
Setelah meminum ice coffe dari Natasha, seketika mood Kanaya membaik, rasa lelah dan amarahnya perlahan menghilang.
"Bagaimana? sudah enakan perasaannya?" tanya Natasha.
Kanaya mengangguk senang, "sudah, makasih ya Natasha."
"Sama-sama kak, eemm kalau boleh tahu, kakak kenapa? dari tadi keliatan banget kalau lagi badmood," ujar Natasha.
"Kakak lagi ada masalah sama Nando," jawab Kanaya sendu.
"Nando? laki-laki yang kemarin nganterin kakak?" tanya Natasha mencoba memastikan.
"Iya," jawab Kanaya seraya mengangguk lesu.
"Sekarang Nando udah mulai nggak jujur sama kakak, meskipun terlihat sepele, tapi ini penting, kalau dari hal kecil aja dia udah nggak jujur, apa lagi hal-hal yang besar," ucap Kanaya menjelaskan.
"Memangnya, kak Nando nggak jujur tentang apa kak? privasinya?" tanya Natasha.
"Bukan, kalau privasi kakak masih bisa mentolerir, tapi ini beda. Kamu inget kan hari pertama kakak masuk kerja? di hari yang sama, Nando juga mulai bekerja di rumah sakit yang sama dengan Indira, dan Nando juga mengantarkan Indira pulang, karena mobil Indira mogok, kakak nggak masalah kalau Nando nganter Indira, yang penting mereka jujur sama kakak."
"Tapi ini? mereka sama sekali nggak ada yang ngomong sama kakak, bahkan kakak tahu juga dari tante Bella," ujar Kanaya, seketika dia kembali emosi mode on.
"Kak, maaf ya bukan maksud ku ingin ikut campur, tapi mungkin saja kak Indira lupa, atau mungkin kak Nando merasa ini hal biasa, dan mungkin karena kak Indira teman kak Kanaya, jadi kak Nando juga menganggap kak Indira teman kak Nando juga, apalagi mereka bekerja di rumah sakit yang sama," ucap Natasha memberi nasihat.
"Jangan berpikiran negatif dulu kak, kakak tidak mau kan persahabatan kak Kanaya dan kak Indira menjadi rusak hanya karena salah paham?" tanya Natasha.
Kanaya mencoba merenungi kata-kata Natasha, "benar apa yang dikatakan Natasha, jangan sampai hanya karena masalah seperti ini hubungan aku dan Nando menjadi renggang, apalagi persahabatan ku dan Indira," batin Kanaya.
"Iya Natasha, kamu benar, makasih ya atas saran dan nasihatnya ... aku nggak nyangka, gadis yang manja dan centil ini, sudah dewasa dan berkata bijak sekarang," ujar Kanaya tersenyum.
Pipi Natasha bersemu merah, mendapatkan pujian dari Kanaya. "Kak Kanaya...."
Kanaya tersenyum melihat tingkah Natasha yang nampak malu-malu, "nanti makan siang bareng ya?" ajak Natasha.
"Boleh kak, tapi jangan ditraktir lagi ya, masa ditraktir terus," ucap Natasha tak enak, pasalnya sudah dua kali Kanaya mentraktir Natasha.
Kanaya pun hanya tersenyum menanggapi ucapan Natasha, setelah itu Natasha berpamitan untuk kembali ke ruang nya, karena takut ada pasien.
Disisi lain, Nando tengah makan siang, dia juga masih terlihat kesal akan perdebatan nya tadi pagi dengan Kanaya, dan rupanya itu semua tak luput dari penglihatan Indira.
"Loe kenapa Nan?" tanya Indira.
"Nggak papa," jawab Nando bohong.
"Nggak usah bohong, gue tahu loe lagi kesel. Kenapa sih?" tanya Indira lagi.
Nando meletakkan sendok dan garpu nya, nampak sekali Nando menghela napas berat.
"Tadi pagi gue jemput Kanaya, dan gue berdebat sama dia." Jawab Nando dengan wajah sendu.
"Loh, masalah apa?" tanya Indira heran.
"Sepele sih, cuman karena gue nggak ngasih tahu ke Kanaya, yang waktu itu gue nganterin loe pulang," jawab Nando.
Sontak, Indira menepuk jidatnya pelan, "ya ampun, gue juga lupa Nan ... duh terus kalian gimana? gue jadi nggak enak nih, gara-gara gue kalian berantem," tanya Indira tak enak hati.
"Gue sama Kanaya nggak papa kok, ya namanya juga hubungan pasti ada percikan-percikan kaya gini, nggak masalah Ra, nanti gue sama Kanaya juga balik kaya biasa lagi," ujar Nando menenangkan Indira.
"Tapi tetep Nan, gue gak enak ... beberapa hari ini juga gue nggak kabarin Kanaya, karena sibuk. Nanti gue bantu jelasin deh," ucap Indira menawarkan diri.
"Buat sekarang nggak perlu kok Ra, gue masih bisa tangani ini," tolak Nando halus.
