Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
Bonus Chapter 44



Mario mondar mandir, ke kanan dan ke kiri tak jelas tujuannya karena perasaan bimbang dan khawatir setelah melihat unggahan Nara beberapa saat lalu. Pekerjaannya sih memang sudah selesai karena ini juga sudah malam, tapi sayangnya dia tidak bisa pulang segera ke rumah karena ada beberapa kendala mengenai alat transportasi.


" Mampus lah! Bagaimana ini? Dasar Nara, bagaimana bisa berpose sedekat itu dengan pria asing? Cih! Sudah tahu aku jauh lebih tampan, aku jauh lebih kaya juga pastinya, kenapa sih dia harus photo dengan pria asing? Lihat saja, aku tidak akan membiarkanmu tenang sama sekali. " Gerutu Mario yang sedari tadi masih lah tak bisa merasa tenang. Dia segera menuju ke tempat tidur yang ada di kamar hotel yang sudah di sewanya untuk malam ini. Dia membuka kembali media sosial milik Nara, lalu memberikan komentarnya.


Wah, photonya bagus sekali!


Setelah itu Mario diam menunggu kira-kira akan dapat balasan atau tidak komentar darinya, tapi sial, Nara sepertinya memang tidak berniat memberikan balasan, padahal orang yang baru saja memberikan komentar langsung di balas olehnya.


" Nara, kalau kau masih ingin main-main maka jangan salahkan aku kalau aku juga main-main dengan wanita lain! " Mario membuang nafas kesalnya, tapi tak lama dia jadi menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena merasa aneh juga kalau dia melakukan hal semacam itu.


" Satu wanita saja aku tidak bisa tidur tenang, sudah terpisah jarak pun aku harus memikirkan dia sampa tidak bisa tenang! Ah! Mana mungkin membawa wanita lain lagi masuk ke hidupku? Bisa-bisa aku mati berdiri di buatnya. Lagi kan Ayah bilang, satu wanita bisa membuat kaya, tapi sekaya apapun seorang pria kalau dia punya lebih dari satu wanita, maka uangnya akan sangat cepat habis, miskin, melarat, ah! Nanti kalau punya anak mau di beri makan apa? Dedak? Kalau dedak juga tidak bisa beli, apa harus makan tanah? Kerikil? Batu kolar? Gila! Kenapa aku malah memikirkan ini sih! "


Mario segera menghubungi Nara, satu kali, dua, tiga, empat, bahkan sudah kesebelas kali dia masih tak mendapatkan jawaban dari Nara. Tentu makin gelisah lah dia hingga kembali mondar mandir sembari menggaruk kepalanya yang gatal karena terlalu banyak berpikir, menduga, dan satu lagi tangannya fokus memegangi ponsel untuk menghubungi Nara yang masih saja sok jual mahal tidak ingin menerima panggilan telepon dari Mario.


Lelah tidak mendapatkan balasan, akhirnya Mario kembali menghubungi sekretarisnya untuk mengajaknya pulang malam itu juga.


" Kau, lebih baik cepat cari tiket malam ini juga! Pokoknya aku harus pulang, kau di larang mencari-cari alasan lagi! " Setelah mengatakan itu Mario dengan kasar menutup panggilan teleponnya, dan mengangkat tinggi-tinggi tangannya ingin membanting ponselnya. Eh, dia ingat kalau dia harus segera menghubungi Nara kembali jadi dia gagalkan niatnya dan sekarang dia tengah kembali mencoba menghubungi Nara.


" Nara! Kalau kau seperti ini terus, besok aku akan, akan, akan, akan, akan apa?! Sialan! Otakku buntu! " Mario meninju angin di hadapannya dengan perasaan yang kesal sekali.


***


Nara menjauhkan ponselnya karena terus berdering, yah tentu saja itu adalah Mario yang tidak henti-hentinya menghubungi. Sebenarnya dia bukan sengaja mengacuhkan Mario, dia hanya takut saja kalau sampai mendengar apa yang di katakan Mario, dia akan menjadi salah paham, dan menganggap kalau Mario juga memiliki perasaan yang sama dengannya.


