
Nara terus tersenyum memandangi Mario yang kini tengah bekerja. Benar-benar hari yang sial karena Nara datang ke kantor untuk mengantarkan makan siang, jelas lah itu pasti akal-akalan Nara dan Ariel agar Nara dan Mario semakin dekat. jangan tanya bagaimana situasi hati Mario sekarang, tentulah dia benar-benar merasa sangat tertekan karena takut sekali Nara tiba-tiba aja menerjangnya saat dia sedang lengah, lalu memper- Ah! Sialan untuk membatin kata-kata itu saja Mario bahkan tidak sanggup melakukannya.
Mungkin Mario adalah satu-satunya pria yang bisa melewatkan kesempatan untuk merasakan bagaimana enaknya tubuh wanita, terlebih wanita itu adalah istrinya yang wajib untuk dia anu lah pokoknya. Tapi, masa lalu yang begitu membekas sungguh membuat Mario tak memiliki keberanian untuk sedikit saja memiliki niatan dengan seorang wanita untuk menjalin hubungan persahabatan, apalagi sampai terikat dengan pernikahan seperti sekarang ini.
" Sayang...... " Nara bangkit dari duduknya, dia berjalan menuju Mario yang duduk tak jauh darinya, tepatnya di kursi Presdir berada. Mario jelas sudah siap untuk menangkis segala serangan dari Nara.
" Mau aku bantu atau tidak? " Ucap Nara dengan jarak yang begitu dekat membuat Mario mengerakkan tangan. Bukan marah atau kesal, tapi dia menahan tubuhnya yang bergidik ngeri seperti ingin lari secepat mungkin bahkan melebihi kekuatan cahaya kalau bisa agar segera bisa menjauh dari Nara. Tapi apalah daya sekarang dia sedang berada di kantor, dan akan sangat aneh kalau dia berlari saat semua orang sudah tahu Nara adalah istrinya. Dengan ini bukankah orang akan mengira dia suami takut istri dalam anggapan mereka sendiri? Ah, memang benar takut sih, takut di perkosa.
" Menjauhlah, aku sedang bekerja. Kau lebih baik jangan merusak konsentrasi ku. " Ucap Mario dengan wajah dingin menahan segala perasaan aneh yang sekarang ini ia rasakan karena jarak begitu dekat dengan Nara.
Nara tersenyum, sungguh dia sendiri sekarang ini sudah merasa terbiasa hingga tidak lagi harus menahan tubuhnya yang gemetar ketika menggoda Mario. Tentu saja karena apa yang akan dia lakukan itu tidak bisa mempengaruhi Mario, jadi dia seperti semakin terbiasa menjahili tanpa kenal takut. Yah, semua itu kan karena dukungan besar dari Ibu mertuanya, orang yang paling bisa membuat Mario patuh dan mengatakan iya dalam hitungan detik setelah mengatakan tidak dengan waktu yang lama.
Ibu mertua, aku sudah melakukan sejauh ini, kalau tidak berhasil juga aku benar-benar akan merasa frustasi.
Nara menjalankan kakinya untuk mengubah posisi, dengan cepat dia menjatuhkan bokongnya di pangkuan Mario membuat pria itu tersentak dan tak lama dia mencoba untuk mendorong pergi Nara. Sayang sekali usahanya gagal saat Nara mengubah arah dadanya menjadi tepat di hadapannya. Uh! Benda kembar itu pasti sengaja diperlihatkan sedikit kepadanya kan? Benar-benar bodoh sekali yang mendesain dress itu sampai membuat dada wanita sedikit terlihat.
" Sayang,.... Sudahlah berhenti mendorongku untuk pergi. Hari ini Ibu mertua bilang harus ada tanda merah di tubuhku, kalau tidak ya di tubuhmu sebagai bukti bahwa kau dan aku sudah ewita. "
Mario terdiam membeku, tentulah dia tahu sekali maksud dari ucapan Nara barusan. Tapi masa iya dia harus membuat tanda merah? Melihat Nara saja dia sudah takut, apalagi sampai membuat tanda merah? Bisa-bisa dia malah jadi di seruduk dan seperti kemarin harus berakhir dengan colai sendiri.
" Sayang.... "
" Ja jangan begini dong! " Protes Mario saat Nara melingkarkan kedua lengannya memeluk tengkuknya.
