Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
Bonus Chapter 64



Hari-hari dilalui oleh tiga suami dengan perasaan yang kadang-kadang begitu terasa lelah tertekan, kadang juga ingin memberontak. Tapi begitu mengingat kembali bahwa istri mereka hamil karena mereka juga, anak yang ada di perut mereka juga anak si tiga suami masing-masing. Masih seperti sebelumnya, Moza, lope, dan juga Nara menjalani masa ngidam mereka tentu juga dengan versi mereka masing-masing.


Moza yang begitu tegas, semakin tegas kepada William karena dia benar-benar ingin menjadikan anaknya berbanding terbalik dengan Ayahnya. Pertama dia tidak ingin anaknya menjadi brengsek jika dia terlahir sebagai laki-laki, dia juga tidak ingin anaknya merasakan seperti wanita mantan atau bekas kekasih Ayahnya. Tapi, dalam beberapa aspek William juga termasuk orang yang kompeten dan bisa diandalkan, setidaknya William memiliki nilai plus yang bisa dibanggakan kepada anaknya nanti. Kedua, dia ingin mendidik bayinya sejak sedini mungkin agar kelak saat dewasa tak begitu bergantung kepada orang tuanya, dan dapat hidup di manapun dia berada, kepintaran yang dimiliki juga dapat membuatnya merasa aman di manapun dia berada.


Lope, dia masih sama dalam mengurus rumah tangga hanya saja dia jadi lebih sering mengomel jika Mike sembarangan dalam menaruh barang. Masalah bangun pagi Mike, semua sudah teratasi dengan baik karena Mike mampu perlahan-lahan berubah menjadi pria yang membanggakan, dan Lope menjadi semakin semangat untuk merawat suaminya. Memang benar Pertengkaran selalu ada di antara mereka tak perduli waktu, tapi keinginan yang begitu serius dalam berumah tangga membuat Mike dan Lope berusaha keras untuk selalu bertahan, apalagi kelahiran anak mereka juga tak akan lama lagi.


Nara, dia sekarang sudah benar-benar menjadi sangat chuby. Yang dia lakukan setiap hari hanyalah makan, makan, makan, makan, dan juga menonton drama kesukaannya. Tapi ya sudahlah, dengan begitu Mario hanya perlu sibuk membelikan makanan yang di inginkan oleh Nara, tidak begitu tertekan seperti awal-awal kehamilan. Entah apakah karena mereka sudah lega karena kelahiran bayi akan datang sebentar lagi, ataukah memang ngidam istrinya memang sudah mengurang.


Beberapa saat kemudian.


" Sayang! Moza masuk rumah sakit pagi ini. Dia bilang sudah pembukaan dua, jadi hanya perlu menunggu beberapa saat lagi bayinya akan lahir. "


" Kapan menghubunginya? " Tanya Mario yang terkejut saat sedang akan membuka laptopnya.


" Baru beberapa menit yang lalu, kita kesana yuk sayang! " Ajak Nara dengan begitu semangat.


Mario terdiam sebentar.


" Jangan, nanti kalau kau trauma bagaimana? Itu juga tidak baik untukmu dan dua bayi kita kan? " Ujar Mario yang khawatir. Bagaimanapun dia juga sering menonton yang namanya perempuan melahirkan secara normal dan secara bedah sesar, membayangkan begitu banyak darah, kubah wanita yang sekecil itu bisa mengambang menjadi sebesar lubang sapi, rasanya dia jadi takut kalau Nara akan merasa takut saat melahirkan bayinya nanti. Ah, khusus untuk Nara, karena dia mengandung bayi kembar yang gendernya sengaja mereka belum ingin tahu sebagai kejutan, Nara akan melahirkan secara sesar di Minggu ini sesuai dengan saran Dokter karena dia anggap berisiko tinggi jika Nara memaksakan persalinan secara normal mengingat satu bayinya berada dalam posisi sungsang.


