Keysha

Keysha
Kedatangan Desi



Malam harinya saat Keysha tengah makan malam dengan Marvel tiba - tiba ada notifikasi tanda pesan masuk. Keysha pun mengecek ponselnya melihat siapa pengirim pesan.


"Siapa Sayang?" Tanya Marvel.


"Bella sayang" jawab Keysha.


"Bella? Istri Aditya?" Tanya Marvel.


"Iya... Bella mengabarkan kalau ibu sudah bebas" Jawab Keysha seraya tersenyum.


"Syukurlah, bukan kah itu juga yang kamu inginkan sayang?" Tanya Marvel.


"Iya sayang, dan Bella juga tanya kalau boleh besok ibu Desi dan pak Harun akan datang kemari, boleh?" Tanya Keysha meminta izin.


"Boleh sayang..." Jawab Marvel sambil mengelus kepala Keysha dengan sayang.


"Terimakasih Sayang" Keysha memeluk Marvel dengan erat.


"Sama - sama... ya sudah biar nanti aku hubungi satpam ya untuk mengatakan kalau besok akan ada tamu yang datang ke rumah kita" ujar Marvel.


"Iya sayang... " Jawab Keysha.


"Ya sudah kita lanjutkan lagi makan nya yaa... karena anak kita butuh banyak asupan, termasuk Bundanya" Ujar Marvel sambil mencubit gemas hidung Keysha.


Keesokan harinya Desi, Harun ,Bella dan Rania sudah datang ke kediaman Keysha, mereka sampai tepat pukul jam 9 pagi, dan Marvel sudah berangkat ke kantor.


"Assalamu'alaikum"


"Waalaikumsalam"


"Ibu .. bapak.." Keysha mencium tangan Harun dan Desi, kemudian Keysha memeluk Desi dengan erat.


"Gimana kabar ibu?" Tanya Keysha halus.


"Alhamdulillah Nak ibu baik, kamu sehat? Dan bagaimana kandungan kamu?" tanya Desi.


"Alhamdulillah Bu, kami berdua sehat" Jawab Keysha seraya mengelus perutnya.


"Ayo Pak, Bu ,Bella sama Rania masuk" Ucap Keysha mempersilahkan. Keysha mengajak Desi dan yang lain ke ruang tamu, dan para pelayan juga membawakan teh hangat serta camilan.


"Key, ibu mau mengucapkan terimakasih banyak karena kamu sudah membantu ibu supaya ibu bisa bebas, bahkan dari awal sidang pun kamu sudah banyak membantu ibu... terimakasih ya Nak" Ujar Desi terisak.


"Ibu, sudah ya... Keysha melakukan ini supaya hidup Keysha juga jauh lebih tenang, Keysha yakin omah juga setuju dengan keputusan Keysha."


"Terimakasih Nak..." Desi pun memeluk Keysha lagi, dan selanjutnya mereka berbincang dengan penuh kehangatan.


Di sisi lain Fatma tengah menunggu seseorang di salah satu cafe, tadi dia sudah membuat janji bertemu di salah satu Cafe.


"Itu dia" Ucap Fatma setelah melihat orang yang dia tunggu sudah datang.


"Sudah lama menunggu Bu?" Tanya Lavanya. Ternyata Fatma membuat janji temu dengan calon menantunya.


"Lumayan" Jawab Fatma.


"To the point saja, saya tidak mau terlalu berbasa - basi dengan kamu" Nada bicara Fatma kurang bersahabat, dan Lavanya tahu itu.


"Memang apa yang ingin ibu bicarakan?" Tanya Lavanya, dia berusaha berbicara dengan tenang.


"Tinggalkan anak saya" Ucap Fatma sambil bersedekap dada.


"Kenapa?" Tanya Lavanya, dia berusaha untuk tidak takut dengan Fatma, tapi masih menjaga sopan santun nya.


"Karena kamu tidak selevel dengan keluarga putra saya" Ucap Fatma dengan ketus.


"Kalau Farel yang meminta mungkin saya akan pergi, tapi karena ibu yang meminta, jadi maaf saya tidak bisa mengabulkan keinginan ibu" Jawab Lavanya.


"Kopi itu untuk di minum, bukan untuk mandi" Sindir seseorang, dan ternyata dia adalah Farel. Sontak saja Fatma terkejut dengan kedatangan Farel, pasalnya dia sudah meminta pada Lavanya untuk tidak mengatakan pada Farel bahwa dia mengajak Lavanya bertemu.


Bahkan bukan hanya Fatma yang terkejut dengan kedatangan Farel, tapi Lavanya juga, pasalnya di tidak memberitahukan kepada Farel tentang janji temunya dengan Fatma.


