
" Kau tahu siapa dua orang di photo ini kan? "
Pria itu menatap dengan terkejut sebuah photo yang di pegang oleh Mark. Istri dan juga anaknya yang sedang berada di sekolah. Pria itu menjadi goyah tak bisa lagi bertahan untuk diam. Dia tentu saja tidak masalah terluka bahkan mati demi Tuannya yang tak lain adalah Leo. Tapi, Mark mengetahui tentang keluarganya, keluarga kecilnya yang sangat dia cintai, jadi sekarang dia benar-benar tidak memiliki pilihan lain.
" Kau masih ingin diam? Sungguh kau tidak perduli dengan mereka? "
Mark tersenyum dengan begitu licik, dia benar-benar menatap penuh kelicikan dan juga seperti monster yang kehausan akan darah.
" Kau sangat keterlaluan. " Ujar Pria itu degan suara bergetar karena takut, dia takut terjadi sesuatu dengan keluarganya. Dia takut istri dan anaknya terluka, padahal hanya mereka yang dia punya sebagai keluarganya.
" Jika kau masih bertele-tele, percayalah dalam hitungan detik aku bisa membuat mereka hanya tinggal nama saja. "
Pria itu mengeraskan rahangnya karena marah, sungguh dia sangat marah karena tak memiliki pilihan laik lagi. Sekarang dia harus berkhianat demi anak dan istrinya, jadi jika mati pada akhirnya, dia benar-benar sudah rela asalkan keluarganya akan baik-baik saja.
" Katakan, sebagai apa kau bekerja untuk Leo? "
Pria itu mengepalkan tangannya kuat-kuat.
" Aku membantu Mister L untuk memasang kulit buatan di wajahnya. "
Mark mengeryit mencoba menebak sebentar apa maksud dan arti dari kulit buatan yang ditempelkan ke wajah Leo. Ah, dia masih tidak bisa menemukan jawabannya, jadi Mark harus menemukan jawaban dan maksud dari pria itu sejelas mungkin.
" Kulit apa, dan katakan sejelas mungkin. ''
" Mister L, dia tidak cacat, dia hanya berpura-pura cacat saja. "
Mark ternganga sebentar dengan tatapan tak percaya. Pura-pura cacat? Bertahun-tahun dia berpura-pura cacat? Tidak, dia tidak bisa mempercayai ucapan itu sekarang. Mark kembali menatap pria itu dengan tatapan mengancam, meraih kerah bajunya dan memperlihatkan wajah kesal yang tak tertahankan.
" Kau ingin mempermainkan ku?! Apa kau begitu ingin mati?! "
" Aku sudah mengatakan apa yang aku lakukan, dan yang aku tahun. Percaya atau tidak, tentu itu bukan urusan ku. "
Mark melepaskan kerah kemeja itu dengan mimik kesalnya. Sungguh dia tidak heran kalau pria seperti itu adalah orang-orang nya Leo. Padahal sudah dipukuli habis sampai berdarah-darah, tapi bicaranya masih sangat berani seperti tak kenal apa yang namanya takut mati.
" Kala kau membohongiku, aku benar-benar akan mendatangkan dewa kematian untuk keluargamu. "
Pria itu menggeram kesal.
" Kau sudah mengancam ku dengan keluarga kecilku, kau pikir aku masih bisa main-main dengan nyawa mereka? "
" Hah, baiklah. Sekarang katakan padaku, seperti apa wajah Leo jika tidak menggunakan kulit buatan? "
" Presdir Nard. "
" Bajingan! Kau sedang bermain-main?! "
" Kau sadar apa yang kau katakan tadi? "
" Sudah ku bilang kan? Aku tidak suka bermain-main denganmu, jadi aku mengatakan apa yang sebenarnya
Mark tersenyum dengan tatapan terkejut, ternyata pria itu benar-benar tidak takut untuk mati.
