Keysha

Keysha
Season 2 (Fitting dan tragedi)



Melihat Felly yang tertidur pulas, Kanaya pikir ini adalah


saat yang tepat untuk berbicara dengan Tama. Kanaya ingin berbicara soal


Indira, karen Kanaya yakin Tama tahu soal itu.


“Tama …?”


“Iya?”


“Tadi tante Bella datang menemuiku di rumah sakit,” wajah Tama


langsung berubah was-was. “Dan tante Bella bilang, dia ingin meminta bantuan


ku, karena Indira masuk ke penjara, dan itu semua karena laporan papah, apa


kamu tahu itu?” tanya Kanaya, dia mencoba melihat bagaimana respon Tama.


“Oh itu … iya aku tahu,” akhirnya Tama berbicara jujur,


“tapi hari ini Indira sudah bebas kok, tante Bella ajah yang nggak sabaran,”


elak Tama.


“Bebas?” Kanaya belum tahu soal kebebasan Indira.


“Iya, tadi pagi aku mengangtarkan om Marvel ke kantor polisi


untuk membebaskan Indira, dan semuanya selesai kan? lagi pula om Marvel


melakukan itu bukan tanpa alasan, itu semua om Marvel lakukan supaya Indira dan


tante Bella bisa jera,” jelas Tama.


Kanaya pahambetul bagaimana sifat papahnya, yang tidak


mungkin tega menghukum tanpa alasan yang jelas. Dan alasan Marvel memenjarakan


Indira sudah sangat jelas tentunya, yaitu karena Indira sudah mempermalukan


Keysha.


“Apa yang akan kamu lakukan jika Indira belum bebas Kanaya?”


entah kenapa Tama ingin tahu bagaimana perasaan Kanaya sekarang setelah


pengkhianatan yang sudah Indira lakukan.


“Aku tidak perduli, bahkan ketika tante Bella datang menemui


ku pun aku katakana aku tidak mau lagi ikut campur tentang urusan keluargnya,”


jelas Kanaya.


“Baguslah, jangan terlalu baik Kanaya, sesekali kamu juga


harus bersikap tegas kepada orang lain agar kebaikan kamu tidak dimanfaatkan.”


Kini mereka sudah sampai di butik milik Keysha, seperti yang


sudah di jadwalkan, hari ini Kanaya dan Tama akan fitting, bahkan bukan hanya


itu, Keysha juga sudah menyiapkan dress untuk Fellycia. Melihat kedatangan


kedua calon pengantin, Keysha langsung meminta karyawannya untuk membantu


Kanaya fitting gaun, dan Tama diarahkan ri ruang lain untuk fitting jas


pengantinnya.


Karena Erland jauh lebih simple, jadi dia bisa selesai lebih


dulu. Erland begitu puas dengan design calon mertuanya, dari bahan nya pun


sangat berbeda, sangat nyaman dipakai. Hati Erland berdebar menunggu calon


istrinya keluar menggunakan gaun pengantin. Tirai pun dibuka, Erland pikir itu


adalah Kanaya, rupanya itu adalah Felly yang mencoba dressnya.


 



“Bagaimana Pah?” Felly meminta pendapat papahnya.


“Sangat cantik, gaun cantik ini begitu coco dipakai oleh


Felly yang juga sangat cantik,” puji Tama.


“Terimakasih Omah cantik,” Felly memeluk Keysha sembari


tersenyum, dia sangat senang karena dibuatkan dress oleh calon omahnya.


“Sama-sama sayang … sekarang  kita tunggu mamah Kanaya,” ujar Keysha. Tama semakin tak sabar meliat


bagaimana hasil gaun rancangan Keysha, meski Tama tahu hasil rancangan Keysha


tdak pernah gagal.


Semua mata menatap Kanaya dengan tatapan terpukau kala tirai


dibuka, Kanaya begitu anggun dan cantik mengenakan gaun pengantin dengan ekor


panjang. Apalagi Tama yang juga tidak bisa mengalikan tatapannya membuat


Kanayatersipu malu.


 



“Kanaya cantik kan?” Keysha menyenggol lengan Tama.


“Cantik tante ….” Jawab Tama jujur, dia seolah tidak bisa


lagi membendung rasa kagumnya.


Karena sudah cukup sore, Kanaya dan Tama pun berpamitan untuk


pulang, sedangkan Felly sudah berlari lebih dulu keluar butik karena melihat


penjual ice cream.


“Aku kejar Felly dulu,” pamit Kanaya, dia berlari menyusul


gadis cilik itu.


