
Desi terdiam sejenak, namun anggukan kepala Desi membuat Aditya semakin penasaran, tentang apa yang membuat Desi kabur dari rumah.
"Apa kamu tahu, tentang rencana Nando dan Indira yang ingin meresmikan pernikahan mereka secara negara?" tanya Desi.
"Aku tahu Bu, dan menurut Aditya juga tidak masalah, jadi Indira tidak berstatus istri siri, memangnya kenapa Bu?" tanya Aditya bingung.
"Ibu juga tidak masalah kalau Indira dan Nando akan meresmikan hubungan mereka secara negara, tapi tidak dengan pesta pernikahan," ucap Desi dengan tegas.
"Apa mereka tidak malu? kalau seandainya mereka mengadakan pesta pernikahan? sedangkan semua orang sudah mengecap Indira sebagai wanita yang tidak baik, dan apa tidak semakin malu keluarga kita dengan keluarga Keysha? bukankah dengan demikian, Nando dan Indira seakan menari di atas penderitaan Kanaya?" tanya Desi dengan wajah tegasnya.
Aditya menunduk, dalam hatinya dia membenarkan semua perkataan Desi.
"Ibu benar, akupun sebenarnya kurang setuju Bu, namun Bella meyakinkan aku, bahwa Indira juga punya impian pernikahan nya sendiri, dan kalau tidak terlaksana sekarang bagaimana? sedangkan keinginan kita semua adalah, menikah sekali seumur hidup," jawab Aditya.
"Iya, itu kalau Indira mendapatkan lelaki dengan cara yang baik dan terhormat, sedangkan sekarang? apa bisa dikatakan Indira adalah wanita terhormat? setalah apa yang telah dia lakukan? jangankan berharap untuk dipandang sebagai wanita terhormat, mengangkat kepala saja ibu tidak akan berani, tapi jika ibu yang ada di posisi Indira." Desi berucap dengan tersenyum getir.
"Tapi sekarang lihat, jangankan merenungi kesalahan, mereka bahkan lebih memilih untuk mempersiapkan pesta pernikahan, padahal kini mereka tengah dihukum atas dampak viral nya video mereka. " Jelas Desi.
"Iya Bu, Aditya paham kekecewaan ibu," jawab Aditya seraya menggenggam tangan ibunya, agar emosi yang tadi sudah memuncak kembali mereda.
"Tapi apakah kamu tahu Aditya, ketika ibu mengatakan hal seperti ini Indira malah membentak ibu, dan lebih parahnya Bella lebih memihak kepada Indira," Desi berucap dengan penuh kekecewaan.
"Apa Bu?" Aditya nampak terkejut mendengar penuturan Desi.
"Indira banyak ibu? dan Bella malah membela?" tanya Aditya memastikan.
"Iya, Bella malah meminta Indira masuk kedalam kamar tanpa meminta maaf kepada Ibu, dan Bella datang kekamar ibu lalu mengatakan agar ibu berhenti menyudutkan Indira, padahal ibu hanya ingin menjaga nama baik Indira," jelas Desi.
"Apa Nando tahu Indira membentak ibu?"
"Tentu tahu, dia bahkan ada disana, dan Nando juga yang membawa Indira kedalam kamar."
Aditya menggelengkan kepalanya pelan, "keterlaluan," sorot mata Aditya penuh dengan kecewa.
"Itulah kenapa ibu pergi dari rumah, karena ibu merasa kalau ibu sudah tidak dihargai lagi, mungkin karena ibu sudah tua, hanya menjadi beban untuk kalian," ucap Desi seraya menyeka air matanya yang jatuh membasahi pipi.
"Bu, jangan bicara seperti itu," Aditya menggenggam tangan Desi dengan tatapan sendu.
"Aku akan coba berbicara dengan Bella dan Indira, bagaimana pun mereka harus diberi peringatan Bu," ucap Aditya.
Desi hanya terdiam seraya mengangguk kecil merespon ucapan Aditya, setelah itu Aditya pun mengajak Desi untuk pulang.
Disisi lain, Kanaya baru saja sampai di rumah sakit, tapi saat akan melewati ruangan Natasha, ada seorang anak kecil keluar.
"Hai aunty," sapa Felly kepada Kanaya, gadis kecil itu tersenyum dengan manisnya.
"Hai sayang, kesini sama siapa?" tanya Kanaya seraya berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Felly.
"Sama..." belum selesai Felly menjawab, seorang lelaki juga keluar dari ruangan Natasha.
