Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
Bonus Chapter 61



" Eugh! " Mual, itu adalah suara mual yamg di tahan, bukan Nara melainkan, Mario.


Tentu saja gara-gara semua makanan yang dia bawa katanya bau Luna, bahkan seluruh tubuh Mario katanya bau Luna juga. Dengan kesal Nara memandikan Mario, menggosok tubuhnya beberapa kali, ah! Mungkin satu jam waktu yang di habiskan Nara untuk memandikan Mario. Setelah itu Nara menyuruh Mario untuk menghabiskan semua makanan yang tadi di beli Mario sebagai hukuman. Tadinya Mario tidak ingin melakukanya, bayangkan saja disana ada ayam goreng mentega, lalu pisang keju, beef teriyaki, burger, otak-otak ikan saus pedas, udang goreng, lalu secangkir kopi dengan begitu banyak bubuk coklat yang pasti akan membuat mual.


" Nara, istriku, makanan ini terllau banyak, bagiamana kalau aku ajak Lukas makan? "


" Tidak! "


Mario menelan salivanya sendiri.


" Ayah, Ibu? "


" Tidak! "


Mampus! Rasanya Mario benar-benar ingin bunuh diri saja. Makanan sebanyak itu hanya Tanboy kuyy yang mampu menelannya.


Sudah tiga puluh menit, Mario benar-benar sampai berkeringat begitu banyak, padahal dia baru menghabiskan seporsi ayam goreng mentega dan udang goreng saja, dan dia benar-benar tidak kuat lagi. Ya Tuhan, rasanya jika dia boleh memilih makan sebanyak itu atau membangun rumah di pinggiran mangkuk, maka tentu saja Mario akan memilih membangun rumah di pinggiran mangkuk. Ah, atau menguras air laut dengan sumpit, rasanya itu lebih baik di banding makan semua makanan yang dia beli tadi.


Nara tentu saja bisa melihat Mario begitu tersiksa, dia juga tidak tega karena sekarang saja dia sudah menangis tanpa suara.


Mario menghela nafas, meminum sedikit air, lalu menatap burger yang begitu besar dengan tatapan putus asa. Mario mengambil nafas dengan wajah memerah dan perlahan membuka mulutnya.


" Tidak usah! Tidak usah di makan lagi! " Akhirnya Nara tidak tahan lagi, dia menangis sejadi-jadinya hingga Mario yang panik dengan segera memeluk Nara. Mendengar Nara yang tersedu-sedu begitu tentu saja Mario paham bahwa bukan saatnya dia bertanya ada apa dengan Nara. Biarlah saja, tunggu Nara agak tenang baru dia tanyakan kenapa Nara bisa tiba-tiba menangis seperti ini.


Beberapa saat kemudian.


" Ada apa? Kau marah sekali sampai tidak tahan untuk menangis? " Tanya Mario.


" Bukan! "


" Jadi kau kenapa? "


" Aku kasihan melihatmu. "


Mario memaksakan senyumnya. Sialan! Kalau kasihan kenapa juga dia harus di paksa untuk maka?!, huh! Rasanya ingin sekali protes seperti itu, tapi Mario tidak begitu berani.


" Makanya, lain kali kau tidak boleh dekat-dekat wanita itu ya? " Mario mengangguk, lalu terpaksa pula dia tersenyum karena tidak ingin melihat lagi wajah Nara yang seperti sekarang.


" Ya sudah, sekarang makannya untuk Bibi dapur saja ya? " Nara mengangguki ucapan Mario.


Beberapa saat kemudian Nara dan juga Mario masuk ke kamar mereka untuk istirahat. Nara yang entah mengapa begitu gelisah tidur mnejadi kesulitan sendiri. Padahal malam sebelumnya tinggal di rumah orang tuanya dia begitu nyaman dan tidur dengan nyenyak.


" Nara, kau kenapa terus bergerak? " Tanya Mario dengan nada bicara yang rendah. Padahal sih kalau boleh jujur, rasanya dia ingin memaki habis Nara. Dia sudah ingin tidur karena hari ini dia lelah sekali, tapi setiap kali dia ingin tertidur, Nara selalu bergerak dan itu begitu mengganggunya, jadi dia terus terbangun hingga kesal sendiri.


" Tidak bisa tidur, sepertinya tempat tidurnya kurang lebar deh. "


Mario mengeryit bingung, sebenarnya yang menginginkan tempat tidur agak sempit itu kan Nara sendiri. Dulu alasannya karena supaya mereka berdua bisa tidur berdekatan terus, dan sekarang tiba-tiba jadi kurang luas bukan karena Mario tambah berat badan kan?


