
“Kanaya?” Tama langsung menghampiri Kanaya yang tengah
menyenderkan di dinding, Kanaya pun membuka matanya dan menatap Tama dengan
bingung.
“Tama? Ngapain disini?” tanya Kanaya.
“Aku khawatir …”
“Ciee kak Tama … khawatir sama kak Kanaya,” ledek Natasha.
“Apa sih?” ucap Tama tak paham, sedangkan Kanaya kini malah
menundukkan wajahnya, karena dia merasa keluarga Tama akan semakin salah paham
dengannya juga Tama.
“Ngak usah malu kak, ya udah aku nggak mau ganggu jadi ake
pergi , byee,” Natsha melambaikan tangannya kearah Tama dan Kanaya.
“Kamu ngapain sih kesini?” tanya Kanaya kesal.
“Kamu telepon aku berulang kali, dan aku kepikiran sama
Felly, aku takut dia lagi sama kamu dan terjadi sesuatu,” ujar Tama
menjelaskan.
“Kenapa nggak hubungin aku aja,” Kanaya nampak semakin kesal
setelah mendengar jawaban Tama, karena ternyata ini hanya salah paham, niatan
Kanaya menhubungi Tama karena ingin membicarakan tentang percakapan Oki, malah
jadi begini.
“Udah, tapi kamu nggak angkat,” jawab Tama, Kanaya pun
mengecek ponselnya dan ternyata benar.
“Felly nggak ada disini, dan sedari tadi nggak sama aku,”
jawab Kanaya.
“Terus ngapain kamu telepon aku?” tanya Tama.
Kanaya menghela napas, “kenapa kamu tanya setelah kamu
disini, karena sekarang gara-gara kamu kesini, malah membuat semuanya jadi
kacau, lihatkan Natsha jadi salah paham sama kita,” ujar Kanaya.
“Apa sih, Natasha nggak usah dipikirin, dia cuman ngeledek,”
elak Tama, Kanaya rasa berbicara ditempat sekarang kurang privasi, dia pun
mengajak Tama pergi ke Taman rumah sakit.
“Ini tuh gawat Tam,” ujar Kanaya setelah mereka duduk di
salah satu kursi yang ada di taman.
“Apa sih yang gawat, coba kamu langsung jelasin, jangan
setengah-setengah.”
“Papah kamu tadi bilang ke aku, kalau orangtua kamu akan
melamar aku, buat kamu Tama,” lirih Kanaya.
“Apa?” Tama langsung terkejut dan reflex langsung berdiri
dari duduknya.
“Tama,” Kanaya memberikan perintah supaya Tama mengecilkan
suaranya, karena kini mereka menjadi pusat perhatian.
“Kamu bercanda kan?” tanya Tama memastikan.
“Buat apa aku bercanda, aku serius Tam,” jawab Kanaya
meyakinkan Tama.
Tama menyugar rambutnya, “lalu apa yang harus kita lakukan?”
“Kok kamu malah nanya sih, tentu membatalkan semua ini, kamu
harus bicara dengan kedua orangtua kamu, karena kuncinya ada pada mereka, kalau
mereka nggak dating ke rumah ku, maka tidak aka nada lamaran, dan kita tidak
akan menikah,” jawab Kanaya.
“Kenapa nggak kamu aja yang membujuk orangtua kamu supaya
menolak lamaran kedua orangtua ku,” tukas Tama.
“Nggak bisa Tama, orangtua ku nggak akan berani menolak
lamaran orang, apa lagi aku perempuan masih single,” jelas Kanaya.
“Iya sih, kedua orangtua kamu pasti nggak akan bisa menolak
mempunyai menantu seperti aku,” mendengar jawaban Tama, Kanaya pun meperagakan
rasa mual.
“Gue kira dia udah berubah, tapi ternyata narsis nya masih
ketinggalan,” batin Kanaya.
“Terserah deh, pokoknya aku mau kamu jelasin ke mamah dan
papah kamu, kalau kamu nggak suka sama aku, dan inget Tama kamu harus
berhasil,” setelah mengatakan itu Kanaya langsung pergi tanpa mendengar jawaban
Tama lebih dulu, Kanaya takut ada pasien jika dia meninggalkan ruangannya
terlalu lama.
Tama pun masih merenung, dia masih berpikir kiranya
dengan Kanaya, Tama pun bergegas untuk pulang, agar dia bisa segera berbicara
dengan kedua orangtuanya, karena Tama takut, kedua orangtuanya nekat
mendatangani rumah Kanaya tanpa dirinya.
