
Hari ini, Indira sudah bersiap bersama dengan
suaminya untuk mulai beraktifitas kembali di rumah sakit. Indira begitu bersemangat akan
kembali menjalankan tugasnya sebagai Dokter, karenaDokter merupakan cita-cita
Indira sejak dulu, bakan Indira memiliki impian untuk bisa memiliki klinik
sendiri. Tapi, Indira tahu untuk mencapai semua itu butuh biaya yang tidak
sedikit.
Harapan Indira diawal pagi ini
adalah, semoga kehidupannya dan keluarganya mulai hari ini dan seterusnya bisa
berjalan damai dan harmonis seperti sedia kala. Sebelum berangkat ke rumah
sakit, Indira menyempatkan diri untuk sarapan bersama keluarganya. Melihat ekspresi
Aditya dan Bella, Indira tahu kalau kedua orangtuanya itu belum baikan,
hubungan mereka masih nampak renggang.
“Jadi hari ini kamu sudah mulai
aktif di rumah sakit lagi Nak?” tanya Bella.
“Iya Mah, Indira minta doanya ya,
supaya hari-hari Indira diberi kelancaran,” pinta Indira.
“Tentu sayang…”
Selesai sarapan, Indira dan Nando
pun menggunakan satu mobil untuk menuju ke rumah sakit. Terbesit dalam pikiran
Nando tentang pertengkaran Indira dengan ibunya, namun Nando was-was takut
kalau Indira tidak terima.
“Indira,” panggil Nando.
“Iya?”
“Kapan kamu akan meminta maaf
pada pada mamah ku?” tanya Nando.
“Nando, aku baru saja akn mulai
pekerjaanku, aku mohon jangan buat aku memikirkan hal yang tidak penting,”
keluh Indira, pikirannya masih kalut dengan semua permasalahan yang terjadi di
rumah, dia ingin sejenak melupakannya.
Nando mengerem mendadak, membuat
Indira terkjut.
“Apa-apaan sih Nando?” ujar Indira.
“Kamu bilang apa? orangtua ku
tidak penting?” tanya Nando memastikan.
Indira pun tersadar, dia sudah
salah berucap dan berujung memancing kemarahan Nando, “maksud aku bukan begitu
Nando..” Indira mencoba menenangkan suaminya.
“Jadi benar apa yang mamah ku
ucapkan? Kamu nggak akan pernah bisa menghargai orangtuaku Indira, kamu tidak
bisa menerima mereka selayaknya orangtua kamu sendiri.”
“Lalu bagaimana dengan orangtua kamu!”
sentak Indira, “apa mereka bisa menerima aku? apa mereka bisa menganggap aku
seperti putri kandungnya sendiri? Apa bisa?” Indira ikut terpancing emosi,
karena seolah semuanya menyudutkan Indira dan membuat Indira sesak napas.
“Aku capek ya berdebat sama kamu,
semenjak aku menikah sama kamu, kehidupan aku nggak pernah tenang. Selalu aja
ada masalah, selalu ada hal yang membuat kita bertengkar,” ujar Nando, membuat
Indira terdiam. Akhirnya Nando pun melajukan kembali mobilnya menuju rumah
sakit.
Indira masih memikirkan ucapan
Nando yang terakhir, ‘apakah itu berarti kamu menyesal menikah dengan ku Nando?
Apakah kamu menyesal karena lebih memilih aku dibanding Kanya?’ batin Indira
sendu, dia menatap kearah jendela mobil, menyembunyikan air matanya karena
tidak mau Nando melihat nya menangis.
Sesampainya diparkiran pun, Nando
lebih dulu melangkah meninggalakan Indira sendirian, hal itu semakin membuat
Indira sedih karena sikap dingin Nando padanya, kini Nando mulai bersikap
dingin dengannya, apakah Nando suda mulai bosan? Lalu apaka ini sudah menjadi pertanda bahwa
ini adalah tanda akhir pernikahannya dengan Nando? Siapkah Indira ditinggalkan
oleh Nando?
Indira mencoba menepis terlebih
dahulu tentang nasib rumah tangganya, dia harus terlihat baik-baik saja karena
hari ini adalah hari pertama Indira kembali bekerja. Dengan langka yang ringan
Indira melangka memasuki gedung rumah sakit, dia juga menyapa beberapa rekan
sejawatnya yang sudah beberapa hari tidak bertemu.
“Dokter Indira? Dokter ditunggu
oleh kepala Rumah sakit diruangannya,” ujar salah satu perawat.
