Keysha

Keysha
Season 2 (masih berlanjut?)



Hari  ini, Indira sudah bersiap bersama dengan


suaminya untuk mulai beraktifitas kembali  di rumah sakit. Indira begitu bersemangat akan


kembali menjalankan tugasnya sebagai Dokter, karenaDokter merupakan cita-cita


Indira sejak dulu, bakan Indira memiliki impian untuk bisa memiliki klinik


sendiri. Tapi, Indira tahu untuk mencapai semua itu butuh biaya yang tidak


sedikit.


Harapan Indira diawal pagi ini


adalah, semoga kehidupannya dan keluarganya mulai hari ini dan seterusnya bisa


berjalan damai dan harmonis seperti sedia kala. Sebelum berangkat ke rumah


sakit, Indira menyempatkan diri untuk sarapan bersama keluarganya. Melihat ekspresi


Aditya dan Bella, Indira tahu kalau kedua orangtuanya itu belum baikan,


hubungan mereka masih nampak renggang.


“Jadi hari ini kamu sudah mulai


aktif di rumah sakit lagi Nak?” tanya Bella.


“Iya Mah, Indira minta doanya ya,


supaya hari-hari Indira diberi kelancaran,” pinta Indira.


“Tentu sayang…”


Selesai sarapan, Indira dan Nando


pun menggunakan satu mobil untuk menuju ke rumah sakit. Terbesit dalam pikiran


Nando tentang pertengkaran Indira dengan ibunya, namun Nando was-was takut


kalau Indira tidak terima.


“Indira,” panggil Nando.


“Iya?”


“Kapan kamu akan meminta maaf


pada pada mamah ku?” tanya Nando.


“Nando, aku baru saja akn mulai


pekerjaanku, aku mohon jangan buat aku memikirkan hal yang tidak penting,”


keluh Indira, pikirannya masih kalut dengan semua permasalahan yang terjadi di


rumah, dia ingin sejenak melupakannya.


Nando mengerem mendadak, membuat


Indira terkjut.


“Apa-apaan sih Nando?” ujar Indira.


“Kamu bilang apa? orangtua ku


tidak penting?” tanya Nando memastikan.


Indira pun tersadar, dia sudah


salah berucap dan berujung memancing kemarahan Nando, “maksud aku bukan begitu


Nando..” Indira mencoba menenangkan suaminya.


“Jadi benar apa yang mamah ku


ucapkan? Kamu nggak akan pernah bisa menghargai orangtuaku Indira, kamu tidak


bisa menerima mereka selayaknya orangtua kamu sendiri.”


“Lalu bagaimana dengan orangtua kamu!”


sentak Indira, “apa mereka bisa menerima aku? apa mereka bisa menganggap aku


seperti putri kandungnya sendiri? Apa bisa?” Indira ikut terpancing emosi,


karena seolah semuanya menyudutkan Indira dan membuat Indira sesak napas.


“Aku capek ya berdebat sama kamu,


semenjak aku menikah sama kamu, kehidupan aku nggak pernah tenang. Selalu aja


ada masalah, selalu ada hal yang membuat kita bertengkar,” ujar Nando, membuat


Indira terdiam. Akhirnya Nando pun melajukan kembali mobilnya menuju rumah


sakit.


Indira masih memikirkan ucapan


Nando yang terakhir, ‘apakah itu berarti kamu menyesal menikah dengan ku Nando?


Apakah kamu menyesal karena lebih memilih aku dibanding Kanya?’ batin Indira


sendu, dia menatap kearah jendela mobil, menyembunyikan air matanya karena


tidak mau Nando melihat nya menangis.


Sesampainya diparkiran pun, Nando


lebih dulu melangkah meninggalakan Indira sendirian, hal itu semakin membuat


Indira sedih karena sikap dingin Nando padanya, kini Nando mulai bersikap


dingin dengannya, apakah Nando suda mulai bosan?  Lalu apaka ini sudah menjadi pertanda bahwa


ini adalah tanda akhir pernikahannya dengan Nando? Siapkah Indira ditinggalkan


oleh Nando?


Indira mencoba menepis terlebih


dahulu tentang nasib rumah tangganya, dia harus terlihat baik-baik saja karena


hari ini adalah hari pertama Indira kembali bekerja. Dengan langka yang ringan


Indira melangka memasuki gedung rumah sakit, dia juga menyapa beberapa rekan


sejawatnya yang sudah beberapa hari tidak bertemu.