" Tidak, kenapa aku harus trauma? Aku kan melahirkan secara sesar. Walaupun aku tahu melahirkan tidak mudah, asalkan anak-anak kita lahir dengan selamat, memang apa yang tidak bisa aku lakukan? "


Mario menutup kembali laptopnya, laku berjalan mendekati Nara dan mengusap perutnya dengan lembut. Selama ini dia melihat benar bagiamana Nara begitu santai dengan kehamilannya, dia tidak banyak mengeluh ini dan itu, hanya saja saya bangun pagi dia akan kesulitan untuk bangkit dan selaku membutuhkan bantuan Mario. Sungguh dia benar-benar salut bagaimana perjuangan wanita untuk bisa melahirkan anak, lihatlah Nara yang begitu chuby, jalak saja kelihatannya sudah sekali karena ukuran perut Nara memang lebih besar di banding Moza dan Lope yang hanya Hamil dengan satu bayi. Kaki Nara yang bengkak, wajah jadi ada jerawat, mudah kelelahan, nafasnya saja kadang terdengar sesak. Jadi bagaimana bisa Mario akan mengeluhkan lagi mengenai manjanya Nara saat hamil?


" Oke, kita akan kesana sekarang. Tapi jangan terburu-buru saat berjalan, santai saja toh nyatanya juga kita akan tetap sampai kan? " Nara tersenyum dan mengangguk.


Beberapa saat kemudian, Nara dah juga Mario sudah sampai ke rumah sakit di mana Moza sedang menjalani masa tersulit baginya, yaitu menunggu bayinya lahir sembari merasakan kontraksi yang sakitnya melebihi batas kemampuan manusia normal.


" Moza, bagaimana keadaanmu? Apa pembukaan sudah bertambah? " Tanya Nara begitu sampai di sana dan betapa khawatirnya dia melihat Moza yang berdiri lalu mondar mandir kesana kemari dengan tujuan agar bayinya cepat lahir.


Nara membuang nafasnya, lalu memanggil Wiliam untuk mendekat kepada Moza.


" Ada apa? Aku benar-benar minta maaf ya sayang? Badanku terus berkeringat melihatmu seperti ini, aku juga jadi ingin terus buang air kecil. Aku bukan sengaja, aku benar-benar bingung harus bagaimana. " Ucap Wiliam panik.


Nara tersenyum miring lalu menatap Moza yang sepertinya tak bisa di ajak bicara lagi karena kontraksi di perutnya kembali terasa.


" Moza, berikan tanganmu padaku. " Pinta Nara. Moza tak bertanya untuk apa, dia memberikan saja satu tangannya yang sudah terasa dingin menahan sakitnya kontraksi.


" Moza, jangan bersikap begitu keren padahal kau tahu ini kan sedang berjuang melahirkan putramu. Kau kesakitan bukan? " Sekarang Nara mantap Wiliam yang memegangi cucungnya yang tersimpan di dalam celananya yang sepertinya terus saja ingin membuang air karena gugup.


" Wiliam, tolong duduklah dengan baik. "


Wiliam menuruti saja ucapan Nara meskipun yang dia rasakan adalah inginnya mengeluarkan air dari cucungnya.


Nara meletakkan tangan Moza di kepala Wiliam membuat keduanya bingung dengan wajah pucat menahan apa yang sedang merasa rasakan.


" Tidak adil kalau kau sakit sendirian, Moza. Jambak rambut Wiliam, Jambak sekuat tenaga saat kau merasakan kontraksi. Ah, kau juga bisa mencubit, menggigit bagian mana yang kau inginkan, aku yakin deh kalau kalian berbagi rasa sakit, anak kalian pasti bangga sekali dengan orang tuanya yang kompak. "


Wiliam melotot kaget, dia sudah akan bangkit tapi tangan Moza sudah bergerak lebih cepat di banding dirinya.


" Ah......! Sakit! Sakit! Sakit! " Pekik keduanya bersamaan.


Nara tersenyum lebar, begini baru adil.


Bersambung.