
"Jangan membela diri, sekarang anda mau apa datang kemari?" Tanya Farel dingin.
"Ibu hanya rindu kamu nak.. apa itu salah?" Tanya Fatma sambil terisak, siapapun yang melihatnya pasti akan sangat iba melihat nya.
"Rindu?" Farel tersenyum getir. "Tidak salah jika orang tua merindukan anaknya, tapi yang salah jika rindu itu hanya palsu, dan saya tahu rindu anda hanya palsu belaka kan?" Ucap Farel.
"Kenapa kamu berbicara seperti itu nak?" Tanya Fatma semakin terisak.
"Sebenarnya apa keinginan anda? Dan kenapa anda menampar calon istri ku?" Tanya Farel dingin.
Sejauh ini Marvel masih diam, dia menemani Farel hanya untuk berjaga - jaga kalau Farel akan emosi, karena ketika Farel emosi maka di tidak bisa mengontrol emosi nya.
"Ibu tidak setuju kalau kamu menikah dengan dia" Ujar Fatma.
"Apa alasan anda?" Tanya Farel lagi.
"Dia tidak sepadan dengan kamu Farel, kamu harus lihat bibit, bebet, dan bobotnya.. ibu mohon batalkan pernikahan kalian" Ujar Fatma tanpa tahu malu.
Farel dan Marvel sama - sama tertawa, merasa apa yang dikatakan oleh Fatma itu lucu, dan itu membuat Fatma mengernyit bingung.
"Kenapa kalian tertawa? Apa ada yang lucu?" Tanya Fatma bingung.
"Tentu saja lucu, anda sudah lama menghilang dari kehidupan saya, dan secara tiba - tiba anda datang kemari dengan mengatakan bahwa saya harus meninggalkan Lavanya? Itu tidak mungkin" Tawa yang tadi Farel perlihatkan langsung memudar, kala dia mengatakan tidak mungkin.
"Anda pikir, saya tidak tahu? Apa niat anda?" Ucap Farel sambil menekan kata - katanya.
"Ma..maksud kamu??" Entah kenapa, kini raut wajah Fatma menjadi ketakutan.
"Perusahaan suami anda terancam bangkrut, dan maksud anda datang kemari adalah supaya saya mau menikah dengan putri seorang pengusaha ternama yang akan membantu perusahaan suami anda, bukan begitu? " Tanya Farel.
Fatma membelalakkan matanya, dia terkejut karena ternyata Farel mengetahui rencana nya.
"Bagaimana Farel bisa tahu?" Batin Fatma.
"Terkejut Bu Fatma? Karena putra anda bisa mengetahui rencana anda?" Tanya Marvel, kali ini dia angkat bicara.
"Tuan Pattinson adalah kolega saya" ujar Marvel.
"Apa?" Ucap Fatma.
"Dan aku adalah orang di balik hancur nya perusahaan suami kamu" Ucap Farel dingin.
"Farel, jadi kamu? Kamu adalah orang di balik semua ini!" Seru Fatma marah.
"Benar, dan tentang perjodohan antara anak tuan Pattinson itu semua bohong, karena beliau hanya memiliki 2 orang putra kembar yang usia nya saja masih 15 tahun" Ujar Farel sambil tersenyum smirk.
"Kalian.. bedebah" Ucap Fatma, nampak nya dia mulai tersulut emosi. Tapi hal itu malah menjadi kesenangan tersendiri bagi Marvel dan juga Farel.
"Apa yang sebenarnya kalian ingin kan?" Tanya Fatma dengan emosi.
"Aku hanya ingin tahu, apa kau akan tetap berada di sangkar mu, atau kau akan keluar mencari ku? Dan ternyata kamu menemui ku dengan kata - kata bahwa kau merindukanku" Farel bersedekap dada sambil tersenyum remeh melihat Fatma. "Tapi sayang nya aku tidak bodoh" Ucap Farel tersenyum.
"Farel, ibu mohon bantu perusahaan ayah.." Belum sempat Fatma selesai bicara, namun Farel sudah kembali mengeluarkan suaranya.
"Dia bukan ayah ku!!" Seru Farel, nada nya sudah naik satu oktaf.
"Baiklah, bantu suami ibu.. ibu mohon Farel" Ucap Fatma dengan nada memohon.
"Kalau aku membantu mu, apa yang akan aku dapatkan?" Tanya Farel.
"Maksud kamu? Kamu mengajak bernegosiasi Farel? Kepada ibu mu sendiri?" Tanya Fatma tak percaya.
"Farel, apa pun yang terjadi ini ibu kamu. Mungkin ada mantan suami, atau mantan istri, tapi ingat Farel tidak akan ada mantan anak ataupun mantan ibu" Ujar Fatma sambil terisak, berharap Farel akan luluh.