"Tapi, Kanaya tahu dari mana?" tanya Indira.
"Katanya ... dari nyokap loe," jawab Nando.
"Iya sih, nyokap gue sempet liat loe waktu nganterin gue pulang, nyokap juga udah ngingetin gue buat bilang ke Kanaya, tapi gue malah lupa," jelas Indira.
Indira nampak berpikir sejenak, "nah, nanti pulang loe jemput Kanaya aja, jangan lupa bawa rainbow cake, itu kesukaannya Kanaya," ujar Indira dengan mata berbinar.
"Wah loe tau banyak ya tentang Kanaya," Nando berucap dengan senyum.
"Iya lah, kebanyakan yang Kanaya suka gue juga suka," jawab Indira.
"Termasuk ... Rainbow cake?" tanya Nando.
"Iya," jawab Indira bersemangat.
Nando pun mengangguk kan kepalanya paham, setelah itu mereka menyelesaikan makan siang, dan kembali ke rumah sakit.
Nando sudah bersiap untuk pulang, tadi dia sudah mengabari Raka agar tidak menjemput Kanaya, kenapa Nando tak mengabari Kanaya saja? jawabannya karena Nando ingin memberikan surprise.
Nando sudah memesan rainbow cake disalah satu toko kue langganan Kanaya, itupun informasi dari Indira, dia memegang dua paperbag ditangannya, sebelum pulang dia mampir lebih dulu keruangan Indira.
"Hai Ra," sapa Nando sambil melangkah masuk.
"Hai, mau pulang?" tanya Indira, pasalnya Nando sudah tidak memakai seragam rumah sakit lagi.
"Iya, oh ya ini," Nando memberikan satu paperbag kepada Indira.
"Apa ini?" Indira pun melihat isi dalam paperbag tersebut, "rainbow cake?"
"Iya, loe bilang loe juga suka, jadi gue beli sekalian ... terimakasih ya atas informasinya," ucap Nando.
"Ck ngapain repot-repot segala sih Nan," ucap Indira tak enak hati.
"Apaan coba, orang aku sekalian pesen kok," jawab Nando, diapun melihat jam yang melingkar dipergelangan tangan nya, "eh ya udah gue balik duluan ya, Kanaya pasti udah nunggu, bye Indira," Nando langsung bergegas keluar ruangan Indira.
"Bye ... hati-hati," seru Indira. Dia menatap paperbag pemberian dari Nando dengan senyum.
"Pantas Kanaya bisa melupakan Tama, yang notabennya cinta pertama Kanaya, karena Kanaya bertemu dengan orang sebaik kamu Nan," batin Indira, namun dia langsung menggeleng kan kepalanya.
"Mikir apa sih aku," Indira pun langsung berkemas, tak lupa dia membawa paperbag tadi.
Disisi lain, saat Nando baru tida didepan rumah sakit, Kanaya juga baru keluar, Kanaya begitu terkejut karena Nando datang, bahkan kini Nando datang dengan tersenyum kearahnya.
"Ayo kita pulang," ajak Nando.
"Tapi ... aku udah bilang Raka buat jemput aku," ucap Kanaya Tak enak.
"Aku sudah bilang ke Raka kalau aku yang jemput kamu," ucap Nando, setelah itu dia pun membukakan pintu mobil untuk Kanaya.
Dalam mobil, Nando memberikan paperbag kepada Kanaya, yang berisi rainbow cake, sontak Kanaya tersenyum senang karena Nando membelinya di toko kue langganannya.
"Kamu tahu dari mana aku suka rainbow cake?" tanya Kanaya.
"Oh, dari Indira ... dia bilang kamu suka rainbow cake," jawab Nando.
"Indira ... aku jadi nggak enak sama Indira Nando," ucap Kanaya.
"Nggak papa kok, Indira ngerti ... bahkan Indira yang nggak enak, karena lupa belum sempet bilang sama kamu. Aku juga minta maaf ya," Nando berkata seraya menggenggam tangan Kanaya.
"Aku juga minta maaf, harusnya aku perlu marah-marah ke kamu," ucap Kanaya seraya tersenyum.
"Nggak papa, kan kita cuma salah paham," ujar Nando. "Ya sudah, kita pulang sekarang ya?" Nando pun mulai melajukan mobilnya.
"Kalau lihat rainbow cake, aku jadi keinget Indira ... pasalnya, Indira juga sama kaya aku, suka banget sama rainbow cake," ujar Kanaya bercerita.
"Tenang sayang, aku juga tadi beliin Indira kok, nggak enak soalnya, Indira kan yang kasih saran ke aku," ucap Nando.
"Iya sayang, nggak papa kok," jawab Kanaya seraya tersenyum, dia tak memikirkan hal negatif apapun, karena Kanaya berpikir, mereka berdua hanya teman, ditambah lagi kini mereka bekerja di rumah sakit yang sama, jadi tentu saja Indira dan Nando menjadi lebih akrab.