" Kau benar-benar sangat berani sekali ya? Apa kau tidak takut aku membunuhmu? "
" Setelah mengkhianati Mister L, aku sudah menganggap diriku tidak layak menjadi pesuruhnya lagi, jika kau ingin membunuhku, lakukan saja, tapi kau tidak boleh membunuh anak istriku yang tidak ada hubungannya dengan Mister L. "
Mark bangkit dari posisinya, dengan perasaan kesal dia pergi meninggalkan tempat itu. Sungguh dia benar-benar kesal dan marah tapi juga dia juga merasa sangat iri. Iya, dia iri karena Leo selalu di kelilingi oleh orang-orang yang memiliki moral begitu bagus, mereka juga begitu setia dan tidak takut untuk mati.
" Tuan, bagaimana dengan pria itu? Apa kita perlu membunuhnya dan mengubur di belakang gudang? " Tanya salah satu orang milik Mark.
" Apa kau bilang? " Mark menatap tajam pria itu.
Setelah selesai dengan orang itu, Mark segera kembali menemui Ayahnya yang saat ini sudah kembali kekediaman kakeknya. Mark terdiam sebentar melihat Ayahnya yang sedang meminum segelas anggur dengan senyum yang terbit di bibirnya. Tidak tahu bagian mana dari semua kejadian yang membuatnya seneng, tapi melihat Ayahnya tidak begitu emosional seperti sebelumya Mark juga merasa lebih baik kalau seperti ini saja.
" Ayah? "
Setelah itu Mark menceritakan apa yang dikatakan pria tadi kepada Paman Daris. Awalnya pria itu sempat menolak percaya, bahkan juga hampir memukul Mark.
" Ayah, kalau kita ingat-ingat lagi, kita hampir tidak pernah melihat Win dan Leo bersamaan ketika ada Nard kan? Dan lagi, aku juga merasa hubungan Ariel dan Nard sangat tidak wajar. Dari cara Nard menatap Ariel, pria itu seperti memiliki perasaan yang dalam. Jadi aku meyakini ucapan pria itu adalah benar. "
Paman Daris kembali menenggak segelas anggur yang tersisa di gelasnya tadi. Sebentar dia memikirkan ucapan Mark, dan terlalu banyak persamaan antara Leo dan Nard.
" Dia benar-benar sangat berani karena telah menipu kita selama ini. Heh! Tidak masalah, kita hancurkan saja dia secepatnya, lebih tepatnya menghancurkan dia melalui wanitanya. " Tuan Daris tersenyum licik, dia sudah merangkai banyak sekali rencana yang begitu jahat dan menjijikan tentang Ariel.
Mark, pria itu menunduk tak tahu harus bagaimana menanggapi ucapan Ayahnya.
Esok paginya.
Seperti biasanya, Leo akan pergi ke kantor sebagai presdir Nard, dan mengerjakan semua pekerjaan seperti biasanya. Hari ini perasaannya tidak tenang, jadi dia pikir akan segera pulang setelah semuanya selesai dan tidak perlu menunggu jam kerja kantor berakhir.
Seperti dugaannya, ternyata Win memberi kabar bahwa kakeknya mengalami beberapa masalah gawat di rumah sakit. Segera Leo bergerak untuk menuju kesana, dan sebentar dia lupa jika Ariel berada di rumah.
***
Ariel terdiam dengan kedua telapak tangan saling menggenggam menguatkan. Dia benar-benar tidak tahan melihat betapa menakutkannya wajah Mark yang tersenyum dengan begitu licik. Sebenarnya dia tidak ingin keluar dari kamarnya, tapi entah dari mana Mark mendapatkan nomor teleponnya. Mark menghubungi untuk mengajak bertemu, pada awalnya tentu Ariel menolak, tapi tak lama Mark mematikan ponselnya, mengirimkan photo Ibunya yang sedang beraktifitas, dan itu jelas adalah sebuah ancaman. Ariel sebenarnya ingin menghubungi Leo, tapi ternyata Mark licik itu mengancam dan dia juga sudah berada di rumah Leo sehingga dia tidak bisa melakukan apapun dengan ponselnya.
" Ariel, pilihan ada di tanganmu sekarang. Kau akan pergi denganku dan aku pastikan Ibumu selamat, atau kau ingin tetap bertahan di sini, tapi Ibumu bisa saja celaka, Ah! Bisa juga mati. "
Bersambung.