
Kini Arya masih bertahan dirumahnya, karena Arya memutuskan
untuk tidak ke kantor dan menunggu Erland pulang dari sekolah, rencananya hari
ini Erland akan berpamitan dengan teman, dan guru di sekolah sebelum
keberangkatannya ke Prancis. Padahal Kanaya sudah menyarankan kepada Arya untuk
tetap pergi ke kantor, karena biar bagaimanapun Arya mempunyai tanggungjawab
disana, namun begitulah Arya, keras kepala.
Kanaya juga sudah mengingatkan Arya, bahwa apa yang sudah
Erland putuskan akan sangat sulit untuk diubah, karena dia tipikal anak yang
tegas pada keputusannya sendiri, meskipun usia Erland masih 7 tahun, namun
Erland sudah bisa mngambil keputusannya sendiri.
Arya berharap dia bisa membujuk Erland supaya tidak kembali
ke Prancis, namun jika tidak berhasil setidaknya Arya ingin mendapatkan maaf
dari putranya. Saat yang ditunggu tiba, terdengar suara mesin mobil yang
diyakini itu adalah mobil yang biasa mengantar jemput Erland.
“Assalammualaikum,” Erland masuk kedalam rumah.
“Waalaikumsalam,” jawab Arya dan Kanaya bersamaan.
Arya menatap putranya yang mematung ditempat karena melihat
keberadaan Arya, melihat putranya yang diam, Arya pun berinisiatif untuk
mendekati Erland dan memeluknya sembari terisak.
“Maafkan Daddy ya, Daddy pasti membuat Erland marah karena perlakuan
Daddy waktu itu, Daddy benar-benar menyesal, maafkan Daddy,” ucap Arya
bersunguh-sungguh.
Posisi Erland memang berhadapan dengan Kanaya, dia menatap
Kanaya seolah mengatakan kalau dia bingung harus merespon apa, karena Erland
sama sekali tidak balas memeluk Arya. Kanaya yang paham dengan maksud tatapan
putranya pun tersenyum seraya mengangguk, seolah mengatakan kalau Erland harus
bisa bersikap legowo dan harus bisa memaafkan Arya yang tidak lain ayah
kandungnya sendiri.
“Iya Dad, aku sudah memaafkan Daddy kok,” jawab Erland.
Arya melepaskan pelukannya dan menatap Erland, “jadi Erland
sudah memaafkan Daddy?” tanya Arya memastikan.
“Iya Dad,” jawab Erland.
Arya pun tersenyum kearah putranya, “kalau Erland sudah
memaafkan Daddy, apa Erland akan tetap bertahan disini?” tanya Arya penuh
harap.
“Maaf Dad, kalau soal itu Erland tidak bisa, karena aku
sudah memutuskan untuk tetap berangkat ke Prancis,” jawab Erland yakin.
Arya menunduk sendu, dia membenarkan ucapan Kanaya, bahwa
Erland memang anak yang mandiri dan keputusannya itu tidak bisa diganggu gugat,
sama persis dengan sifatnya dia pun mencoba untuk menerima keputusan Erland.
“Baiklah, Daddy hanya berpesan kamu jaga kesehatan disana,”
ucap Arya.
“Iya Dad, aku juga titip Mommy ya, jaga Mommy jangan pernah
sakiti Mommy, kalau Daddy sampai melakukan itu, maka aku akan membawa Mommy
pergi dari Daddy,” ujar Erland dengan tatapan serius.
“Daddy janji akan selalu menjaga Mommy, seperti Daddy
menjaga aunty Anjani.”
Raut wajah Erland nampak tak suka setelah dia mendengar nama
Anjani, “Dad, apa tidak bisa jika kita sedang bersama Daddy tidak menyebut nama
aunty Anjani? aku tahu aunty Anjani istri Daddy tapi aunty Anjani itu orang
asing bagiku,” ujar Erland secara terang-terangan, perkataan Erland seolah
menjadi tamparan bagi Arya, yang selalu saja mengaitkan dengan Anjani, karena
dia ingin Erland dekat dengan Anjani, namun Arya lupa kalau Erland bisa saja
tidak nyaman dengan hal itu.
“Iya Daddy minta maaf,” ujar Arya nampak malu.
“Ya sudah Dad, aku mau istirahat,” Erland langsung melangkah
tanpa membiarkan Arya mencium keningnya seperti biasa, Arya merasa Erland mulai
menjaga jarak dengannya, meskipun Erland mengatakan dia sudah memaafkan Arya,
namun sikap Erland jauh berbeda disbanding saat Arya belum membentak Erland.
“Aku minta maaf,” ujar Arya seraya terisak.
