Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
Bonus Chapter 52



" Sebenarnya aku sih merasa kalau dokumen yang kau bawa ini pasti sangat menarik dan bagus, buktinya kau melewati seleksi dari sekretaris Mario yang sangat ketil dan juga detail itu. Pastinya dokumen ini bukan hanya bisa menarik minat RC saja, tapi kau sengaja memilih RC kan? Entah tujuanmu adalah karena keuntungan yang akan di dapatkan dari RC sangat jelas, ataukah kau memiliki maksud lain aku juga tidak tahu. Selain aku hanya manusia yang bisa asal menebak saja, aku juga bukan Roy kimochi yang bisa meramal masa depan. " Nara tersenyum setelah mengucapkan semua itu.


Luna, wanita itu benar-benar di buat tak bisa berkata-kata oleh ucapan Nara.


" Aduh, aku haus! " Ucap Nara lalu menenggak teh milik Mario hingga tinggal setengahnya.


Luna menatap Nara dengan tatapan datar Meski hatinya merasa begitu sakit melihat Nara yang terlihat santai berkuasa atas Mario.Fi dala hati dia terus membatin, bagaimana bisa seorang Mario menjadi begitu patuh hanya karena seorang wanita? Kalaupun alasannya adalah karena Nara itu istrinya, apakah pantas seorang pemimpin begitu tidak memilki harga diri di mata istrinya?


" Pergilah dulu ke kantin, atau pesan minuman sekalian makanan saja. " Ucap Mario lalu meminum teh bekas Nara sampa habis membuat Luna menatap Mario dengan mimik yang terlihat terkejut. Jadi hubungan mereka sudah sedalam itu?


Nara menatap Mario dengan tatapan sebal.


" Kau mengusir ku? Kau memintaku pergi memang apa yang ingin kau lakukan bersama mantan kekasihmu ini? "


Mario menghela nafasnya, lalu mengusap kepala Nara dan mengajaknya sedikit.


" Berhentilah berpikir macam-macam, kalau tidak mau ke kantin kan bisa ambil ponselmu dan lesan minuman kan? Atau kau bisa minta penjaga di depan untuk beli. "


" Cih! Alasan saja! "


Mario tersenyum meski terlihat tipis, konyol memang tingkah mereka. Sebenarnya bukan berarti Mario akan seperti ini jika ada klien penting lainnya, dia hanya ingin menenangkan istrinya, juga memberikan batasan serta peringatan untuk Luna dengan menunjukkan benat sampai di mana dalamnya hubungan suami istri di antara dia dan juga Nara. Mungkin memang ada baiknya jika tidak mencampur adukan urusan pribadi serta urusan kerja, dokumen kerja sama yang di berikan Luna juga sangat menarik, tersusun dengan sangat rapih. Tapi, tidak ada yang tidak mungkin kan di dunia ini? Jadi mendahulukan perasaan istri, di tambah tidak ada ruginya juga menolak dokumen pengajuan kerja sama yang di berikan Luna karena RC juga masih tetap di atas garis aman.


" Mengenai dokumen pengajuan kerja sama ini apa kau benar-benar akan menolaknya? " Tanya lagi Luna yang masih belum rela.


Nara membuang nafasnya.


" Terima saja sayang, tapi syaratnya kau tidak boleh terlibat secara langsung, bagaimana? "


Mario menatap Nara, sepertinya dia bisa melihat bahwa Nara juga tidak tega kepada Luna, makanya dia hanya memarkan hubungan suami istri yang lengket kepada Luna untuk membuatnya sadar jika tidak boleh melangkah ke arah yang salah.


" Sesuai keinginanmu, aku akan menyetujui dokumen ini, tapi aku juga tidak akan terlibat secara langsung. Aku akan menyerahkan ini kepada asisten sekretaris secara penuh. "


Nara tersenyum, yah, memang sok baik sekali sih dia, tapi mau bagaimana lagi? Dia juga tidak tega, dan satu lagi! Dia mulai yakin benar jika suami tercintanya, suami yang paling tampan seangkasa raya, di dunia nyata, di dunia Maya, dan di dunia lain, di planet lain juga hanya Mario yang paling tampan itu akan setia padanya.


