Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
Bonus Chapter 18



Nara tersenyum menatap Mario yang mencoba mengindari kontak mata langsung di antara mereka berdua. Maklum saja kalau Mario ogah tatapannya bertemu dengan Nara, karena beberapa saat lalu pertempuran penuh keluh keindahan terjadi. Awalnya sih Mario masih sok jual malah dengan terus menolak dan menepis tangan Nara, tapi lama kelamaan tidak tahan juga, dan jadilah dia yang begitu terkesan semangat. Tentu saja itu cukup membuat Nara gugup, tapi untungnya dia bisa menyembunyikan kegugupannya itu dengan mencoba mencium bibir Mario.


Bagai tersihir dengan kekuatan yang luar biasa, Mario benar-benar melakukannya begitu semangat .membuat Nara terus membatin sembari menatap Mario untuk memastikan apakah pria yang berada di atas tubuhnya adalah Mario suaminya? Maklum saja Mario yang seperti itu sangat jauh berbeda dengan Mario sebelumnya.


" Sayang, apa tidak ingin tambah lagi? Makan saja kadang tambah, kenapa kau tidak mau tambah? " Goda Nara. Padahal sih, pinggangnya sendiri sudah seperti ingin putus karena nyeri hebat di sana. Makanya wajar saja kalau Nara sampai takut kalau saja Mario yang saat itu sedang ewita dengannya adalah tokoh hantu yang di gambarkan hitam tinggi dan besar ( genderuo ).


" Ta tambah apa?! tidurlah sana! " Mario menarik selimutnya tinggi-tinggi lalu membalikkan tubuhnya membelakangi Nara. Ini apakah efek biksu dan Kasim darinya sudah menghilang sehingga dia merasa ada yang berbeda dengannya malam ini? Dia sadar benar jika Nara menggodanya, tapi dia malah tidak merasa kesal, tapi dia hanya merasa malu hingga begitu berbalik membelakangi Nara dia sudah tidak bisa lagi menahan pipinya yang merona.


Nara tersenyum, ini sudah lebih baik karena Mario tidak berbicara dengan nada membentak lagi. Nara membuang nafasnya lalu kembali tersenyum. Dia bangkit, laku dia memindahkan tubuhnya di dekat Mario, untungnya ruang untuk Nara di sana masih cukup dan tidak membuat tubuhnya jatuh kelantai.


" Kenapa kau kesini?! "


Nara tersenyum lagi-lagi, rasa ya dia benar-benar senang melihat wajah Mario yah kemerahan, nada bicaranya yang gugup seperti itu terasa begitu menyenangkan bagi Nara.


" Sayang, kenapa kau memperlakukanku dengan begitu kejam? "


" Ke kejam apanya?! "


" Kau baru saja selesai menggunakan aku, lalu segera berbalik badan membelakangi. Memangnya aku ini perempuan macam apa? Setidaknya peluk lah aku dulu, beri aku kecupan sayang di kening, atau di pipi, di bibir juga boleh sembari mengatakan, terimakasih sayang, tadi rasamu itu enak sekali loh, kita istirahat dulu ya, nanti kalau sudah pulih dari lelah, kita bisa ewita lagi sampai kau menangis memohon ampun untuk berhenti. "


" Tutup mulutmu! Kau ini kan wanita, masa kau tidak bisa anggun sedikit? " Ucap Mario sembari memundurkan tubuhnya menjauhi Nara. Tapi Nara malah ikut menggeser tubuhnya membuat Mario merasa percuma saja menggerakkan tubuhnya menjauh karena nyatanya Nara malah akan jadi semakin dekat dengannya.


" Aku tidak perlu menjadi anggun di hadapanmu, aku kan harus tampil apa adanya terhadapmu. " Nara beringsut masuk menjatuhkan wajahnya di dada Mario dan memeluk tubuh Mario.


" Kau- "


" Seharusnya seperti ini setelah kita selesai melakukannya. "


Tadinya Mario sudah akan mendorong menjauh tubuh Nara, tapi ucapan Nara barusan benar-benar membuat Mario tak bisa berkata-kata dan memilih untuk diam dan mengikuti ucapan Nara entah apa sebabnya.


" Aku ingin tidur dengan posisi seperti ini sampai pagi, kau tidak boleh diam-diam menjauhkan tubuhku saat aku tidur, kau dengarkan?! "


" Iya. " Ucap Mario patuh tanpa dia sadari, dan begitu selesai dia mengiyakan, dia sampai melotot kaget mengutuki kebodohannya itu.