“Kamu sudah dengarkan mas apa jawaban Erland? aku harap kamu
bisa menerima keputusan Erland,” ucap Kanaya penuh harap.
“Seandainya waktu bisa diputar, aku tidak akan pernah
melakukan hal itu, aku menyesal dengan apa yang telah terjadi, itu membuat ku
kehilangan masa-masa terindahku dengan Erland yang sudah ku rancang,” Arya
berucap seraya terisak.
“Sudahlah mas, nggak perlu lagi kamu sesali, aku harap
dengan hal ini kamu bisa belajar dan mengambil hikmahnya,” setelah mengatakan
itu Kanaya memilih pergi meninggalkan Arya untuk melihat keadaan Erland.
Sejujurnya disini Kanaya yang paling tersiksa, belum pernah
Kanaya berjauhan dengan Erland, namun Kanaya harus tetap berada disini, karena
biar bagaimanapun Kanaya adalah seorang istri, Kanaya harus bisa tegar didepan orang lain, meski sejujurnya berat bagi
Kanaya untuk melepaskan putranya.
Kanaya melihat Erland yang tengah mengemasi barang-barangnya
seraya mengenang kamar yang belum lama ini dia tempati.
“Ada yang bisa Mommy bantu?” tanya Kanaya.
“Banyak Mom,” jawab Erland seraya tersenyum, Kanaya pun
melangkah bermaksud membantu Erland mengemas baranya dalam koper.
“Kamu akan merindukan kamar ini Nak?” tanya Kanaya, pasalnya
tadi Kanaya melihat Erland melihat dekorasi kamar cukup lama.
“Hanya kamarnya, tidak dengan suasananya,” jawab Erland.
“Kenapa?” tanya Kanaya bingung.
“Kalau boleh jujur, jika tahu Daddy memiliki istri selain
Mommy, sebaiknya aku dan Mommy tidak disini, aku akan menuruti perkataan Mommy
saat itu, untuk kembali ke Prnacis,” sangat terlihat raut wajah penyesalan
Erland.
“Mommy kenapa tidak ikut dengan ku saja?” tanya Erland
dengan tatapan penuh harap, Kanaya tahu Erland sangat ingin Kanaya ikut
dengannya.
“Tidak sayang, Mommy
harus berada disini, karena Mommy sudah kembali menjadi istri Daddy,” jawab
Kanaya mencoba memberi pengertian kepada Erland.
“Baiklah Mom, tapi Mommy harus jaga ksehatan, baik-baik
disini.”
Kanaya tidak mampu lagi menahan air matanya, “bagaimana bisa
Mommy baik-baik saja tanpa kamu disamping Mommy,” isak Kanaya seraya memeluk
Erland erat, suasana kamar Erland yang biasanya terisi oleh canda tawa Kanaya
dan Erland kini berubah menjadi suasana haru, bahkan Erland pun ikut menitikkan
air matanya.
“Mom, aku janji aku akan menjadi orang yang sukses dengan
usaha ku sendiri, dan aku janji aku tidak mau menjadi seperti Daddy,” ucap
Erland dengan sungguh-sungguh.
“Kenapa?” tanya Kanaya dengan raut wajah bingung.
“Aku hanya mau menikah dengan satu orang wanita, aku mau
menjadi lelaki sejati dan bertanggung jawab,” jawab Erland yakin.
“Aaammmiiin, Mommy yakin putra Mommy akan menjadi lelaki
yang sukses, dan berwibawa, tapi yang lebih penting kamu bisa menghargai orang
lain.”
Rupanya sedari tadi Arya sudah mendengar pembicaraan Erland
dan Kanaya, dia begitu terkejut dengan ucapan putranya, yang tidak ingin
menjadi seperti dirinya.
“Aku sudah gagal menjadi contoh dan panutan untuk putraku,
hingga putraku tidak mau menjadi seperti aku,” isak Arya, dia merasa menjadi
ayah paling gagal diseluruh dunia, Arya tak mampu lagi menahan tangisnya, dia
memilih meninggalkan kediamannya dengan Kanaya untuk menenangkan pikiran.
Hari ini, Arya seolah diberikan cermin besar oleh Erland,
untuk berkaca seperti apakah perangai Arya dimata Erland, Arya teramat malu
karena dia tidak bisa mencontohkan hal baik bagi putranya, sampai-sampai Erland
memilih menjauh dari ayahnya sendiri.
Malam ini, Raissa dan Abimanyu memutuskan untuk menginap
dikediaman Kanaya, supaya mereka bisa berangkat ke Bandara bersama-sama, dan
saat ini Raissa, Kanaya, dan Erland tengah menonton tv bersama, sedangkan
Abimanyu tengah mengurus beberapa pekerjaan.