“Felly dan Kanaya sudah sangat dekat ya?” ucap Keysha kepada


“Iya tante, saya juga sangat bahagia, karena akhirnya Felly


bisa merasakan kasih sayang dari seorang ibu. Sekarang ini, Felly jadi lebi


banyak tersneyum, bahkan tawanya pun lepas, hal itu membuat saya lega,” obrolan


mereka berlanjut kepada persiapan pesta pernikahan yang sudah dirancang


sedemikian rupa oleh Tama.


Disisi lain, Kanaya bernapas lega, karena ternyata Felly


bisa membeli ice cream sendiri, tapi saat Felly tenga melangkah menuju Kanaya,


terlihat ada sepeda motor yang mengebut dengan ugal-ugalan, nampaknya pengemudi


itu mabuk.


“Felly!!!!!” teriak Kanaya, Felly pun terkejut dan


menjatuhkan ice creamnya.


Brruukk, suara yang cukup keras sampai terdengar dalam butik


membuat Tama dan Keysha terkejut, mereka melihat ada kerumunan masa. Karena


khawatir, Tama dan Keysha pun langsung keluar untuk memastikan apakah yang


terjadi.


“Mamah …” Tama dan Keysha begitu terkejut ketika mendengar


suara tangisan Felly.


“Kanaya? Felly?” ucap Keysha terkejut.


“Kalian kenapa?” tanya Tama dengan khawatir.


“Aku nggak apa-apa kok,” elak Kanaya.


“Nggak apa-apa gimana? Badan kamu lecet begitu sayang?”


Keysha ikut nyeri melihat siku dan kaki Kanaya yang luka, sedangkan pengemudi


tadi sudah diurus oleh masa yang murka, mereka langsung membawa pengemudi itu


ke pos polisi terdekat.


Felly pun menjelaskan bahwa tadi ada motor yang melaju


kencang dan hampir menbrak Felly, namun Kanaya langsung berlari dan memeluk


Felly sampai mereka terjatuh bersama. Tapi, karena Felly dalam pelukan Kanaya,


jadi Felly tidak mendapat luka apapun.


“Ayo ikut aku ke rumah sakit,” Tama langsung menggendong


Kanaya menuju mobilnya, meskipun Kanaya sempat menola karena malu.


“Biar Felly pulang sama Mamah, kamu antar Kanaya saja ya?”


ujar Keysha.


“Iya Mah,” mulai sekarang dan seterusnya, Tama akan


memanggil Keysha dan Marvel dengan panggilan Mamah dan Papa atas permintaan


Keysha sendiri.


Dalam mobil, Kanaya terus meminta Tama untuk  melajukan mobilnya arah pulang saja, karena


Kanaya rasa lukanya tidak cukup parah dan bisa diobati di ruma, namun Tama


menolak, dia bersikeras membawa Kanaya ke rumah sakit untuk di cek semuanya.


Tama beralasan takut kalau ada pata tulang atau sebagainya. Mendengar alasan


Tama yang tenga cemas, Kanaya hanya bisa pasrah dan menggelengkan kepalanya.


Namun melihat Tama yang begitu perduli dengannya, membuat


hati Kanaya menghangat, dia tidak meyangka, cintanya yang dulu bertepuk sebelah


tangan ternyata mempunyai jalan sendiri untuk bersama. Meski, Kanaya masi belum


tahu apakah pernikahan ini akan bertahan selamanya atau kah hanya untuk membuat


keluarga kedua belah pihak bahagia?


Sesampainya di rumah sakit, Tama langsung meminta perawat


untuk membawa Kanaya ke ruang IGD, hal itu membuat para perawat bingung, karena


melihat kondisi Kanaya yang masih baik-baik saja hanya mengalami luka lecet,


dan itupun masih bisa diobati tanpa perlu masuk ruang IGD. Tapi karena Tama


adalah anak pemiliki rumah sakit, jadi mereka hanya bisa pasrah dan patuh pada


perintah Tama.


“Obati saja lukaku, yang penting kita sudah ada di IGD,”


ujar Kanaya.


“Baik Dok,” jawab perawat sambil tersenyum lucu.


“Dokter Kanaya sangat beruntung ya? bisa mendapatkan


pengganti yang jauh lebih baik,” puji salah satu perawat.


“Benar, aku jadi ingat ada yang bilang begini Dok, bagaimana


Yang Maha Kuasa mau menggantikan orang yang lebih baik? Kalau kita saja tidak


berpisah dengan orang yang salah,” timpal yang lain.


Mendengar pujian dari beberapa perawat, membuat Kanaya pun


berpikir, ‘andai saja kami juga saling mencintai, da nada rasa besar ingin


saling memiliki dan menjaga, mungkin aku juga akan bahagia. Tapi, pernikahan


ini terjadi hanya demi menyelematkan kehidupan kami masing-masing.’ Batin Kanaya.