi masyarakat dan juga teman-temannya. Tapi ketika melihat usaha Daniel yang begitu meyakinkan, Sephora jadi sedikit goyah dan menginginkan hal lebih dari apa yang dirasakan sekarang ini.
" Ibumu masih belum rela kau menikah denganku, lebih baik jangan melakukan hal apapun agar dia tidak berpikiran jika lagi-lagi gara-gara aku. "
Daniel menghela nafas, dia berjalan mendekati Sephora, lalu memeluknya dari belakang.
" Maaf karena menempatkan mu di posisi yang tidak nyaman. Masalah Ibuku biar saja aku yang urus, jadi cukuplah kau fokus pada dirimu sendiri dan calon anak kita. Aku yakin cepat atau lambat Ibuku pasti akan menerimamu sebagai menantunya. "
Sephora membuang nafas kasarnya.
" Mantan istrimu juga tidak henti-hentinya menerorku, setidaknya tolong katakan padanya agar jangan melakukan itu, ponsel ku jadi lemot karena ulah manta istrimu itu. "
Daniel mengeratkan pelukannya, sebelah tangannya mengusap perut buncit Sephora dengan lembut.
" Biarkan saja, kalau kau ingin membalas dendam, tentu saja hanya dengan kita bahagia, maka kebahagiaan kita ini adalah rasa sakit yang luar biasa untuknya. "
Bersambung.