Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
BAB 84



Ariel meraih sebuah dress berwarna hitam polos untuk dia kenakan, ini bukan akhir pekan tapi dia ingin pergi jalan-jalan atau setidaknya untuk membeli beberapa pakaian atau pernak pernik yang dia sukai. Tidak perlu menunggu Leo karena dia ingin pergi sendiri menikmati waktunya sendiri, dia ingin merasakan kembali bagaimana dia dulu selalu pergi kemanapun seorang diri saja. Sudah selesai dengan semua kesiapannya, sekarang Ariel sudah ingin berangkat jadi, dia menghubungi seorang sopir yang telah disiapkan Leo untuk menemani atau mengantarkan ke manapun Ariel pergi. Satu jam kurang lebih mereka berada di dalam perjalanan sekarang, mereka sudah sampai di sebuah tempat pusat belanja yang cukup terkenal di kota yang mereka tinggali.


Dengan begitu semangat Ariel memilah milih beberapa pakaian untuknya, untuk Leo, dan tak ketinggalan untuk ibu kandungnya juga. Tak ketinggalan juga dia membeli dua tas branded yang adalah keluaran terbaru, satu untuk dirinya sendiri dan yang satu lagi untuk Ibu Maria atau ibu kandungnya. Di tengah-tengah kegiatan itu ternyata seorang pria yang sedari tadi rupanya telah memperhatikan Ariel, akhirnya menyapa dengan mimik seperti tak pernah melakukan kesalahan apapun. Dia adalah Bram, dengan senyum manis menjijikan di mata Ariel pria itu berjalan mendekat.


" Apa kabar mu, Ariel? "


Ariel menoleh menatap Bram, melihat wanita yang bukan Sephora bersamanya tentu saja Ariel mengernyit keheranan. Bukankah mereka sudah akan menikah? Kenapa ada wanita lain yang berjalan begitu mesra bersama Bram? Sebentar Ariel menghela nafas sembari berpikir bahwa Bram yang dulu sangat baik dan manis dalam berbicara dan bersikap memang ternyata adalah ciri khasnya. Dia sengaja begitu baik, manis, lembut kepada semua gadis agar mudah mendekati mereka, menggunakan mereka kapan pun di mau seperti mengumpamakan wanita bagai baju ganti.


" Kau berani sekali menyapa calon adik ipar mu tapi wanita yang kau gandeng bukanlah kakak ku ya? "


Bram tersenyum seolah tak menganggap ucapan Ariel berarti. Dia inga benar hari dimana dia melihat Ariel dan juga Presdir Nard yang begitu mesra ya kenal malu karena dia anggap apa yang di lakukan Ariel dan Presdir Nard adalah hal yang juga memalukan bukan? Dia yang beranggapan bahwa dia kan belum menikah jadi bebas saja dia mau pergi dengan suasana mesra dengan siapapun.


" Ariel, kau juga seperti ini kan? Kau menyukai indahnya sensasi yang kau dapatkan dari menyelingkuhi suami mu kan? "


Ariel terperangah kesal, matanya yang mana sih yang melihat Ariel suka berselingkuh? Tapi mau bagaimana lagi? Kalau melihat Leo dan Presdir Nard tentu saja semua orang akan salah paham, apalagi gosip tentang Leo yang adalah Presdir Nard yang bocor ke media kan sudah lebih cepat di blokir. Benar, beberapa hari lalu masih ada beberapa berita tentang itu, tapi tak lama setelah Sephora membaca berita tentang Leo dan Presdir Nard, berita besar itu segera di hidangkan tanpa jejak entah bagaimana caranya hanya di otak brilian Win yang bisa memikirkan dan melakukanya.


" Hei, pemilik cucung bengkok, kira-kira wanita mana yamg pernah mengatakan kalau begitu puas dengan milikmu itu? Ah, aku yakin Sephora pasti hanya berpura-pura saja demi membahagiakan mu saja. Dia bilang puas padahal dia merasa hanya seperti di gelitik saja. "


Bram menatap marah Ariel, jujur saja dia merasa kesal dan tak terima setiap kali Ariel mengatakan itu. Cucung bengkok? Memang ia miliknya agak bengkok, tapi kenapa juga harus begitu menghina bentuknya, dan meremehkan rasanya.


