
Di dalam mobil, Indira menumpahkan semua tangisnya dalam
pelukan Nando, Indira tidak menyangka kalau teman-temannya akan menjauhinya,
bahkan mereka terang-terangan tidak akan hadir dalam pesta pernikahan Indira.
“Sudah ya, jangan sedih … masih ada aku Indira yang akan
selalu ada disamping kamu,” ucap Nando seraya mengelus rambut Indira.
“Tapi mereka semua adalah teman-teman terdekatku Nando,
mereka bahkan tidak mau mengenal ku lagi, dan mereka secara terang-terangan
mengatai aku wanita perusak hubungan orang,” ucap Indira seraya terisak.
“Sudahlah, jangan dipikirka, tanpa mereka kita juga akan
bahagia Indira, sebaiknya sekarang kita ke Bandara, kita jemput kedua orangtua
ku,” ajak Nando.
Indira langsung menghapus air matanya, “apa? Jadi mamah dan
papah kamu sudah tiba di Jakarta?” tanya Indira terkejut, karena memang
sebelumnya Nando tidak mengatakan apapun tentang rencana kedatangan kedua
orantuanya.
“Iya sayang, jadi jangan sedih lagi ya?” Nando mencoba
menguatkan Indira, Indira pun tersenyum dan mengangguk, dia begitu senang
ketika mendengar kedatangan kedua mertuanya, dia juga sudah tidak sabar untuk
bertemu dan berkenalan langsung dengan kedua mertuanya itu.
Akhirnya Indira dan Nando sampai di Bandara, tandi Indira
menyempatkan diri mampir kesalah satu toko bunga untuk membeli bunga kesukaan
Ibu Nando, Indira harap untuk pertemuan pertama kalinya dengan calon mertua,
akan mendapatkan kesan yang baik.
“Sayang, bagaimana penampilan ku?” tanya Indira, dia sudah
beberapa kali menanyakan kepada Nando tentang penampilannya, hal itu membuat
Nando tersenyum karena gemas dengan tingkah sang istri.
“Cantik sayang … malah pake banget,” jawab Nando, dia
menghadiahkan kecupan singkat dibibir Indira, sebelum istrinya itu mengatakan
kalau Nando hanya gombal, hal itu membuat Indira tersenyum malu.
“Ya sudah ayo.” Nando pun mengajak Indira untuk turun dari
mobil.
Saat baru turun dari mobil, Nando sudah melihat kedua
orangtuanya berdiri menunggu kedatangan Nando, dia pun langsung menghampiri
kedua orantuanya seraya menggandeng tangan Indira.
“Mah, Pah … kenalkan Indira, istri ku,” ujar Nando
memperkenalkan Indira.
Indira tersenyum kearah kedua mertuanya, namun hal sebaliknya
malah diterima Indira, lewat sorot mata
kedua mertuanya, dapat Indirra tebak kalau mereka tidak menyukainya, karena
mereka menatap Indira dengan tatapan sinis.
“Jadi ini yang namanya Indira?” ketus Laila.
“Iya Mah,” jawab Indira seraya tersenyum.
“Demi wanita seperti ini, keluarga saya harus menanggung
malu selama-lamanya,” ucap Laila lagi, hal itu sontak membuat Nando
menggelengkan kepalanya.
“Mamah kok ngomongnya gitu,” ujar Nando tak suka.
“Kenapa? memang benar, video itu viral dan akhirnya membuat
karir anak saya hancur, sampai di skors oleh pihak rumah sakit,” jelas Laila
lagi.
“Mah sudahlah, tidak enak ribut-ribut disini,” lerai Harlan
suami Laila, dia pun mengajak istrinya untuk masuk kedalam mobil Nando.
“Sayang, kamu yang sabar,” ucap Nando menenangkan Indira
seraya memegang bahu istirnya, namun Indira tidak merespon, karena Indira tengah menahan isak tangisnya.
Selama dalam mobil, suasana hening yang menemani perjalanan
mereka, karena baik Laila maupun Harlan terlihat enggan untuk membuka obrolan
dengan menantu mereka.
“Mah, Pah … aku sudah mencarikan asisten rumah tangga di
apartement namanya bi Susi, jadi kalau Mamah dan Papah butuh apa-apa tinggal
minta tolong sama bi Susi ,” ujar Nando.
“Semoga Mamah dan Papah betah ya di Jakarta,” timpal Indira,
dia masih berusaha untuk mengambil hati kedua orangtua Nando.