Meskipun Nara sendiri merasa begitu rindu, dia juga ingin tahu bagiamana kabar Mario, serta apa yang sedang di lakukan Mario, tapi dia terus menahan diri karena takut nantinya dia akan kecewa sendiri. Cukuplah saja dia menghabiskan waktu untuk terus menggoda serta memperlakukan Mario seenaknya hanya karena mereka adalah suami dan istri. Nara akan mulai membuat batasan di mana dia menjadikan rasa hormat kepada Mario sebagai batasannya.


" Menghubungi terus, memberikan komentar di unggahan ku, benar-benar membuatku ingin menganggap kau mencintaiku. "


Nara terdiam begitu ponselnya berdering menandakan pesan yang masuk ke ponselnya.


Seperti itulah bunyi dari pesan suara yang dikirimkan Mario kepada Nara setelah semua panggilan telepon, serta pesan teks yang ia kirimkan tak mendapatkan balasan.


" Cih! Dasar aneh! Bawa sepuluh wanita? Lakukan saja jika memang kau mau, lagi pula Ibu mertua mana mungkin akan menerima begitu saja? Mau tidak pulang ke rumah ya tentu saja itu hakmu, toh nantinya Ibu mertua akan mencarimu, menjinjing leher bagian belakangmu dan membawamu pulang. Lakukan sana, biar aku lihat sampai dimana tingkat keberhasilanmu. "


Nara dengan santai kembali menjauhkan ponselnya, dia tidak membalas pesan suara yang dikirimkan Mario kepadanya. Setelah itu Nara bangkit, dia mencari semua perawatan wajah yang dia butuhkan. Dengan santai dia menggunakan perawatan wajah, setelah mengecat kukunya, kini dia tengah menggunakan masker wajah.


" Ah, besok pagi aku mau ke tempat Gym saja. Di sana banyak teman-teman sekolah ku dulu kan? Sekalian ngerumpi seperti Ibu-Ibu rumah tangga kebanyakan. " Nara tersenyum senang membayangkan betapa asyiknya kegiatan ngerumpi itu. Ngerumpi adalah obrolan yang enaknya adalah untuk menggunjing orang, jadi rencananya Nara ingin menggunjing suaminya sendiri tapi sebisa mungkin jangan menyebut nama atau status Mario agar tak ketahuan kalau Nara membicarakan suaminya sendiri.


Setelah selesai semua kegiatannya itu, Nara bergegas untuk tidur karena tidak ingin besok telat bangun agar bisa datang ke tempat Gym yang akan di buka mulai pukul tujuh pagi.


Pagi harinya.


Nara yang sudah bangun, dan baru saja membersihkan diri, kini tengah menggunakan Pakian untuk olah raga, seperti celana yang agak ketat tapi memiliki bahan yang sangat lembut dan elastis jadi mengikuti bentuk kaki, serta dapat mengimbangi gerakan dengan nyaman. Bagian atasnya Nara mengunakan model penutup yang tanpa lengan, juga memamerkan perutnya yang rata dan indah, tak ketinggalan dia juga sudah menggunakan tapi, rambutnya di ikat menjadi satu.


" Sudah ah, ini sudah sangat cocok untuk pergi berolah raga kan? " Nara meraih tas yang berisi peralatan miliknya, dia berbalik berniat segera menuju tempat olah raga karena semua temannya pasti sudah berada di sana.


Brak!


Suara pintu yang tiba-tiba di buka degan kuat dan cepat.


" Na Nara, kau mau kemana adegan pakaian ini?! " Dia adalah Mario yang baru saja tiba dengan nafas terengah-engah menatap Nara dengan tatapan terkejut.


" Olah raga. " Jawab Nara yang juga tak kalah terkejutnya.


" Apanya yang olah raga?! Yang ada kau membuat mata pria di sana harus berolah raga melihat perutmu! Apa-apaan ini?! Kau tidak melihat bagian bokong dan dadamu yang begitu jelas ini? Kau mau membuat mereka melatih iman atau bagaimana?! " Tanya Mario kesal sembari memutar tubuh Nara ke kanan dan ke kiri memperhatikan dengan seksama.


Bersambung.