
Wiliam terduduk di atas closed, dia menutup pintu kamar mandinya serapat mungkin dan menguncinya agar Moza tidak bisa masuk ke dalam sana. Semua itu dia lakukan karena dia tidak mau Moza masuk ke kamar mandi dan melihat keadaan Wiliam yang sangat menyedihkan. Iya, sekarang ini Wiliam sedang menangis dengan begitu sedih meski tak mengeluarkan suara, kenapa sih menangis? perih, kemoceng berbulu miliknya benar-benar seperti habis di parut oleh parutan besi rasanya. Boro-boro bisa merasakan enaknya sampai menumpahkan sesuatu dari di kemoceng miliknya, bisa keluar dari mulut Moza dengan utuh saja sudah sangat bersyukur sekali.
" Shh..... " Desis Wiliam seraya bangkit dari duduknya karena dia ingin membersihkan diri lalu segera keluar dari sana dan tidur. Lagi, Wiliam meringis menahan perih saat si cucung itu terkena air yang keluar dari shower.
" Sialan! Drama gila apa sih ini?! Kenapa aku seperti gadis yang baru saja hilang keperawanan? Cih! Menurut drama kalau wanita habis anuan pertama kali akan lebih setelahnya kan? Jadi apakah aku ini hilang keperawanan oleh Moza? " Cih! Di dalam hati Wiliam menggerutu sendiri, keperawanan apaan?! Sekolah menengah pertama saja dia sudah kenal colai alias olah raga lima jari, man ada yang namanya perawan? Duh! Maksudnya keperjakaan.
Wiliam menggaruk kepalanya sendiri, entah mengapa dia jadi memikirkan kapan ya dia anuan untuk pertama kali? Yah, sekarang dia ingat sih, wanita yang lebih tua empat tahun darinya, wanita itu duluan yang menggoda dan membuat Wiliam merasakan betapa enaknya yang namanya hubungan badan dan menjadi penasaran, lalu timbullah keinginan untuk terus mencoba dan mencoba wanita yang setidaknya harus seusia seleranya karena kalau benar-benar tidak sesuai seleranya, Wiliam tidak memiliki minat sama sekali.
Tok Tok
" Wiliam, apa kau sedang melubangi sabun di dalam sana? "
Wiliam tersentak mendengar suara Moza, dan apa tadi? Melubangi sabun? What?! Untuk apa melubangi sabun? Wiliam melihat ke arah sabun di kamar mandi yang hanya ada sabun cair dalam kemasan botol.
" Kenapa aku harus melubangi botol sabun? Memangnya aku kurang kerjaan apa?! "
Moza menggaruk tengkuknya yang tak gatal, padahal dia hanya adak bicara sesuai dengan novel romansa yang menceritakan tentang kisah cinta seorang gadis polos dengan pria Casanova. Tapi kok Wiliam tidak mengerti artinya melubangi sabun mandi? Eh, iya lantas saja dia tidak paham, di dalam kamar mandi memang tidak ada sabun batangan. Kalaupun ada, Wiliam juga tidak kekurangan wanita kalau untuk melakukan itu kan? Ah! sial! Rupanya dia salah lagi.
Begitu keluar dari kamar mandi, Wiliam terpaksa hanya menggunakan handuk yang melingkar di pinggangnya karena dia lupa membawa bau ganti di tambah dia juga tidak terbiasa mengganti baju di dalam sana.
Moza tak sengaja melihat ke arah Wiliam begitu Wiliam keluar dari kamar mandi dan anehnya tatapan tidak sengaja itu membuat Wiliam tersentak dan tanpa bosa basi langsung saja menggerakkan kedua tangannya untuk melindungi si kemoceng berbulu miliknya.
***
" Bajingan! " Maki Nara pelan setelah proses berkembang biar antara dia dan juga Mario selesai. Sial! Pinggangnya benar-benar sangat sakit sekali sampai dia tidak tahan untuk tidak mengumpat padahal Mario masih berada di sebelahnya.
" Oh, aku tidak begitu mendengar, apa yang kau katakan? "
Nara menoleh, dia memaksakan senyumnya meski dia merasa terkejut karena ternyata Mario mendengar umpatan yang dia pikir hanya dia sendiri lah yah bisa mendengarnya.