“Sayang, Mommy ke dapur dulu ya, bikin cemilan,” pamit
Kanaya.
“Iya Mom,” jawab Erland.
Setelah beberapa menit Kanaya pergi, ponsel Kanaya bordering
tanda panggilan masuk, dan saat Erland lihat, itu panggilan dari Anjani.
“Siapa sayang?” tanya Raissa penasaran.
“Aunty Anjani grandma,” jawab Erland dengan malas, setelah
melihat siapa yang menghubungi ibunya.
Raissa juga terlihat tidak suka setelah mengetahui siapa
yang menghubungi Kanaya, awalnya Raissa membiarkan ponsel itu bordering, namun
semakin lama itu malah menganggu Raissa dan juga Erland, akhirnya Raissa pun
mengangkat telepon tersebut karena dia juga ingin tahu apa yang ingin Anjani
bicarakan kepada Kanaya.
“Hallo Kanaya? syukurlah kamu menerima panggilan telepon ku,
Kanaya aku baru saja mendengar kabar dari mas Arya, dia bilang Erland akan
kembali ke Prancis apa itu benar? Kanaya aku mohon jawab, kenapa kamu tidak
memberitahukannya padaku, bagaimana pun aku juga istri mas Arya, dan aku juga
menyayangi Erland, aku sangat ingin dekat dengannya, tapi kenapa mendadak
Erland pergi?” tanya Anjani bertubi.
“Kanaya kenapa kamu tidak menjawab? apa kamu yang meminta
Erland untuk kembali kesana?”
“Jangan sembarangan ya kamu kalau bicara,” sentak Raissa,
dia begitu terkejut setelah tahu bahwa bukan Kanaya yang menjawab teleponnya.
“Kenapa kaget? Sekarang aku tahu kedok busuk kamu,kalau kamu
mau tahu kenapa Erland memilih pergi, itu semua karena kamu, karena kamu Erland
dan Kanaya bertengkar dengan Arya, dasar wanita tidak tahu malu!” seru Raissa.
“Gara-gara kamu, rumah tangga Kanaya dan Arya kembali tidak
harmonis, kamu itu benar-benar pembawa masalah,” ssentak Raissa lagi, setelah
mengatakan itu Raissa langsung menutup teleponnya.
Sedangkan Anjani berlari kearah kamar setelah mendengar
kata-kata pedas dari Raissa, ditambah lagi kenyataan yang dia dapat, yang
mengatakan kalau Arya bertengkar dengan Erland dan Kanaya karena dirinya.
Arya terkejut ketika melihat Anjani berlari kearah kamar
dengan terisak, ditambah lagi pintu kamar yang dikunci, dia mencoba mengetuk
pintu , namun Anjani bilang dia butuh waktu untuk sendiri.
“Tadi Anjani bilang dia ingin menghubungi Kanaya, apa Kanaya
yang sudah membuat Anjani begini? apa Kanaya memaki Anjani, karena berpikir
gara-gara Anjani dia dan Erland harus berpisah?” batin Arya bertanya.
.
.
Kini Kanaya dan Arya tengah dalam perjalanan pulang, karena
mereka baru saja mengantarkan Erland, Raissa, dan Abimanyu ke Bandara, masih
sangat berat bagi Kanaya karena harus berpisah dengan putra semata wayangnya.
“Kanaya?” panggil Arya lirih.
“Iya mas,” jawab Kanaya dengan malas.
“Apa kamu masih berpikir, bahwa Anjani adalah penyebab
Erland memilih kembali ke Prancis?” tanya Arya.
Kanaya pun langsung menatap Arya dengan tatapan bingung, “maksud kamu mas? Aku nggak pernah
yah mikir begitu, apa lagi ngomong kalau mba Anjani penyebab semua ini,” ujar
Kanaya tak suka.
“Kanaya, kamu nggak perlu bohong, aku tahu semalam Anjani
menguhubungi kamu untuk berbicara dengan Erland, tapi aku yakin kamu tidak
memperbolehkannya karena kamu berpikir Anjani adalah penyebab semua kekacauan
semua ini, aku mohon Kanaya, buang jauh-jauh pikiran itu, Anjani tidak seburuk
yang kamu pikir, kamu tahu gara-gara perkataan kamu semalam, Anjani menangis
semalaman,” ujar Arya.
Mata Kanaya menyipit, “kamu ngomong apa sih, siapa juga yang
yang menerima telepon mba Anjani semalam, kamu ngigau ya mas.”
