
WARNING!!
Mengandung
unsur 21+ untuk yang dibawah umut, mending skip aja ya??? kalian harus bisa
bijak dalam memilih cerita, sudah ditulis warning jadi jangan ngeyel yaaa ,
hhhee bercandaa … tapi serius untuk yang dibawah umur jangan dibaca, skip aja
yaaa.
Terimakasih
atas perhatiannya.
Kanaya
sudah selesai membantu Felly mengerjakan tugas sekolahnya, bahkan Felly juga
sudah tidur karena malam juga sudah cukup larut, namun nampaknya Tama belum
selesai menyelesaikan urusan kantornya. Kini Kanaya tengah menatap lemari yang
berisi pakaian lingerie, itu semua lingerie yang Kanaya dapatkan dari kado
pernikahannya.
Kanaya
nampak tengah menimang sesuatu, “pakai, enggak, pakai, enggak,” begitu
seterusnya, Kanaya terus melihat jajaran pakaian seksi itu. Sebegai seorang
istri tentu Kanaya tahu tugasnya yang juga tentang melayani suami diatas
ranjang.
“Kamu
adalah seorang istri Kanaya, sudah menjadi kewajiban kamu untuk melayani suami
kamu,” ujar Kanaya, dia memilih lingerie yang dirasa sedikit lebih sopan, namun
tetap saja yang dinamakan pakaian dinas malam, akan tetap memperlihatkan
lekukan tubuh.
Kanaya
menatap dirinya dalam pantulan cermin, hal itu membuat Kanaya merasa malu,
Kanaya sudah mencuci muka dan menggosok gigi, bahkan Kanaya sudah memberikan
sedikit polesan lipstick dengan warna merah menyala agar lebih menggoda, tidak
lupa parfume yang akan semakin menarik perhatian Tama nantinya. Setelah dirasa
siap, Kanaya mencoba menenangkan diri, dia meyakinkan dirinya kembali dan
mencoba untuk yakin bahwa ini adalah hal yang benar.
“Aku
tahu, ini adalah hal yang benar, aku adalah seorang istri dan aku tahu rasa
cinta itu, sisa rasa yang pernah aku tinggalkan 5 tahun lalu untuk kamu masih
ada Tama, dan aku yakin rasa itu akan semakin bertambah nantinya,” ucap Kanaya
pada dirinya sendiri.
Kanaya
menuju salah satu pintu yang ada dalam kamarnya, dan pintu itu langsung
terhubung ke ruang kerja Tama yang terletak disamping kamar mereka. Kanaya
membuka pintu dan melihat Tama yang masih fokus pada berkas-berkasnya.
“Tama …”
lirih Kanaya memanggil.
“Iya
sayang nanti yaa…” Tama tidak menolah, namun dia tahu kalau itu suara istrinya.
Melihat Tama yang masih tetap fokus, Kanaya semakin mendekat kearah Tama dan
memeluk Tama dari belakang.
Tama mencium
aroma wangi yang sexy, namun dia mencoba untuk fokus, meski dibawah sana
sesuatu mulai tidak tenang karena perlakuan Kanaya, apalagi ketika Kanaya
memijat bahu Tama. Kanaya sedikit menarik kursi Tama, dan langsung duduk
dipangkuan Tama yang masih menatap berkas ditangannya, hal itu membuat Tama
terkejut, apalagi melihat Kanaya yang memakai lingerie tipis.
Tama sangat
yakin kalau pan**t Kanaya merasakan sesuatu dibawah sana yang sudah mulai
mengeras, Kanaya menatap Tama dan mengalungkan tangannya.
“Kamu yakin
masih mau disini?” tanya Kanaya, suara Kanaya begitu terdengar sensual
ditelinga Tama.
“Apa yang
kamu lakukan sayang?” tanya Tama, dia masih menahan hasratnya sekuat mungkin,
karena dia tidak mau kalau Kanaya menyesal akhirnya.
“Aku
melakukan tugasku,” Kanaya mulai membuka dua kancing piyama Tama dan bermain
didada Tama.
“Kanaya
… jangan terlalu terbebani dengan tugas seorang istri, karena aku tidak mau
kamu melakukan dengan terpaksa, aku mau kita melakukan itu atas keinginan kamu
juga sayang … aku tidak mau kamu menyesal nanti,” ucap Tama.
