Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
BAB 39



" Biarkan aku sendiri, aku ingin buang air besar, jadi pergilah. " Ucap Leo yang benar-benar tidak ingin membuat Ariel melihat cucung nya sudah tegak seperti itu.


Sebenarnya Ariel sendiri sudah melihat bagaimana bagian itunya Leo berdiri, jadi dia sengaja berlama-lama menggosok punggung Leo. Sudahlah, dia juga butuh bersiap jadi membiarkan Leo mandi sendiri juga dirasa pilihan yang tepat sekarang ini.


Ariel memegangi dadanya yang begitu terasa degup jantungnya, benar-benar sangat mengejutkan meski ini bukan untuk yang pertama kali melihat cucung Leo berdiri. Ah, maklum saja jika ini terasa berlebihan, bagaimana pun dia adalah seorang gadis yang akan berdebar melihat gender yang berbeda tanpa penutup, ditambah lagi juga sedang bereaksi.


Cukup lama Ariel menunggu Leo keluar dari kamar mandi, anehnya pria itu masih begitu betah di dalam kamar mandi entah apa yang dia lakukan. Ariel tak tahan lagi menunggu karena takut kalau terjadi sesuatu, maka Ariel segera menyambangi Leo ke dalam kamar mandi.


Glek!


Ariel terbelalak kaget melihat apa yang ada di hadapannya. Leo juga terkejut, ah dia lupa mengunci pintu kamar mandi gara-gara ingin menuntaskan bagian bawahnya tadi.


" Apa aku sedang bermimpi? " Ariel terus menatap ke arah Leo tanpa berkedip.


Leo, pria itu mematung karena tidak tahu harus bagaimana. Kenapa? Karena sekarang ini dia sedang berdiri dengan tegap di bawah guyuran air yang keluar dari shower kamar mandi. Memang pernah mengatakan kepada Ariel bahwa dia bisa berdiri, tapi kalau melihat cara dia berdiri dengan gagah sekarang, bukankah ini terlalu mustahil bagi seorang pria yang selama ini sudah menyandang status cacat kaki.


" Kau, membohongiku? " Ariel menatap Leo yang kini sudah mematikan keran showernya. Benar-benar bukan waktu yang tepat, padahal dia ini juga bisa di bilang sedang mempersiapkan diri, tapi kalau seperti ini dia malah tidak tahu harus bicara apa.


Leo sebentar berpikir, apakah dia harus berbohong di saat kondisinya tidak mendukung? Tapi mau sampai kapan kah dia terus berbohong? Cepat atau lambat kebenaran juga akan terungkap, jadi akan lebih baik kalau dia menjelaskan saja, tapi tentu tidak boleh sampai menjatuhkan harga dirinya.


" Aku kan memang sudah bilang padamu kalau aku bisa berdiri. " Leo meraih handuk yang berada tak jauh darinya, lalu melilitkan ke pinggangnya. Benar-benar sampai lupa kala dia sama sekali tidak menggunakan apapun untuk menutupi tubuh sebelumnya, Ariel juga nampak tak perduli, justru tatapan matanya sangat membuat tertekan sekarang ini.


Ariel mengigit bibir bawahnya. Sungguh dia merasa bodoh selama ini, kalau memang iya benar bisa berdiri, lalu kenapa dan apa gunanya dia terus duduk di kursi roda dan berlaku seperti orang cacat? Apakah itu sungguh menyenangkan?


" Kenapa kau duduk di kursi roda selama ini? " Ariel bertanya dengan tatapan yang sangat menuntut, tapi juga dirasa begitu mengancam oleh Leo. Jujur, Leo sebenarnya juga tertekan, walau bagaimanapun dia tidak pernah menghadapi situasi seperti ini, jadi dia juga tidak tahu harus bagaimana dan mencoba untuk terlihat tenang dirasa sangat tepat saat ini.