“Sudahlah Kanaya, jangan mengelak, aku minta kamu minta maaf
ya dengan Anjani?”
Kanaya teramat muak dengan sikap Arya yang terus menuduhnya,
seolah dirnya tak pernah ada bainya sama sekali.
“Stop Pak,” pinta Kanaya kepada supir Arya, mobil pun
berhenti, dan pada saat itu Kanaya menghela napasnya. “Disini cuma aku yang
buruk, aku nggak ada baiknya buat kamu,” setelah mengatakan itu, Kanaya
langsung turun dari mobil dan meninggalkan Arya, beruntung tepat saat itu ada
taksi yang kebetulan kosong tengah melewati Kanaya.
“Kanaya!!” terlambat, Kanaya sudah masuk kedalam taksi, Arya
mencoba mengikuti Kanaya, namun dia kehilangan jejak.
Kanaya sendiri kini kembali terisak dalam taksi, dia tidak
menyangka kalau Arya akan kembali menuduhnya, bahkan ini lebih parah.
“Apa sebegitu bhuruknya aku dimata kamu mas? Sampai kamu terus menerus menuduh aku, dan
meminta aku meminta maaf atas apa kesalahan yang tidak aku lakukan,” batin
Kanaya.
“Ya Allah, apa memang sebaiknya aku menyusul Erland? dan apa
memang keputusan ku bertahan dengan mas Arya itu adalah kesalahan besar?
Semakin aku bertahan, semakin menganga luka yang mas Arya buat,” batin Kanaya
miris.
Kanaya memilih berhenti disalah satu café, dia naik kelantai
dua, karena jika dilantai dua café tersebut, pemandangannya akan lebih terasa
sejuk, karena banyak pepohonan, jadi Kanaya bisa mendinginkan pikirannya.
Kanaya memesan hot chocolate karena tengah hujan jadi
suasana menjadi lebih dingin, suasane hujan seperti ini, biasanya Kanaya dan
Erland menikamati hote chocolate bersama, mengingat masa-masa kebersamaannya
dengan Erland membuat Kanaya rindu dengan putra semata wayangnya, padahal
Kanaya baru saja mengantarkan Erland ke Bandara.
Saat tengah menikmati mee time nya, tiba-tiba Kanaya
dikejutkan dengan kedatangan Gabriel, dia langsung duduk didepan Kanaya.
“Gabriel?” ucap Kanaya terkejut.
“Hai, lama nggak ketemu,” ucap Gabriel.
“Kamu apa kabar? Oh iya, mana Renata?” tanya Kanaya,
pasalnya dia masih ingat dengan janjinya pada Renata, untuk menjauhi Gabriel.
“Renata nggak ikut, oh iya dan kabar ku baik,” jawab
Gabriel, “kamu sendirian? Erland mana?” Gabriel bisa tahu karena melihat hanya
ada satu gelas, dan itupun yang dipegang oleh Kanaya.
“Di rumah,” jawab Kanaya, dia tidak mungkin membicarakan hal
yang sebenarnya kepada Gabriel, tentan Erland yang memilih kembali ke Prancis,
karena nantinya obrolan mereka akan jauh lebih panjang, dan Kanaya sejujurnya
juga takut berlama-lama duduk berdua dengan Gabriel, Kanaya takut ada yang
mengenalinya dan salah paham dengan kedekatan Kanaya dengan Gabriel, Kanaya
sudah pusing menyandang istri kedua yang selalu dianggap remeh, dia tidak mau
lagi mendapat julukan baru sebagai perusak hubungan orang.
“Oh iya kamu sendirian?” tanya Gabriel’
“Sebenernya enggak sih, aku lagi nunggu suamiku, kayaknya
sebentar lagi dia dating deh,” jawab Kanaya bohong, dia berharap kalau Gabriel
akan pergi setelah Kanaya mengatakan dia tengah menunggu suaminya.
“Suami? Jadi kamu rujuk?” tanya Gabriel terkejut, karena dia
memang tidak tahu sama sekali tentang Kanaya yang kembali rujuk dengan Arya.
“Iya, dan hubungan kami sudah sangat baik,” jawab Kanaya
bohong, padahal keberadaan Kanaya disini saja itu karena dia bertengkar dengan
Arya.
“Syukurlah kalau begitu, yasudah aku pamit aja deh, nggak
enak kalau nanti ketemu sama suami kamu Kanaya, nanti salah paham,’ ujar
Gabriel.
“O .. oh begitu, ya sudah kamu hati-hati ya,” Kanaya dapat
bernafas lega setelah Gabriel pergi.