“Aku
melakukan ini atas keinginan ku Tama, karena aku mau … karena aku sadar, ini
hal yang benar, dan aku mulai mencintai suamiku,” ujar Kanaya dengan malu-malu.
“Benarkah?”
tanya Tama dengan semburat senyum diwajahnya, dia bahagia karena mendengar
pengakuan cinta dari istri kesayangannya. Dan kanaya mengangguk malu.
“Kamu
benar-benar mau melakukan ini kan? karena setelah ini aku tidak bisa lagi
menahan nya sayang,” ucap Tama mengingatkan.
“Lakukanlah,
karena aku menginginkan kamu suamiku,” bisik Kanaya ditelinga Tama, membuat
kejantanan Tama semakin mengeras.
Tama mencium
bibir Kanaya dengan lembut, namun lama-lama berubah menjadi lvmatan dan semakin menuntut, bahkan Tama menahan tengkuk
istrinya akan memperdalam penyatuan lidah mereka. Tama melepas pegutan mereka
karena oksigen yang menipis, tapi Tama tidak memberikan waktu lama untuk
istrinya, bibir mereka berdua kembali bertemu, dengan posis masih berpagutan
Tama menggendong Kanaya menuju kamar dan membaringkan diatas ranjang mereka.
Tanpa dirasa
kini mereka sudah sama-sama t3l4nj4ng bul4t tanpa sehelai benang pun, Tama
mulai bermain di sekitaran p4****r4 Kanaya\, Tama mulai m3njil4t\, meng**s4p
sampai meninggalkan jejak kepemilikan disana. Ini adalah pengalaman pertama
bagi Kanaya, dia merasa geli namun ingin lebih dari ini, suara de**h4n yang
keluar dari bibir sexy Kanaya semakin membuat Tama bersemangat.
Malam itu
menjadi malam pertama bagi pasangan suami istri itu, udara dingin karena hujan
tidak mampu mengalahkan kegiatan panas yang tengah terjadi dikamar Tama dan
Kanaya, dan malam itu menjadi malam panjang bagi keduanya.
Keesokan
harinya Kanaya merasakan sakit didaerah intinya karena kejadian semalam, Tama
yang memang sudah bangun lebih dulu, membantu Kanaya menuju kamar mandi agar
Kanaya bisa berendam air hangat yang sudah dia siapkan.
“Kamu
mandi dulu ya sayang, berendamlah dulu, ini akan mengurangi rasa sakitnya,”
ujar Tama, dan Kanaya mengangguk paham.
“Kamu
mau kemana mas?” Kanaya mengganti panggilan Tama menjadi mas supaya lebih
sopan.
Tama
tersenyum mendengar nama panggilan yang diberikan oleh Kanaya, “Aku harus
mencuci sprei kita sayang, setelah itu baru aku akan sholat subuh dengan Felly
sayang,” jelas Tama, Kanaya ingat bahwa disprei mereka terdapat jejak darah
milik Kanaya.
“Bagaimana
kalau Felly mencariku?” tanya Kanaya was-was.
“Nanti
aku bilang, kalau kamu sedang libur sholat, ya sudah aku pergi dulu,” pamit
Tama.
Tama mengambil
selimut dan sprei untuk dicuci, saat Tama tengah mencoba untuk mencuci
menggunakan mesin, ada beberapa pelayan yang lewat dan hendak membantu Tama,
namun langsung ditolak.
“Ini
biar aku kerjakan sendiri, kalian kerjakan yang lain,” titah Tama.
“Baik
tuan.”
Saat Tama
tengah sibuk mencuci, Kanaya malah tengah tersenyum malu karena mengingat
kejadian malam panas mereka semalam, kalau mengingat bagaimana Kanaya menggoda
Tama, Kanaya merasa sangat malu, bisa-bisanya dia berlaku demikian.
Karena
Kanaya merasa masih sakit didaerah intinya, Kanaya memutuskan untuk libur hari
ini, karena Kanaya akan malu jika rekan-rekannya melihat bagaimana cara jalan
Kanaya. dan bisa-bisa Kanaya menjadi bahan candaan disana.
“Jadi
hari ini Felly cuman dianter Papah?” tanya Felly.
“Iya
Sayang … nanti siang, Mamah yang jemput Felly,” Kanaya mengelus pipi chuby
Felly.
“Oke
Mah …”
“Felly
yang rajin disekolah, jangan nakal yaa sayang …” ucap Kanaya mengingatkan
putrinya.