"Hai Nay," sapa lelaki tersebut, suara yang begitu familiar bagi Kanaya hingga Kanaya bisa mengenalinya tanpa menolah.
"Apa kabar?" tanya Tama, sejujurnya Tama cukup khawatir dengan keadaan Kanaya setalah mengetahui apa yang sudah terjadi.
"Alhamdulillah aku baik, oh iya ngomong-ngomong ada apa dengan Felly?" tanya Kanya, pasalnya Felly mendatangi Natasha yang notabennya seorang dokter anak.
"Enggak ada apa-apa kok, ini cuman ngasih makan siang untuk Natasha titipan dari mamah," jawab Tama.
"Oh begitu ... oh iya Felly mau sekolah ya?" tanya Kanaya pada Felly, pasalnya Felly mengenakan seragam sekolah TK.
"Iya aunty, hari ini Felly mau sekolah, tapi cuma dianter papah," jawab Felly sendu.
"Sayang ... jangan sedih dong," Tama juga berjongkok seraya mengusap air mata yang mengalir di wajah Felly.
"Tapi Felly mau ada mamah juga yang anter, kaya teman-teman Felly yang lain," ujar Felly.
Melihat Felly yang terisak, Kanaya menjadi tak tega, Kanaya beruntung karena bisa merasakan kasih sayang dari kedua orangtuanya hingga dewasa, sedangkan Felly? Felly bahkan tak bisa merasakan kasih sayang orang tua kandungnya.
"Gimana kalau aunty ikut antar Felly?" tanya Kanaya kepada Felly.
Tama menatap Kanaya dengan terkejut, berbeda dengan Felly, dia langsung tersenyum cerah kala mendengar kalau Kanaya akan ikut mengantarnya.
"Benarkah aunty?" tanya Felly dengan binar mata bahagia.
"Nay, tapi...." Tama nampak tak enak karena Kanaya juga harus bekerja.
"Udah Tama nggak papa, nggak usah khawatir," jawab Kanaya kepada Tama.
"Iya sayang, aunty akan ikut mengantarkan Felly, jadi Felly jangan sedih ya?" ucap Kanaya menenangkan Kanaya.
"Iya aunty," jawab Felly bersemangat. Kemudian mereka bertiga pun melangkah keluar menuju parkiran mobil, Kanaya satu mobil dengan Tama.
Kanaya, Tama dan Felly duduk dikursi penumpang, dengan Felly duduk ditengah antara Kanaya dan Tama. Selama perjalanan Felly terlihat sangat ceria, bahkan Felly terus bercerita panjang lebar, Kanaya nampak senang menanggapi cerita Felly, dan itu yang Tama suka. Kanaya memperlihatkan kasih sayang kepada Felly dengan natural dan tidak dibuat-buat.
Akhirnya mereka bertiga sampai disekolah Felly, dengan semangat Felly menuju kelasnya, disana sudah ada beberapa orang tua yang juga tengah mangantar kan putra atau putri nya ke sekolah untuk hari pertama, Kanaya melihat sekeliling dan benar saja, kebanyakan para siswa dan siswi datang bersama kedua orang tua mereka.
"Kalau Felly hanya datang dengan Tama, kasihan sekali," batin Kanaya.
Akhirnya guru yang akan menjadi wali kelas di kelas Felly datang, anak-anak pun mulai dipersilahkan untuk masuk kedalam kelas mereka tanpa didampingi orang tua, Felly mencium tangan Tama dan Kanaya secara bergantian.
"Felly masuk dulu ya Pah, Mah," ucap Felly seraya tersenyum manis, setelah itu Felly langsung berlari masuk.
Sontak ucapan Felly membuat Tama dan Kanaya terkejut bukan main, pasalnya Felly memanggil Kanaya dengan sebutan mamah, apalagi ini ditempat ramai.
Kanaya hanya tersenyum canggung kepada para pasang mata yang menatap Kanaya dan Tama, begitupun Tama, dia nampak salah tingkah akibat ucapan Felly putrinya.
"Wah orangtuanya Felly? pantas Felly cantik, orang bibirnya aja bibit unggul," ucap seorang wanita kepada Kanaya, Kanaya tebak wanita itu juga tengah mengantarkan anaknya.
Kanaya hanya tersenyum mendengar pujian yang diberikan kepadanya dan juga Tama, jika Kanaya menepis Kanaya berpikir nantinya Felly akan malu, Kanaya takut nantinya Felly akan dikucilkan jika mereka tahu Felly sudah tidak mempunyai orang tua yang lengkap.