Disisi lain, Arya kini tengah berada dikediaman Anjani,
Anjani menanyakan bagaimana keadaan Kanaya, karena Anjani yakin pasti disini
Kanaya yang paling bersedih karena harus berpisah dengan putranya.
“Kamu kenapa masih perduli dengan Kanaya, padahal Kanaya
sudah sangat jahat dengan kamu,” ujar Arya tak habis pikir dengan kebaikan
Anjani.
Anjani tidak paham.
“Kamu tidak perlu lagi menutupinya Anjani, tadi aku sudah
bilang kepada Kanaya supaya dia tidak terus menerus menyalahkan kamu atas semua
yang terjadi, aku tahu Kanaya semalam memarahi kamu kan? karena Kanaya berpikir
kamulah penyebab Erland memutuskan kembali ke Prancis,” ucap Arya dengan sangat
yakin.
“Mas, itu sama sekali nggak benar,” sanggah Anjani.
“Bagaimana mungkin tidak benar, semalam kamu menghubungi
Kanaya, dan setelah itu kamu malah menangis, jadi itu pasti karena Kanaya
berbicara yang membuat kamu sakit hati, tapi kamu tenang saja, aku sudah
berbicara kepada Kanaya, supaya dia bisa merubah pemikirannya itu.”
“Mas, kamu sudah salah paham, aku memang semalam menghubungi
Kanaya, tapi bukan Kanaya yang menerima telepon ku, melainkan bunda,” jawab
Anjani meluruskan.
“Apa?” sontak Ayrya terkejut karena dia sudah salah paham.
“Iya mas, dan tadi kamu bilang kamu sudah berbicara dengan
Kanaya? dia pasti sangat sakit hati mas karena kamu menuduhnya,” ujar Anjani
yang peka dengan perasaan Kanaya, karena dia juga sama-sama perempuan.
Arya menyugar rambutnya, karena lagi-lagi dia membuat
kesalahan, dia merutuki kebodohannya yang tidak mempercayai penjelasan Kanaya
tadi, sampai Kanaya memutuskan untuk turun dari mobil.
“Aku harus memastikan Kanaya sudah ada di rumah, dan meminta
maaf padanya,” ujar Arya seraya bangkit dari duduknya.
“Maksud kamu? kamu mengantarkan Kanaya pulang kan mas?” raut
wajah Anjani berubah khawatir.
Arya menggeleng pelan, “tidak Anjani, tadi Kanaya marah dan
meminta turun sebwlum sampai rumah, dan dia memilih naik taksi,” jawab Arya
jujur.
“Kok kamu tega sih mas, harus nya kamu cegah Kanaya … ya
sudah sekarang cepat kamu cek Kanaya, aku takut dia kenapa-napa mas,” ujar
Anjani.
“Ya sudah aku pergi ya?” Arya pun bergegas pergi mengemudikan
mobilnya.
“Maafkan aku Kanaya, lagi dan lagi aku membuat kamu kecewa,”
batin Arya merutuki kebodohannya.
Akhirnya Arya pun sampai dikediamannya dengan Kanaya, dia
langsung masuk kedalam rumah dan memanggil nama Kanaya.
“Kanaya!” seru Arya.
“Tuan,” salah seorang pelayan datang menghadap Arya.
“Dimana Kanaya?” tanya Arya.
“Maaf tuan, tapi nyonya belum pulang sejak mengantarkan tuan
Erland.” Sontak jawaban dari pelayan di
rumahnya, membuat Erland terkejut, dia pun khawatir dengan keselamatan Kanaya.
Arya mencoba menghubungi Kanaya, namun tidak diangkat sama
sekali, Arya terus mencoba sampai 10x namun hasilnya masih sama, Kanaya tidak
menerima panggilan telepon dari Arya, namun Arya pun lega, setelah dia melihat Kanaya memasuki rumah.
“Kanaya kamu dari mana saja? aku sangat mengkhawatirkan kamu
sayang,” ucap Arya.
“Khawatir? yakin?” tanya Kanaya tidak percaya.
“Tentu, karena kamu adalah istri ku,” jawab Arya.
“Oh aku terkejut mas, ternyata kamu masih menganggap aku ini
istri kamu?” Kanaya berbicara dengan sangat santai, meskipun sebenarnya itu
semua tanda kekecewaan Kanaya kepada Arya.
“Kenapa kamu berbicara begitu Kanaya? kamu adalah istriku,”
ucap Arya seraya menangkup kedua pipi Kanaya.
