Keysha

Keysha
Season 2 (mencari)



Kini Kanaya dan Anisa sudah berada di salah satu cafe, mereka memilih tempat duduk yang cukup strategis untuk mengobrol. Mereka sudah memesan makanan beberapa menit lalu, dan pelayan pun datang membawakan minum dan juga makanan yang sudah di pesan.


"Silahkan Tante," ucap Kanaya kepada Anisa.


"Terimakasih Kanaya," ujar Anisa.


"Sama-sama Tante," jawab Kanaya.


"Tante, kalau boleh tahu Tante ada masalah apa? apa Tante tengah ada masalah dengan om Oki?" tanya Kanaya hati-hati.


Anisa menggeleng sebelum dia mulai menjawab, "bukan Nay, tapi Tama," jawab Anisa sendu.


"Tama? bukan nya tadi pagi sewaktu joging Tante Anisa sama Tama masih baik-baik aja?" batin Kanaya bingung. "Apa jangan-jangan, Tama marah gara-gara Tante Anisa membandingkan antara aku dan Vanes?" batin Kanaya tak enak.


"Kalau boleh tahu, memang kenapa Tante?" Kanaya bertanya seraya menggenggam tangan Anisa, pasalnya terdengar helaan napas berat dari Anisa.


"Tama dan Tante bertengkar Nay, karena Tama tidak terima kalau Tante membandingkan kekasih nya dengan kamu," jawab Anisa seraya menunduk.


"Tante nggak papa kalau Tama mau membela wanita itu, tapi harusnya Tama tidak perlu berkata keras kepada Tante, bagaimana pun Tante ini ibunya, Tante yang membesarkan dia, tapi sekarang setelah dia sukses dan mengenal wanita itu, Tama berubah." Perkataan Anisa penuh dengan kekecewaan.


"Memang Tama bilang apa Tante?" tanya Anisa.


"Tama bilang, Tante nggak perlu ikut campur tentang urusan Tama dan kehidupan Tama, hati Tante sakit Kanaya, mendengar kata-kata anak Tante sendiri, yang Tante besarkan dengan penuh kasih sayang, tapi kini dia bisa mengatakan hal yang menyakitkan bagi tante." Kini Anisa mulai terisak kembali. Kanaya tak tega melihat Anisa yang begitu kecewa dengan sikap Tama, Kanaya pun berdiri dari duduk nya dan menghampiri Anisa, dia memeluk Anisa supaya lebih tenang.


Perlahan, Isak tangis Anisa mulai mereda, Kanaya pun duduk kembali di tempatnya.


"Tante, maaf bukan maksud Kanaya ingin ikut campur, tapi menurut Kanaya, mungkin memang sebaiknya Tante nggak perlu membandingkan antara aku dan Vanes. Karena kami dua orang yang berbeda Tan, anak kembar yang identik saja ada perbedaan nya, apa lagi aku dan Vanes," ujar Kanaya hati-hati.


"Tapi Nay, tante cuman mau yang terbaik untuk Tama, supaya tama itu sadar, bahwa wanita yang jauh lebih baik dibandingkan Vanes, yaitu kamu." Anisa menggenggam tangan Kanaya.


"Tante, yang terbaik bagi Tante, belum tentu bagi Tama. Tama sangat mencintai Vanes Tante, dan aku akin, kebahagiaan Tama ada pada Vanes," Kanaya mencoba untuk memberi pengertian kepada Anisa.


"Lagi pula Vanes juga wanita yang baik Tante, Tante hanya perlu mengenalnya lebih dalam, untuk cara berpakaian, mungkin Tama bisa sedikit demi sedikit memberi pengertian kepada Vanes. Tapi aku yakin kok Tan, kalau Tante Anisa mau membuka pintu hati tante, dan menerima Vanes, pasti Tante akan bisa mengerti bahwa Vanes itu wanita yang baik," ujar Kanaya.


"Baiklah Kanaya, Tante akan ikuti saran kamu." ucap Anisa.


Kanaya tersenyum mendengar perkataan Anisa,"aku yakin, hubungan Tante dan Tama akan selalu baik-baik saja, karena Tante sudah mau memberikan restu untuk ke duanya, ya sudah sekarang kita makan dulu ya Tante."


"Iya Nak," Kanaya dan Anisa pun mulai memakan pesanan mereka berdua.