Nara tersenyum, sungguh dia sangat lelah dan ingin segera istirahat sebelumnya, tapi menggoda Mario begini benar-benar membuatnya merasa terhibur hingga lupa kalau dia sebenarnya merasa lelah. Nara menyunggingkan senyum licik, perlahan dia menurunkan tangannya ke basah, mask kedalam selimut semakin dalam.


" Hentikan tanganmu, Nara! Aku ingin tidur. " Ucap Mario saat dia merasakan tangan Nara mulai menyentuh perutnya.


" Sayang, kau ini seperti gadis saja. Biasanya kalau gadis bilang hentikan artinya lanjutkan loh. "


" Aku bukan gadis! "


" Tapi kau memiliki wajah yang cantik seperti gadis. "


" Ah! Nara! "


Mario bangkit dari posisinya, memang siapa yang tidak akan kaget kalau tiba-tiba bagian bawahnya di sentuh sedikit di tekan dengan gerakan aneh yang mengundang keinginan seseorang kembali timbul.


" Hei, aku peringatkan untuk berhenti, Nara! "


Nara semakin dekat tak terlihat takut sama sekali.


" Kita ini masih baru, sayang. Kita butuh latihan ekstra supaya cepat pandai. "


" Aduh! Nara jangan meremas bagian itu! Jangan memegang bokongku! " Kesal Mario saat Nara melakukan apa yah di keluhkan Mario barusan.


Ah, melihat wajah memerah Mario benar-benar membuat Nara begitu senang. Entah mengapa dia seperti sedang menggoda seorang bayi laki-laki saja.


" Sayang, gerakan jemariku kurang ahli ya? Apa terlalu kuat menekan? Kurang lembut? Sini sayang, biar aku berlatih lagi! "


" Nara aku peringatkan baik-baik, aku juga bisa kehilangan kendali kalau kau seperti itu! "


Nara justru semakin senang menggoda Mario tanpa menyangka kalau Mario akan benar-benar kehilangan kendali.


" Aku sudah bilang untuk berhenti, tapi kau masih saja seperti ini, jangan salahkan aku kalau besok pagi kau tidak bisa bangun! "


Mario meraih tubuh Nara dan merebahkannya dengan cepat membawanya berada di bawah tubuhnya. Tatapannya tampak tak biasa dan seperti sudah benar-benar bukan Mario yang ketus itu membuat Nara menelan salivanya dan gugup yang tidak bisa dia atasi.


Beberapa saat kemudian.


" Ah! Mario, jangan menggigit di bagian sana! Ah! Hei ini terlalu kuat! Mario, jangan menjilat bagian itu! Tidak, ini sudah cukup! Mario, ini sudah cukup, aku bilang aku sudah cukup! Berhenti! Aduh! Pinggangku sakit! "


***


Wiliam kembali masuk ke dalam kamar setelah perasaan bahagia karena dia akhirnya memiliki kekasih baru yang benar-benar sangat mirip dengan tipenya. Tubuh tinggi, rambut ikal, panjang, dan lembut. Wanita itu juga sangat wangi, bersih dari penampilannya, dia juga sangat cantik pastinya. Benar-benar wanita yang luar biasa.


Begitu sampai di dalam kamar dan dia melihat Moza sedang duduk di dekat jendela kamar menggunakan jubah mandi, bagian pahanya terekspos di bagian belahan jubah, rambutnya tergerai kurus agak basah, segelas jus orange ada di tangannya, dan satu tangannya memegang sebuah buku tentang pengetahuan. Pemandangan itu seolah menjelaskan betapa tidak ada bandingannya Moza jika di bandingkan wanita yang ia kencani sebelumnya, apalagi wanita yang baru saja ia temui, meskipun dia sangat cantik dan tipenya sekali, rasanya Moza adalah gabungan dari semua kecantikan para barisan mantan kekasihnya.


" Oh, suamiku baru saja pulang dari berkencan ya? " Moza tersenyum, dia meletakkan buku dan gelas jusnya dengan begitu anggun. Berjalan menuju Wiliam saja dia sangat keren.


" Semua orang sibuk menekanku, dan kau bisa dengan santainya berkencan? " Moza mencengkram dagu Wiliam, anehnya Wiliam tidak berani menyingkirkan tangan Moza dari sana.


" Mereka selalu membahas cucu, dan kau malah santai-santai bermain congklak dengan gadis liar? "


" Anggap saja aku sedang membuat cucu untuk mereka, iya kan? "


Moza tersenyum miring.


" Kau mau membuat cucu untuk mereka, tapi menggunakan tong sampah? Yakin kau berani melakukannya? "


Bersambung.