
Ariel, Sephora dan Grade melanjutkan kegiatan mereka untuk membeli pakaian yang akan mereka gunakan saat sudah melahirkan nanti, dan tentunya harus memenuhi syarat untuk Ibu menyusui dan juga harus lah mereka merasa nyaman nantinya.
Benar-benar sangat kebetulan hingga mereka bertiga terlihat malas satu sama lain. Kenapa? Karena ternyata baju yang mereka ingin beli tidak terlalu banyak model tersedia, jadilah mereka harus membeli model yang sama, bahkan ada juga warna yang sama. Menggelikan bagi tiga orang yang ogah akur itu.
" Wah, kalian sedang hamil ya? "
Mereka bertiga menoleh ke arah sumber suara.
" Bram? " Ariel mengeryit melihat Bram yang sepertinya berada di mana-mana sehingga sering sekali bertemu dengannya. Yah, mereka memang bertemu sekitar empat bulan lalu sih, tapi tetap saja rasanya terllau sering bagi Ariel. Sephora sama sekali tak berekspresi, padahal wanita yang bersama Bram adalah teman baiknya, tapi dari tatapan Sephora sepertinya dia sama sekali tidak perduli.
" Sudah lihat kan kalau kami ini ini tiga bucamil, alias Bu ibu cantik hamil, masih saja sok ramah bertanya kalian hamil ya? " Ariel menggerakkan bibirnya mengikuti perkataan Bram dengan tingkah berlebihan pastinya.
Bram membuang nafas, sejujurnya dia masih tidak rela melihat Ariel bersama pria lain, begitu juga dengan Sephora. Bagaimanapun Ariel dan Spehora kan masuk dalam golongan cantik di atas rata-rata, tapi ya mau bagaimana lagi kalau semua sudah jadi begini?
" Sephora, kau sudah hamil begitu besar apa belum ada juga yang mau menikahi mu? " Tanya Bram tentulah tatapannya terlihat mengejek, tapi Sephora sama sekali tidak terpancing emosi. Sungguh kalau di pikirkan lagi dia benar-benar beruntung karena pada akhirnya takdir membuat mereka berpisah sebelum adanya pernikahan.
Grade yang tidak terbiasa mendengar hinaan benar-benar tidak tahan lagi.
" Laki-laki bermulut lemes dan kotor sepertimu memang benar-benar perlu di binasahkan ya? " Grade menatap tajam wajah Bram yang kini mengeryit bingung, bagaimana tidak bingung kalau dia saja tidak tahu siapa itu Grade dan tiba-tiba menyerangnya dengan kata-kata. Padahal jelas sekali kalau Bram tidak mengenalnya sama sekali, dan menganggap kalau Grade adalah pengunjung lain yang kebetulan hasil juga seperti Ariel dan Sephora.
" Siapa kau? " Bram bertanya dengan dahi mengeryit karena memang dia bingung apa urusannya Grade dengan dirinya.
" Diantara dua tiga wanita ini, aku adalah pemimpinnya. Aku adalah karakter terkuat di banding mereka berdua yang adalah wanita hamil lemah lembut tidak bisa apa-apa. "
Sephora dan Ariel kompak ternganga heran.
Sephora meraih pundak Grade menariknya pelan untuk mundur sementara dia maju selangkah di depan dan menghadapi Bram yang selama ini sudah ia biarkan terus menghinanya, dan juga kedua orang tuanya.
" Sayang sekali aku tidak bisa membuatmu senang dengan mengatakan bahwa tidak ada pria yang mau menikahi ku setelah apa yang terjadi padaku dan keluargaku. Aku, menemukan pria yang jauh lebih baik dari segala hal di banding dirimu. " Sephora tersenyum dengan percaya diri. Memang benar hubungannya dengan Daniel masih belum begitu mesra seperti pasangan suami istri lainnya, karena selama berbulan-bulan setelah Sephora dinikahi Daniel dia masih tetap membatasi diri, tapi pertemuannya dengan Bram benar-benar membuka matanya lebar-lebar. Daniel memang terkesan brengsek di awal pertemuan mereka, tapi jika di bandingkan dengan Bram dan mantan kekasih lainnya, jelas sekali Daniel adalah pria terbaik.
Bram tertawa terbahak-bahak. Memang siapa yang akan mempercayai ucapan Sephora? Setelah Ibunya di penjara, Ayahnya tidak tahu dimana keberadaannya, berita mengatakan jika Ayahnya Spehora merasa begitu malu dengan istrinya sehingga memilih bersembunyi dari orang-orang.