“Oh iyaa, terimakasih,” Indira
sempat bingung karena tiba-tiba dia dipanggil oleh kepala rumah sakit, apakah
mungkin ini karena Indira yang baru kembali aktif? Begitu yang dipikirkan
menuju keruang kepala rumah sakit.
Indira mengetuk pintu dengan
perlahan, dan tidak lama terdengar suara yang menyahut dan meminta Indira untuk
masuk. Ketika Indira masuk, rupanya ada tamu yang ada di ruang kepala rumah
sakit. Namun karena posisi pria tersebut membelakangi Indira, jadi Indira tidak
bisa melihat wajahnya.
“Permisi Dok, apa Dokter
memanggil saya?” tanya Indira dengan sopan.
“Oh iya Indira silahkan duduk,”
Kepala bagian rumah sakit meminta Indira untuk duduk di kursi sofa, berbeda
dengan pria misterius yang duduk berhadapan dengan meja kerja Dokter.
“Baik Dok, terimakasih…”
“Baiklah Dokter Indira, ada
beberapa informasi yang saya dapatkan tentang anda, dan itu membuat saya sempat
terkejut.”
“Apa itu Dok?” tanya Indira
penasaran.
“Saya mendapatkan informasi bahwa
anda sudah menjadi mantan narapidana, atas tuduhan kasus pencemaran nama baik.”
Indira terkejut, bagaimana bisa
pihak rumah sakit mengetahui tentang hal ini, bukankah tidak ada yang tahu
tentang hal ini kecuali keluarganya dan keluarga Kanaya.
“Dok, saya punya penjelasan untuk
hal ini.”
“Apapun alasan anda, saya tidak
bisa mnerima. Karena suda kebijakan dari rumah sakit, kalau kami tidak bisa
menerima mantan narapidana, Dokter Indira juga pasti tahu, kalau nama baik
rumah sakit ini sudah sangat baik, saya tidak mau citra rumah sakit ini menjadi
buruk karena ada dari Dokter kami yang menjadi mantan narapidana.”
“Dok, saya moon berikan saya
kesempatan, ini semua hanya sala paham,” pinta Indira.
“Kata siapa salah paham?” Tama
bangkit dari duduknya dan mengejutkan Indira, rupanya yang sedari tadi duduk
menjadi tamu Dokter, adalah Tama anak dari pemilik rumah sakit.
“Ta … Tama,” ucap Indira terbata.
“Hai…” dengan senyum manisnya
Tama malah menyapa Indira seolah tidak terjadi sesuatu.
“Iya Dokter Indira, tuan Tama
yang sudah memberikan informasinya, dan tuan Tama juga menyampaikan pesan dari
Dokter Oki selaku pemilik rumah sakit, dengan berat hati kami memecat Dokter
Indira.”
Indira menggelengkan kepalanya, “tidak
bisa Dok …” isak Indira, dia tidak mau mimpinya berhenti disini.
“Tama … aku mohon, berikan aku
kesempatan, tolong Tama berikan aku kesempatan, kamu tahu kanni adalah
cita-cita ku…”
“Dan ini adalah rumah sakit yang
dibangun oleh Papah ku dengan susah paya, aku tidak mau cuman karena kamu,
citra rumah sakit menjadi menurun. Jadi aku harap kamu bisa menerima keputusan
dari rumah sakit.”
Akhirnya, hari ini pun Indira
membereskan semua barang-barangnya, Indira masih tidak menyangka kalau dia
harus melepaskan karirnya begitu saja. Indira mulai berpikir, apakah mungkin
ini juga salah satu dari hukuman yang Marvel berikan padanya? Mengancurkan semua
mimpinya? Karirnya?
Saat Indira tenga membereskan
barang-barangnya, tiba-tiba saja Nando datang keruangannya dengan raut wajah
cemas.
“Indira ada apa?”
Indira menatap Nando dengan
tatapan sendu, “ada apa? sekarang aku hancur Nando, karir aku dan mimpi aku
berhenti disini, dan aku yakin orangtua kamu semakin membenciku, dan kamu akan
lebih menuruti mereka kan?” tanya Indira.
“Kenapa kamu bicara begitu
Indira?”
“Aku hancur, aku nggak tahu harus
bagaimana, masa depan aku dan bagaimana aku kedepannya. Dan sekarang, rumah
tangga kita juga nggak mendapat restu kan?” Indira langsung keluar dengan
membawa barang-barangnya.