Keysha

Keysha
Season 2 (Keputusan Indira)



“Benar Nando?” Harlan


menanyakan hal ini kepada putranya, dia harap semua yang dituduhkan Indira


adalah bohong.


Nando menunduk seraya


terisak, “benar Pah, apa yang Indira katakana memang benar, aku bersalah dala


hal ini, aku sudah membuat semuanya jadi seperti ini, bahkan karena aku papah


Aditya, mamah Bella dan nenek Desi meninggal,” isak Nando.Mendengar penjelasan


putrnya, Harlan dan Lailla pun lemas seketika


“Benarkan? Dan sekarang


apa mau Mamah dan Papah? Apa kalian mau aku berpisah dari Nando? Kalau iya,


baik akan aku lakukan, tapi aku juga akan menutut Nando, dia harus bertanggung


jawab atas semua yang terjadi,” ucap Indira dengan tegas.


Lailla melebarkan


matanya, dia diam sejenak, ‘kalau Indira melaporkan Nando, maka Nando pasti


akan ditahan dan karirnya sebagai seorang Dokter akan hancur,’ batin Lailla.


“Jangan Indira, Mamah


mohon jangan laporkan Nando, Mamah janji tidak akan memisahkan kalian berdua,


mamah janji,” ucap Lailla dengan sungguh-sungguh, “tapi Mamah mohon. Jangan laporkan


Nando,” pinta Lailla.


‘Aku tidak mau melihat


Nando menderita, tidak apa aku memiliki menantu yang tidak bisa memberikan


Nando keturunan, yang urusan anak biar aku pikirkan nanti,’ batin Lailla.


“Baiklah, bagaimana


Nando? Apa kamu akan tetap bertahan dengan ku atau …” belum selesai Indira


berbicara tapi Nando sudah memberikan jawabannya.


“AKu akan bertahan


dengan kamu sayang, aku janji akan menjadi suami yang lebih baik, aku mohon


maafkan aku,” pinta Nando.


“Baiklah, aku memberikan


kamu kesempatan, dan aku tidak akan melaporkan kamu ke polisi,” Indira


mengambil keputusan dengan cepat, membuat semua teman-temanny kesal dengan


keputusan yang diambil oleh Indira.


“Terimakasih Sayang …


terimakasih..” Nando sangat lega, karena dia tidak akan merasakan dinginnya


lantai dibalik jeruji besi.


“Baiklah Indira,


sebaiknya kamu istirahat, karena Nando juga harus kembali keruangannya, semoga


kamu cepat pulih ya?” ucap Harlan dan diangguki oleh Indira. kini sikap Harlan


dan Lailla sangat berbeda pada Indira, tentu Indira tahu apa alasannya, itu


semua karena ancamannya darinya.


Setelah Nando dan kedua


orangtuanya pergi, Kanaya dan yang lain langsung mendatangi Indira dan


menginterogasinya.


“Ra, kok loe bisa


segampang itu maafin Nando?” tanya Anggel.


“Iya Ra …loe lihat kan


gimana mereka perlakuin loe tadi?” timoal Anita, mereka semua tidak habis pikir


dengan jalan pikiran Indira.


Indira menunduk sendu,


dia tahu pasti semua teman-temannya berpikir bahwa Indira bodoh karena mau


dengan mudahnya memaafkan Nando.


“Gue nggak punya


siapa-siapa sekarang, cuman Nando yang gue punya. Dan meskipun gue harus


mengancam mereka, tapi kalau dengan cara itu mereka mau bersikap lebih baik


sama gue, gue mau dan gue rela, meski gue tahu kalau sikap mereka palsu, tapi


gue yakin lambat laun mereka akan berubah dengan sendirinya,” ujar Indira,


mendengar penjelasan Indira mereka semua menjadi terharu dan terutama Kanaya,


dia memeluk Indira memberikan ketenangan.


“Loe nggak sendirian,


ada kita semua disini, disamping loe Ra…” ujar Kanaya, Indira terisak dalam


pelukan Kanaya, pelukan yang sudah sangat lama Indira rindukan, pelukan yang


selalu bisa memberikan ketenangan pada Indira, kini bisa Indira rasakan lagi.


“Kenapa loe masih baik


sama gue Nay, gue udah terlalu sering nyakitin loe dan bikin loe kecewa, tapi


kenapa loe masih baik sama gue?” tanya Indira terisak.


