Keysha

Keysha
Kepergian Rania



Sudah 1 jam Aditya dan keluarga nya menunggu dengan cemas, akhirnya terdengar suara tangisan bayi.


"Aditya, itu suara tangisan anak kamu," ucap Harun penuh haru.


"Iya Pak," jawab Aditya.


Tidak lama suster keluar membawa bayi yang sudah dalam keadaan bersih.


"Bapak Ayah dari bayi ibu Rania?" tanya suster pada Aditya.


"Iya sus," jawab Aditya.


"Selamat ya Pak, bayinya lahir dengan selamat dan sehat tanpa kurang suatu apapun, bayinya juga sangat cantik," ucap suster.


"Terimakasih sus," ucap Aditya seraya menitikkan air mata nya.


"Silahkan Pak, barangkali mau di adzani," ucap suster seraya memberikan bayi dalam gendongannya.


Aditya mengambil alih bayi dalam gendongan suster, kemudian Aditya pun mengadzani putrinya. Seolah tahu bahwa Aditya adalah ayahnya, bayi itu tidak menangis sama sekali dalam gendongan Aditya.


"Sudah Pak? kalau begitu saya akan bawa putri Bapak ke ruang perawatan bayi, mungkin kakek dan neneknya mau ikut?" tanya suster.


"Ibu sama Bapak mungkin mau lihat? biar aku yang menunggu Rania di sini," ucap Bella.


"Ya sudah Bell, kami ke ruang perawatan bayi dulu ya?" ucap Harun.


"Iya Pak, " jawab Bella.


Kini Bella dan Aditya masih menunggu dokter dari ruang operasi, karena operasi sudah selesai, sebelum mengetahui keadaan Rania, mereka belum bisa bernapas lega.


Tak lama dokter pun keluar dari ruang operasi, Bella dan Aditya pun segera mendekat untuk menayangkan keadaan Rani.


"Bagaimana keadaan Rania dok?" tanya Aditya.


"Operasi berjalan lancar, namun keadaan pasien kritis" ujar dokter.


"Apa dok? Kritis?" ucap Bella.


"Iya Bu, kami akan segera memindahkan pasien ke ruang ICU," jawab dokter.


"Lakukan apa pun yang terbaik untuk Rania dok," ucap Aditya dengan nada memohon.


"Kami hanya bisa berusaha Pak, selebihnya kita pasrahkan semuanya kepada Yang Maha Kuasa, karena Yang di atas lah yang menentukan hidup dan matinya seseorang, jangan putus doa nya ya Pak, Bu untuk kesembuhan pasien." ucap dokter.


"Baik dok, terimakasih," ucap Bella.


Sedangkan kini Keysha sudah di perbolehkan pulang, karena kondisi Keysha dan bayinya sudah vit, jadi Keysha tidak perlu menunggu waktu lama untuk masa pemulihan pasca persalinan.


Farah dan Bagas juga akan stay di Jakarta untuk beberapa waktu, seraya membantu Keysha menjaga Kanaya, karena ini putri pertama, otomatis Keysha masih harus banyak belajar.


Sesampainya di rumah rupanya ada kejutan kecil -, kecillan yang dibuat oleh Alena,Dimas, Alby,Dewi, Zahra, dan Anisa. Mereka menggelar pesta kecil penyambutan kepulangan Keysha dan baby Kanaya.


Mereka juga membawakan kado untuk baby Kanaya, serta mereka juga menghias beberapa balon kecil di kamar Keysha, karena Keysha dan Marvel sepakat tidak mau membuat kamar bayi, karena baby Kanaya akan tidur bersama dengan Marvel dan keysha.


"Selamat ya Key, semoga baby Kanaya kelak menjadi anak yang Soleha,berbakti kepada kedua orang tua, serta bisa menjadi anak yang selalu membanggakan kedua orang tuanya," ucap Alena.


"Makasih Alena atas doanya, semoga persalinan kamu nanti juga lancar, sehat ibu dan bayinya," ucap Keysha.


Semua doa- doa terbaik di ucapkan oleh para sahabat. Mereka juga merasa gemas kepada baby Kanaya, wajah cantik nya benar - benar cantik, seperti nya kecantikan nya menurun dari Keysha.


Namun ada satu yang Keysha bingung, yaitu Bella, apa mungkin Bella tidak tahu bahwa Keysha melahirkan? begitu pikir Keysha.


"Oh iya kak, aku tadi ajak kak Bella kesini, tapi kata kak Bella nggak bisa, karena adiknya masuk ke rumah sakit," ujar Dewi.


"Adik?" tanya Keysha memastikan.


"Iya Kak," jawab Rania.