" Sephora... Sephora.... Bahkan orang gila saja tidak akan percaya dengan apa yang kau katakan barusan. " Bram menggeleng heran karena dia begitu meyakini pendapatnya sendiri. Sementara Sephora benar-benar tidak terpengaruh dengan ucapan Bram dan malah ikut tertawa juga.
" Aku benar-benar heran dengan cara berpikirnya yang tidak pernah berubah, Bram. Kau ini sebenarnya terlalu bodoh dan tidak punya otak. Apa sampai sekarang kau masih saja tidak pernah sadar jika kau sangat mudah di bodohi? Pantas saja Ayahmu selalu merasa ragu untuk mempercayakan perusahannya padamu. "
Bram melotot kesal.
" Wanita yang kau rangkul itu adalah orang yang dulu mengaku sahabatku bukan? Sebenarnya dia adalah orang yang memberitahuku jika kau adalah pria kaya yang bodoh asalkan di suguhkan kemolekan. "
Ariel dan Grade menghela nafas karena merasa bosan. Iya, pertengkaran di antara Sephora dan Bram benar-benar tidak seru sehingga Ariel tidak tahan untuk tidak ikutan.
" Sudahlah pemilik cucung bengkok, jangan sok tahu dengan kehidupan Sephora deh. "
Grade menatap terkejut.
" Maksudmu itunya bengkok? Cucung artinya itu kan? "
Ariel mengangguk sembari tersenyum.
" Iyuh! Untung saja sebelum dan sesudah menikah pun aku tidak pernah menemukan cucung yang bengkok. " Grade menunjukan ekspresi penuh kelegaan membuat Bram terperangah tak mampu bicara kalau sudah masalah itu yang di bahas.
" Sebenarnya sih, saat aku dan dia ewita dulu, itunya tidak terasa, awalnya aku mengira hanya seekor lalat yang tidak sengaja masuk ke lubang ku, eh ternyata cucungnya yang masuk! " Sela Sephora yang membuat Bram semakin mendekat masih tak bisa berkata-kata.
Grade menutup mulutnya, dia sengaja terus menunjukan wajah terkejut tiada henti.
" Hah! Benar-benar kasihan sekali yang jadi istrinya nantinya? Bilang saja kapan kau akan menikah, nanti aku pesankan alat bantu ewita untuk istrimu, ah! atau mau coba obat pembesar cucung mu? " Tanya Grade jelas dia hanya meledek saja.
" Aduh! Sekalian belikan obat untuk meluruskan cucungnya. Aku kasihan saja karena tiba-tiba membayangkan saat dia sedang buang air kecil pasti tidak pernah di tempat yang seharusnya. " Timpal Ariel yang semakin membuat Bram membeku dengan emosi yang semakin memuncak.
" Oh, satu lagi! Tolong juga berikan dia penambah stamina. Soalnya selama aku dengan dia, aku yang merasa baru akan mulai, ternyata dia malah sudah selesai. "
" Ck CK ck...... " Ariel, Grade, juga Spehora kompak menggeleng heran sembari menatap ke arah resleting Bram yang jelas saja terkunci rapat dan membuat Bram mengerakkan tangannya menutupi bagian yang bahkan tidak terlihat.
" Kalian semua, aku akan membuat kalian sengsara! Aku bukan orang sembarangan yang Isa seenaknya saja kalian hina! Lihat saja, dalam hitungan hari kalian akan bersujud meminta maaf, bahkan tidak segan-segan menjilat sepatu kotor ku. "
" Oh, coba kita lihat dari dekat siapa pria yang berani mengancam istri tercinta kita. "
Suara itu, dia adalah Leo. Di sana juga ada Daniel dan Onard yang memasang wajah dingin dan marah. Bram berbalik melihat dari mana arah suara yang seperti ia kenal.
" Pre Presdir Nard? An anda, pimpinan Leonarde? " Tanya Bram gugup, saat melihat Daniel dia juga tambah gugup saja, karena dia tahu Daniel adalah pengusaha di bidang makanan dan sudah menjalin kerja sama dengan perusahaan keluarganya beberapa tahun terakhir.
Leo berjalan menghampiri Ariel dan merangkulnya, Grade menghampiri Onard dan duduk di pangkuannya setelah mengecup pipi Onard sebentar. Daniel, pria itu berjalan mendekati Sephora dan meraih pinggangnya dengan lembut.
" Matilah! " Ucap Bram ketakutan sendiri karena ternyata tiga wanita itu memiliki suami yang tidak biasa. Jangankan membalas dendam, menatap remeh saja dia bisa kehilangan kekayaan keluarga pasti.
Bersambung.