Keysha

Keysha
Pelukan Aditya



Akhirnya Dimas dan Alena sampai di butik Keysha, Dimas pun membantu Alena untuk turun dari mobil, saat Alena dan Dimas masuk kedalam butik, semua mata karyawan menatap nya.


"Kak Alena udah ngga papa?" Tanya Dewi khawatir.


"Udah ngga papa kok Wi... makasih ya udah khawatir sama aku" Jawab Alena.


"Iya mba... tapi kalau boleh tahu, kak Alena sakit apa?" tanya Dewi lagi.


"Aku nggak sakit Wi, tapi..." Alena tidak meneruskan ucapannya, dia malah memberi isyarat dengan cara mengelus perutnya yang masih terlihat rata seraya tersenyum.


"Kak Alena hamil?" tanya Dewi.


"Iyaa" Jawab Alena.


"Wah selamat ya kak Alena, kak Dimas, aku doain semoga kak Alena dan calon anak nya selalu sehat dan bisa dilancarkan sampai proses persalinan nanti" ucap Dewi mendoakan kehamilan Alena dengan tulus , Dewi ikut berbahagia dengan kabar kehamilan Alena.


"Aaammmiinn... terimakasih ya Dewi atas doanya" ucap Dimas.


"Sama - sama kak" Jawab Dewi.


"Oh iya Wi, Keysha ada di ruangan nya kan?" Tanya Alena.


"Ada kok kak, emang kenapa?" Tanya Dewi.


"Alena izin hari ini, karena dia harus banyak istirahat" Jawab Dimas.


"Ohh begitu kak" Ucap Dewi.


"Iya Wi... maaf banget yaa, jadi ngerepotin kamu lagi deh aku" Ujar Alena tak enak.


"Nggak papa kok, selagi aku bisa... toh ada temen - temen juga yang bantuin" Jawab Dewi tersenyum tulus.


"Makasih ya... ya udah kalau begitu aku masuk keruang kerja keysha dulu" Pamit Alena.


"Iya kak."


Alena pun mengetuk pintu ruang kerja Keysha, dan tidak lama terdengar sahutan dari dalam yang mengizinkan Alena masuk.


"Hai Key" sapa Dimas dan Alena bersamaan.


"Alena, Dimas" ucap Keysha.


"Ganggu nggak nih?" Tanya Dimas.


"Enggak kok, silahkan duduk" Ucap Keysha mempersilahkan Dimas dan Alena duduk di sofa.


"Nih gue bawain yang seger - seger" Ucap Dimas sembari menyerahkan sekantung plastik kepada Keysha.


"Wah rujak buah" Ucap Keysha tersenyum senang, setelah melihat isi dalam kantung plastik tersebut.


"Iya... tadi di jalan Alena kata nya pengen rujak buah, ya udah beli deh sekalian buat loe" Ujar Dimas menjelaskan.


"Wahh makasih yaa."


"Sama - sama" Jawab Dimas.


"Oh iya Len, gimana kandungan loe?" Tanya Keysha penasaran.


"Alhamdulillah sehat Key, usianya masih 3 Minggu" Jawab Alena.


"Selamat ya... gue ikut seneng denger kabar kehamilan loe" Ujar Keysha sambil menggenggam tangan Alena.


"Makasih ya Key."


"Oh iya Key, kedatangan kami kesini juga buat minta izin ke loe, hari ini Alena izin dulu ya?" Tanya Dimas.


"Iya... kaya sama siapa aja, lagian gue tahu kok, awal - awal kehamilan emang harus banyak istirahat" Ujar Keysha.


"Makasih ya Key, ya udah gue sama Alena balik dulu ya" Pamit Dimas.


"Iya kalian hati - hati ya, dan makasih juga rujak buah nya" Ujar Keysha.


Keysha masih menatap rujak buah yang diberikan oleh Dimas tadi, ada sesuatu yang tengah Keysha pikirkan.


"Nona kenapa?" Tanya Raisa.


"Nggak papa, ya udah siap - siap yuk kita pulang" Ajak Keysha.


"Baik nona" Jawab Raisa.


Jam 4 sore Aditya baru saja tiba di rumahnya setelah seharian mengurus restoran nya, penat itulah yang dia rasakan. Saat Aditya melangkah melewati ruang keluarga, dia melihat Rania yang tengah menonton televisi sendirian.


"Ini waktu yang tepat untuk bertanya pada Rania" batin Aditya. Dia pun melangkah dan duduk di sofa singgel yang dekat dengan Rania namun masih menyisakan jarak.


"Eh kak Aditya udah pulang?" Tanya Rania, nampak nya dia tidak sadar akan kehadiran Aditya.


"Iya, baru aja" Jawab Aditya.


"Rania, ada yang mau saya tanyakan" Ucap Aditya ragu.


"Apa yang mau kak Aditya tanyakan?" Tanya Rania.


"Kamu punya pacar?" Tanya Aditya to the point.


