
Kini Kanaya dan
Anggel tengah mengikuti Nando yang baru saja keluar dari rumah sakit,dari
mobil, dapat Kanaya dan Anita lihat kalau Nando membawa beberapa kotak susu ibu
hamil, dan itu semakin menguatkan dugaan mereka kalau Nando mengantarkan Amanda
periksa kehamilan. Setelah itu Kanaya meminta Indira untuk menghubungi Nando
bahwa Indira mungkin akan menginap dengan Anggel di puncak dengan alasan karena
acara prewed Anggel ternyata akan dilaksanakan sore hari dan mungkin akan
selesai malam. Indira benar-benar mengetikkan pesan demikian kepada Nando dan
mengirimkannya.
Nando pun membaca pesan dari Indira, dan dapat dilihat bahwa
Nando tersenyum sumringah, hal itu tidak luput dari pengawasan Kanaya juga
Anita. Kanaya juga memberitahukan pada Indira, bahwa Nando sudah membaca
pesannya dan tersenyum senang. Tapi ekspresi Nando dengan pesan yang dikirim
pada Indira sangat berbanding terbalik. Nando mengirimkan emotikon sedih, dan
berkata bahwa dia akan kesepian, bahkan Nando bertanya apakah Nando perlu menyusul
Indira ke puncak?
“Memalukan, dia benar-benar bermuka dua,” ujar Anggel kesal,
“loe balas apa Ra?” tanya Anggel.
“Y ague jawab enggak lah,” jawab Indira.
Sebelum masuk ke mobil, Nando mengecek keberadaan Indira,
dan benar, ponsel Indira menunjukkan bahwa Indira tengah berada di puncak, jadi
Nando merasa aman.
“Ada apa sayang?” tanya Amanda yang melihat wajah suaminya
begitu berseri-seri.
“Kamu tahu sayang? hari ini aku sangat bahagia, karena aku
akan segera menjadi ayah, dan juga hari ini Indira tidak akan pulang, jadi mala
mini kamu menginap yaa di rumah ku?” tanya Nando.
“Memang boleh mas?” tanya Amanda, dia juga sangat
bersemangat mendengar ajakan suaminya.
“Boleh doong,” jawab Nando dengan santai.
“Tapi aku takut mas, kalau nanti mba Indira tiba-tiba pulang
gimana?” tanya Amanda was-was.
“Nggak akan … kamu percaya deh sama aku,” ucap Nando
meyakinkan istrinya.
“Ya sudah mas, aku mau,” jawab Amanda kemudian, Nando juga
akan membawa kedua orangtuanya untuk menginap sekaligus merayakan kebahagiaan
mereka karena sebentar lagi akan kedatangan calon anggota keluarga baru.
Nando melajukan mobilnya menuju apartement setelah tadi dia
sempat mengabarkan kedua orangtuanya untuk bersiap karena sebentar lagi Nando
akan menjemput mereka. Kanaya masih terus mengikuti Nando sampai di apartement,
karena mereka belum tahu rencana apa yang akan Nando lakukan.
“Itu mereka mau kemana?” tanya Anita, pasalnya Nando hanya
menjemput Lailla dan juga Harlan.
“Mereka mau pergi deh kayaknya,” ujar Kanaya, membuat Indira
mengernyit.
“Bentar ya Ra … mobil Nando mulai jalan lagi,” ucap Kanaya,
mobil melaju menuju kediaman Indira.
“Kayaknya mau pulang ke rumah loe Ra,” ucap Anita, dan benar
saja Nando melewati jalan untuk menuju kediaman Indira, setelah mobil memasuki
gerbang, Kanaya sengaja melewati rumah Indira dan memarkirkan tak jauh dari
sana supaya masih bisa mengawasi pergerakkan Nando.
“Ini bayaran kamu Gus, dan kamu bisa pergi kemanapun kamu
mau hari ini, karena Indira nggak pulang dan besok kamu bisa kembali,” titah
Nando.
“Baik bos,” Agus menerima uang dari Nando dengan sumringah,
karena sudah mendapatkan izin untuk pergi, jadi dia pun pergi untuk
bersenang-senang. Ketika Agus keluar dari kediaman Indira, hal itu masih dalam
pengawasan Kanaya dan Anita.
“Loe dimana Ra? Mending kita ketemu sekarang dan membahas
apa langkah selanjutnya,” ujar Kanaya, akhirnya mereka memutuskan untuk bertemu
disalah satu Café yang tidak jauh dari kediaman Indira.
.
.