"Setahuku Bella nggak punya adik? kecuali ... Rania," tiba - tiba firasat Keysha mengatakan, ada hal buruk yang menimpa Rania.


"Ada apa Key?" tanya Anisa.


"Eh, nggak papa kok," jawab Keysha bohong.


"Ya sudah, kita ke meja makan yuk, tadi Tante udah suruh pelayan untuk membuatkan makanan, dan camilan, ayo kita ke meja makan," ajak Sinta.


"Makasih Tante," ujar teman - teman Keysha, mereka pun bersama-sama menuju ke meja makan.


Di sisi lain, Bella, Aditya, Desi dan Harun kini tengah berada di depan ruang ICU, dokter masih memeriksa keadaan Alena. Mereka masih setia menunggu perkembangan dari Rania, padahal mereka sudah melewatkan jam makan siang, karena kini waktu bahkan sudah menunjukkan pukul 17.00.


"Orang tua Bu Rania ada?" tanya Suster.


Aditya, Bella,Harun dan Desi pun nampak bingung, setahu mereka orang tua kandung Rania sudah lama meninggal.


"Bapak sama ibu masuk aja, siapa tahu yang Rania maksud bapak dan ibu," ucap Bella.


"Baik lah nak, nggak papa kalau kami masuk lebih dulu?" tanya Desi.


"Nggak papa kok Bu," jawab Aditya. Kemudian Harun dan Desi pun masuk ke dalam ruang ICU menggunakan baju serba berwarna hijau, tidak lupa masker dan penutup kepala.


Desi dan Harun melihat Rania yang tengah terbaring lemah, Desi dan Harun pun mendekat ke arah ranjang Rania.


"Ibu ... Bapa" lirih Rania memanggil Desi dan Harun.


"Iya Nak, kami di sini" ucap Harun.


"Rania, kenapa kamu tidak menceritakan tentang penyakit kamu Nak," ucap Desi terisak.


"Rani nggak mau membebani ibu, dan yang lain," jawab Rania.


"Nak, bapak dan ibu sudah bilang kan, apa pun yang kamu rasakan ceritakan dan berbagi lah kepada kami," ujar Harun.


"Tidak Pak, karena aku ingin mempertahankan kandungan ku, kalau aku menceritakan kepada yang lain, aku takut bapak dan ibu akan memintaku menjalani kemoterapi, yang nantinya berakibat fatal pada janin ku," ujar Rania.


"Pak, Bu ... Rani minta maaf, mungkin selama kita tinggal bersama, banyak tutur kata dan tingkah laku yang tidak berkenan di hati bapak dan ibu, sekali lagi Rania minta maaf Pak,Bu " ujar Rania.


"Tidak Nak, kamu tidak memiliki kesalahan apapun, kamu anak baik," ucap Desi seraya terisak.


"Terimakasih Bu," ucap Rani.


Setelah itu Desi dan Harun pun keluar untuk bergantian dengan Bella dan Aditya.


"Kak Bella ... Kak Aditya," ucap Rania lirih.


"Rania," Bella menggenggam tangan Rania seraya terisak, air mata yang sudah dia bendung luluh begitu saja saat melihat keadaan Rania yang tengah berbaring lemah.


"Kenapa kamu nggak bilang kalau kamu sakit?" tanya Bella.


"Aku nggak mau bikin kak Bella atau siapapun khawatir, lagi pula aku sudah memutuskan untuk mempertahankan janin ku, jadi aku nggak mau menjalani pengobatan kemoterapi," ujar Rania.


"Tapi Ran, lihat sekarang kondisi kamu," ujar Bella sendu.


"Aku nggal pernah menyesal karena aku sudah mempertaruhkan nyawaku kak, karena aku yakin, anak ku akan menjadi anak yang baik dalam asuhan kak kak Bella dan keluarga kak Bella." ujar Rania.


"Rania, aku minta maaf atas semua kesalahanku ke kamu selama ini," ujar Aditya penuh sesal.


"Nggak kok kak, aku bisa mengerti keadaan kakak," ujar Rania.


"Tapi, ada satu permintaan ku kak," ujar Rania lagi.


"Apa itu Ran? katakan saja, kami pasti akan mengabulkan nya," ujar Bella.


"Aku sudah punya nama panggilan untuk putri ku, yaitu Indira. Jadi aku mohon kak, sematkan nama itu dimana nya," ujar Rania penuh harap.


"Tentu Rani, apapun itu akan kami lakukan, tapi aku mohon kamu harus sembuh," ujar Aditya.


Rania menggeleng pelan, "aku titip Indira kak, jaga dia, dan aku mohon jangan katakan apapun kelak tentang aku," ujar Rania sambil meneteskan air mata.


