Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
BAB 34



Ariel tersenyum miring melihat kemarahan dari dua orang yang selama ini kerap kali menindas secara lisan juga perbuatan. Tidak tahu dari mana kepercayaan diri mereka berasal, tapi kalau mengingat bagaimana Tuan Diro memperlakukannya, jelas sekali karena mereka berdua berpikir Tuan Diro amat sangat mencintainya hingga merasa sombong dan yakin kalau apapun yang terjadi mereka akan terus mendapat dukungan. Ah entahlah! Selama ini Tuan Diro seringkali menatap datar atau dingin hingga membuat di kesulitan mengerti apa arti dari mimik seperti itu.


" Kau itu sudah menikah dengan pria cacat, jelek rupa itu. Untuk apa kau datang kesini? Oh, apa kau tidak mendapatkan uang untuk hidup mewah? Kasihan sekali ya? Sudah tidak bisa mendapatkan kepuasan batin, materi juga tidak bisa di dapatkan. Untung saja Bram sangat mencintaiku, dia memberikan segalanya yang aku inginkan. Kepuasan tubuh, uang, kasih sayang, perhatian, semuanya aku dapatkan dari Bram yang tampak dan kaya itu. "


Ariel menggeleng heran, Bram Bram Bram, kenapa dunianya seperti hanya Bram seorang? Jika saja dengan dirinya bisa berselingkuh, bukan tidak mungkin Bram tidak akan melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. Iya, Bram memang tampan, juga memiliki nilai lebih yaitu uang yang lumayan banyak. Tapi, apakah dua hal tersebut tidak membuat wanita lain melirik padanya? Heh! Benar-benar sangat salut dengan cara berpikir Sephora yang begitu lurus tak memikirkan kemungkinan yang jelas akan terjadi di masa depan.


" Sephora, apa kau tahu bahwa laki-laki bukan hanya menggunakan sepasang mata untuk melihat satu wanita kan? "


Sephora mengeryit bingung, Ibu tirinya juga masih belum paham apa yang dimaksud Ariel.


" Apa sih yang kau bicarakan? " Tanya Ibu tiri dengan tatapan sebal yang jelas terarah kepada Ariel.


" Yah, kalau denganku saja bisa berselingkuh, apalagi hanya dengan donat rimba seperti Sephora? Suatu saat Bram pasti akan tahu kalau donat rimba mu itu sudah pernah di coba beberapa pria, aduh! Membayangkan saja aku sudah ingin tertawa. "


Sephora menggigit bibir bawahnya menahan kesal, sungguh ucapan Ariel barusan cukup membuatnya merasa sangat tidak tenang. Karena kalau sampai itu sungguhan terjadi, yang malu bukan lain adalah dirinya sendiri. Lagi pula, yang Bram tahu adalah Sephora yang naik dan polos, jadi akan tidak masuk akal kalau kebenaran itu sampai terkuak. Padahal sudah susah payah menjelaskan dan meyakinkan Bram bahwa dia masih suci meski tidak berdarah, dan berkat banyaknya penjelasan dari Dokter melalui internet, Bram akhirnya percaya perlahan-lahan sampai sekarang dia sudah benar-benar bisa membuat Bram memilih untuk menikahinya.


" Jaga ucapan mu, Ariel! Yang kau lihat waktu itu bukanlah sama seperti yang ada di pikiran mu! Aku, dan pria itu hanya berciuman saja! Jangan asal bicara kalau kau tidak bisa melihatnya dengan jelas. "


" Pft! " Ariel menutup bibirnya agar gak tertawa dengan ucapan Sephora yang jelas bisa ia dengar.


" Tidak seperti yang aku pikirkan? Saat itu aku hanya berpikir kenapa mobil bergoyang di pinggir jalan sebelum gang masuk rumah. Yah, aku pikir sih kuntilanak sedang iseng jadi menggoyangkan mobil, tapi pas aku mengintip, aku melihatmu sedang duduk di atas pria, sudah begitu kau bergerak ke atas ke bawah, dada mu yang tidak sinkron besarnya itu juga keluar loh dua-duanya. Jadi, kalau bukan seperti yang aku pikirkan, terus apa dong? " Ariel tersenyum, lalu terkekeh karena tidak tahan melihat lucunya wajah Sephora yang memerah, sementara Ibu tiri terus saja menatap kesal, bukan kepada Sephora yang sudah mengecewakan sebagai putrinya, tapi dia menatap kesal kepada Ariel yang dengan gamblang menceritakan hal yang sangat tidak lantas diceritakan di hadapan orang tua.