“Karena loe temen gue,


dan selamanya akan begitu. Apapun yang terjadi beberapa bulan kemarin, gue udah


terjadi ya?” ucap Kanaya yang semakin membuat Indira  terharu, dia tidak menyangka kalau Kanaya


masih mau menerimanya kembali, kembali menjadi sahabat.


Malam itu, Anita,


Anggel, Nathan dan Bara bertugas menjaga Indira, sedangkan Tama, Kanaya dan


yang lain pulang. Tama dan Kanaya tidak mungkin menginap, karena mereka harus


menjemput Felly yang mereka titipkan pada Keysha dan Marvel.


Sepanjang jalan, Kanaya


masih terus memikirkan Indira, begitu berat jalan terjal yang harus Indira


lalui, dia dan teman-temannya sudah berjanji akan menjadi penghibur Indira dan


akan selalu mengawasi Nando, mereka tidak mau kalau Nando dan kedua orangtuanya


terlalu memanfaatkan Indira.


Soal restaurant milik


Aditya, akan diurus sementara oleh Alby sebelum akhirnya diserahkan kepada Indira,


karena biar bagaimanapun restaurant adalah harta peninggalan Aditya yang diwariskan


untuk Indira dan nantinya Indira lah yang akan menjadi penerus usaha


orangtuanya itu.


Kanaya menggendong tubuh


Felly yang sudah tertidur pulas selama di mobil, dia pun membaringkan dengan


hati-hati tubuh Felly, dan menyelimutinya. Sebelum beranjak dari kamar Felly,


Kanaya mencium kening Felly dengan penuh sayang.


Saat Kanaya melangkah


menuju kamarnya, dia melewati ruang kerja Tama yang pintunya sedikit terbuka,


Kanaya yakin kalau Tama pasti tengah bekerja, beberapa hari ini mereka semua


sangat fokus pada Indira, jadi saat malam Tama usahakan untuk mengecek beberapa


laporan pekerjaannya.


Melihat Tama yang masih


bekerja saat malam, sebenarnya Kanaya juga khawatir, karena Tama akan kurang


istirhata, Kanaya pun berinisiatif untuk membuatkan minuman jahe, karena sedang


musim hujan dan pastinya udara menjadi dingin apalagi ketika malam hari, Kanaya


pun membuatkan minuman jahe untuk menemani waktu lembur Tama.


“Tama …” lirih Kanaya,


dia berdiri diambang pintu karena Tama belum memberinya izin untuk masuk.


“Masuk sayang…” jawab


Tama tanpa menoleh, nampaknya Tama sedang sangat sibuk, namuan Kanaya fokus


pada panggilan yang Tama berikan, yaitu sayang.


“Ada apa?” tanya Tama


seraya menatap Kanaya dengan wajah manisnya.


“Eemm ini, aku buatkan


minuman jahe buat kamu,” jawab Kanaya, ditatap demikian oleh suami sendiri


ternyata membuat Kanaya menjadi salah tingkah.


“Ohh begitu … wahh


istriku memang sangat pengertian, terimakasih ya?” ucap Tama, walau hanya


minuman jahe, tapi perhatian yang Kanaya berikan pada Tama membuat lelaki


sangat bahagia, setidaknya Tama masih punya kesempatan dan celah untuk membuat


Kanaya mencintainya.


“Sama-sama, eemm kamu


jangan terlalu larut, bagaimanapun kamu juga harus istirahat,” Kanaya mencoba


mengingatkan Tama.


“Iya istriku … kamu


langsung tidur ya? jangan menunggu ku,” ucap Tama.


“Iya, kalau begitu aku


pergi dulu,” pamit Kanaya.


“Tunggu sayang,” Tama


menghentikan langkah Kanaya, membuat Kanaya mengerutkan keningnya karena


mungkin ada yang Tama butuhkan.


“Ada apa?” tanya Kanaya


dengan bingung, tapi Tama malah bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati


Kanaya.


Tama mencium kening


istrinya beberapa menit, “good night my wife,” ucap Tama diringi dengan


kerlingan mata, membuat Kanaya salah tingkah dan juga pipinya memanas, tidak


mau Tama tahu Kanaya pun langsung berlari meninggalkan Tama, membuat pria itu


tersenyum lucu.


‘AKu yakin aku akan bisa


mendapatkan kamu sayang, hanya tinggal sebentar lagi,’ batin Tama yakin.