“Semua bukti ada disini, sekarang terserah loe,” ucap Anita
memberikan bukti rekaman selama Kanaya dan Anita mengikuti Nando.
Indira menggenggam bukti rekaman itu, “makasih banget yaa …
kalian udah mau repot-repot bantuin gue,” Indira begitu terharu karena
teman-temannya begitu perduli dengannya.
“Kan kita sahabat Ra…” ucap Kanaya sembari menepuk bahu
Indira pelan, membuat Indira semakin terisak.
“Ini semua salah gue, sorry Nay gue udah bikin loe kecewa,
gue udah nyakitin perasaan loe,” isak Indira penuh penyesalan.
“Nggak apa-apa Ra … gue udah lupain semuanya kok. Gue
bener-bener udah buka lembaran baru dalam hidup gue, dan yang gue mau sekarang
ini, kita semua bisa sama-sama lagi dan belajar dari masa lalu, dan kita akan
bantu loe, buat ungkap semua kebusukan Nando,” ujar Kanaya.
“Terus apa langlah kita selanjutnya?” tanya Anita.
“Lapor polisi, kita bakalan minta bantuan Bara soal hal
ini,” Indira sudah sangat yakin dengan keputusannya, dia akan melaporkan Nando
dengan dua tuduhan, yang pertamas soal kecelakaan yang membuat keluarganya
meninggal dunia, dengan bukti foto sebelum kejadian nahas terjadi, lalu yang
kedua adalah perselingkuhan. Tapi Indira akan lebih dulu melaporkan soal
perselingkuhan itu.Anggel akan mengantarkan Indira ke kantor polisi, karena
Bara akan menunggu dissana, sedangkan Kanaya dan Anita akan mengawasi rumah Indira.
Disisi lain, Amanda tengah berada di kamar yang biasanya
ditempati oleh Nando dan Indira, Amanda begitu kagum dengan kamar Indira yang
begitu luas, serta alat kecantikan yang komplit dan tertata rapi dissana.
“Mas … kamar nya bagus banget, kasurnya empuk lagi,” puji
Amanda mengagumi, dia beralih menatap lemari Indira dan membukanya, dia melihat
banyak pakaian yang terlihat sangat bagus.
“Mas, boleh nggak aku pinjem baju mba Indira” tanya Amanda
meminta izin suaminya.
“Boleh dong … pakai aja,” dengan santai Nando menjawab,
padahal Nand o harusnya tahu kalau Indira paling tidak suka kalau
barang-barangnya di pinjam oleh orang lain, apalagi baju? Dengan tidak tahu
malu, Amanda memilah dan memilih pakaian yang sekiranya cocok untuknya, sampai
akhirnya dia melihat dress berwarna navy.
Amanda langsung mengganti pakaiannaya di kamar mandi, disisi
lain Desi tengah menyiapkan makanan yang dipesan oleh Nando dari restaurant
bintang 5 sebagai perayaan kebahagiaan mereka, Desi sangat senang karena Indira
tidak di rumah jadi dia mereka bisa membuat perayaan dan berpesta.
Setelah menggunakan baju milik Indira, Amanda juga
menggunakan make up milik Indira yang berharga fantastis, bahkan Amanda memakai
parfum milik Indira juga, Amanda
membayangkan, kalau saja Nando sudah berpisah dengan Indira, mungkin dia akan
tinggal di rumah itu dan menjadi nyonya besar. Karena Amanda pikir, rumah yang
ditempati oleh Nando dan Indira adalah rumah Nando sendiri.
Amanda sangat menikmati saat-saat dia berada dikediaman
Indira, “aku bisa memberikan mas Nando keturunan, sedangkan mba Indira nggak
bisa, kalau masalah mba Indira cantik? Aku juga cantik kalu berdandan begini,
nggak kalah sama mba Indira,” ujar Amanda berbicara dengan dirinya sendiri.
“Pokoknya aku mau jadi istri satu-satunya mas Nando, dan mas
Nando harus mau menurti kemauan ku. Aku sudah cukup bersabar selama ini menjadi
istri keduanya yang harus selalu dirahasiakan dari mba Indira dan dari dunia
luar, dan aku juga sudah sering mengalah untuk mba Indira. Tapi demi anakku dan
masa depannya, aku tidak mau mengalah lagi, pokoknya aku mau menjadi istri
satu-satunya mas Nando,” ujar Amanda bertekad.
