
Dua mempelai duduk berdampingan menampilkan senyum terbaik
mereka, raut wajah bahagia selalu mereka tunjukkan, membuat para tamu undangan
dibuat iri oleh dua sejoli tersebut. Dari informasi yang diberikan oleh pembawa
acara di perniakahan Tama dan Kanaya, rupanaya Tama mempersunting Kanaya dengan
memberikan mahar sebesar 2 milyar rupiah. Tentu saja itu adalah jumlah yang
sangat fantastis bukan? Pembawa acara pun juga menanyakan bagaimana proses
pertemuan Tama dan Kanaya, padahal itu semua atas permintaan Tama sendiri saat
mereka sedang briefing. Tidak lama, Tama nampak berdiri dari duduknya dan
meminta pengeras suara.
“Selamat malam semuanya,” sapa Tama dengan senyum yang
selalu terurai.
“Saya mengucapkan terimakasih banyak kepada tamu undangan
yang sudah turut hadir dalam resepsi
pernikahan kami, mungkin ini juga menjadi pertanyaan beberapa orang, kapan saya
dan Kanaya mulai dekat.”
“Jadi saya dan istri saya sudah dekat menjadi sahabat sejak
kecil, tapi … sekitar 5 tahun lalu, tapi sudah lebih 6 bulan sih, Kanaya pergi
ke Amerika, karena mendapatkan penawaran kerja disalah satu rumah sakit bonafit
disana, dan pada saat itu saya juga tengah melaksanakan pernikahan pertama
saya. Iya mungkin pernikahan pertama saya juga jarang diketahui oleh banyak
orang, karena memang saya sangat menutup rapat,” jelas Tama.
“Saya dan istri saya bertemu sekitar beberapa bulan lalu,
saat Kanaya baru saja pulang dari Amerika, jadi ketika pertemuan pertama kali
kita itu, saya sudah memiliki seorang putri,” jelas Tama.
“Jujur saja, hubungan ini terjalin sangat singkat, lalu
kenapa saya begitu yakin dengan Kanaya adalah, karena Kanaya menyayangi putri
saya, yang pada saat pertemuan mereka berdua Kanaya tidak tahu menahu bahwa
Felly putri saya, saya juga melihat bagaimana Kanaya mencintai dan melindungi
Felly salayaknya seorang Ibu, dan masih banyak hal yang membuat saya yakin
dengan Kanaya.”
“Dan, malam hari ini izinkan saya mengungkapkan sesuatu,
mengungkapkan perasaan hati saya yang paling dalam kepada istri saya,” Tama
menatap Kanaya dengan dalam dan penuh cinta, sapai-sampai membuat Kanaya
tersipu.
“Kanaya, aku tahu aku bukan lelaki sempurna dan aku tahu,
kamu terlalu sempurna untuk aku yang biasa ini. Tapi aku ingin kamu tahu, bahwa
getaran cinta itu muncul, saat pertemuan kita pertama kali, pertemuan setelah 5
tahun kita tidak berjumpa, awalnya aku merasa ragu karena yaa statusku, aku
yakin kamu pasti bisa mendapat pria yang jauh lebih baik, jauh segalanya dari
pada aku.”
Tama menghelas napasnya, dia melangkah mendekat kearah Kanaya, “tapi … semakin aku menahan
perasaan ku, ternyata aku semakin tidak mampu, semakin aku ingin menjauh, tapi
hati ku berkata lain. Maka dari itu, aku mecoba untuk meyakinkan diriku dan aku
mencoba belajar, dan berharap supaya aku bisa pantas bersanding dengan kamu,
dan malam hari ini aku Tamasha Pratama ingin mengungkapkan isi hati ku yang
paling dalam, bahwa aku sangat mencintai kamu, pernikahan kita bukan soal aku
mencari ibu untuk putriku, tapi juga untuk masa depan kita bersama, aku mau
kamu menemani ku, menjadi pendamping hidupku sampai ajal memisahkan kita dan
bisa menyatukan kita lagi jannah nya,” ujar Tama tersenyum manis dan mencium tangan Kanaya. Para tamu undangan
pun bersorak akan keromantisan yang diciptakan oleh pengantin baru tersebut.
‘Tama kayanya berlebihan banget deh,’ rupanya Kanaya masih
berpikir kalau Tama tengah berbohong, dia takut kalau dirinya akan terbawa
perasaan akan apa yang dilakukan dan diucapkan oleh Tama. Karena yang Kanaya
tahu, pernikahan ini terjadi demi kepentingan mereka masing-masing.
