Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
BAB 33



Leo terdiam dengan tatapan salah tingkah, maklum saja, tidak biasa baginya dirayu wanita seperti beberapa saat lalu. Ariel, entah dengan kekuatan apa berani-beraninya menggerayangi tengkuk, dan membuatnya merinding di seluruh tubuhnya. Yah, bohong sekali kalau jiwa laki-lakinya tidak bangkit ingin menyergap Ariel, tapi karena suatu hal dia harus menahannya sampai waktunya benar-benar tepat.


Ariel memiringkan tubuhnya menatap Leo yang terus saja berpura-pura tidur. Tentu saja Ariel tahu kalau Leo sedang berpura-pura tidur untuk menghindarinya. Yah, walaupun begitu, Ariel belum menyerah dengan keinginannya. Mungkin Leo memang bukan orang yang mudah karena merasa rendah dengan fisiknya, tapi tekad Ariel juga sudah semakin membulat dan dia benar-benar akan menjalani tugasnya sebagai istri yang sesungguhnya mulai sekarang.


" Leo, jangan pura-pura tidur lagi. Kau lebih baik buka matamu, atau aku akan menyerang mu sekarang juga. "


Leo segera membuka matanya, dia menatap Ariel dengan tatapan terkejut, tali dia juga terlihat keheranan dengan apa yang keluar dari mulut Ariel. Huh! Padahal Ariel kan adalah wanita yang biasanya malu-malu anjing, tapi kenapa Ariel malah bersikap sangat mesum sampai-sampai membuat Leo yang sejatinya seorang pria malah menjadi kehabisan kata-kata.


Pagi harinya.


Ibu Maria ikut membantu pembantu yang bekerja di dapur untuk menyajikan sarapan, benar-benar sangat menyenangkan karena ini sudah sepuluh tahun jadi semua terasa sangat indah dan membuatnya begitu bersemangat.


Ariel yang baru datang bersama Leo merasa amanat bahagia juga melihat Ibunya bersemangat setelah sepuluh tahun. Hati mana yang tak bahagia jika sepuluh tahun bisa dibayarkan dengan kebahagiaan sebesar ini, dan janji Ariel di dalam hati akan terus melindungi Ibunya, dan menjaga Leo sebisanya. Terdengar sok berani, tapi sekarang ini yang Ariel miliki hanyalah Ibu dan juga suaminya saja, jadi bukan salahnya kalau keinginan untuk mempertahankan mereka berdua semakin menjadi lebih besar setiap waktu.


" Ariel, Leo? Kalian sudah datang? Ibu pikir kalian akan butuh waktu bangun lebih lama karena ingin lebih banyak istirahat. " Ujar Ibu Maria.


Ariel mendorong kursi roda Leo sampai ke meja makan, Barus telah itu dia berjalan mendekati Ibunya yang bagus aja meletakan roti bakar di meja makan. Ariel memeluk erat tubuh Ibunya, sungguh rasanya sangat seperti mimpi hingga lagi-lagi dia harus menahan tangis haru.


" Marile sayang, berhentilah menunjukkan betapa manjanya dirimu dihadapan suamimu. " Ujar Ibu Maria sembari mengusap punggung Ariel dengan lembut.


" Dia sudah tahu kok, lihat tuh pipinya merona terus menerus kan? "


Leo melotot kaget, dan dengan segera dia menoleh ke arah yang lain.


Setelah sarapan selesai, Ibu Maria dan Ariel sepakat untuk datang kerumah Ayahnya, untuk membicarakan beberapa hal yang memang harus segera dia selesaikan. Leo tak mencegah sama sekali, karena itu juga ide darinya agar bisa segera membuktikan kebenarannya kepada semua orang, terlebih juga harus membuat perhitungan kepada mantan suami dari Ibu Maria, atau Ayah kandung dari Marile.


