
Rasa lelah dan kantuk mulai menyerang mereka, padahal Tama sudah membelikan kopi kesukaan
mereka masing-masing, maklum saja dari selesai acara Kanaya dan Tama mereka
belum beristirahat sama sekali karena langsung mendapat kabar duka ini. Saat
mata mereka mulai berat, tiba-tiba terdengar suara tangisan memanggil nama
Nando. Bisa kalian tebak bukan? Itu suara siapa? Yap siapa lagi kalau bukan
ortangtua Nando.
“Kanaya? dimana Nando? Dan bagaimana keadaannya?” isak
Lailla.
“Tante tenang dulu yaa … sabar, kondisi Nando dan Indira
masih kritis, kita sama-sama doakan semoga mereka berdua bisa melewati masa
kritisnya,” ujar Kanaya.
“Nando ….” Lailla memeluk Harlan suaminya dengan pilu, pilu
menatap putra semata wayangnya yang kini terbaring lemah.
‘Kenapa orangtua Nando tidak menanyakan soal keadaan Indira
dan keluarganya?’ batin Tama.
“Eeem maaf tante, saya juga ingin mengabarkan kalau besan
tante, om Aditya, tante Bella dan nenek Desi tidak selamat tante, mereka
meninggal ditempat,” ucap Tama.
“Benarkah? Oh tapi syukurlah bukan Nando … beruntung Nando
masih diberi kesempatan,” ucap Lailla tanpa rasa malu dan bersalah berkata
demikian. Mendengar ucapan Lailla, tentu saja Tama, Kanaya dan yang lain merasa heran atas respon yang
diberikan oleh orangtua Nando, bukankah seharusya mereka juga ikut berduka?
“Tante dan Om sudah punya firasat, kalau Indira hanya akan
membawa sial bagi Tama, tidak seperti waktu Nando berhubungan dengan kamu
Kanaya, karir Nando sangat cemerlang, tapi sekarang …” Lailla membandingkan
anatar Kanaya dan Indira membuat Kanaya merasa tidak nyaman.
“Nampaknya disini yang tidak bisa move on dari hubungan
Kanaya dan Nando bukan mereka , tapi tante. Harusnya tante bisa berpikir
kedepan, Nando sudah memilih Indira menjadi pendamping hidupnya, dan sekarang
Kanaya juga sudah menjadi istri sah saya. Jadi saya mohon tante, jangan
ungkit-ungkit masa lalu lagi, karena itu tidak terdengar menyenangkan
ditelingan saya,” ucap Tama memperingatkan. Rupanya sikap tegas Tama malah
diacungi jempol oleh teman-temannya.
“Apa salahnya sih? Istri saya kan hanya membandingkan,”
jawab Harlan membela istrinya.
“Aduh, om sama tante mending fokus deh sama kesehatannya
Nando, nggak perlu lah ungkit-ungkit hal-hal yang udah terjadi. Lagi pula,
harus nya tante sama om juga ikut berduka atas wafatnya keluarga Indira yang
tidak lain besan dari om dan tante,” nampaknya Bara sudah ikut gerah dengan
sikap kedua orangtua Nando yang nampak tak tahu malu.
“Mayan, mata gue jadi nggak ngantuk liat yang beginian,”
bisik Nathan pada Rangga.
“Belasungkawa? Kalau saja bukan karena keluarga Indira,
pasti anak saya tidak akan mengalami hal seperti ini, kalau saja bukan karena
keluarga Indira juga yang memaksa Nand menikahi Indira, pasti anak saya masih
bersama Kanaya,” ucap Lailla, dia sepertinya sangat ingin berbesan dengan
Keysha dan Marvel karena memandang keluarga Keysha dari orang-orang hebat dan
terpandang.
“Saya yakin sih, tante Keysha dan om Marvel nggak sudi berbesan dengan tante da nom,
karena kalian adalah orang yang nggak punya hati,” Rangga memang jarang bicara,
namun sekalinya dia berbicara, ucapannya langsung menusuk hati.
“Kalian tuh ya, anak-anak masih bau kencur tapi lagaknya
sombong, kalian nggak punya sopan santun sama orangtu,” ketus Harlan.
“Kalau saja om dan tante sedari awal bisa sedikit sopan,
mungkin kami akan jauh lebih segan. Tapi, dari pembicaraan kita sedari awal,
tante terus membahas hal yang menurut saya sangat tidka perlu untuk dibahas,”
ucap Kanaya.
“Kamu kok bicara seperti itu Kanaya,” Lailla memasang wajah
sedihnya, berharap Kanaya akan menyesal dan meminta maaf dengannya.
peringatan namun tidak diindahkan, tante bahkan tidak merasa berduka atas
musibah yang terjadi,. Tante hanya menanyakan kondisi anak tante, tanpa
menanyakan Indira yang seharusnya kini tante dan om juga sudah menganggap
Indira selayaknya putri kalian,” ujar Kanaya dengan tatapn tegas.