“Karena yang aku lihat selama ini, hanya mba Anjani kamu
anggap sebagai istri, apapun yang terjadi pada mba Anjani kamu selalu sigap mas
dan kamu mengaitkannya dengan ku, kamu nggak pernah mengenal aku sebagai istri
kamu, kamu bisa memandang mba Anjani
dengan penuh cinta, tapi tidak dengan ku, dan sekarang aku akan tegas mas,
kalau kamu memang tidak bisa menerima aku sebagai istri kamu, maka kita akhiri
saja pernikahan kita,” ujar Kanaya tanpa ragu sedikitpun, membuat Arya
terkejut.
Arya langsung memeluk Kanaya, “jangan bicara begitu sayang,
aku mohon, aku tidak mau lagi berpisah dengan kamu, aku minta maaf karena terus
mengecewakan kamu, aku juga minta maaf karena sudah salah paham tadi siang, aku
kira kamu yang membuat Anjani menangis, tapi ternyata aku salah, karena itu
semua adalah bunda penyebabnya, aku mohon maafkan aku sayang, aku janji aku
akan berusaha untuk merubah sikapku terhadap kamu, menjadi lebih baik lagi.” ujar Arya
bersungguh-sungguh.
“Aku nggak perlu janji mas, aku cuman perlu butkti,” Kanaya
melepas pelukannya dengan Kanaya, dan dia langsung pergi meninggalkan Arya
sendirian.
Arya masih terdiam ditempatnya, dia tahu kalau mungkin
Kanaya sudah sangat kecewa dengan perliaku Arya selama ini, tapi Arya akan berusaha membuktikan ucapannya, dan berusaha
membuat Kanaya bahagia.
Keesokan harinya, Anjani berniat menemui Kanaya untuk
meminta maaf secara langsung, karena kemarin ARya sudah salah paham dengan
Kanaya, dan itu semua karena Anjani.
Anjani menekan bel rumah Kanaya, dan keluarlah pelayan di
rumah Kanaya, Anjani pun mengatakan kalau dia mencari Kanaya, dan dia
dipersilahkan untuk masuk kedalam rumah dan menunggu Kanaya diruang tamu.
“Mba Anjani?” Kanaya mengernyit heran, melihat Anjani datang
kerumahnya, bahkan tanpa pemberitahuan sekalipun.
“Hai Kanaya,” sapa Anjani.
“Tumben mba dateng kesini?” ucap Kanaya, Kanaya pun duduk
berhadapan dengan Anjani.
“Iya Nay, aku merasa tidak enak, setelah kemarin mas Arya
salah paham dengan kamu, aku benar-benar minta maaf ya,” ucap Anjani tak enak
hati.
“Nggak apa-apa kok mba, sudah biasa juga, kalau apa yang
terjadi dengan mba Anjani, akan selalu dikaitkan dengan ku, itu semua bagiku
sudah biasa,” jawab Kanaya dengan santai dan tersenyum getir, senyum yang
sebenarnya sangat menyakitkan bagi siapapun yang melihatnya, dan Anjani tahu,
kalau Kanaya sangat kecewa dengan sikap Arya.
“Kanaya, aku tahu sudah banyak kesalahan yang mas Arya
perbuat, tapi aku juga percaya kalau mas Arya sangat mencintai kamu …”
Kanaya langsung memotong pembicaraan Anjani, “stop mba, dari
mana mba Anjani tahu mas Arya sangat mencintai aku, sedangkan sikap mas Arya
selama ini kepadaku itu sangat berbeda dengan mba Anjani, bahkan sering aku
merasa, kalau meas Arya hanya mencintai mba Anjani, apa yang berkaitan dengan
mba Anjani, mas Arya selalu sigap, dan jika ada yang melukai mba Anjani sampai
membuat mba Anjani menangis, maka mas Arya akan langsung menuduhku sebagai
tersangkanya,” jelas Kanaya.
“Kanaya itu semua hanya salah paham,” ujar Anjani mencoba
mengambil hati Kanaya.
“Salah paham? aku rasa lebih tepatnya mas Arya belum bisa
mengerti tentang aku mba, mas Arya tidak mengetahui bagaimana sifatku, mas Arya
hanya tahu tentang mba Anjani, tapi tidak dengan ku, jadi stop berkata kalau
mas Arya mencintai aku, kalau mas Arya saja tidak mengenal kepribadianku
bagaimana bisa dia mencintai aku, bukankah tak kenal maka tak sayang?” tanya
Kanaya dengan mata berkaca.
Anjani terdiam, dia bingung harus menjawab apa, tapi satu
yang Anjani tahu, kalau Kanaya tengah kecewa, Anjani merasa bersalah pada
dirinya sendiri, karena dia adalah alasan Arya selalu menuduh Kanaya.