Bak dua wanita dari kalangan atas, Ariel dan Ibu Maria menggunakan pakaian serba hitam yang sangat mewah, dan perhiasan mungil tapi juga terkenal dengan betapa sulitnya produk itu di dapatkan. Baik Ariel maupun Ibu Maria sungguh tidak tahu menahu berapa harga barang yang melekat di tubuhnya, dan yah, itu juga sudah disiapkan oleh Leo dengan tujuan untuk menunjukkan betapa mahalnya mereka hingga tidak bisa dibandingkan dengan keluarga baru Ayahnya.


" Ibu, apa Ibu tidak apa-apa? " Tanya Ariel karena bisa dengan jelas melihat wajah Ibunya begitu berubah begitu mereka berada di halaman rumah yang dulu juga menjadi tempat tinggal ketika menjadi istri dai Tuan Diro hingga memiliki anak yaitu Marile.


Ibu Maria menoleh sembari tersenyum agar Ariel tidak terbebani dengan melihat perubahan wajahnya. Iya tidak menampik perasaan tertekan begitu berada di halaman rumah, tapi kalau terus memakai hati, maka dia akan membuat Ariel terluka seperti sebelumnya.


" Ariel, masuk duluan saja ya? Ibu butuh waktu sebentar untuk menenangkan diri. "


Ariel mengangguk, sungguh dia tahu kalau tidak mudah bagi Ibunya untuk menghadapi mantan suami yang menikah lagi dengan mantan istrinya disaat dia di penjara.


" Ya sudah, aku masuk duluan saja. " Ujar Ariel lalu tersenyum sebelum meninggalkan Ibunya disana. Sebentar Ariel menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nafas perlahan berharap suasana hatinya akan tetap tenang apapun yang terjadi nanti.


" Bagaimana yang ini Bu? " Tanya Sephora sembari menunjuk gambar dengan begitu semangat.


" Terlalu banyak ornamen, itu memang terlihat mahal, tapi tidak elegan Sephora. "


" Ah, aku pusing sekali Bu! Padahal begitu banyak pilihan baju pernikahan, tapi aku malah jadi bingung. " Ujar Sephora merengut sebal. Ini sudah empat majalah, tapi yang sesuai dengan Seleranya benar-benar sulit untuk di dapatkan.


" Ya sudah, Bram itu kan punya banyak uang dan kenalan butik mewah juga Ibunya pasti punya, mau pusing apa lagi? Hanya tinggal mencari pelan-pelan saja, atau kau mau pesan juga bisa kan? "


Sephora menghela nafas.


" Aku sempat melihat daftar harga di butik mewah itu, tapi harganya benar-benar mahal sekali, Bu. "


" Wah, sudah mau menikah ya? " Ariel berjalan semakin mendekat, dan kini dia sudah ada di dekat Sephora dan Ibu tiri yah kompak menatap Ariel dengan tatapan kesal.


" Bukan urusanmu! " Kesal Sephora.


" Yakin mau menikahi Bram? Tidak mau pikir dulu? "


Ibu tiri semakin menatap tak suka kepada Ariel, karena dia hanya menatap seperti itu, yakin deh diruang pasti ada Tuan Diro dan dia hanya ingin menyembunyikan wajah aslinya saat Tuan Diro berada di dekatnya.


" Kenapa? Kau iri ya? Padahal Bram adalah cinta pertamamu, tapi dia pada akhirnya memilihku karena dia keburu sadar bahwa aku lebih baik segalanya kalau dibandingkan dirimu. " Sephora tersenyum dengan tatapan mengejek, ya tentulah dia masih beranggapan kalau Ariel hingga sekarang masih menyimpan Bram dihatinya.


" Cih! Cinta busuk seperti itu ya hanya kau lah yang mau! " Ujar Ariel mencemooh dengan mimik wajahnya.


Sephora bangkit dari duduknya, dia menatap Ariel dengan tatapan menantang karena merasa kesal dengan ucapan Ariel yang selama ini seperti terus merendahkannya.


" Masa bodoh kau ingin bicara apa, lebih baik kau pergi saja dari sini. Ini adalah rumahku, ini adalah tempat tinggal keluargaku, jadi kau lebih baik pergi saja! "


Ariel terkekeh.


" Dasar donat rimba! Kau pikir siapa kau bisa begitu percaya diri? "


Bersambung.