Suara Amanda sudah direkam, karena Anggel mangganti alat
penyadapnya dan menghubungkannya ke ponsel milik Anggel, dengan begitu mereka
sudah memiliki bukti bahwa Nando sudah menikah dengan Amanda tanpa
sepengetahuan Indira, hal itu termasuk tindak pidana.
rekam Pak, dan kami sudah memasang alat penyadap suara disana,” jelas Anggela,
rupanya mereka kini tengah berada di kantor polisi.
“Baiklah, kami akan segara membuat surat penangkapan untuk
saudari Nando,” ujar polisi membuat senyum Indira terbit.
‘Kamu menghancurkan aku dengan hati mas? Dan aku akan
membalasnya dengan berkali-kali lipat, orangtua kamu dan juga istri kedua kamu harus merasakannya, karena
mereka dengan tega melakukan ini pada ku,’ batin Indira kecewa.
Indira langsung pergi meninggalkan kantor polisi bersama
Anggel, mereka berdua langsung menuju kediaman Indira, tapi mereka tidak
membawa mobil masuk ke garasi, karena mereka akan memasuki dengan berjalan kaki
agar tidak menimbulkan suara.
Empat wanita berjalan dengan santai, sedangkan target utama
mereka kini tengah bersenang-senang menikmati makanan dan berpesta merayakan
kehamilan Amanda. Tapi, semua tawa yang muncul dari bibir mereka tiba-tiba
sirna ketika mereka melihat kedatangan Indira dan ketiga temannya seraya
bertepuk tangan.
“Waahh sepertinya ada pesta?” tanya Indira, “dalam rangka
apa mas? Kok aku nggak di ajak?” tanya Indira santai, tapi ekspresi Nando,
Lailla, Harlan dan Amanda hanya diam membeku. Apalagi Amanda, dia menunduk
karena tengah memakai dress milik Indira.
“Ohh hai … kamu tetangga apartement Mamah dan Papah kan?” tanya
Indira seolah berpura tidak tahu, “ngapain kamu disini? Dan ini kok mirip punya
ku sih?” tanya Indira, dia ingin lihat seberani apa wanita dihadapannya ini
jika bertemu langsung dengan Indira.
“Sayang … kamu pulang ?” Nando mencoba mengalihkan
pembicaraan.
“Kenapa kaget? Kalian semua kaget karena aku datang?” tanya
Indira lagi.
“Oh iya Amanda, selamat ya atas kehamilan kamu, dan untuk
mas Nando juga Mamah dan Papah selamat juga untuk kalian, karena mas Nando
sebentar lagi akan memiliki seorang anak dari istri keduanya,” ucap Indira
dengan dingin, membuat semua orang terkejut. Tapi raut wajah terkejut itu malah
membuat mereka terlihat lucu.
“Sayang … ini salah paham …” Nando mencoba mendekati Indira
tapi langsung ditolak oleh Indira.
“Nggak perlu menjelaskan apapun Nando, karena aku sudah tahu
semuanya, hari ini kamu tidak ke rumah sakit untuk bekerja, tapi kamu
mengatarkan istri kedua kamu ini untuk check kandungan kan??” tanya Indira yang
semakin membuat Nando, Amanda dan kedua orangtuanya terkejut serta bingung,
kenapa Indira bisa tahu semuanya. Sedangkan Nando sudah memastikan bahwa Indira
ada di puncak.
“Oh iya aku lupa, aku punya kado untuk kalian semua,” Indira
tersenyum manis, namun senyuman itu berbeda dengan kenyataan, “Anita??” Indira
memberikan kode pada Anita, dan Anita pun langsung paham lalu berjalan kearah
luar.
Tidak lama Anita kembali membawa 3 orang polisi, yang
berjalan bersamanya, membuat Nando dan kedua orangtua Nando langsung
ketar-ketir, karena mereka takut Indira benar-benar melakukan ancamannya.
“Selamat siang Pak Nando, kami mendapatkan laporan dari bu
Indira seputar kecelakaan yang menimpa bu Indira, dan Bapak, yang menewaskan
keluarga Bu Indira. dan menurut laporan Pak Nando adalah orang yang paling
bertanggung jawab dalam hal ini,” ujar polisi. Polisi mulai mendekati Nando dan
memasang borgol.
‘”Pak, ini salah paham,” Nando mencoab berkelit.
“Bapak bisa menjelaskannya di kantor polisi.” Polisi seolah
tidak memberikan ruang untuk Nando.
“Pak tolong jangan bawa anak saya …” isak Lailla memohon.