Di sisi lain, terjadi kehebohan di rumah Anisa, mereka semua tengah khawatir karena tidak bisa menemukan Anisa di sekitar rumah.


"Pah, baju-baju mamah masih ada kan?" tanya Anisa panik.


"Kok kamu nanyain baju sih?" tanya Tama kesal, di saat seperti ini malah adiknya menanyakan hal yang tidak penting.


"Duh kakak gimana sih, kalau mamah bawa baju-baju nya itu berarti mamah kabur," jawab Natasha kesal.


"Oh iya," Oki baru ingat, dia pun kembali masuk ke dalam kamarnya dan mengecek ke dalam lemari.


Mereka bernapas lega, karena semua baju Anisa masih berada di tempatnya, mereka juga melihat tas-tas Anisa yang masih berada di tempatnya, bahkan ada dompet serta ponsel Anisa yang berada di atas nakas.


"Mamah nggak bawa dompet ataupun ponsel," ujar Oki semakin khawatir.


"Coba cari ke Tante Keysha aja, siapa tahu mamah di sana," usul Natasha.


"Ya sudah, papah kesana dulu," ucap Oki, dia ingin segera menemukan istrinya.


"Ikut Pah," Natasha langsung mengikuti Oki dari belakang, selain mencari mamah nya, dia juga pastinya ingin melihat Raka. Tama yang juga tengah khawatir langsung berlari mengejar Oki dan Natasha yang sudah lebih dulu berjalan menuju rumah Keysha.


"Assalamu'alaikum"


Keysha yang tengah menyiapkan makan malam membantu asisten rumah tangga, merasa mendengar suara Oki, dia segera menuju pintu utama untuk melihat nya.


"Waalaikumsalam"


"Lohh ... Oki, Natasha, Tama ... ada apa datang ramai-ramai?" tanya Keysha bingung.


"Maaf Key kalau aku ganggu, aku mau tanya istri ku ada di sini?" tanya Oki.


"Istri kamu? Anisa?."


"Iya Key ... siapa lagi? aku cuman ada satu istri, belum niat nambah," jawab Oki, dan seketika itu Natasha langsung mencubit lengan papahnya.


"Awww" pekik Oki kesakitan.


"Jangan bercanda Pah, ini masalah genting," ucap Natasha.


"Masalah genting apa? Anisa juga nggak ada di sini," Keysha ikut panik akhirnya.


"Jadi gini Tante, mamah nggak ada di rumah dari sore tadi, kita udah cari di seluruh rumah, bahkan sampe muter komplek, tapi mamah belum ketemu." ucap Tama menjelaskan.


"Ya ampun, udah coba di hubungi nomor Anisa?" tanya Keysha.


"Masalah nya Anisa nggak bawa ponsel Key, dia juga nggak bawa uang, aku jadi khawatir," ujar Oki.


Mendengar ada suara ribut-ribut, Marvel dan Raka pun keluar untuk mengecek ada hal apa. Melihat kedatangan Raka tentu saja, Natasha langsung memanfaatkan situasi ini.


"Apa sih," Raka mencoba melepaskan tangan Natasha, namun Natasha tetap saja bandel, malah sekarang dia menyenderkan kepalanya di pundak Raka.


"Raka ... bantu aku cari mamah yuk," rengek Natasha.


"Emang Tante Anisa kenapa?" tanya Raka.


"Mamah tuh pergi nggak tahu kemana, aku udah nyari keliling komplek, tapi nggak ketemu," jawab Natasha.


"Bohong, orang kamu cuman nyari di rumah kok," sela Tama.


"Wah aku tahu nih kenapa mamah kamu pergi," ucap Raka dengan raut wajah seriusnya.


"Kenapa Raka?" tanya Marvel dan Oki penasaran.


"Pasti Tante Anisa capek punya anak kaya Natasha yang bandel," jawab Raka enteng.


"Iihh Raka..." Natasha malah semakin merengek, membuat Raka bergidik ngeri, namun perkataan Raka, seolah menyentil perasaan Tama. Karena, tadi pagi dia dan Anisa bertengkar hebat, sampai Anisa menangis.


"Apa mamah pergi karena aku?" batin Tama.


"Duh Raka kamu kok malah ngaco sih," ujar Kesyha.


Kini Kanaya tengah dalam perjalanan pulang bersama dengan Anisa, Kanaya belum mengetahui kalau Anisa pergi dari rumah tanpa pamit.