" Aku, hanya tidak suka banyak berjalan. "


Bodoh, Ariel benar-benar merasa sangat bodoh karena merasa iba dengan orang yang bahkan sama sekali tidak menghargai dirinya sendiri dan Tuhan. Dia punya dua kaki yang bisa berdiri dengan baik, tapi sama sekali tak ia gunakan dan malah berpura-pura cacat hanya karena ' Malas berjalan ' Gila, benar-benar gila hingga Ariel tidak bisa lagi mengatakan apapun.


" Kita harus bicara, nanti akan aku jelaskan, jadi biarkan aku keluar dulu untuk berpakaian. "


Ariel mundur dengan tatapan tak percaya, dia berbalik dan berniat untuk pergi dari kamar, tapi Leo lebih cepat menggapainya dan menahannya disana.


" Aku bilang, aku ingin bicara, dan kau tidak di izinkan untuk pergi sampai aku selesai memakai baju. "


Ariel tak bicara, bukan lagi terpesona melihat Leo yang bisa berdiri dengan gagah, dan jelas terlihat jika Leo memang sangat tinggi, tubuhnya yang bidang dan kekar benar-benar seperti manekin pria di pusat belanja. Sayangnya yang dirasakan Ariel saat ini adalah kekecewaan, marah, tapi juga tidak berani menunjukkan dengan frontal karena biar bagaimanapun, Ibunya bisa bebas dari penjara juga berkat Leo.


" Duduklah, kita harus bicara dengan tenang. "


Ariel menaikkan pandangannya, dia bisa melihat sorot mata Leo yang tidak seperti biasanya. Sedikit redup serasa hangat dan lembut, tapi tatapan mata itu justru terasa asing bagi Ariel hingga ia merasa enggan untuk dekat dengan Leo sekarang ini.


" Lain kali saja, sekarang aku benar-benar tidak bisa berpikir, juga tidak ingin melihatmu dulu. " Ujar Ariel, dia mencoba untuk keluar dari kamar dengan langkah biasa, tapi Leo kembali menahan dengan meraih pergelangan tangannya.


" Tidak bisa, kita harus bicara sekarang. Kau sudah melihat aku berdiri, jadi aku harus menjelaskan kenapa aku melakukanya. "


" Bukanya kau bilang kau hanya malas berjalan? " Ariel berbalik, dia menatap Leo dengan tatapan yang seolah begitu kecewa.


Leo mengeratkan genggaman tangannya menekan semakin kuat pergelangan tangan Ariel, menariknya untuk mendekat, lalu mengangkat tubuh Ariel untuk dia bawa duduk di sofa yang tak jauh dari ranjang tidur mereka.


Ariel, gadis itu hanya bisa semakin membatin kesal, bahkan bisa mengangkat tubuhnya dengan mudah, jadi sungguh dia sudah di bodohi selama ini?


" Kau siapa? "


Pertanyaan Ariel barusan benar-benar membuat Leo yang sudah akan membuka mulut menjadi tak mampu melakukannya.


" Apa maksud mu? " Tanya Leo karena jelas lah dia bingung.


" Kau, tidak sama seperti suamiku. Cara mu menatap, cara bicara mu, kau bahkan berdiri dengan normal, juga bisa mengangkat tubuhku. Siapa kau sebenarnya? Kembalikan suamiku. "


Leo mencoba meraih tangan Ariel, sungguh gerakan ini reflek terjadi karena perasaan bersalah yang ia rasakan.


" Aku minta maaf, tapi aku memiliki alasan yang sangat kuat kenapa aku melakukan semua ini. "


Ariel terdiam memandangi wajah Leo, kemudian dia mengangkat tangannya, menarik ujung kulit yang lepas hingga terbuka sebagian.


" Ah! " Pekik Leo yang merasakan sakit saat kulit palsu yang menempel di kulit wajahnya di tarik secara paksa.


" Kau, juga berbohong tentang ini? " Kali ini Ariel menahan tangis karena kemarahan tak tertahan yang dia rasakan. Sebenarnya dia sudah memperhatikan ujung kulit di pipi Leo yang sedikit terbuka semenjak Leo selesai mandi tadi, dan begitu melihat dengan jarak yang semakin dekat, Ariel jadi curiga kalau itu adalah kulit palsu lalu menariknya.


Bersambung.