Tidak terasa sudah 1 bulan Kanaya berpisah dengan Erland,
dan itu sudah membuat Kanaya sangat merindukannya, dan sebagai suami, Arya pun
tahu hal itu, dia medekat kearah Kanaya yang tengah termenung dibalkon kamar.
“Sayang …” Arya memeluk Kanaya dari belakang.
“Hai mas, kamu sudah pulang,” ucap Kanaya.
“Iya, kamu kenapa?” tanya Arya seraya menaruh dagunya
dipundak Kanaya.
“Aku hanya merindukan putra kita,” jawab Kanaya sendu.
“Ya sudah besok kita kesana,” jawab Arya enteng.
Kanaya membalik badannya dan menatap Arya, “kan kamu harus
ke kantor.”
Arya langsung mengeluarkan ssuatu dari saku jasnya, “aku
sudah menyiapkan semuanya,”ujar Arya seraya tersenyum.
Mata Kanaya berbinar, kala dia melihat tiket penerbangan
yang tengah dipegang oleh Arya, namun Kanaya bingung karena ada 3 tiket
penerbangan.
“Kok ada 3 mas?” tanya Kanaya
bingung.
“Iya, aku berencana untuk membawa Anjani juga, tidak apa-apa
kan?” tanya Arya.
“Iya mas, nggak apa-apa kok … oh iya makasih ya,” Kanaya
mencium pipi kanan Arya.
Arya tersenyum karena Kanaya menciumnya atas inisiatif
sendiri, “cuman ini makasihnya?” tanya Arya.
“Terus?” Kanaya belum paham maksud Arya, lalu tanpa aba-aba
Arya menggendong Kanaya ala bridal style.
Pukul 6 pagi Kanaya juga Arya sudah siap untuk menuju ke
Bandara, dan mereka akan bertemu dengan Anjani disana, Kanaya benar-benar
sangat exited melakukan perjalanan ke Prancis, karena dia akan bertemu dengan
putranya, Kanaya sengaja tidak memberitahukan keberangkatannya kepada Erland,
Kanaya ingin memberikan kepada putranya, karena bertepatan dengan hari ulang
tahun Erland yang ke-8 tahun.
Akhirnya mereka pun sampai di Bandara, rupanya Anjani sudah
lebih sampai, Kanaya dan Arya pun segera menghampiri Anjani.
“Dari tadi mba?” tanya Kanaya.
“Enggak kok, aku juga baru sampai,” jawab Anjani.
“Oh iya Nay, makasih ya kamu sudah mengizinkan aku untuk
ikut,” ujar Anjani sembari tersenyum.
“Sama-sama mba, aku tahu kok mba Anjani juga menyayangi
Erland, tapi maaf ya mba, nanti mba akan menginap di hotel,” ujar Kanaya tidak
enak. Arya dan Kanaya memang sudah membicarakan perihal ini, tentang dimana
Anjani akan menginap, Arya sudah mencarikan hotel terdekat dengan rumah yang
ditempati kedua orangtuanya, karena tidak mungkin Arya mengajak Anjani untuk
tinggal bersama, sebab Arya tahu pasti kedua orangtuanya akan menolak
mentah-mentah.
“Aku nggak masalah kok, aku bisa ikut untuk menjenguk Erland
saja sudah senang,” jawaban Anjani membuat Kanaya sedikit lega.
Kini Kanaya, Arya, dan Anjani sudah sampai di Prancis, Arya
meminta anak buahnya untuk menjemput mereka bertiga di Bandara, Arya memang
sudah memerintahkan anak buah untuk berangkat lebih dulu ke Prancis untuk
mempersiapkan segala keperluannya selama di Prancis, terutama mencarikan
penginapan terbaik untuk Anjani.
“Anjani, kamu hati-hati ya, kalau ada apa-apa kamu bisa
hubungi aku,” ujar Arya, kini mereka sudah ada di depan hotel tempat Anjani
menginap.
“Iya mas, kamu tenang aja aku bisa kok sendirian,” ujar
Anjani meyakinkan, Anjanipun melangkah menuju lobi hotel untuk melakukan checkin
setelah dia lebih dulu berpamitan kepada Arya juga Kanaya.
“Mas, aku nggak sabar ketemu Erland, aku penasaran apa yang
akan terjadi jika Erland melihat kita,” ujar Kanaya.
“Dia pasti akan sangat bahagia melihat Mommy dan Daddynya
datang,” jawab Arya.
Setelah menempuh perjalanan selama 15 menit, akhirnya mereka
sampai dikediaman kedua orangtua Arya, Kanaya dan Arya pun turun dari mobil.
“Selamat datang nyonya Kanaya,” sapa pelayan rumah.