" Aku bilang, kau lumayan hari ini. Meskipun belum membuatku puas, tapi setidaknya ini sudah lumayan jadi aku hanya memuji saja tidak tahunya kau dengar ya? "
Mario menatap dengan tatapan aneh, tapi bibirnya tersenyum miring membuat Nara menelan Saliva sembari membatin ngeri dan berharap untuk Mario jangan lagi menyiksanya. Sudah cukup, dia benar-benar sudah cukup dan bisa mati kalau sampai harus ewita lagi.
" Sebenarnya kau ini sedang memuji atau sedang menyombongkan diri karena bagaimanapun aku berusaha tetap tidak bisa menandingi kehebatanmu? Tapi, kenapa aku yang terus bergerak sedangkan kau diam saja seperti tadi? Aku tadi hampir berhenti di tengah jalan karena aku pikir sedang melakukan itu dengan mayat. "
Nara menggigit bibit bawahnya, sial dia benar-benar sangat malu mendengar kalimat itu. Sebenarnya saat di awal-awal dia masih bisa mengimbangi Mario dengan beberapa gaya yang sudah dia pelajari, tapi semakin kesini Mario yang seperti kerasukan hewan buas, bahkan dia tidak menggerakkan tubuh saja tubuhnya sudah seperti habis di injak-injak oleh enam ratus ekor jerapah, apalagi kalau dia melakukan beberapa gaya, bisa mati berdiri dia nanti.
Mario tersenyum miring dengan tatapan yang jelas sekali nampak menyebalkan bagi Nara.
" Jadi kau sedang menghitung kecepatanku dan staminaku? Kalau begitu, sekarang biarkan aku yang menghitung staminamu dan seberapa besar kecepatanmu agar aku bisa belajar darimu lalu menyeimbangkan dengan dirimu, bagaimana? "
Mampus! Nara sontak tak bisa berkata-kata, bagaimana bisa dia lupa kalau Mario adakah ahlinya memojokkan seseorang dengan kata-kata? Sekarang harus bagaimana? Menolak dengan cara apa lagi? Ah, siapapun tolong! Batin Nara di dalam hati.
" Ayo Nyonya, tolong ajari dengan benar, aku janji setelah aku memahaminya aku akan menjadi apa yang kau inginkan. " Mario menjatuhkan tubuhnya yang masih polos tak berpakaian itu di samping Nara.
Tolong, tolong aku! Siapapun tolong aku! Aku benar-benar tidak sanggup lagi, pinggangku sakit, kedua kakiku sudah gemetaran parah.
" Kenapa kok diam? Kau tidak mungkin hanya pintar memberi teori tapi tidak bisa memberikan contoh nyatanya kan? "
" Ha? Haha..... Mana mungkin begitu, aku hanya baru saja ingat kalau aku belum mengembalikan buku resep Ibu mertua. "
" Ibuku tidak membutuhkan buku resep masakan di malam hari seperti ini. "
" Ah, aku baru ingat kalau aku harus mengunci gudang penyimpanan bahan pangan. "
" Rumah ini sudah ada pelayan yang mengerahkan semua pekerjaan rumah. "
" Eh, aku juga baru ingat kalau kakekku sedang kritis dan aku harus kerumah Ibuku sekarang! "
" Kakekmu sudah meninggal enam bulan lalu. "
Nara mengigit bibir bawahnya bingung ingin mencari alasan apa lagi. Diam ya Nara rupanya membuat Mario menjadi sekian tidak sabar. Dia meraih lengan Nara, mengatakan satu pahanya dan tiba-tiba Nara sudah berada dalam posisi yang sangat menguji adrenalin. Nara sekarang sudah berada di atas tubuh Mario, dan sial sekali dia tidak memiliki pilihan lain meskipun nyawanya tetapi berbisik untuk segera memilih antara surga dan neraka.
Beberapa saat kemudian.
" Kenapa gerakkannya lamban dan tidak bertenaga seperti ini? " Protes Mario.
" Di diam! I ini namanya baru pemanasan! "
" Ini sudah sepuluh menit, kau mau pemanasan sampai besok pagi? "
Bersambung.