" Po posisi aneh macam apa ini? " Tanya Mario ogah menatap Nara yang menatapnya dengan maksud terselubung.
" Sayang, bisa tolong lihat ada apa di hidungku tidak? Tadi sempat membentur pinggiran meja rias, sepertinya lebam deh. "
Tak memiliki kecurigaan apapun, Mario menaikkan wajahnya untuk melihat apakah benar ada lebam di wajah Nara atau tidak. Sial! Baru saja sedetik melihat hidung Nara, wanita itu malah dengan gerakan kilat menyergap bibirnya, dengan cepat mengigit bibirnya, bahkan menerobos masuk lidahnya tak bisa Mario cegah.
" Em! " Mario mencoba untuk mendorong tubuh Anta, benar-benar memang sangat licik! Batin Mario kesal di dalam hati. Andai saja Ibunya tidak memperingatkan agar jangan sampai melukai Nara, menekan kulit Nara juga di karang.
Hei hei! Kenapa lidahmu terus bergerak seperti ini?! Sialan! Aku harus bagaimana sih?!
" Presdir Mario, sebentar lagi ada- "
Nara benar-benar masa bodoh dengan sekretaris Mario yang datang, dia justru melanjutkan aksinya lebih buas lagi dari sebelumnya. Mario juga sudah mencoba bangkit, tapi Nara malah menyentuh cucungnya yang masih tersimpan di dalam celana dan membuatnya mau tak mau harus menyembunyikan tangan Nara lebih dulu dari sekretarisnya.
Begitu sampai di luar ruangan, dia mengeluarkan ponselnya dan memberikan kabar terbaru di grup khusus untuk membicarakan tentang Presdir mereka.
Heboh, heboh, heboh! Aku Baru saja melihat Presdir dan istrinya berciuman dengan mesra. Mereka terlihat sangat semangat, itu berarti Presdir kita tidak menyimpang kan?
Setelah itu grup langsung ramai membicarakan mereka.
" Aku benar-benar ingin mampus saja. " Ucap Mario duduk terdiam dengan tatapan kosong dan wajah syok luar biasa. Dasinya sudah miring dan kendur, kancing bajunya sudah terbuka tiga kancing, rambutnya berantakan, celananya juga terbuka karena Nara memaksa memasukkan tangan dan membuat kostum bawah yang dikenakan Mario acak-acakan.
Nara yang sudah bangkit kini tengah tersenyum menatap Mario. Dia berhasil! Tanda merah yang begitu banyak, ada di leher Mario, rahang, telinga, dia juga berhasil membuat si cucung yang hampir menjadi biksu itu bangkit dari bertapa. Ah, senang sekali, apalagi melihat bibir Mario yang bengkak lumayan parah, sampai dirumah nanti dia pasti akan mendapatkan dia jempol dari mertuanya.
" Mampus dalam kondisi perjaka apa tidak begitu sayang? Bagaimana kalau cicip saja sedikit, sayang? Kalau enak bisa di lanjutkan, kalau tidak enak berarti indera perasa milikmu sudah eror parah. "
Mario masih tak kuasa untuk bangkit, dia menundukkan kepalanya menatap betapa berantakannya dia dari ujung kaki sampai ke ujung kepala.
" Kenapa kau melakukan ini padaku? Aku kan sudah bilang berhenti dan jangan melakukanya? Kenapa kau malah jadi tambah semangat setiap kali aku mengatakan berhenti dan jangan? " Dengan mimik tak berdaya Mario berucap membuat Nara jadi semakin semangat menjahili Mario.
" Aku terbiasa bergaul dengan banyak wanita, mereka dan aku sendiri selalu mengatakan yang sebaliknya jika sedang kesal atau marah. "
Mario menatap Nara dengan tatapan memohon sungguh-sungguh.
" Kalau begitu, tolong lanjutkan apa yang seperti kau lakukan tadi ya? Tong..... "
Nara kembali mendekati Mario membuat Mario menatap bingung.
" Sayang, tentu saja aku akan melanjutkan untukmu.... " Nara kembali mendekatkan wajahnya untuk mencium Mario.
" Kau bilang artinya adalah kebalikannya kan?! "
" Iya, tapi kau kan bukan wanita? "
" Dasar gila! Kau menipuku ya?! "
Bersambung.