“Erland ada di rumah?” tanya Kanaya.
“Ada nyonya, mari silahkan masuk.”
Arya dan Kanaya masuk lebih dulu, sedangkan barang-barang
mereka dibawa oleh beberapa pelayan dan bodyguard.
“Mommy?” Erland yang tengah duduk santai dengan Raissa dan
Abimanyu, begitu terkejut melihat kedatangan Kanaya dan Arya, karena sebelumnya
tidak ada pemberitahuan sama sekali.
“Hai sayang,” sapa Kanaya, Erland langsung berlari memeluk
Kanaya, rupanya Erland juga merasakan apa yang Kanaya rasakan, yaitu rindu.
“Nggak kangen nih sama Daddy,” Arya nampak cemburu karena
Erland mengacuhkannya.
“Aku juga rindu Daddy, tapi aku jauh lebih rindu Mommy,”
jawab Erland.
Arya pun tersenyum mendengar jawaban putranya, dia ikut
memeluk putranya yang sangat Arya rindukan, melihat kebahagian keluarga kecil
itu, Raissa dan Abimanyu pun tersenyum, mereka bersyukur karena masih diberi
kesempatan untuk melihat kebahagian di keluarga kecil putranya, sebagai
orangtua baik Raissa maupun Abimanyu berharap semoga rumah tangga mereka bisa
selalu langgeng.
“Kalian kenapa tidak bilang kalau mau datang, kan Bunda dan
Ayah bisa jemput,” ucap Raissa setelah Kanaya dan Arya mencium tangan mereka
seraya bergantian.
“Iya Bun, kami memang berniat memberikan surprise,” jawab
Arya.
“Ya sudah kalian istirahat dulu, pasti lelah kan?” usul
Abimanyu.
“Iya sih Bun, perjalanan sangat jauh dan melelahkan, tapi
setelah melihat Erland, lelah kami hilang,” jawab Kanaya sembari tersenyum.
Raissa dan Abimanyu tertawa mendengar jawaban Kanaya, “tapi
kalian harus tetap istirahat, karena pasti kalian tidak bisa beristirahat
dengan nyenyak,” saran Raissa, kemudian Raissa memerintahkan pelayan
mengantarkan Kanaya dan Arya ke kamar mereka.
.
.
Malam sudah larut, waktu bahkan sudah menunjukkan pukul
11.55 malam, Erland trbangun karena merasakan kering ditenggorokannya, tapi
saat Erland melihat gelas diatas nakas, ternyata gelas itu kosong, padahal
Erland ingat kalau dia sudah mengisinya, dan sebelum tidur gelas itu masih
penuh. Akhirnya Erland memutuskan untuk turun ke lantai bawah menuju dapur,
untuk mengambil air minum.
“Kenapa gelap sekali sih,” batin Erland, dia melangkah
sangat hati-hati karena kondisi lampu yang sudah temaram, akhirnya Erland
sampai di dapur, dia pun langsung mengambila air minum untuk mebasahi
kerongkongannya yang terasa kering.
Saat Erland baru saja keluar dari dapur, tiba-tiba lampu di
lantai satu menyala, dan dia terkejut melihat keluarganya sudah berdiri seraya
menyanyikan lagu ulang tahun untuknya, tidak lupa Kanaya membawak kue tart
dengan lilin yang menyala bertuliskan 8.
“Ayo sayang tiup lilinnya, tapi berdoa dulu ya?” pinta Kanaya.
Erland memejamkan matanya, “ya Allahm, semoga keluargaku selalu diberi kebahagiaan,” batin
Erland, dia pun meniup lilin dengan sekali tiup.
Arya, Kanaya, Raissa dan Abimanyu mengucapkan selamat ulang
tahun kepada Erland, sembari mendoakan hal terbaik untuk kehidupan Erland,
dimasa kini, dan masa mendatang.
“Terimakasih Mom, Dad, Grnadma, Grandpa, aku senang sekali,”
ujar Erland, “apa lagi, kini aku bisa marayakan ulang tahunku dengan Daddy,”
jelas Erland.
“Sama-sama Nak, jaga grandma dan grandpa ya?” ujar Kanaya.
“Pasti Mom,’ jawab Erland yakin, acara pun berlanjut dengan
pemotongan kue, kue potongan pertama Erland berikan kepada Kanaya, kedua Arya,
dan selanjutnya Raissa juga Arya.
Erland berharap kehidupan kedua orantuanya akan selalu
diberi kebahgaian, dan Arya juga berharap semoga nantinya dia akan bisa
membahagiakan kedua orantuanya dengan jerih payahnya sendiri.