“Siap Mah,
Kanaya
mencium kening dan pipi Felly, setelah itu bergantian mencium tangan suaminya,
dan seperti biasa Tama akan mencium kening Kanaya.
“Hati-hati
…” Kanaya merasa beruntung, karena memiliki keluarga kecil, dia berharap
keluarga kecilnya akan selau diberi kebahagiaan dari Yang Maha Kuasa.
^^^
Hari
ini, sebenarnya Nando libur, tapi dia tidak bicara dengan Indira, Nando malah
menutupi dengan alasan sedang banyak pasien. Karena Indira juga seorang Dokter,
jadi Indira pun percaya dengan kata-kata Nando, Indira berpikir tidak mungkin
suaminya berani membohongi Indira, apalagi dia pernah mengancam Nando
sebelumnya.
‘Kenapa
perasaan aku nggak enak ya?’ batin Indira, ketika melihat Nando pergi
berpamitan. Tapi Indira menepis semuanya, dia yakin ini pasti hanya karena
Indira yang terlalu berpikir negative tentang suaminya, lagi pula belakangan ini
sikap Nando menunjukkan perubahan, apalagi kedua mertuanya, mereka jadi lebih
baik pada Indira, hal itu membuat Indira juga bersikap sebaliknya pada mereka.
Indira
begitu bahagia, karena kini dia bisa merasakan rasanya disayang oleh ayah dan
ibu mertua, dia bisa merasakan bagaimana rasanya diterima dan dicintai dari
keluarga suaminya. Bahkan Indira juga sudah menceritakan hal ini pada Keysha,
melihat perubahan yang terjadi pada Nando dan kedua orangtuanya awalnya Keysha
merasa curiga, namun dia tidak mau terlalu berpikir berlebihan, baginya mungkin
saja Nando dan kedua orangtuanya sudah sadar atas apa yang mereka lakukan
selama ini pada Indira.
Rupanya
Nando memang tidak pergi ke rumah sakit, dia ada janji temu dengan seorang
wanita yang dikenalkan oleh ibunya, bahkan mereka sudah sempat saling berkirim
pesan. Wanita itu adalah calon yang akan menjadi istri siri Nando.
“Amanda
ya?” tebak Nando pada seorang wanita yang duduk disalah satu meja yang terletak
di pojok.
“Mas
Nando?” rupanya benar, wanita itulah yang bernama Amanda, mereka saling
berjabat tangan dan melemparkan senyum.
“Kamu
lebih cantik ternyata dari yang aku bayangkan,” ucap Nando, dia mulai
mengeluarkan rayuan gombalnya.
“Ah
mas Nando bisa aja,” ujar Amando, dari gelagatnya nampaknya Amanda juga
tertarik pada Nando, lalu apakah Amando tentang status Nando yang sudah
memiliki seorang istri? Jawabannya adalah iya Amanda tahu.
“Dari
cerita tante Lailla, aku dengar istri mas Nando sangat jarang dirumah dan
jarang mengurus mas Nando ya??” tanya Amanda, rupanya itu adalah cara untuk
menggaet Amanda, janda muda yang masih single karena mantan suaminya dulu tidak
bisa memberikan keturunan.
Nando
memasang wajah sendu dan muram, “iya … aku seorang suami tapi tidak dihargai
sama sekali,” jawab Nando, “dia terlalu sibuk dengan dunianya, dan aku?
dilupakan, jadi tidak salah kan kalau aku mencari wanita yang mau menjadi
istriku dan mau melayani aku selayaknya istri?”
Amanda
mengangguk paham, “tentu nggak salah mas, harusnya istri mas Nando tahu tugas
nya sebagai sorang istrim bukannya malah seolah dia adalah wanita lajang, pasti
berat ya mas menjalani rumah tangga yang seperti ini?”
“Ya …
tapi mau bagaimana lagi? aku tidak tega untuk meninggalkannya, karena biar bagaimanapun
aku sudah mendapatkan amanah dari almarhum orangtuanya, untuk selalu menjaga
nya dengan baik,” jawab Nando, seolah dia lelaki yang tertindas dan lelaki yang
sangat bertanggung jawab atas janjinya.
‘Mas
Nando sangat baik dan sangat bertanggung jawab, beruntungnya wanita yang
menjadi istri mas Nando dan mendampinginya,’ batin Amanda.
