Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
BAB 95



Ibu tiri terjatuh di lantai karena tak kuasa menahan tubuhnya. Baru saja dia di hubungi oleh kakak perempuannya bahwa Ayahnya telah di tangkap dengan kasus pemalsuan barang bukti, serta kasus korupsi yang melibatkan nama mendiang Ibunya, kakak laki-lakinya, juga satu keponakanya, sedangkan Ayahnya sudah di klaim sebagai pelaku utama kasus korupsi yang terjadi hampir sebelas tahun lalu itu.


" Tidak, tidak! Bagaimana bisa begini?! "


Ibu Maria yang baru saja datang ke rumah Leo hanya bisa menatap Ibu tiri yang duduk di lantai dengan tatapan datar. Bukan mudah baginya mengumpulkan semua bukti Meksi dia juga selalu di bantu oleh Win, Leo dan beberapa orang-orang di tugaskan Win atas nama Leo untuk membantunya dalam mengorek kasus korupsi itu.


Tuan Diro hanya bisa diam tak berani memberikan komentar apapun, dia bahkan tidak mendekati istrinya dan menenangkan. Rasanya sudah cukup semua drama penuh kepalsuan ini, dia juga ingin segera cepat selesai hingga tidak perduli betapa akan sulitnya masa-masa ini untuknya.


" Ayahmu masih melindungi mu, tapi sayangnya bukti keterlibatan mu sudah berhasil aku dapatkan, juga sudah aku serahkan ke kantor polisi, jadi tunggulah saja giliran mu. " Ucap Ibu Maria kepada Ibu tiri.


Ibu tiri menoleh ke arah dimana Ibu Maria berada. Dia menatap dengan tatapan marah, terkejut, juga seperti tak ingin menerima apa yang terjadi ini. Dia bangkit dengan tatapan maraj yang terlibat lebih menonjol, dia ingin melayangkan pukulan ke wajah Ibu Maria, tapi Tuan Diro di sana seperti berjaga agar itu tidak terjadi.


" Diro, di saat seperti ini kau juga masih mengkhawatirkan dia?! " Ibu Tiri me unjuk Ibu Maria dengan tatapan mata terarah kepada Tuan Diro. Pria itu tak mengatakan apapun, dia memilih bungkam seribu bahasa dan membiarkan saja Ibu tiri ingin menuduhnya apa.


" Dia sudah memenjarakan Ayahku, juga keluargaku yang lain! Dia sudah melakukannya, dia bahkan ingin memenjarakan ku juga! Kau seharusnya membela ku, bukan mengkhawatirkan dia! "


Ibu Maria membuang nafas kasarnya, dia bukan bodoh yang tidak bisa mengerti tatapan Tuan Diro masih menyimpan rasa cinta untuknya, tapi kepolosan pria yang dulu ia kenal itu sudah berubah menjadi kebodohan yang tidak tertolong, jadi untuk apa dia memperdulikan pria bodoh yang bahkan tidak bisa membuat wanitanya merasa aman?


" Sudahlah, aku sama sekali tidak ingin dengar pembicaraan aneh kalian berdua, aku kesini karena ingin menemui putriku tercinta, sekaligus mengingat kan mu agar kau bersiap-siap dari sekarang. Ah, aku juga akan mengirimkan satu kardus mie instan setiap bulannya, juga air mineral untukmu. Oh, kau butuh selimut juga pastinya kan? Kau catat saja apa apa saja yang kau butuhkan, aku janji akan mengirimkannya untukmu supaya kau betah di dalam sana nanti. Aku saja berhasil melewati sepuluh tahun tanpa pernah merasakan bagaimana nikmatnya mie instan darimu, harusnya kau tidak begitu menderita karena aku perhatian kan? " Ibu Maria tersenyum di akhir kalimat, dan tentulah itu semakin membuat Ibu tiri menjadi lebih merasa begitu marah.