Sedangkan Kanaya kini tengah dalam perjalanan pulang dari
rumah sakit, dia memutuskan mampir sebentar di salah satu toko kue
langganannya. Saat Kanaya tengah antre, tiba-tiba ada seorang ibu-ibu yang
menghampiri Kanaya.
“Kanaya ya?” tanya Ibu paruh baya itu.
“Iya Bu, maaf sebelumnya ibu siapa ya? apa kita pernah
bertemu?” tanya Kanaya, pasalnya wajah wanita paruh baya itu nampak asing,
Kanaya yakin wanita itu bukan salah satu pasiennya.
“Perkenalkan, saya Lailla mamahnya Nando,” Lailla
mengulurkan tangannya berkenalan dengan Kanaya, sepersekian detik Kanaya masih
diam karena dia terkejut mendengar wanita paruh baya yang ada didepannya
menyebutkan bahwa dia ibu dari Nando.
Kanaya menyalami tangan Lailla dengan sopan, melihat
bagaimana Kanaya memperlakukannya, Lailla pun tersenyum.
“Wah Kanaya, kamu sudah baik, cantik, sopan lagi …
benar-benar menantu idaman,” ujar Lailla.
“Makasih Bu,” jawab Kanaya dengan enggan. Mereka berdua pun
duduk di kursi yang tersedia, karena Lailla mengajak Kanaya untuk mengobrol.
“Atas nama Nando, ibu minta maaf ya Nak, atas apa yang sudah
Nando lakukan.”
“Sudahlah Bu, saya sudah melupakan semuanya dan saya rasa
mungkin memang begini cara Yang Maha Kuasa memberitahu aku kalau Nando bukan
jodoh ku,” jawab Kanaya.
“Tidak Kanaya, feeling Ibu, kalian itu berjodoh, hanya saja
gara-gara Indira kalian berpisah, andai saja Indira tidak menggoda atau, atau
memasang wajah melas supaya Nando menikahi Indira, pasti kalian masih bersama,
atau mungkin kalian yang akan mengelar pesat pernikahan, bukan mereka,” ujar
Lailla, dari nada bicaranya sudah bisa Kanaya simpulkan kalau Lailla tidak
menyukai Indira, karena Lailla sangat menyudutkan Indira.
“Jodoh, rezeki, dan maut tidak ada yang tahu Bu, kalau Nando
dan Indira sudah menikah itu tandanya mereka jodoh atas izin Allah, tugas ibu
sekarang adalah menerima dan menyayangi Indira, karena dia sudah menjadi
menantu Ibu. Dan saya rasa, pembicaraan kita sudah selesai ya Bu, saya
permisi.” Kanaya pun langsung pergi dari toko kue tersebut, dia merasa tidak nyaman
dengan arah pembicaraan Lailla.
“Untung nggak jadi mertua gue, apa jadinya coba, orang tua
Nando terlalu ikut campur banget,” batin Kanaya kesal, dia pun mengemudikan
mobilnya untuk pulang.
Sedangkan kini Tama, sudah berhadapan dengan kedua
orangtuanya, namun Tama dilanda bingung,
setelah mendengar ucapan Fellycia, Felly bilang dia sangat bahagia, karena
menurut Anissa Kanaya benar-benar akan menjadi mamah untuk Fellycia, mendengar
hal itu Fellycia menangis haru, dia langsung mencari Tama dan memeluk Tama
erat.
Melihat bagaimana bahagianya Felly ketika mendengar Kanaya
akan menjadi mamah bagi Felly, Tama tak sampai hati merusak kebahagiaan
putrinya, yang selama ini selalu dia prioritaskan.
“Apa yang harus aku lakukan?” batin Tama.
“Ada apa Tama?” tanya Oki seraya menatap Tama dengan
bingung.
“Ayo kita ke rumah Kanaya.” Ajak Tama, yang sontak membuat
Anisa dan Oki terkejut.
“Kamu serius? Kamu benar-benar akan melamar Kanaya?” tanya
Anisa.
“Iya Mah, aku serius,” jawab Tama dengan Yakin.
“Baiklah, kalau begitu ayo,” Tama, Felly, Oki dan Anisa pun
pergi ke rumah Kanaya, dengan membawa makanan ringan dan ada juga buah.
“Semoga ini keputusan terbaik,” batin Tama