Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
Bonus Chapter 28



Mike terdiam tak berani menatap kedua bola mata Lope sama sekali, alasannya ya tentu saja Mike merasa canggung dan takut juga setelah Lope menunjukan wajah kesal yang baru pertama kali ia lihat itu.


Beberapa saat lalu Lope lah yang menerima panggilan dari seorang wanita bernama Pricilia, setelah menekan tombol untuk menyambungkan telepon di antara mereka, Lope menekan pengeras suara agar mereka berdua bisa sama-sama mendengarnya.


Babe, sedang dimana?


Lope melotot kepada Mike dengan maksud agar Mike menjawab pertanyaan itu dan biarkan dia sebentar mendengarkan obrolan di antara mereka berdua.


" Se se sedang di rumah. " Mike terus menatap Lope karena dia benar-benar takut akan Allah bicara. Entah ini di sebut ketakutan karena dia takut tidak bisa anuan lagi dengan Lope, atau dia takut Lope akan mengadukan kejadian ini kepada Ibunya dan lagi-lagi dia hari di ancam dengan fasilitas yang akan dihentikan.


Nanti malam ketemu ya?


Mike menelan salivanya.


" Anu, aku sedang tidak bisa. "


Besok bisa?


" Be besok, juga tidak bisa. "


Lusa?


" Aku, juga tidak bisa. "


Ayolah, Babe. Uang yang waktu kau berikan sudah habis, tas yang pernah aku bicarakan padamu waktu itu juga sudah hampir terjual loh.


Lope membuang nafas kasarnya, tidak heran memang kalau setiap kali Ibunya Mike berkunjung dia pasti akan mengeluh menceritakan bagaimana buruknya Mike dalam menggunakan uang. Padahal Ayahnya mati-matian mencari uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga, tapi yang hanya tinggal enaknya saja malah tidak tahu diri dan gampang saja menguburkan yang untuk wanita-wanita tidak jelas seperti itu.


" Kau yang namanya Pricilla, kalau kau mau uang, dan membeli barang yang kau inginkan, cobalah bekerja lebih keras dengan cara yang benar. Tidak muda mencari uang, kau juga tahu benar bagaimana rasanya kan? Pergilah sana untuk bekerja, suamiku punya aku jika ingin membuang uangnya. "


Setelah mengatakan itu Lope kembali menatap Mike dan membuang nafas kasarnya.


" Kalau sampai ada panggilan telepon seperti barusan di kemudian hari, " Lope menatap tajam Mike, menaikan sebelah alisnya lalu menatap bagia penting yang tersimpan di balik resleting membuat Mike menelan salivanya dengan perasaan takut.


" Mike, seharusnya kau melihat beberapa berita bagaimana buasnya seorang istri kalau suaminya berselingkuh. "


Mampus! Tentu saja dia pernah melihat berita menyeramkan itu bersama dengan Mario dan Wiliam beberapa waktu lalu, tepatnya beberapa Haris telah menikah dan mereka masih berkeinginan untuk berpisah dari istri mereka dengan cara protes kepada orang tuanya. Untuk memperkuat keyakinan mereka, akhirnya mereka menonton berita menyeramkan seperti itu mulai dari, istri yang membakar cucung suaminya, memotong dengan golok, bahkan ada juga yang sampai di pukul mengunakan palu saat suaminya sedang tertidur di malam hari.


" A anu, Lope, aku haus. "


Lope bangkit dari duduknya Meksi wajahnya kesal namun dia tetap melayani Mike dengan baik. Setelah Lope berada di dapur untuk mengambil minum, buru-buru Mike mengeluarkan kartu SIM dari ponsel dan membuangnya begitu saja masa bodoh kemana perginya kartu SIM itu.


" Selamat....... " Ujarnya.


***


" Wiliam! " Kesal Moza saat tangan Wiliam tiba-tiba menyentuh bagian dadanya.


Beberapa saat yang lalu.


Wiliam kembali ke rumah lebih awal dari biasanya, sementara Moza yang tidak ada kegiatan apapun memilih untuk tidur saja karena kedua matanya sudah sangat lelah membaca beberapa buku tadi.