"Seharusnya kata - kata itu untuk kamu, kamu tidak ingat? Ketika ayah meninggal, kalau pun kamu tidak mau lagi bertemu dengan nya untuk terakhir kali, tapi setidaknya pikirkan perasaan ku. Dimana hati nurani kamu sebagai ibu? Kamu bahkan tidak pernah datang menjenguk ku, apa itu yang di sebut ibu?" Tanya Farel dengan nada emosi, sebisa mungkin Farel masih menahan emosi nya agar tidak lepas kendali.
"Intinya, apapun yang akan kamu katakan aku tidak akan dengar, dan aku tidak mengharapkan restu dari mu." Ucap Farel. Setelah mengatakan itu dia dan Marvel pun pergi meninggalkan Fatma yang terus berteriak memanggil namanya.
"Farel!!!!"
"Farel!! Kamu akan menyesal nanti!!!" Seru Fatma penuh emosi.
Flashback off.
"Begitu sayang cerita nya" Ujar Marvel sambil membantu Keysha menaiki tangga, karena kini mereka sudah sampai di rumah.
"Aku khawatir dengan Lavanya, pernikahan mereka tinggal 1 Minggu lagi, tapi ada kejadian seperti ini" Ucap Keysha sendu, "pasti Lavanya kepikiran."
"Sudahlah sayang, ini saat nya Farel meyakinkan Lavanya kembali bahwa apapun yang terjadi Farel akan selalu ada untuk Lavanya."Ujar Marvel.
"Iya sayang, kamu benar" Ujar Keysha.
Di sisi lain, Farel masih di perjalanan mengantar Lavanya, sepanjang jalan mereka berdua hanya diam. Lavanya nampak enggan untuk memulai pembicaraan lebih dulu, karena melihat sikap Farel yang tidak bersahabat hari ini.
"Ya Allah.. apapun keputusan Farel akan aku terima jika itu juga yang terbaik bagi mu ya Allah" Batin Lavanya sedih. Dia sudah berpikiran bahwa mungkin angan - angan indah untuk membina bahtera rumah tangga bersama Farel harus kandas, acara pernikahan yang akan di gelar sekitar 1 Minggu lagi terancam batal karena Fatma yang tidak lain ibu Farel tidak memberikan restu.
Namun tiba - tiba saja, Farel menepikan mobilnya, membuat Lavanya semakin berpikiran negatif. Labanya takut, kalau Farel akan menurunkan Lavanya di tengah jalan. Pasalnya jalanan ini sangat jarang di lewati oleh kendaraan umum, seperti taksi atau pun ojek online.
Namun apa yang Lavanya pikirkan ternyata salah, Farel malah memeluk Lavanya dengan erat, membuat Lavanya membeku. Karena jujur saja, ini adalah kali pertama Farel memeluk Lavanya, sebelum nya kisah mereka bisa dianggap terlalu kaku, Farel tidak bisa bersikap romantis, dan Lavanya juga tidak bisa meminta hal itu kepada Farel. Bagi Lavanya yang terpenting adalah Farel selalu di sisinya dan mencintai nya.
"Tolong, biarkan seperti ini sebentar saja" Ucap Farel lirih, Lavanya pun hanya membalas pelukan Farel dan terdiam.
Tak ada pembicaraan selama beberapa menit, hingga akhirnya Farel melepaskan pelukan nya.
"Terimakasih " Ucap Farel lirih.
"Jangan berterima kasih, aku malah senang karena ini pelukan pertama kita" Ujar Lavanya sambil tersenyum.
"Ini pasti sakit" Ucap Farel sambil menyentuh pipi memar Lavanya bekas tamparan Fatma.
"Sudah nggak lagi kok, kan udah di pegang kamu" Ujar Lavanya seraya tersenyum hangat.
"Aku minta maaf karena tidak bisa menjaga kamu" Ucap Farel penuh sesal.
"Ini bukan kesalahan kamu Farel, semua terjadi tanpa ada yang tahu, jadi jangan menyalahkan diri sendiri ya" ujar Lavanya sambil menggenggam tangan Farel.
"Aku janji, kejadian ini tidak akan terulang lagi" Ucap Farel yakin.
"Benarkah? Farel?" Tanya Lavanya tak percaya.
"Tentu, karena kamu calon istri ku, dan sebentar lagi kita akan segera menikah " ujar Farel seraya tersenyum, senyum yang hangat dan jarang diperlihatkan kepada siapapun.
"Menikah? Aku pikir kamu akan membatalkan pernikahan kita Rel, karena ibu kamu tidak memberi restu kepada siapapun" Ujar Lavanya.
"Restu nya tidak berarti bagi ku Lavanya, itu semua karena sikapnya sendiri" Ucap Farel.
"Tapi..." Lavanya hendak berbicara namun sudah lebih dulu di potong.
"Sudahlah, jangan memikirkan hal lain, kita fokus pada tujuan kita saja ya.. hanya kita berdua" Ucap Farel lagi, meyakinkan pada Lavanya.
"Baik lah" Jawab Lavanya kemudian, Lavanya berpikir tidak akan mudah memaksa Farel untuk membuka pintu maaf bagi ibunya, karena Lavanya sendiri tidak terlalu tahu bagaimana sifat asli Fatma.