"Tante, om Oki tau Tante pergi?" tanya Kanaya.


"Sebenarnya Tante nggak ngabarin siapapun kalau Tante pergi Kanaya," jawab Anisa tak enak.


Kanaya terkejut mendengar penjelasan Anisa,"pasti mereka khawatir banget sama Tante, mana udah jam segini Tan," ujar Kanaya panik.


"Ya udah, Tante hubungin om Oki ajah, soalnya ponsel Kanaya habis baterai."


"Duh Kanaya, Tante pergi lupa nggak bawa ponsel, ponsel Tante ketinggalan di rumah." jawab Anisa.


"Ya udah Tante, nggak papa, bentar lagi kita sampai kok," ujar Kanaya mencoba bersikap tenang.


" udah kita bantu cari Tante Anisa dulu yuk," ajak Marvel.


"Iya Pah," jawab Raka malas, namun Natasha malah tersenyum senang. Mereka pun bersama-sama mencari di sekita komplek, tapi baru saja keluar dari pagar rumah Keysha, mereka melihat mobil milik Kanaya yang baru saja pulang.


Kanaya merasa tak enak, apa lagi kini dia melihat keluarganya dan keluarga Anisa bersama, dia tebak pasti mereka akan mencari Anisa. Seandainya dia tahu lebih awal kalau Anisa tidak pamit kepada orang rumah, mungkin Kanaya akan menghubungi Tama atau Oki, agar mereka tidak khawatir, apa lagi Kanaya dan Anisa sudah pergi cukup lama.


"Tante, mereka pasti nyari Tante," ujar Kanaya.


"Biarin aja, biar Tama tahu, gimana kecewanya Tante, makasih ya Kanaya udah mau dengerin curhatan Tante, kamu memang anak yang baik," ujar Anisa tulus.


"Sama-sama Tante, kalau Tante butuh temen ngobrol, Tante bisa kok hubungin aku ya?" ucap Kanaya. Mereka berdua pun turun dari mobil.


"Kanaya ... mamah," ucap Oki,Tama dan Anisa bersamaan.


Tama langsung mendekati Anisa, "mamah nggak papa?" tanya Tama khawatir.


"Mamah dari mana aja?" tanya Oki.


"Mamah habis nenangin pikiran, suntuk di rumah Pah, untung ketemu Kanaya," Anisa tak menjawab pertanyaan Tama.


"Terimakasih ya Kanaya," ucap Oki.


"Sama-sama Om," jawab Kanaya.


"Keysha, Marvel, Raka, terimakasih ya sudah mau membantu, maaf sudah merepotkan," ucap Oki tak enak.


"Nggak papa, santai aja..." jawab Marvel.


"Ya sudah kami pamit pulang dulu, ayo mah," ajak Oki membawa istrinya pulang.


"Bye Raka tampan," Natasha melambaikan tangan ke arah Raka sambil mengedipkan sebelah mata, namun Raka malah melengos.


"Sayang, kita tunggu di dalam ya," ucap Keysha kepada Kanaya.


"Iya Mah," jawab Kanaya, Marvel, Keysha dan Raka pun masuk ke dalam rumah, melanjutkan acara makan malam yang sempat tertunda.


Kanaya hendak masuk ke dalam mobil untuk memarkir ke dalam bagasi, namun suara Tama menghentikan niatnya.


"Mamah cerita apa aja?" tanya Tama.


"Dia cuman cerita, tentang kecewanya ibu setelah di bentak anaknya, apa lagi anak yang dia banggakan, dia besarkan dengan penuh cinta, tega mengatakan agar ibunya tidak ikut campur dalam urusan hidupnya," jawab Kanaya tanpa menatap Tama.


Terdengar helaan napas berat dari Tama, "aku memang salah, aku terlalu terpancing emosi."


"Mamah kamu masih perlu waktu Tama, untuk bisa menerima Vanes, apa yang mamah kamu inginkan sebenarnya mudah, hanya tinggal bagaimana kamu bisa merubah diri Vanes agar lebih baik," ujar Kanaya.


"Aku akan berusaha, terimakasih ya," ujar Tama.


Tanpa menjawab, Kanaya langsung masuk ke dalam mobil dan melajukan nya pelan untuk masuk ke dalam rumah, sedangkan Tama melangkah kan kaki untuk pulang.