“Oh
iya? Lalu apa Amanda masih single?”
Amanda
menganggukan kepalanya malu-malu, “masih mas, yaa siapa sih yang mau sama saya,
saya janda dan tidak memiliki penghasilan.”
“Saya
justru pengen punya istri yang hanya dirumah tidak berkarir, dan urusan nafkah
biar saya yang mencari…” Nando mulai menggaet Amanda, sampai akhirnya Nando
menanyakan apakah Amanda bersedia menjadi istri sirihnya? Dan tentu jawaban
Amanda adalah iya, kapan lagi dia bisa menikah dengann lelaki tampan dan mapan
seorang Dokter, begitulah yang dipikirkan oleh Amanda.
Untuk urusan
pernikahan, akan digelar seraya sederhana, dan akan diurus oleh Lailla, untuk
tempat tinggal Nando sudah membeli apartement yang dekat dengan apartement
kedua orangtuanya. Rencananya Nando dan Amanda akan menikah lusa.
Praannnkkkk
suara gelas yang terjatuh, untung saja tidak mengenai kaki Indira, entah kenapa
Indira memiliki firasat yang tidak enak, pikirannya langsung tertuju pada
Nando, dia takut kalau terjadi sesuatu pada suaminya itu.
Nando
menatap layar ponselnya dengan sungkan setelah tahu siapa yang menghubunginya,
untung saja dia sudah tidak bersama Amanda, jadi Nando bisa berbicara manis pada Indira tanpa
takut didengar oleh Amanda.
“Hallo
sayang … ada apa?” tanya Nando dengan suara lembut.
“Kenapa
lama banget sih sayang ngangkatnya? Aku khawatir … kamu dimana sekarang?” tanya
Indira.
“Maaf sayang,
aku sedang banyak pasien akhir-akhir ini … aku sedang di rumah sakit,” bohong
Nando.
Indira
nampak iba dengan suaminya, dia berpikir pasti Nando sangat kelelahan, “aku
kesana ya? akan aku bawakan makan siang,” ucap Indira, dan tentu saja Nando
jadi gelagapan sendiri, dia takut kalau Indira benar-benar datang ke rumah
sakit dan tahu yang sebenarnya.
“Jangan
sayang … jangan,” cegah Nando cepat.
“Loh
memang kenapa?” Indira nampak curiga karena Nando teramat ketakiutan dia datang
kesana.
“Karena
… ini kan sedang musim banyak penyakit, aku takut kalau nanti kamu kesini malah
kenapa-napa, aku aja lebih milih makan diluar sayang … udah yaa kamu nggak usah
khawatir.”
Indira
merasa lega, karena kecurigaannya ternyata salah, Nando melarangnya datang ke
rumah sakit itu semua karena Nando merasa khawatir pada Indira, karena
mendengar Nando baik-baik saja, akhirnya Indira pun lega dan dia menutup
teleponnya kembali.
“Bagaimana?”
tanya Lailla pada Nando.
“Sudah
Mah, tapi … sampai kapan aku harus seperti ini Mah, rasanya aku tidak pernah
tenang, aku akan merasa takut ketahuan terus menerus,” keluh Nando.
“Terus?
Kamu mau melepaskan wanita seperti Amanda? Wanita yang sempurna karena bisa
memberikan kamu keturunan?” tanya Lailla, dan Nando menggeleng. Nando sudah
jatuh hati Amanda, dan dia merasa cocok dengan sifat Amanda yang begitu halus
dalam bertutur kata.
“Ya
sudah, kamu tinggal ikuti saja saran Mamah,” ucap Lailla lagi.
Nando
dan kedua orangtuanya benar-benar tidak tahu terimakasih, padahal Indira sudah
berbesar hati tidak melaporkan Nando ke kantor polisi, hanya dengan satu
syarat, yaitu Nando setia dengan Indira, namun agaknya Nando memang mencari
penyakit.
Maaf yaa
readers, author menyisipkan 21+, tapi author nggak berani terllau vulgar,
karena malu ngetiknya hheeee… jangan lupa kasih Like, dan komennya yaaaaa,
jangan lupa jadikan favorit supaya kalian nggak ketinggalan update cerita ini …
daaannnn ikuti author juga, supaya kalian nggak ketinggalan cerita aku yang
lain …
Terimakasih
readersss..