" Sayang, kau teruskan saja belanja mu ya? " Ucap Bram kepada gadis barunya, karena dia ingin berbicara kepada Ariel dengan lebih serius, jadi dia tidak ingin gadis barunya itu mendengar apa yang dia katakan nantinya. Setelah gadis itu pergi untuk melanjutkan kegiatannya, Bram kembali menatap Ariel dan tersenyum penuh percaya diri yang terlihat luar biasa.


" Ariel, kau hanya bisa mengatakan milikku bengkok dan meremehkan kekuatannya kan? Bagaimana kalau kau coba saja dulu, baru kau bisa menilai apakah bentuk itu lebih penting dari pada durasi dan kekuatannya? "


Sungguh sangat menyebalkan bukan? Cih! Ariel mana perduli dengan kekuatan di balik cucung bengkok itu, dia punya yang lebih wow di rumah, eh! Bukan di rumah, sekarang sedang di kantor, Ariel juga bukan tipe wanita yang begitu bersemangat untuk urusan seperti itu.


" Ah, aku tidak penasaran dengan rasanya. Mungkin aku dulu selalu menolak mu saat kau menginginkan itu dariku adalah feeling ku yang kuat, yah aku takut punyamu yang bengkok itu hanya berasa menggelitik saja jadi lebih baik tidak usah saja. " Ariel tersenyum setelahnya Mada bodoh dengan wajah Bram yang mulai terlihat kesal.


" Ariel, pulang dari sini bagaimana kalau ikut aku? "


" Ikut dengan mu? Tidak lihat tuh wanita mu yang sedari tadi melirik ke sini terus? Mau kau buang di tong sampah mana wanita itu? " Ariel memutar bola matanya jengah, ingin pergi dari sana semua belanjaannya belum dia antar ke kasir, juga mulutnya gatal kalau tidak menjawab.


" Gampang saja, atau kau mau datang ke apartemen Ki juga boleh. " Bram tersenyum setelahnya.


" Cih! Tidak Sudi aku datang ke apartemen jelek mu itu! "


Bram kembali tersenyum meski dia kesal sekali, di dalam angannya dia sampai sudah ingin memukul wajah Ariel sampai lebam dan bengkak parah rasanya.


" Ariel, gedung apartemen yang aku tinggali itu masuk ke dalam daftar sepuluh apartemen termewah loh di kota ini. "


Ariel berpura-pura terkejut, dia menutup mulutnya dengan tatapan menyeimbangi ekspresi nya.


" Ya ampun! Maaf ya? Beberapa bulan terakhir aku tinggal di rumah mewah, luas dan sangat megah jadi sampai sulit membedakan apartemen mu itu masuk ke dalam sepuluh terbaik. Ah, padahal aku sempat terpikirkan kalau apartemen mu saja tidak seluas kandang anjing-anjing mahal milik suamiku. "


Sudah, Bram benar-benar sudah tidak tahan lagi, dia tidak bisa berpura-pura tidak kesal karena ucapan Ariel benar-benar membuat kepalanya mendidih kesal.


" Kau keterlaluan sekali, Ariel! "


Ariel tersenyum senang karena merasa sudah cukup membuat Bram tidak lagi berbicara ngawur. Ariel membawa semua barang-barang belanjaan miliknya untuk menuju kasir.


" Lain kali kau boleh mengajak ku bertemu, tapi syaratnya kau harus meluruskan dulu cucung mu yang bengkok, dan tolong agak di perbesar ukurannya, masa milikmu itu tidak ada bedanya seperti jari kelingking ku. " Ariel mengerakkan tangannya untuk mewakilkan ucapan selamat tinggal meninggalkan Bram yang sudah tak karuan wajah kesalnya hingga tak bisa berbicara apapun.


Bersambung.