"Farel" Lirih Lavanya.


"Sayang, kamu kesini tanpa meminta izin padaku dulu hmm?" Tanya Farel seraya duduk di samping Lavanya, tidak lupa tangannya merangkul pinggang Lavanya Possesive.


"Farel... kamu datang Nak" Ucap Fatma gagap, dia takut sekali dengan tatapan Farel kepadanya sekarang.


"Aku hanya ingin menemui calon istri ku, karena sekarang dia dalam bahaya" Farel mengatakan kata bahaya dengan menatap Fatma dingin.


"Ibu... hanya mengajak Lavanya bertemu untuk menanyakan tentang persiapan pernikahan kalian Nak" Ujar Fatma bohong.


"Untuk apa? Apa anda ingin membiayai nya? Kalau iya, nanti saya kirim bill nya ke pada anda" Ujar Farel.


"Bukan begitu maksud ibu" Jawab Fatma, dia nampak bingung harus menjawab apa sekarang.


"Jangan coba - coba mempengaruhi calon istri ku, atau aku tidak akan segan - segan menghancurkan semua yang anda miliki sekarang sehancur - hancur nya" Ujar Farel dingin, ancaman Farel benar - benar membuat Fatma ketakutan, bahkan kini tangan Fatma mulai bertaut cemas.


"Ibu tidak akan berani Nak... kalau begitu ibu permisi dulu ya, ibu masih ada urusan lain" Pamit Fatma, dia langsung pergi tanpa menatap Farel lagi.


Kini giliran Lavanya yang mendapat tatapan dingin dari Farel, Lavanya tahu apa kesalahan nya, yaitu bertemu dengan Fatma tanpa memberitahu pada Farel.


"Farel..." Lavanya hendak menjelaskan.


"Ayo pulang" Ajak Farel tanpa menatap Lavanya.


"Farel, kamu marah?" Tanya Lavanya cemas. Namun tak ada jawaban dari Farel, dia malah terus melangkah dengan cepat mendahului Lavanya.


"Farel tapi aku bawa mobil" seru Lavanya, dia sedikit berteriak karena langkah nya sudah tertinggal dari Farel.


Dan ternyata, Farel berbalik melangkah mendekati Lavanya, "berikan kunci nya" Ucap Farel meminta kunci mobil Lavanya.


"Ini" Lavanya pun memberikan kunci mobilnya, dan Farel memberikan kunci mobil Lavanya pada salah satu anak buah Farel.


"Ayo" Farel menggandeng tangan Lavanya agar berjalan beriringan dengan nya, namun Lavanya harus sedikit berlari untuk mengimbangi langkah Farel yang lebih lebar dari nya.


Selama dalam mobil, tidak ada percakapan antara Lavanya dan Farel, Lavanya masih diam dan Lavanya tengah menahan takut, bahkan Lavanya tidak tahu kemana Farel akan membawa Lavanya sekarang.


"Farel..." Lirih Lavanya memanggil Farel.


"Aku minta maaf" Ucap Lavanya sambil menunduk, spontan Farel mengerem mobil nya tepat pinggir jalan, tidak lupa Farel menahan tubuh Lavanya agar aman.


"Aku minta maaf" Ucap Farel.


"Kenapa kamu minta maaf? Kan seharusnya aku Rel, aku yang pergi menemui ibu kamu tanpa izin, aku minta maaf" Ujar Lavanya mencoba menahan tangis hingga suaranya bergetar.


Farel pun memeluk Lavanya mencoba menenangkan calon istrinya itu, Farel tidak bermaksud marah kepada Lavanya, dia hanya khawatir dengan kondisi Lavanya kalau dia bertemu dengan Fatma sendirian, Farel tahu betul bagaimana sikap ibunya.


"Aku minta maaf Rel" Lagi - lagi permintaan maaf keluar dari bibir Lavanya.


"Sudahlah aku sudah memaafkan kamu, tapi aku mohon jangan ulangi lagi, aku tidak mau kamu menemui ibu ku sendirian, karena aku khawatir" Ucap Farel sambil menangkup pipi Lavanya.


"Iya, aku janji aku tidak akan mengulangi nya" Ujar Lavanya.


"Baiklah aku percaya, kalau begitu aku antar kamu pulang ya" ujar Farel.


"Nggak makan siang dulu? Udah jam makan siang loh" Ucap Vanya mengingat kan Farel.


"Ya sudah, kita cari restoran terdekat ya." Setelah itu Farel pun kembali melanjutkan perjalanan mencari. Restoran.