
Melihat Felly yang tertidur pulas, Kanaya pikir ini adalah
saat yang tepat untuk berbicara dengan Tama. Kanaya ingin berbicara soal
Indira, karen Kanaya yakin Tama tahu soal itu.
“Tama …?”
“Iya?”
“Tadi tante Bella datang menemuiku di rumah sakit,” wajah Tama
langsung berubah was-was. “Dan tante Bella bilang, dia ingin meminta bantuan
ku, karena Indira masuk ke penjara, dan itu semua karena laporan papah, apa
kamu tahu itu?” tanya Kanaya, dia mencoba melihat bagaimana respon Tama.
“Oh itu … iya aku tahu,” akhirnya Tama berbicara jujur,
“tapi hari ini Indira sudah bebas kok, tante Bella ajah yang nggak sabaran,”
elak Tama.
“Bebas?” Kanaya belum tahu soal kebebasan Indira.
“Iya, tadi pagi aku mengangtarkan om Marvel ke kantor polisi
untuk membebaskan Indira, dan semuanya selesai kan? lagi pula om Marvel
melakukan itu bukan tanpa alasan, itu semua om Marvel lakukan supaya Indira dan
tante Bella bisa jera,” jelas Tama.
Kanaya pahambetul bagaimana sifat papahnya, yang tidak
mungkin tega menghukum tanpa alasan yang jelas. Dan alasan Marvel memenjarakan
Indira sudah sangat jelas tentunya, yaitu karena Indira sudah mempermalukan
Keysha.
“Apa yang akan kamu lakukan jika Indira belum bebas Kanaya?”
entah kenapa Tama ingin tahu bagaimana perasaan Kanaya sekarang setelah
pengkhianatan yang sudah Indira lakukan.
“Aku tidak perduli, bahkan ketika tante Bella datang menemui
ku pun aku katakana aku tidak mau lagi ikut campur tentang urusan keluargnya,”
jelas Kanaya.
“Baguslah, jangan terlalu baik Kanaya, sesekali kamu juga
harus bersikap tegas kepada orang lain agar kebaikan kamu tidak dimanfaatkan.”
Kini mereka sudah sampai di butik milik Keysha, seperti yang
sudah di jadwalkan, hari ini Kanaya dan Tama akan fitting, bahkan bukan hanya
itu, Keysha juga sudah menyiapkan dress untuk Fellycia. Melihat kedatangan
kedua calon pengantin, Keysha langsung meminta karyawannya untuk membantu
Kanaya fitting gaun, dan Tama diarahkan ri ruang lain untuk fitting jas
pengantinnya.
Karena Erland jauh lebih simple, jadi dia bisa selesai lebih
dulu. Erland begitu puas dengan design calon mertuanya, dari bahan nya pun
sangat berbeda, sangat nyaman dipakai. Hati Erland berdebar menunggu calon
istrinya keluar menggunakan gaun pengantin. Tirai pun dibuka, Erland pikir itu
adalah Kanaya, rupanya itu adalah Felly yang mencoba dressnya.
“Bagaimana Pah?” Felly meminta pendapat papahnya.
“Sangat cantik, gaun cantik ini begitu coco dipakai oleh
Felly yang juga sangat cantik,” puji Tama.
“Terimakasih Omah cantik,” Felly memeluk Keysha sembari
tersenyum, dia sangat senang karena dibuatkan dress oleh calon omahnya.
“Sama-sama sayang … sekarang kita tunggu mamah Kanaya,” ujar Keysha. Tama semakin tak sabar meliat
bagaimana hasil gaun rancangan Keysha, meski Tama tahu hasil rancangan Keysha
tdak pernah gagal.
Semua mata menatap Kanaya dengan tatapan terpukau kala tirai
dibuka, Kanaya begitu anggun dan cantik mengenakan gaun pengantin dengan ekor
panjang. Apalagi Tama yang juga tidak bisa mengalikan tatapannya membuat
Kanayatersipu malu.
“Kanaya cantik kan?” Keysha menyenggol lengan Tama.
“Cantik tante ….” Jawab Tama jujur, dia seolah tidak bisa
lagi membendung rasa kagumnya.
Karena sudah cukup sore, Kanaya dan Tama pun berpamitan untuk
pulang, sedangkan Felly sudah berlari lebih dulu keluar butik karena melihat
penjual ice cream.
“Aku kejar Felly dulu,” pamit Kanaya, dia berlari menyusul
gadis cilik itu.