" Ariel, aku pastikan kau tidak akan pernah bahagia! Aku, tidak akan bisa melihat Ibumu bebas dari penjara! " Kesal Sephora yang mulai tak bisa mengontrol diri, nafasnya juga sudah berat dengan dadanya yang jelas naik turun dengan kuat.


" Heh! Cuma kotoran lalat saja berani mengancam ku. " Ujar Ariel lalu menggibaskan tangannya dengan mimik menghina.


" Dasar anak seorang pel*cur! Selain kurang ajar dan tidak punya sopan santun, kau juga jadi memiliki hobi mengatai kami ya?! " Kesal Ibu tiri.


" Anak seorang pel*cur? Oh, maksudnya Sephora kan? He.... "


Sephora dan Ibu tiri semakin tak tahan, hingga pada akhirnya Ibu tiri bersiap untuk melayangkan sebuah pukulan kepada Ariel, tapi tercegah saat Tuan Diro datang kesana.


" Ada apa lagi?! Apakah kalian tidak bisa membiarkan aku tenang sebentar saja?! "


" Suamiku, Ariel datang ke rumah hanya untuk memaki kami berdua, bahkan dia mengatai ku pel*cur, juga mengatai Sephora sebagi anak l*cur juga! "


Tuan Diro menatap Ariel dengan tatapan seperti biasanya, dingin. Tatapan semacam itu yang sering Ariel lihat dari Ayahnya saat sedang akan marah seolah ingin menunjukkan betapa dia tidak bisa di bandingkan dengan Sephora.


" Ariel, kalau kau datang kerumah hanya untuk bertengkar, sebaiknya kau pulang saja dan jangan kenari kalau niatmu belum berubah. "


Ariel menghela nafas dengan tatapan jengah. Sudah bisa di duga kalau pada akhirnya dia lah yang akan di salahkan.


" Aku penasaran, apakah bagimu aku ini bukan putrimu? "


" Bicara apa lagi kau ini? " Tuan Diro mengernyit dengan tatapan yang seperti tak suka, tapi juga terlihat dia tidak mampu menjawabnya.


" Sudahlah, aku tidak mengharapkan jadi putrimu lagi kok. Dari aku berada disini, semenjak Ayah menikah dengan wanita bermuka dua itu, aku sama sekali tidak ingin menjadi putrimu lagi. "


Tuan Diro mengeraskan rahangnya, tapi dia juga tidak mampu membalas ucapan Ariel barusan.


" kau lihat kan suamiku? Ariel itu sangat tidak sopan dan bicaranya sangat menyakitkan. Seperti itulah hidupku selama ini, dia terus memperlakukan ku seperti seorang Ibu tiri yang sangat jahat, tapi kenyataanya dialah yang jahat dan tidak punya perasaan. "


" Ariel, Ibumu pasti akan lebih memilih hidup lama di penjara dari pada bebas dan melihatmu tumbuh menjadi pembangkang dan tidak memiliki sopan santun seperti ini. "


Ariel menghela nafasnya lagi.


" Ah, sayang sekali ya? Ibuku itu buka orang munafik dan juga buta, tentu saja dia bisa menilai seperti apa putri yang sudah dilahirkan olehnya, iya kan Ibu? "


" Tentu saja. " Ibu Maria berjalan masuk membuat Sephora, Ibu tiri dan Tuan Diro terkejut bukan main. Maria, wanita empat puluh satu tahun itu datang dengan langkah kaki yang anggun seanggun pakaian yang melekat di tubuhnya. Senyumnya juga sangat indah, dia sama sekali tidak terlihat seperti wanita empat puluh tahun.


" Apa kabar, semuanya? "


Bersambung.