“Kami permisi, mari Bu Indira,” Polisi pun membawa Nando,
kepergian Nando diiringi isak tangis dari Lailla, Harlan, dan Amanda, tapi
tidak Indira. Indira malah menunjukkan jempolnya kebawah, seraya berkata loser.
Indira dan ketiga temaannya duduk di ruang tamu dengan santai,
seolah tidak terjadi apapun, mereka tengah menunggu Lailla, Harlan dan Amanda
yang masih menangisi Nando yang dibawa menggunakan mobil polisi. Kali ini Nando
tidak akan bisa selamat, apalagi bukti rekaman cctv ketika kejadian kecelakaan
itu sudah ada dan sudah dibawa oleh penyidik.
“Indira!” seru Lailla memasuki rumah Indira.
“Iya?” jawab Indira yang tengah duduk di kursi ruang tamu
seraya menyilangkan kakinya.
“Apa kamu tega memenjarakan suami kamu sendiri?” tanya
Harlan tidak menyangka.
“Tega? Aku tega? Lalu kalian bagaimana? Kalian juga tega
membohongi aku, dan kalian juga tega mengkhianati kepercayaanku,” Indira
membalik kata-kata mereka.
“Indira, semua ini salah kamu karena kamu tidak bisa
memiliki anak! Bukan salah Nando kalau dia akhirnya menikah lagi dengan wanita
yang bisa memberikannya keturunan!” Lailla mencoba membela diri.
“Iya bukan salah ku juga kalau aku ingin memperjuangkan
kematian orangtuaku kan? karena memang Nando pembunuh,” jawab Indira dengan
sangat santai.
“Mba Indira …” Amanda berlutu di depan Indira seraya
berderai air mata, “saya tahu saya salah mba .. saya minta maaf …” ucap Amanda
mengakui kesalahannya.
“Tapi saya mohon mba, kasihani saya dan calon anak saya,”
Amanda memegang perutnya yang masih rata, “saya mohon, jangan biarkan anak saya
lahir tanpa ayahnya,” isak Amanda dengan nada memohon.
“Waktu kamu menerima pinangan suami saya, apa kamu
memikirkan perasaan saya? Waktu kamu pergi berlibur dengann suami saya apa kamu
mengerti perasaan saya? Waktu kamu satu ranjang dengan suami saya, apa kamu
juga bisa bayangkan bagaimana hancur nya saya!!” teriak Indira.
“Lagi pula … kamu mau jadi istri satu-satunya Nando kan?
tenang akan aku kabulkan, kamu akan menjadi istri satu-satunya Nando dan akan
menjadi menantu satu-satunya ibu Lailla dan Pak Harlan,” ucap Indira dengan
suara yang tenang, “karena aku akan mengajukan gugatan perceraian,” ujar Indira
lagi.
“Saya rasa pembicaraan kita sudah selesai dan kalian
silahkan pergi,” usir Indira.
“Indira kamu akan menyesal melakukan ini pada kami!!!” seru
Lailla.
“Nggak akan, justru penyesalan terberat saya karena saya
menikah dengan Nando dan menjadi menantu dari kalian, itu sih yang saya
sesalkan.”
“Ayo Amanda, kita pergi dari sini,” ajak Harlan.
“Tunggu,” Indira menghentikan langkah mereka, dan memberikan
kotak berisi alat make upnya yang tadi dipakai oleh Amanda, beserta baju milik
Amanda.
“Aku nggak suka pakai barang bekas, dan lagi … aku yakin
Nando nggak akan bisa lagi membelikan kamu make up , jangankan make up, nafkah
aja belum tentu,” ucap Indira dengan tersenyum smirk.
Hari ini semua kebusukan Nando sudah terbongkar, dan itu
berkat kerjasama dengan para sahabat Indira. Indira tidak lagi merasakan sedih,
karena dia kini merasa lebih lega karena bisa hidup dengan tenang, tidak lagi
menjadi korban pembodohan suami dan kedua mertuanya.
Indira sudah memutuskan bahwa dia akan menggugat Nando
sampai Nando mendapatkan hukuman yang setimpal, Indira juga akan mengajukan
gugatan perceraian dan hidup sendiri untuk beberapa waktu seraya menyembuhkan
luka hatinya.
‘Mah, Pah, Nenek, kakek … sekarang Indira sudah ikhlas, dan
Indira akan hidup menjadi manusia yang lebih baik, nama kalian akan selalu
hidup dalam hati Indira.’ batin Indira, dia sudah lega sekarang bisa melepas dengan ikhlas orang-orang yang
disayanginya.