Segera Wiliam berjalan pelan sembari mengendurkan dasinya, membuang jauh jas yang ia gunakan dan mendekati Moza yang masih nyenyak tertidur. Sebentar Wiliam melihat lebih jelas bagaimana lekuk indah yang di miliki Moza, muka dari kedua kaki, betisnya yang proposional, terus naik ke atas dan sampai ke wajahnya. Semua benar-benar sangat menggoda dan indah, jadi seharunya yang seperti ini kan tidak boleh di anggurkan begitu saja?


" Kau mau apa?! " Moza yang terkejut melihat Wiliam tiba-tiba berada di atas tubuhnya tentu saja hanya bisa memekik dalam tanya.


" Mau apalagi? Sebenarnya aku tadinya hanya ingin masuk dan mandi lalu kembali ke luar untuk bertemu orang, tapi karena kau terus menggodaku ya mana bisa aku tahan saja? Aku ini bukan Kasim, jadi maaf saja kalau akhirnya jadi begini. "


Moza terperangah tak percaya, menggoda apa? Sebenarnya bagaimana bisa dia di sebut menggoda kalau sedari tadi dia hanya tidur?


" Wiliam, aku cukup percaya diri untuk mengatakan jika tanpa melakukan apapun aku memang sangat menggoda. "


Bruk!


Moza berhasil mengubah posisi tubuh mereka dengan satu gerakan, yah tidak perlu heran karena Moza memang tidak pernah melewatkan hari tanpa olah raga boxing kesukaannya, jadi hanya mengubah posisi seperti itu juga bukan hal yang sulit untuk dilakukan.


Wiliam terdiam menatap Moza yang nampa begitu luar biasa, memang benar sebelumnya banyak wanita nakal yang menggodanya, bahkan ketika mereka sedang bermain wanita itu sendiri yang akan memimpin permainan, hanya saja mereka semua akan bertingkah manja dan menggoda sedangkan Moza, dia terlihat sangat berkharisma dan juga percaya diri. Posisi dia duduk berada di atas perut Wiliam seperti wanita penggoda, tapi kualitas diri Moza benar-benar tidak pantas di samakan dengan para wanita sebelumnya.


" Padahal aku sedang tidur pulas sampai aku mimpi indah, tapi bisa-bisanya kau bilang aku menggodamu? " Moza berucap sembari menarik dasi Wiliam yang sudah mengendur dan mendekatkan wajahnya ke leher Wiliam.


" Hah..... " Lenguh Wiliam saat Moza mendaratkan bibirnya di belakang telinganya.


" Bagaimana dengan ini? Apa ini cukup di sebut menggoda? " Moza menjalankan satu tangannya untuk menyentuh dengan lembut dada Wiliam yang masih menggunakan baju, lalu membuka satu persatu kancing kemeja dan menelusupkan tangannya untuk mengusap kulit dada Wiliam degan sentuhan yang lebih menggoda.


" Ah...... "


Moza semakin menjalankan bibirnya untuk mengecup leher Wiliam, bahkan sampai menjilat untuk membuat Wiliam semakin menjadi.


" Kalau ini bagiamana? "


" E enak! " Ucap Wiliam saat tangan Moza menyentuh cucung yang masih terbungkus kain.


Moza tersenyum, rupanya Wiliam benar-benar sudah dalam mode on parah.


" Jadi, apa yang harus aku lakukan selanjutnya? " Bisik Moza di telinga Wiliam, lagi-lagi dia menjilat di sana membuat Wiliam semakin tidak karuan saja rasanya.


" Tentu saja memasukkan punyaku ke punyamu, iya akan? " Wiliam membalas pertanyaan Moza dengan cepat.


" Oh, baiklah. Sekarang tutuplah matamu dulu. "


" Oke! "


Moza bangkit membuat Wiliam segera bersiap. Dengan perasaan senang dia menunggu tindakan dari Moza tapi anehnya dia malah mendengar pintu kamar seperti tertutup.


" Eh? Moza! Sialan! Kemana kau?! "


Moza tersenyum miring setelah menutup pintu kamarnya.


" Berani-beraninya menganggu orang tidur. "


Bersambung.