" Nara, kalau memang kurang luas, bagaimana kalau aku bertemu Mike dan Wiliam sebentar? Nanti kalau aku pulang kau kan pasti sudah nyenyak, jadi aku langsung tidur. "


Nara berbalik menatap Mario.


" Kau jangan bohong ya? "


" Tidak kok, siang tadi Mike dan Wiliam meminta untuk bertemu, tapi aku tidak membalas. Sekarang Mike dan Wiliam pasti ada di tempat biasa. "


Nara menghela nafasnya.


" Tapi kau tidak boleh dekat-dekat dengan wanita ya? Kalau kau sampai ketahuan, aku akan- "


Cup!


" Aku tahu menjaga diri, jadi jangan khawatir. Lagi pula aku ini pria, mana mungkin akan ada yang sembarangan. "


" Pria juga punya lubang, jaman sekarang pria dengan pria kan juga sudah biasa. Meskipun aku bingung apa yang menarik hubungan begitu, tapi menurutku mereka kurang bahagia saya masih kecil, buktinya sudah besar lun mereka memilih main pedang pedangan. "


Mario menghela nafasnya. Ah, ampun! ampun! Dia benar-benar tidak sampai memikirkan hal itu. Pria juga punya lobang, pedang pedangan? Sudahlah, lebih baik iyakan saja ucapan Nara karena dia sendiri tidak tahu harus menjawab apa.


" Oke, pokonya aku akan menjaga diri dengan baik. ''


Beberapa saat kemudian.


Rupanya Wiliam dan Mike sudah berada di sana, dan sepertinya mereka benar-benar memiliki hati yang bahagia karena saat Mario datang mereka tengah tertawa bahagia.


" Kalian begitu bahagia dan tertawa begitu lebat, apa tidak tahun tenggorokan kalian kejang? " Ucap Mario seraya mengambil posisi duduk.


" Wah, kau sudah datang ya? " Ucap Mike bosa basi membuat Mario menghela nafas sebal.


" Memang matamu saja tidak cukup melihat sampai harus bertanya segala? "


" Sepertinya suasana hatimu sedang tidak baik ya? " Ujar Wiliam lalu tersenyum lebar membuat Mario jadi kesal.


" Memang Mario kan mulutnya ketus, jangan-jangan kau bertengkar dengan istrimu ya? " Ledek Mike laku terkekeh sendiri.


" Iya, kamu baru saja selesai bertengkar di atas ranjang. Ngomong-ngomong bagaimana kabar? " Tanya Mario.


" Baik lah, kau tidak lihat aku sedang bahagia. Kau tidak hanya kenapa aku bahagia? "


" Tidak hanya kabarmu, aku tanya kabar cucungmu yang berdurasi singkat itu, dia masih juga seperti itu? "


Mike menahan perasaan kesalnya. Sialan!


" Jangan bicara begitu dong! Aku sudah tidak lagi menyandang durasi lima detik! Memang apa juga gunanya durasi? Yang penting aku hebat, buktinya aku akan menjadi Ayah. "


Mario terdiam sebentar, lalu menghela nafas.


" Hei hei hei! Ekspresi macam apa itu?! Cepat ucapkan selamat padaku! "


" Kenapa kau mengemis ucapan selamat dariku? " Ujar Mario dengan wajah datarnya.


" Mario, yuk kita duel saja! "


" Tidak mau! Nanti kalau kau keok, malumu tidak habis-habis. "


Mike memegangi dadanya yang di penuhi rasa kesal kepada Mario. Sementara Wiliam, pria itu sedari tadi hanya tersenyum saja.


" Ngomong-ngomong, aku juga akan jadi Ayah. Aku mengatakan ini bukan untuk minta ucapan selamat, aku hanya ingin memberitahu kabar bahagia saja. "


" Sialan! Kau seharusnya mengajari ki bicara begitu ke Mario! "


Mario menghela nafas. Sebenarnya dia juga bahagia sekali dia sepupu sekaligus temannya itu akan menjadi Ayah. Tapi tiba-tiba saja dia teringat dengan Nara yang begitu terobsesi dengan anak. Anak? Mario mengerti bingung.


" Sekarang tanggal berapa? " Ganga Mario.


" Dua puluh enam. "


" Seharusnya tanggal dua belas kan? " Gumam Mario.


" Apa yang tanggal dua belas? "


Bersambung.