“Saya nggak yakin bisa betah di Jakarta, mengingat video itu
sangat viral, apa jadinya kalau mereka tahu saya orangtua Nando?” ujar Lailla.
Indira,” bela Nando.
“Mamah hanya bicara sesuai fakta, kalau saja Mamah tahu kamu
itu sebenarnya tengah menjalin hubungan dengan Kanaya, tidak akan Mamah restui
pernikahan kalian.”
Indira menunduk dalam, hatinya teramat pedih mendengar
ucapan ibu mertuanya, “sabar Indira,” batin Indira, mencoba menguatkan dirinya
sendiri.
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, akhirnya mereka
pun sampai di apartemen milik Nando, Nando membantu membawakan barang-barang
milik kedua orangtuanya.
“Nando, Papah ingin bicara,” ujar Harlan setelah mereka
masuk kedalam apartemen.
“Iya Pah,” jawab Nando, dia beralih menatap Indira, “kamu
masuk kedalam dulu ya sayang, temani Mamah, aku ingin bicara dengan Papah.”
“Iya Mas,” jawab Indira.
Setelah memastikan suasana aman, Harlan langsung mengajak
Nando duduk diruang tamu.
“Ada apa Pah?” tanya Nando.
“Papah masih nggak habis pikir dengan pemikiran kamu,
bisa-bisanya kamu mengkhianati Kanaya dan memilih menikahi Indira,” ujar
Harlan.
“Aku pikir Papah berbeda dengan mamah, tapi ternyata sama
saja,” ujar Nando dengan nada kecewa.
“Siapa yang tidak kecewa? kamu membuat mamah dan Papah malu,
kamu sperti melemparkan kotoran kewajah kami.”
“Aku minta maaf Pah tentang itu,” ujar Nando.
“Maaf?” Harlan tersenyum miris, “lagi pula apa sih yang kamu
lihat di diri Indira? dibanding dengan Kanaya, Kanaya jauh lebih baik, apalagi
Kanaya adalah anak dari pasangan Marvel Atmadja dan Keysah Putri Alvaro, mereka
itu orang-orang besar Nando, bisnis ayah Kanaya saja bertebaran dimana-dimana,
coba kalau kamu menikah dengan Kanaya, Papah yakin karir kamu akan jauh lebih
terjamin.”
“Papah tahu dari mana kalau karir ku akan terjamin jika
menikah dengan Kanaya, buktinya Kanaya juga bekerja di rumah sakit, dengan
jerih payahnya sendiri, apalagi aku.”
“Percuma juga berbicara dengan kamu,” Harlan pun memilih
pergi meninggalkan Nando, tapi Harlan dibuat terkejut karena dia berpapasan
dengan Indira, dan Harlan yakin kalau Indira mendengar pembicaraannya dengan
Nando, namun Harlan nampak santai dan tidak perduli dengan perasaan Indira,
yang tidak lain menantunya sendiri.
Indira yang semula berniat membawakan kopi untuk suami dan
ayah mertuanya, begitu terkejut mendengar pembicaraan mereka berdua, pedih dan
sakit hati, itulah yang Indira rasakan, hingga tanpa sadar dia menitikkan air
matanya.
“Sayang?” ucap Nando terkejut, karena melihat kehadiran
istrinya.
“Pulang,” ujar Indira lirih, tapi penuh penekanan.
“I … iya, aku pamit ke mamah dan papah dulu,” Nando pun
segera berpamitan kepada kedua orantuanya, sedangkan Indira langsung keluar
dari apartemen, karena merasa tidak tahan mendengar ucapan pedas kedua
mertuanya, yang seolah menyudutkan dirinya, hal itu membuat Indira merasakan
sesak didadanya.
“Sayang, atas nama orangtuaku, aku minta maaf ya?” ucap
Nando, kini mereka berdua sudah dalam mobil.
“Kamu bisa mas dengan enteng ngomong kaya gitu, kamu nggak tahu kan rasanya jadi aku? semua
orang membenci aku, bahkan semua sahabat dekat ku, dan sekarang aku harus
menerima kenyataan aku nggak diterima sama kedua orangtua kamu,” ucap Indira,
dia melampiaskan semua amarahnya, bahkan air mata ikut membasahi wajah Indira.
“Aku tahu, ini pasti berat buat kamu, aku janji akan
berjuang supaya kita mendapatkan restu kedua orangtua ku, dan mereka juga bisa
menerima kamu sayang,” ucap Nando meyakinkan Indira.