“Felly dan Kanaya sudah sangat dekat ya?” ucap Keysha kepada
“Iya tante, saya juga sangat bahagia, karena akhirnya Felly
bisa merasakan kasih sayang dari seorang ibu. Sekarang ini, Felly jadi lebi
banyak tersneyum, bahkan tawanya pun lepas, hal itu membuat saya lega,” obrolan
mereka berlanjut kepada persiapan pesta pernikahan yang sudah dirancang
sedemikian rupa oleh Tama.
Disisi lain, Kanaya bernapas lega, karena ternyata Felly
bisa membeli ice cream sendiri, tapi saat Felly tenga melangkah menuju Kanaya,
terlihat ada sepeda motor yang mengebut dengan ugal-ugalan, nampaknya pengemudi
itu mabuk.
“Felly!!!!!” teriak Kanaya, Felly pun terkejut dan
menjatuhkan ice creamnya.
Brruukk, suara yang cukup keras sampai terdengar dalam butik
membuat Tama dan Keysha terkejut, mereka melihat ada kerumunan masa. Karena
khawatir, Tama dan Keysha pun langsung keluar untuk memastikan apakah yang
terjadi.
“Mamah …” Tama dan Keysha begitu terkejut ketika mendengar
suara tangisan Felly.
“Kanaya? Felly?” ucap Keysha terkejut.
“Kalian kenapa?” tanya Tama dengan khawatir.
“Aku nggak apa-apa kok,” elak Kanaya.
“Nggak apa-apa gimana? Badan kamu lecet begitu sayang?”
Keysha ikut nyeri melihat siku dan kaki Kanaya yang luka, sedangkan pengemudi
tadi sudah diurus oleh masa yang murka, mereka langsung membawa pengemudi itu
ke pos polisi terdekat.
Felly pun menjelaskan bahwa tadi ada motor yang melaju
kencang dan hampir menbrak Felly, namun Kanaya langsung berlari dan memeluk
Felly sampai mereka terjatuh bersama. Tapi, karena Felly dalam pelukan Kanaya,
jadi Felly tidak mendapat luka apapun.
“Ayo ikut aku ke rumah sakit,” Tama langsung menggendong
Kanaya menuju mobilnya, meskipun Kanaya sempat menola karena malu.
“Biar Felly pulang sama Mamah, kamu antar Kanaya saja ya?”
ujar Keysha.
“Iya Mah,” mulai sekarang dan seterusnya, Tama akan
memanggil Keysha dan Marvel dengan panggilan Mamah dan Papa atas permintaan
Keysha sendiri.
Dalam mobil, Kanaya terus meminta Tama untuk melajukan mobilnya arah pulang saja, karena
Kanaya rasa lukanya tidak cukup parah dan bisa diobati di ruma, namun Tama
menolak, dia bersikeras membawa Kanaya ke rumah sakit untuk di cek semuanya.
Tama beralasan takut kalau ada pata tulang atau sebagainya. Mendengar alasan
Tama yang tenga cemas, Kanaya hanya bisa pasrah dan menggelengkan kepalanya.
Namun melihat Tama yang begitu perduli dengannya, membuat
hati Kanaya menghangat, dia tidak meyangka, cintanya yang dulu bertepuk sebelah
tangan ternyata mempunyai jalan sendiri untuk bersama. Meski, Kanaya masi belum
tahu apakah pernikahan ini akan bertahan selamanya atau kah hanya untuk membuat
keluarga kedua belah pihak bahagia?
Sesampainya di rumah sakit, Tama langsung meminta perawat
untuk membawa Kanaya ke ruang IGD, hal itu membuat para perawat bingung, karena
melihat kondisi Kanaya yang masih baik-baik saja hanya mengalami luka lecet,
dan itupun masih bisa diobati tanpa perlu masuk ruang IGD. Tapi karena Tama
adalah anak pemiliki rumah sakit, jadi mereka hanya bisa pasrah dan patuh pada
perintah Tama.
“Obati saja lukaku, yang penting kita sudah ada di IGD,”
ujar Kanaya.
“Baik Dok,” jawab perawat sambil tersenyum lucu.
“Dokter Kanaya sangat beruntung ya? bisa mendapatkan
pengganti yang jauh lebih baik,” puji salah satu perawat.
“Benar, aku jadi ingat ada yang bilang begini Dok, bagaimana
Yang Maha Kuasa mau menggantikan orang yang lebih baik? Kalau kita saja tidak
berpisah dengan orang yang salah,” timpal yang lain.
Mendengar pujian dari beberapa perawat, membuat Kanaya pun
berpikir, ‘andai saja kami juga saling mencintai, da nada rasa besar ingin
saling memiliki dan menjaga, mungkin aku juga akan bahagia. Tapi, pernikahan
ini terjadi hanya demi menyelematkan kehidupan kami masing-masing.’ Batin Kanaya.