Keysha

Keysha
Season 2 (Pemakaman)



 Rasa lelah dan kantuk mulai menyerang mereka, padahal Tama sudah membelikan kopi kesukaan


mereka masing-masing, maklum saja dari selesai acara Kanaya dan Tama mereka


belum beristirahat sama sekali karena langsung mendapat kabar duka ini. Saat


mata mereka mulai berat, tiba-tiba terdengar suara tangisan memanggil nama


Nando. Bisa kalian tebak bukan? Itu suara siapa? Yap siapa lagi kalau bukan


ortangtua Nando.


“Kanaya? dimana Nando? Dan bagaimana keadaannya?” isak


Lailla.


“Tante tenang dulu yaa … sabar, kondisi Nando dan Indira


masih kritis, kita sama-sama doakan semoga mereka berdua bisa melewati masa


kritisnya,” ujar Kanaya.


“Nando ….” Lailla memeluk Harlan suaminya dengan pilu, pilu


menatap putra semata wayangnya yang kini  terbaring lemah.


‘Kenapa orangtua Nando tidak menanyakan soal keadaan Indira


dan keluarganya?’ batin Tama.


“Eeem maaf tante, saya juga ingin mengabarkan kalau besan


tante, om Aditya, tante Bella dan nenek Desi tidak selamat tante, mereka


meninggal ditempat,” ucap Tama.


“Benarkah? Oh tapi syukurlah bukan Nando … beruntung Nando


masih diberi kesempatan,” ucap Lailla tanpa rasa malu dan bersalah berkata


demikian. Mendengar ucapan Lailla, tentu saja Tama, Kanaya dan  yang lain merasa heran atas respon yang


diberikan oleh orangtua Nando, bukankah seharusya mereka juga ikut berduka?


“Tante dan Om sudah punya firasat, kalau Indira hanya akan


membawa sial bagi Tama, tidak seperti waktu Nando berhubungan dengan kamu


Kanaya, karir Nando sangat cemerlang, tapi sekarang …” Lailla membandingkan


anatar Kanaya dan Indira membuat Kanaya merasa tidak nyaman.


“Nampaknya disini yang tidak bisa move on dari hubungan


Kanaya dan Nando bukan mereka , tapi tante. Harusnya tante bisa berpikir


kedepan, Nando sudah memilih Indira menjadi pendamping hidupnya, dan sekarang


Kanaya juga sudah menjadi istri sah saya. Jadi saya mohon tante, jangan


ungkit-ungkit masa lalu lagi, karena itu tidak terdengar menyenangkan


ditelingan saya,” ucap Tama memperingatkan. Rupanya sikap tegas Tama malah


diacungi jempol oleh teman-temannya.


“Apa salahnya sih? Istri saya kan hanya membandingkan,”


jawab Harlan membela istrinya.


“Aduh, om sama tante mending fokus deh sama kesehatannya


Nando, nggak perlu lah ungkit-ungkit hal-hal yang udah terjadi. Lagi pula,


harus nya tante sama om juga ikut berduka atas wafatnya keluarga Indira yang


tidak lain besan dari om dan tante,” nampaknya Bara sudah ikut gerah dengan


sikap kedua orangtua Nando yang nampak tak tahu malu.


“Mayan, mata gue jadi nggak ngantuk liat yang beginian,”


bisik Nathan pada Rangga.


“Belasungkawa? Kalau saja bukan karena keluarga Indira,


pasti anak saya tidak akan mengalami hal seperti ini, kalau saja bukan karena


keluarga Indira juga yang memaksa Nand menikahi Indira, pasti anak saya masih


bersama Kanaya,” ucap Lailla, dia sepertinya sangat ingin berbesan dengan


Keysha dan Marvel karena memandang keluarga Keysha dari orang-orang hebat dan


terpandang.


“Saya yakin sih, tante Keysha dan om Marvel  nggak sudi berbesan dengan tante da nom,


karena kalian adalah orang yang nggak punya hati,” Rangga memang jarang bicara,


namun sekalinya dia berbicara, ucapannya langsung menusuk hati.


“Kalian tuh ya, anak-anak masih bau kencur tapi lagaknya


sombong, kalian nggak punya sopan santun sama orangtu,” ketus Harlan.


“Kalau saja om dan tante sedari awal bisa sedikit sopan,


mungkin kami akan jauh lebih segan. Tapi, dari pembicaraan kita sedari awal,


tante terus membahas hal yang menurut saya sangat tidka perlu untuk dibahas,”


ucap Kanaya.


“Kamu kok bicara seperti itu Kanaya,” Lailla memasang wajah


sedihnya, berharap Kanaya akan menyesal dan meminta maaf dengannya.


peringatan namun tidak diindahkan, tante bahkan tidak merasa berduka atas


musibah yang terjadi,. Tante hanya menanyakan kondisi anak tante, tanpa


menanyakan Indira yang seharusnya kini tante dan om juga sudah menganggap


Indira selayaknya putri kalian,” ujar Kanaya dengan tatapn tegas.


