
“Benar Nando?” Harlan
menanyakan hal ini kepada putranya, dia harap semua yang dituduhkan Indira
adalah bohong.
Nando menunduk seraya
terisak, “benar Pah, apa yang Indira katakana memang benar, aku bersalah dala
hal ini, aku sudah membuat semuanya jadi seperti ini, bahkan karena aku papah
Aditya, mamah Bella dan nenek Desi meninggal,” isak Nando.Mendengar penjelasan
putrnya, Harlan dan Lailla pun lemas seketika
“Benarkan? Dan sekarang
apa mau Mamah dan Papah? Apa kalian mau aku berpisah dari Nando? Kalau iya,
baik akan aku lakukan, tapi aku juga akan menutut Nando, dia harus bertanggung
jawab atas semua yang terjadi,” ucap Indira dengan tegas.
Lailla melebarkan
matanya, dia diam sejenak, ‘kalau Indira melaporkan Nando, maka Nando pasti
akan ditahan dan karirnya sebagai seorang Dokter akan hancur,’ batin Lailla.
“Jangan Indira, Mamah
mohon jangan laporkan Nando, Mamah janji tidak akan memisahkan kalian berdua,
mamah janji,” ucap Lailla dengan sungguh-sungguh, “tapi Mamah mohon. Jangan laporkan
Nando,” pinta Lailla.
‘Aku tidak mau melihat
Nando menderita, tidak apa aku memiliki menantu yang tidak bisa memberikan
Nando keturunan, yang urusan anak biar aku pikirkan nanti,’ batin Lailla.
“Baiklah, bagaimana
Nando? Apa kamu akan tetap bertahan dengan ku atau …” belum selesai Indira
berbicara tapi Nando sudah memberikan jawabannya.
“AKu akan bertahan
dengan kamu sayang, aku janji akan menjadi suami yang lebih baik, aku mohon
maafkan aku,” pinta Nando.
“Baiklah, aku memberikan
kamu kesempatan, dan aku tidak akan melaporkan kamu ke polisi,” Indira
mengambil keputusan dengan cepat, membuat semua teman-temanny kesal dengan
keputusan yang diambil oleh Indira.
“Terimakasih Sayang …
terimakasih..” Nando sangat lega, karena dia tidak akan merasakan dinginnya
lantai dibalik jeruji besi.
“Baiklah Indira,
sebaiknya kamu istirahat, karena Nando juga harus kembali keruangannya, semoga
kamu cepat pulih ya?” ucap Harlan dan diangguki oleh Indira. kini sikap Harlan
dan Lailla sangat berbeda pada Indira, tentu Indira tahu apa alasannya, itu
semua karena ancamannya darinya.
Setelah Nando dan kedua
orangtuanya pergi, Kanaya dan yang lain langsung mendatangi Indira dan
menginterogasinya.
“Ra, kok loe bisa
segampang itu maafin Nando?” tanya Anggel.
“Iya Ra …loe lihat kan
gimana mereka perlakuin loe tadi?” timoal Anita, mereka semua tidak habis pikir
dengan jalan pikiran Indira.
Indira menunduk sendu,
dia tahu pasti semua teman-temannya berpikir bahwa Indira bodoh karena mau
dengan mudahnya memaafkan Nando.
“Gue nggak punya
siapa-siapa sekarang, cuman Nando yang gue punya. Dan meskipun gue harus
mengancam mereka, tapi kalau dengan cara itu mereka mau bersikap lebih baik
sama gue, gue mau dan gue rela, meski gue tahu kalau sikap mereka palsu, tapi
gue yakin lambat laun mereka akan berubah dengan sendirinya,” ujar Indira,
mendengar penjelasan Indira mereka semua menjadi terharu dan terutama Kanaya,
dia memeluk Indira memberikan ketenangan.
“Loe nggak sendirian,
ada kita semua disini, disamping loe Ra…” ujar Kanaya, Indira terisak dalam
pelukan Kanaya, pelukan yang sudah sangat lama Indira rindukan, pelukan yang
selalu bisa memberikan ketenangan pada Indira, kini bisa Indira rasakan lagi.
“Kenapa loe masih baik
sama gue Nay, gue udah terlalu sering nyakitin loe dan bikin loe kecewa, tapi
kenapa loe masih baik sama gue?” tanya Indira terisak.