"Kenapa Rania?" tanya Bella.


"Biarlah Indira hidup dengan hanya mengetahui kalau kak Bella ibu kandung nya, kasih sayang dan cintaku akan hidup kekal di hatinya," ujar Rania.


"Rania..." Bella semakin terisak mendengar ucapan Rania, dia tidak kuasa lagi melihat keadaan Rania. Senyumnya terasa menyakitkan bagi Bella, karena semua itu palsu, Bella tahu Rania tengah menahan rasa sakit.


"Kak Aditya, boleh aku minta tolong lagi?" tanya Rania.


"Apa itu Rania?" tanya Aditya.


"Aku menulis surat untuk Ardie, surat itu ku letakkan di kamar ku tepatnya di laci meja rias, aku mohon berikan surat ku pada nya, tapi jangan ceritakan tentang kehamilan ku," ucap Rania dengan nada memohon.


"Baik Rania," jawab Aditya.


"Kak Bella," lirih Rania memanggil nama Bella.


"Iya Rania," jawab Bella dengan terisak.


"Aku mau kakak mencium kening ku, sebagai seorang kakak, aku sangat menyayangi kak Bella, seperti aku menyayangi kakak kandung ku," ujar Rania.


Bella pun mengangguk, dia mendekat ke arah Rania, perlahan Bella mencium kening Rania, namun tiba-tiba saja suara monitor jantung berbunyi, pertanda jantung Rania tidak lagi berdetak.


Bella dan Aditya terkejut, Aditya pun langsung berlari memanggil dokter.


Dokter pun datang, di ikuti Desi dan Harun dengan raut cemas nya, dokter langsung memeriksa keadaan Rania.


"Innalilahiwainnailaihirojiun, pasien telah berpulang," ujar dokter.


"Suster tolong catat jam nya," ujar dokter.


"Nggak dok, nggak mungkin," ucap Bella histeris.


"Rania..." Bella langsung menghampiri Rania yang kini sudah memejamkan matanya, raut wajah teduh yang Rania tunjukan seolah menjadi pertanda bahwa Rania sudah meninggal dengan tenang.


Bella masih belum percaya, ternyata permintaan Rania agar Bella mencium kening nya, itu adalah permintaan terakhir. Desi pun sama kehilangan nya, Desi sudah menganggap Rania seperti anak sendiri.


Sekelebat ingatan beberapa bulan terakhir kembali muncul, masa-masa kebersamaan mereka, canda dan tawa, bahkan raut bahagia ketika melihat tumbuh kembang Indira di dalam kandungan, rupanya dalam setiap senyum Rania,dia menyembunyikan penyakit yang terus menggerogoti nya.


Bella menggenggam tangan Rania untuk terakhir kali, "Rania, aku janji akan menjaga Indira, selamanya aku akan menyayangi nya, tak akan aku biarkan Indira kekurangan kasih sayang seorang ibu maupun Ayah, aku janji Rania." ucap Bella terisak.


Kemudian suster pun kembali melanjutkan pekerjaannya, mereka melepas satu persatu alat di tubuh Rania, setelah itu mereka akan mengurus jenazah Rania.


Aditya, Bella, Desi dan Harun menuju ruang rawat bayi, disana ada dua orang suster yang tengah menenangkan Indira, seolah tahu ibunya telah berpulang, bayi itu terus menangis.


Bella dan Aditya tidak tega, mereka pun mengambil alih Indira dari gendongan suster. Mungkin, ini yang dinamakan ikatan batin, meskipun Bella bukan ibu kandung nya, namun dalam gendongan Bella Indira langsung bisa tenang.


"Indira langsung tenang dalam gendongan kamu sayang," ucap Aditya.


"Karena dia putri kita mas," ujar Bella.


"Suster kapan saya bisa membawa saya pulang?" tanya Bella.


"Menurut informasi dokter, besok dokter akan kembali mengecek kondisi bayi ibu," jawab suster.


"Baiklah sus," jawab Bella.


"Jenazah Rania lebih baik kita bawa besok saja sekalian, karena ini sudah sangat malam, sebaiknya kita menginap disini sambil menjaga Indira," saran Harun.


"Sebaiknya, bapak, ibu, dan Bella pulang, biar aku yang menjaga Indira," ucap Aditya.


"Nggak mas, aku mau disini," ucap Bella.


"Begini saja, Bella dan ibu pulang, biar bapak yang menemani Aditya menjaga Indira," ucap Harun.


"Ayo Bella, kita pulang, kita juga harus meminta tolong kepada warga, agar besok ikut menyiapkan pemakaman Indira," ujar Desi. Akhirnya Aditya pun menghubungi supir pribadinya, untuk menjemput Desi dan Bella.