“Kanaya, kenapa kamu malah membela Indira sih? Indira sudah


jahat dengan kamu, dia sudah merebut Nando dari kamu,” ucap Harlan mencoba


menghasut Kanaya.


“Saya tidak merasa direbut, karena Nando sendiri lah yang


datang pada Indira, Nando yang menawarkan dirinya untuk menikahai Indira. Kalau


saja Nando benar-benar lelaki yang bertanggung jawab dan teguh pada pendiriannya,


seharusnya pada saat itu Nando tidka perlu menawarkan diri dan berkata bahwa


dia akan menikahi Indira, disini putra tante juga jauh lebih bersalah, harusnya


tante tahu itu,” Kanaya menekan kata-katanya.


“Tante selalu menekan Indira menjadi istri yang sempurna,


tapi putra tante bagaimana?” tanya Kanaya lagi.Mendengar ucapan Kanaya,  Lailla dan Harlan pun akhirnya pergi karena


merasa malu. Kanaya tidak habis pikir, dengan cara pemikiran orangtua Nando.


 Kanaya menatap sendu


Indira dari jendela kaca, ‘aku tahu Ra, sudah  banyak hal yang membuat aku kecewa dengan kamu, tapi tidak ada salaahnya


kan aku memberikan kamu kesempatan kedua? Dan memaafkan semua hal yang sudah


terjadi antara kita,’ batin Kanaya.


^^^


Keesokan harinya, Keysha, Marvel dan yang lain sudah mulai


bergotong royong dengan para warga untuk pemakaman Aditya, Bella dan Desi,


tidak lama ambulance datang membawa jenazah. Isak tangis mulai terdengar,


apalgi Keysha, Alena dan Zahra, kini mereka melangkah bersama mengantarkan


Aditya, Bella dan dan Bu Desi ke peristirahat terakhirnya. Mereka dimakamkan


berdamingan dengan pemakaman almarhum pak Harun yang sudah berpulang lebih


dulu. Kanaya, dan yang lain juga ikut mengantarkan jenazah, sedangkan Indira


dititipkan kepada para perawat di rumah sakit.


Tidak bisa dibayangkan, ketika Indira siuman nanti dan dia


mengetahui semua keluarganya sudah meninggalkanny, bahkan calon buah hati Indira


pun turut pergi, pastinya hancur hati Indira, apalagi yang lebih menyakitkan


dari pada ditinggalkan oleh orang-orang yang kita sayangi untuk selama-lamanya.


Doa-doa dilantunkan untuk almarhum dan almarhumah, tanah yang


masih basah dan bunga-bunga segar menghiasa makam yang masih basah. Isak tangis


masih mengiringi kepergian Aditya, Bella dan juga bu Desi.


‘Aditya, Bella … kalian pernah hadir dalam kehidupan ku, aku


dan Aditya yang dipertemukan karena perjodohan, namun jalan takdir menuntun aku


dan kamu Bel untuk bertemu, meski kita bertemu sebagai sesame istri dari


Aditya. Kenangan singkat tentang kita, jelas masih teringat dalam ingatan ku,


aku tahu banyak hal yang membuat kesalah pahaman diantara kita, dan aku paham


ini semua kita lakukan demi keluarga kita masing-masing dan aku sudah memaafkan


semuanya, aku harap kamu pun begituu Bell. Bella, aku akui sebagai ibu kamu


adalah sosok ibu yang sangat baik, meski kamu bukanlah wanita yang melahirkan


Indira, namun aku tahu kasih sayang kamu lebih dari segalanya,  dan satu janji ku pada kamu, aku akan berusaha


menjaga Indira semampu aku, kamu bantu doa ya? semoga aku bisa meneruskan


perjuangan kamu, menjaga Indira.' batin Keysha.


Nah… banyak banget yang protes kenapa Kanaya masih baik sama


Indira, disini author ingin memperlihatkan sisi rasa kemanusiaan, melihat


posisi Indira bukankah sangat berat? Ditinggalkan oleh orangtua dan neneknya


dalam waktu yang bersamaan, dan harus kehilangan anak serta Rahimnya yang juga


harus diangkat, serta Indira yang masih dibenci dan tidak dianggap oleh kedua


mertuanya.


Dan kenapa Kanaya juga Keysha bersikap baik pada Indira,


alasan pertama karena mereka iba dengan nasib Indira, peneritaan Indira sudah


terlalu banyak, serta disini Keysha dan keluarganya belajar ikhlas dan


memaafkan semua yang telah terjadi diantara mereka.