“Karena loe temen gue,
dan selamanya akan begitu. Apapun yang terjadi beberapa bulan kemarin, gue udah
terjadi ya?” ucap Kanaya yang semakin membuat Indira terharu, dia tidak menyangka kalau Kanaya
masih mau menerimanya kembali, kembali menjadi sahabat.
Malam itu, Anita,
Anggel, Nathan dan Bara bertugas menjaga Indira, sedangkan Tama, Kanaya dan
yang lain pulang. Tama dan Kanaya tidak mungkin menginap, karena mereka harus
menjemput Felly yang mereka titipkan pada Keysha dan Marvel.
Sepanjang jalan, Kanaya
masih terus memikirkan Indira, begitu berat jalan terjal yang harus Indira
lalui, dia dan teman-temannya sudah berjanji akan menjadi penghibur Indira dan
akan selalu mengawasi Nando, mereka tidak mau kalau Nando dan kedua orangtuanya
terlalu memanfaatkan Indira.
Soal restaurant milik
Aditya, akan diurus sementara oleh Alby sebelum akhirnya diserahkan kepada Indira,
karena biar bagaimanapun restaurant adalah harta peninggalan Aditya yang diwariskan
untuk Indira dan nantinya Indira lah yang akan menjadi penerus usaha
orangtuanya itu.
Kanaya menggendong tubuh
Felly yang sudah tertidur pulas selama di mobil, dia pun membaringkan dengan
hati-hati tubuh Felly, dan menyelimutinya. Sebelum beranjak dari kamar Felly,
Kanaya mencium kening Felly dengan penuh sayang.
Saat Kanaya melangkah
menuju kamarnya, dia melewati ruang kerja Tama yang pintunya sedikit terbuka,
Kanaya yakin kalau Tama pasti tengah bekerja, beberapa hari ini mereka semua
sangat fokus pada Indira, jadi saat malam Tama usahakan untuk mengecek beberapa
laporan pekerjaannya.
Melihat Tama yang masih
bekerja saat malam, sebenarnya Kanaya juga khawatir, karena Tama akan kurang
istirhata, Kanaya pun berinisiatif untuk membuatkan minuman jahe, karena sedang
musim hujan dan pastinya udara menjadi dingin apalagi ketika malam hari, Kanaya
pun membuatkan minuman jahe untuk menemani waktu lembur Tama.
“Tama …” lirih Kanaya,
dia berdiri diambang pintu karena Tama belum memberinya izin untuk masuk.
“Masuk sayang…” jawab
Tama tanpa menoleh, nampaknya Tama sedang sangat sibuk, namuan Kanaya fokus
pada panggilan yang Tama berikan, yaitu sayang.
“Ada apa?” tanya Tama
seraya menatap Kanaya dengan wajah manisnya.
“Eemm ini, aku buatkan
minuman jahe buat kamu,” jawab Kanaya, ditatap demikian oleh suami sendiri
ternyata membuat Kanaya menjadi salah tingkah.
“Ohh begitu … wahh
istriku memang sangat pengertian, terimakasih ya?” ucap Tama, walau hanya
minuman jahe, tapi perhatian yang Kanaya berikan pada Tama membuat lelaki
sangat bahagia, setidaknya Tama masih punya kesempatan dan celah untuk membuat
Kanaya mencintainya.
“Sama-sama, eemm kamu
jangan terlalu larut, bagaimanapun kamu juga harus istirahat,” Kanaya mencoba
mengingatkan Tama.
“Iya istriku … kamu
langsung tidur ya? jangan menunggu ku,” ucap Tama.
“Iya, kalau begitu aku
pergi dulu,” pamit Kanaya.
“Tunggu sayang,” Tama
menghentikan langkah Kanaya, membuat Kanaya mengerutkan keningnya karena
mungkin ada yang Tama butuhkan.
“Ada apa?” tanya Kanaya
dengan bingung, tapi Tama malah bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati
Kanaya.
Tama mencium kening
istrinya beberapa menit, “good night my wife,” ucap Tama diringi dengan
kerlingan mata, membuat Kanaya salah tingkah dan juga pipinya memanas, tidak
mau Tama tahu Kanaya pun langsung berlari meninggalkan Tama, membuat pria itu
tersenyum lucu.
‘AKu yakin aku akan bisa
mendapatkan kamu sayang, hanya tinggal sebentar lagi,’ batin Tama yakin.