“Kanaya, kenapa kamu malah membela Indira sih? Indira sudah
jahat dengan kamu, dia sudah merebut Nando dari kamu,” ucap Harlan mencoba
menghasut Kanaya.
“Saya tidak merasa direbut, karena Nando sendiri lah yang
datang pada Indira, Nando yang menawarkan dirinya untuk menikahai Indira. Kalau
saja Nando benar-benar lelaki yang bertanggung jawab dan teguh pada pendiriannya,
seharusnya pada saat itu Nando tidka perlu menawarkan diri dan berkata bahwa
dia akan menikahi Indira, disini putra tante juga jauh lebih bersalah, harusnya
tante tahu itu,” Kanaya menekan kata-katanya.
“Tante selalu menekan Indira menjadi istri yang sempurna,
tapi putra tante bagaimana?” tanya Kanaya lagi.Mendengar ucapan Kanaya, Lailla dan Harlan pun akhirnya pergi karena
merasa malu. Kanaya tidak habis pikir, dengan cara pemikiran orangtua Nando.
Kanaya menatap sendu
Indira dari jendela kaca, ‘aku tahu Ra, sudah banyak hal yang membuat aku kecewa dengan kamu, tapi tidak ada salaahnya
kan aku memberikan kamu kesempatan kedua? Dan memaafkan semua hal yang sudah
terjadi antara kita,’ batin Kanaya.
^^^
Keesokan harinya, Keysha, Marvel dan yang lain sudah mulai
bergotong royong dengan para warga untuk pemakaman Aditya, Bella dan Desi,
tidak lama ambulance datang membawa jenazah. Isak tangis mulai terdengar,
apalgi Keysha, Alena dan Zahra, kini mereka melangkah bersama mengantarkan
Aditya, Bella dan dan Bu Desi ke peristirahat terakhirnya. Mereka dimakamkan
berdamingan dengan pemakaman almarhum pak Harun yang sudah berpulang lebih
dulu. Kanaya, dan yang lain juga ikut mengantarkan jenazah, sedangkan Indira
dititipkan kepada para perawat di rumah sakit.
Tidak bisa dibayangkan, ketika Indira siuman nanti dan dia
mengetahui semua keluarganya sudah meninggalkanny, bahkan calon buah hati Indira
pun turut pergi, pastinya hancur hati Indira, apalagi yang lebih menyakitkan
dari pada ditinggalkan oleh orang-orang yang kita sayangi untuk selama-lamanya.
Doa-doa dilantunkan untuk almarhum dan almarhumah, tanah yang
masih basah dan bunga-bunga segar menghiasa makam yang masih basah. Isak tangis
masih mengiringi kepergian Aditya, Bella dan juga bu Desi.
‘Aditya, Bella … kalian pernah hadir dalam kehidupan ku, aku
dan Aditya yang dipertemukan karena perjodohan, namun jalan takdir menuntun aku
dan kamu Bel untuk bertemu, meski kita bertemu sebagai sesame istri dari
Aditya. Kenangan singkat tentang kita, jelas masih teringat dalam ingatan ku,
aku tahu banyak hal yang membuat kesalah pahaman diantara kita, dan aku paham
ini semua kita lakukan demi keluarga kita masing-masing dan aku sudah memaafkan
semuanya, aku harap kamu pun begituu Bell. Bella, aku akui sebagai ibu kamu
adalah sosok ibu yang sangat baik, meski kamu bukanlah wanita yang melahirkan
Indira, namun aku tahu kasih sayang kamu lebih dari segalanya, dan satu janji ku pada kamu, aku akan berusaha
menjaga Indira semampu aku, kamu bantu doa ya? semoga aku bisa meneruskan
perjuangan kamu, menjaga Indira.' batin Keysha.
Nah… banyak banget yang protes kenapa Kanaya masih baik sama
Indira, disini author ingin memperlihatkan sisi rasa kemanusiaan, melihat
posisi Indira bukankah sangat berat? Ditinggalkan oleh orangtua dan neneknya
dalam waktu yang bersamaan, dan harus kehilangan anak serta Rahimnya yang juga
harus diangkat, serta Indira yang masih dibenci dan tidak dianggap oleh kedua
mertuanya.
Dan kenapa Kanaya juga Keysha bersikap baik pada Indira,
alasan pertama karena mereka iba dengan nasib Indira, peneritaan Indira sudah
terlalu banyak, serta disini Keysha dan keluarganya belajar ikhlas dan
memaafkan semua yang telah terjadi diantara mereka.