Tama memeluk Kanaya dan berbisik pelan, “semua yang aku
katakana benar adanya Kanaya, aku mencintai kamu bahkan sangat, I love you my
terkejut, dia terkejut karena pengakuan Tama dan terkejut karena perlakuan Tama
yang berani mencium pipi Kanaya dihadapan banyak orang.
“Jangan kurang ajar ya?” bisik Kanaya pelan, namun Tama
malah tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya.
“Sayang, banyak orang bilang kalau ketika wanita menjadi
pengantin maka mereka tengah menjadi ratu semalam, tapi aku akan berusaha dan
memastikan kalau kamu akan selalu dan selamanya menjadi ratu dihatiku dan di
istina kita, bersama putri kecil kita,” ujar Tama sembari menatap Fellycia dan
melambaikan tangannya, Kanaya pun merespon dengan senyumannya.
Semua tamu undangan bersorak malihat keromantisan sang
pengantin, begitu juga dengan Marvel dan Keysha, mereka sangat bahagia karena
melihat putri sulung mereka sudah melepas masa lajangnya, dan berharap kalau
Kanaya dan Tama bisa hidup bahagia selamanya.
Keysha dan Marvel menatap Kanaya dan juga Tama dengan
tatapan penuh haru, sebegai orangtua tentu mereka ingin melihat anak-anaknya
hidup bahagia, tapi satu hal yang selalu Keysha dan Marvel sebutkan dalam doa
mereka, semoga Tama bisa menjaga dan mencintai putri mereka dengan tulus sampai
ajal memisahkan, dan pernikahan mereka akan selalu dikaruniai kebahagiaan.
Mereka pernah melihat bagaimana hancurnya Kanaya saat dia
harus kehilangan Nando dengan cara pengkhianatan yang begitu mendalam karena
dilakukan oleh orang-orang yang dia percaya, yaitu kekasih dan sahabatnya
sendiri, tapi kini semua sudah berbeda, Kanaya mendapatkan pengganti Nando,
sosok lelaki yang bisa dikatakan jauh lebih baik dari Nando dan sebagai
orangtua Keysha juga Marvel yakin kalau Tama bisa memberikan kebahagiaan untuk
Kanaya.Kehilangan itu memang menyakitkan, dan obatnya hanya satu yaitu
mengikhlaskan.
Ada hal yang sangat menonjol membuat Keysha dan Marvel
setuju dan yakin dengan Tama adalah, karena Tama nampak tidak mau membuka jati
diri Fellycia yang sebenarnya dimata public, Tama nampak sangat menyayangi
Felly selayaknya putri kandung sendiri. Jika pada Fellycia saja yang sebenarnya
tidak memiliki ikatan darah, Tama bisa sesayang dan bertanggung jawab itu,
apalagi kepada istri dan anak kandungnya nanti?
“Baiklah, kita sudah mendengar beberapa sambutan dan
kata-kata romantic dari mempelai pria, tentunya kita ingin mendengar bukan
sepatah dua patah dari mempelai wanita? Kepada nyonya Kanaya Pratama kami
persilahkan.”
Kanaya pun mau tidak mau akhirnya bangkit dari duduk dan
sedikit maju kedepan, nampaknya Kanaya cukup gugup berbicara dihadapan banyak
orang.
“Selamat malam semuanya, pertama-tama saya juga ingin
mengucapkan terimakasih kepada rekan, kerabat, dan keluarga yang sudah berkenan
hadir ikut meramaikan dan mendoakan pernikahan kami. Saya tidak bisa berbicara
banyak hal, tapi satu hal yang pasti, saya bahagia karena saya sudah
mendapatkan paket lengkap, yaitu suami dan putri kecil yang sangat cantik dan
baik,” Kanaya memberikan ciuman jarak jauh kepada Felly dan dibalas olih gadis
mungil itu dengan gemasnya, “saya meminta doa restunya semoga pernikahan ini
menjadi pernikahan terakhir kami, dan keluarag kecil kami selalu dilimpahkan
kebahagiaan,” ujar Kanaya penuh harap.
Anisa terharu dengan ucapan Kanaya, dia tidak menyangka
kalau akhirnya akan bisa memiliki menantu apalagi itu adalah Kanaya, Anisa
masih ingat betul bagaimana dulu dia sempat bercanda kepada Keysha bahwa mereka
akan menjodohkan putra putri mereka, dan ternyata ucapan benar-benar doa. Anisa
juga bahagia, akhirnya cucu perempuan kesayangannya bisa memiliki dan merasakan
kasih sayang seorang ibu, Anisa berharap Kanaya bisa terus menjadi sosok ibu
yang baik bagi Felly.