Sontak Rania terkejut dengan pertanyaan Aditya, "kenapa kak Aditya menanyakan itu?" Tanya Rania bingung.


"Jawab saja Rania, dan tolong jawab dengan jujur" Ucap Aditya.


Rania memejamkan matanya sejenak, "iya kak, aku memang sudah punya pacar" jawab Rania seraya menunduk dalam, jujur saja sekarang Rania ingin sekali menangis.


"Kenapa kamu nggak bilang?" Tanya Aditya.


"Buat apa? Apa dengan saya bilang saya sudah punya pacar akan menghentikan perbuatan bapak saat itu? Atau, apa dengan saya bilang kalau saya punya pacar bapak akan menyuruh saya menikah dengan pacar saya? dan bertanggung jawab dengan anak yang bukan darah daging nya?" tanya Rania menggebu - gebu, saat ini Rania bahkan sudah menangis.


Aditya tidak tega melihat Rania menangis hingga tersedu - sedu, akhirnya Aditya memeluk Rania untuk menenangkan nya.


"Sudah Rania... aku minta maaf" Ucap Aditya penuh sesal.


Rupanya dari arah tangga, Bella melihat semua itu, Bella merasakan sesak di dadanya. Tidak mau terlalu dalam menyakiti hati nya, akhirnya Bella kembali naik kelantai atas dengan perlahan agar tidak mengeluarkan suara.


Setelah di rasa tenang, Aditya melepaskan pelukannya dan berjongkok di depan Rania.


"Rania aku minta maaf" Ujar Aditya lagi, dia merasa bersalah kepada Rania.


"Sudah lah kak, tidak apa - apa, toh semua sudah terjadi, dan mungkin ini saat nya kak Aditya tahu tentang saya" Ujar Rania.


"Saya memang memiliki kekasih, namanya Ardie dan dia salah satu karyawan Kak Aditya juga di restoran, kami sudah menjalin hubungan sekitar 1 tahun, dan seharusnya bulan depan kami bertunangan" di sini Rania mencoba menahan kembali tangis nya agar tidak pecah.


"Namun, saya sadar keadaan saya sudah berbeda sekarang, saya menjauh darinya dan memutus semua kontak saya dengan dia, saya tidak mau Ardie terus berharap dengan saya kak, saya mau Ardie melupakan saya dan mencari pengganti saya, wanita yang jauh lebih baik dari saya tentunya" Ujar Rania lagi.


"Tapi dia sangat mencintai kamu Rania, bahkan tadi saya lihat dia sangat murung" Ujar Aditya lagi.


"Biarlah kak, saya yakin lambat laun Ardie akan bisa melupakan saya dan melabuhkan hatinya kepada wanita lain, siapapun wanita itu saya yakin, dia adalah wanita yang beruntung karena bisa di cintai sebegitu besar oleh Ardie, dan saya juga sangat beruntung karena bisa mendapatkan cinta dari Ardie. Biarlah cinta ini saya bawa sampai saya mati kak" Jawab Rania.


"Tapi kalian masih bisa kembali setelah kamu melahirkan Rania, buat lah alasan kamu sedang ada di luar kota atau bagaimana" Ujar Aditya mencetuskan idenya.


"Tidak, saya tidak mau membohongi Ardie yang begitu tulus mencintai saya kak, saya tidak mau akhirnya mengecewakan dia jika dia tahu kondisi saya yang sudah tidak virgin lagi, apa lagi saya pernah melahirkan. Setelah saya melahirkan saya akan pergi sejauh mungkin dan tidak akan kembali lagi ke sini, jadi saya mohon saya titip anak kita nanti, jaga dia dan sayangi dia ya kak?" Ucap Rania penuh permohonan.


"Baiklah Rania, akan aku usahakan" Ucap Aditya.


"Terimakasih" ujar Rania seraya tersenyum.


"Baiklah, kalau begitu aku ke kamar dulu ya" Pamit Aditya, dan Rania pun mengangguk sebagai jawaban.


Setelah Aditya pergi ke kamar nya, Rania juga memutuskan masuk ke dalam kamar dan menumpahkan segala kesedihan nya disana, Rania tidak kuasa lagi menahan semua ini sendirian.


Rania mengambil foto yang dia simpan dalam dompet nya, itu adalah foto Ardie dan juga Rania yang sengaja dia cetak dan taruh dalam dompet jika suatu saat Rania rindu dengan Ardie Rania bisa melihat foto tersebut.


"Ardie" Rania semakin terisak melihat foto kekasih nya, lebih tepatnya mantan kekasih, karena terakhir Rania menghubungi Ardie, Rania langsung mengakhiri hubungan nya secara sepihak, dan setelah itu Rania memutus semua kontak antara dirinya dan juga Ardie.


"Aku juga merindukan kamu, tapi aku tahu aku tidak pantas" Isak Rania semakin dalam. Rania terus terisak hingga akhirnya dia tertidur karena lelah, sedangkan foto tersebut masih dalam genggaman Rania.