Luna memaksakan senyumnya, yah dia sudah cukup sadar sekarang kemana dia akan membawa perasaannya. Yang paling penting adalah kerja sama sudah terjalin, dan dia yakin benar akan mendapatkan kesuksesan dan keuntungan yang bisa membantu naiknya perusahaan Ayahnya yang hampir ambruk, masalah perasaan memang akan lebih baik kalau dia kubur saja dalam-dalam. Yah, tapi mengenai masa depan, dan adanya kesempatan lalu membuat pikirannya berubah, dia tetap tidak bisa menjanjikan benar akan hal itu.


" Ya ya ya ya, sudah pergi sana. " Nara memaksakan senyumnya membuat Luna menatap tak suka. Begitu tangan mereka di lepas, Nara berniat membenahi rambutnya, tapi entah mengapa dia mengendus bau tidak enak di tangan yang ia gunakan untuk menjabat tangan Luna.


" Huek! "


Luna dan Mario kompak menatap Nara dengan tatapan terkejut.


" Ada apa? " Tanya Mario dengan tatapan khawatir mengabaikan Luna yang menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan.


" Tangan bekas berjabat tangan dengan dia, bau sekali! Aku tidak tahan, bau! Huek! " Nara menutup mulutnya mengunakan tangan kirinya dan mencoba untuk mengelap tangan kanannya menggunakan kain dress yang ia gunakan.


Tentu saja tingkah Nara itu benar-benar membuat Luna kesal sekali, bukankah itu ke Kanakan sekali? Hanya karena cemburu tingkahnya seperti bocah remaja yang sedang ketakutan pacarnya di ambil orang.


" Nara, jangan begini ya? Ini agak berlebihan kan? " Ujar Mario yang bagaimanapun dia juga merasa tidak enak.


Nara menatap Mario dengan tatapan kesal.


" Kau pikir aku pura-pura ya? Aku benar-benar mual, lagi pula kalaupun aku ingin bertingkah mana mungkin aku seperti bocah gila! " Nara berjalan meninggalkan ruangan Mario dengan marah. Sungguh, dia sedang tidak berpura-pura seperti dugaan Luna dan Mario, tapi memangnya siapa yang akan percaya kalau tidak ada orang yang bisa merasakan bagaimana menjadi dia?


Nara langsung masuk ke toilet dan mencoba memuntahkan apa yang terasa ingin muntah. Ih! Apalagi saat dia kembali mencium bau aneh di telapak tangan kanannya, dia benar-benar tidak tahan hingga dengan segera di mencuci tangannya sampai berkali-kali, setelah itu dia menyemprotkan banyak sekali parfum di tangannya itu.


" Hah..... Begini baru benar! Gila, si Luna itu apa tidak pernah mandi ya? Kok bisa sih perempuan cantik seperti itu bau? Ih! Apa saat pacaran hidung Mario tidak berfungsi? " Gumam Nara seraya berjalan keluar dari toilet. Sebenarnya sih di ruangan Mario ada toiletnya, tapi karena dia sedang ngambek yang mau tidak mau dia keluar dari ruangan itu.


" Nara! " Mario berjalan cepat menghampiri Nara, begitu juga dengan Luna yang mengekor di belakang Mario.


" Kau tidak apa-apa kan? "


" Oh, tidak apa-apa kok. Tadi itu aku hanya sedang betingkah saja, jangan khawatir. " Sebal Nara lalu berjalan ingin masuk kembali ke rumahan Mario karena tasnya masih tertinggal di sana. Tapi begitu melintasi Luna, dia kembali merasa mual, bahkan mualnya lebih parah dari sebelumnya.


" Huek! Huek! Huek! Ah....! Luna kau ini bau sekali sih! Kau mandi pakai air apa kotoran kucing sih?! "


Bersambung.