“Dokter Indira? Dokter ditunggu


oleh kepala Rumah sakit diruangannya,” ujar salah satu perawat.


“Oh iyaa, terimakasih,” Indira


sempat bingung karena tiba-tiba dia dipanggil oleh kepala rumah sakit, apakah


mungkin ini karena Indira yang baru kembali aktif? Begitu yang dipikirkan


menuju keruang kepala rumah sakit.


Indira mengetuk pintu dengan


perlahan, dan tidak lama terdengar suara yang menyahut dan meminta Indira untuk


masuk. Ketika Indira masuk, rupanya ada tamu yang ada di ruang kepala rumah


sakit. Namun karena posisi pria tersebut membelakangi Indira, jadi Indira tidak


bisa melihat wajahnya.


“Permisi Dok, apa Dokter


memanggil saya?” tanya Indira dengan sopan.


“Oh iya Indira silahkan duduk,”


Kepala bagian rumah sakit meminta Indira untuk duduk di kursi sofa, berbeda


dengan pria misterius yang duduk berhadapan dengan meja kerja Dokter.


“Baik Dok, terimakasih…”


“Baiklah Dokter Indira, ada


beberapa informasi yang saya dapatkan tentang anda, dan itu membuat saya sempat


terkejut.”


“Apa itu Dok?” tanya Indira


penasaran.


“Saya mendapatkan informasi bahwa


anda sudah menjadi mantan narapidana, atas tuduhan  kasus pencemaran nama baik.”


Indira terkejut, bagaimana bisa


pihak rumah sakit mengetahui tentang hal ini, bukankah tidak ada yang tahu


tentang hal ini kecuali keluarganya dan keluarga Kanaya.


“Dok, saya punya penjelasan untuk


hal ini.”


“Apapun alasan anda, saya tidak


bisa mnerima. Karena suda kebijakan dari rumah sakit, kalau kami tidak bisa


menerima mantan narapidana, Dokter Indira juga pasti tahu, kalau nama baik


rumah sakit ini sudah sangat baik, saya tidak mau citra rumah sakit ini menjadi


buruk karena ada dari Dokter kami yang menjadi mantan narapidana.”


“Dok, saya moon berikan saya


kesempatan, ini semua hanya sala paham,” pinta Indira.


“Kata siapa salah paham?” Tama


bangkit dari duduknya dan mengejutkan Indira, rupanya yang sedari tadi duduk


menjadi tamu Dokter, adalah Tama anak dari pemilik rumah sakit.


“Ta … Tama,” ucap Indira terbata.


“Hai…” dengan senyum manisnya


Tama malah menyapa Indira seolah tidak terjadi sesuatu.


“Iya Dokter Indira, tuan Tama


yang sudah memberikan informasinya, dan tuan Tama juga menyampaikan pesan dari


Dokter Oki selaku pemilik rumah sakit, dengan berat hati kami memecat Dokter


Indira.”


Indira menggelengkan kepalanya, “tidak


bisa Dok …” isak Indira, dia tidak mau mimpinya berhenti disini.


“Tama … aku mohon, berikan aku


kesempatan, tolong Tama berikan aku kesempatan, kamu tahu kanni adalah


cita-cita ku…”


“Dan ini adalah rumah sakit yang


dibangun oleh Papah ku dengan susah paya, aku tidak mau cuman karena kamu,


citra rumah sakit menjadi menurun. Jadi aku harap kamu bisa menerima keputusan


dari rumah sakit.”


Akhirnya, hari ini pun Indira


membereskan semua barang-barangnya, Indira masih tidak menyangka kalau dia


harus melepaskan karirnya begitu saja. Indira mulai berpikir, apakah mungkin


ini juga salah satu dari hukuman yang Marvel berikan padanya? Mengancurkan semua


mimpinya? Karirnya?


Saat Indira tenga membereskan


barang-barangnya, tiba-tiba saja Nando datang keruangannya dengan raut wajah


cemas.


“Indira ada apa?”


Indira menatap Nando dengan


tatapan sendu, “ada apa? sekarang aku hancur Nando, karir aku dan mimpi aku


berhenti disini, dan aku yakin orangtua kamu semakin membenciku, dan kamu akan


lebih menuruti mereka kan?” tanya Indira.


“Kenapa kamu bicara begitu


Indira?”


“Aku hancur, aku nggak tahu harus


bagaimana, masa depan aku dan bagaimana aku kedepannya. Dan sekarang, rumah


tangga kita juga nggak mendapat restu kan?” Indira langsung keluar dengan


membawa barang-barangnya.