" Maria, aku akan membalas mu! " Ancam Ibu tiri dengan mata yang melotot seperti begitu berapi-api terbakar oleh kemarahan yang luar biasa.


" Kalau ada aku bersama Mari, maksudku Nyonya Maria, kau dan keluargamu tidak akan mungkin bisa melakukannya kan? "


Ibu Maria, dan juga yang lainnya menatap orang yang mengatakan itu, dia adalah Win dan mereka hanya bisa terdiam tanpa membantah lagi. Pria sekelas Gun yang terkenal sangat cerdik, bahkan bisa mengacaukan sistem kemanan komputer perusahaan besar, memiliki reaksi koneksi yang begitu luas saja sekarang malah hanya menjadi babu para tahanan lain, apalagi Ibu tiri yang hanya anak dari mantan pengusaha yang kini sudah bangkrut?


" Ck! Win sialan itu, dia tadi mau menyebut nama Ibuku secara langsung dengan nada bicara yang lembut seperti sedang menyebut nama wanita tercintanya. Siapa bilang aku menginginkan Ayah tiri? Cih, langkahi dulu Leo jika ingin menjadi Ayah tiri ku! " Gumam Ariel kesal sendiri. Dia sebenarnya sudah menonton adegan itu sedari tadi dari jarak yang lumayan jauh, Leo juga berada di sana merasai lengannya di remas dan di pukul saat Win mengatakan kalimat seolah dia akan berada di samping Ibu Maria terus, dengan kata lain menjadikan Ibu Maria istrinya.


" Sayang, kenapa harus melangkahi ku dulu? "


Ariel melirik sinis.


" Masa aku harus bilang langkahi dulu mayat ku? Kau kan suamiku, biasanya seorang suami akan melakukan apapun demi istri, nah! Kau saja yang menggantikan ku. "


Leo terdiam tak bisa berkata-kata. Memang bukan Ariel kalau tidak menyebalkan dalam berbicara, ah lagi pula pribahasa dari mana itu? Langkahi dulu mayat ku? Apakah ini maksudnya dia harus menjadi mayat lebih dulu untuk Win menikahi Ibu mertuanya? Hah! Merasakan enak saja baru beberapa bulan ini, mana boleh dia jadi mayat hanya karena Win? Masa bodoh saja! Mau menikah atau tidak, pokoknya dia dan Ariel harus terus maju tidak boleh ada halangan.


" Kalau begitu, jangan biarkan Win menikahi Ibu mu! "


" Iya, benar sekali! Lagi pula Win itu selain tubuhnya bagus, wajahnya terlalu oke. Bentuk hidungnya, bentuk rahangnya, kedua mata tajam yang seksi, bibir yang imut tapi tebal, kulitnya yang kecoklatan memang siapa yang tidak mau? Dia pasti seorang playboy! "


Leo mengeryit dengan tatapan tak suka sedari tadi Ariel menilai wajah Win. Kenapa rasanya dia ingin sekali membungkam mulut Ariel? Ah! Bukan! Tapi dia jadi ingin mengacak-acak wajah Win sampai jelek, jelek sekali bila perlu.


" Tetap saja aku lebih tampan dari Win. " Ucap Leo percaya diri. Sephora menaikan sebelah sisi bibirnya dengan tatapan seolah menegaskan kata No dari hatinya.


Setelah ucapan Win tadi Ibu tiri tak berani berkata-kata, sekarang dia hanya bisa pasrah mempersiapkan diri karena surat panggilan untuknya pasti akan datang sehari atau dua hari lagi dari sekarang.


" Tuan Diro, mohon bantu istrimu berjalan, dia terlihat sangat lemas. Ah, kalian juga tidak usah datang lagi kesini, lagi pula kalau di hitung dengan cara kerja kalian, butuh sepuluh tahunan untuk melunasi hutang, jadi menyerah saja. " Ibu Maria tersenyum lagi.


Bersambung.