
Kanaya masuk ke dalam mobil sambil tersenyum, senyum yang begitu menyakitkan bagi siapapun yang melihat nya, percayalah, tersenyum di atas luka, itu menyakitkan.
"Ternyata, aku belum bisa ikhlas merelakan cinta ku pergi," batin Kanaya. Setelah memarkirkan mobilnya, dia pun langsung masuk ke dalam rumah, tapi sebelum itu dia memastikan wajahnya tidak terlihat habis menangis.
"Assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam"
"Kanaya, ayo makan malam sayang," ajak Keysha kepada putrinya.
Kanaya pun duduk di meja makan, "Kanaya masih kenyang mah, tadi waktu sama Tante Anisa, Kanaya makan di luar."
"Oh begitu ... oh iya sayang, gimana ceritanya kamu bisa sama Tante Anisa?" tanya Keysha penasaran.
"Aku nggak sengaja sih mah ketemu sama Tante Anisa, pas itu dia lagi jalan sendirian, aku lihat wajah nya murung, jadi aku ajak aja, mungkin Tante Anisa butuh temen curhat," jelas Kanaya.
"Masalah Tama sama pacarnya?" tanya Keysha.
"Iya mah, aku jadi ngerasa nggak enak, tadi pagi waktu aku joging nggak sengaja ketemu Tama, terus waktu ngelewatin depan rumahnya aku ketemu Tante Anisa, dia membandingkan cara berpakaian ku dan Vanes, itu yang menjadi awal pertengkaran Tante Anisa dan Tama."
"Mamah ngerti sih gimana perasaan Anisa, pasti dia ingin anaknya berjodoh dengan wanita yang baik, cuman ya mau gimana lagi? Tama udah cintanya sama Vanes." ujar Keysha.
"Padahal Oki sama Anisa pengennya kamu Nak yang jadi mantunya," ucap Marvel enteng, seraya menyuapkan makanan.
"Hus Pah," Keysha memberi kode kepada Marvel agar tidak melanjutkan omongannya.
"Terus kamu bilang apa ke Tante Anisa?" tanya Marvel mengganti pembicaraan.
"Aku bilang aja, Tante Anisa cuman perlu membuka diri ke Vanes, mulai menerima Vanes, yang mungkin bagi Tante Anisa baik belum tentu baik buat Tama, karena Tama sudah sangat mencintai Vanes. Dan kalau Tante Anisa terus mengekang hubungan mereka, bakalan susah sih, jadi nya begini terus, Tante Anisa dan Tama sering berantem," jawab Kanaya.
"Nanti deh, pelan-pelan mamah coba ngomong ke Tante Anisa ya." ucap Keysha.
"Iya mah ... ya udah aku masuk kamar ya mah, pah, mau istirahat," pamit Kanaya.
"Iya sayang," jawab Keysha dan Marvel bersamaan.
"Bye Raka..." Kanaya mengacak rambut adiknya. Sedangkan raja tak menggubris, dia hanya fokus pada makanannya karena tengah lapar, di tambah lagi tadi ada Natasha yang sudah membuat Raka kesal.
Kanaya menatap bintang dan rembulan lewat balkon kamarnya, gerimis mulai menetes seolah tahu isi hati dan perasaan Kanaya.
"Aku benar-benar akan melupakan cinta ku ke kamu, aku akan buang jauh-jauh rasa ku ke kamu." Setelah mengatakan itu, Kanaya masuk ke dalam kamar dan menutup jendelanya.
Sedangkan di kediaman keluarga Pratama, Anisa masih belum mau berbicara dengan Tama, padahal Tama sudah meminta maaf atas perkataannya tadi pagi.
"Mah, Tama bener-bener minta maaf, Tama salah sama mamah, Tama mohon maafin Tama mah," ucap Tama seraya berlutut didepan Anisa.
"Duduklah Tam," Anisa menepuk salah satu sisi yang kosong. Tama pun menurut, dia duduk di samping Anisa.
"Mamah merestui hubungan kamu dan Vanes, tapi mamah mohon, ubah caranya berpakaian agar lebih sopan, supaya Vanes bisa menempatkan dirinya, mamah mengatakan ini juga demi kamu Nak," ucap Anisa.
"Iya mah, aku janji akan dengar pesan mamah," ucap Tama.
"Maafin Tama yah mah," ucap Tama penuh sesal.
"Iya Nak," Anisa pun memeluk Tama penuh sayang.
"Apa yang Kanaya katakan ke mamah, sampai mamah akhirnya mau menerima Vanes?" batin Tama.
Beberapa hari kemudian.
Kini Tama dan Vanes dalam perjalanan menuju kediaman Tama, Vanes tengah bahagia karena sudah beberapa kali Anisa mengundang nya secara langsung untuk sekedar makan malam, atau berbelanja bersama.
"Sayang, aku seneng banget akhirnya orang tua kamu mau menerima aku," ucap Vanes.
"Aku juga senang sayang," jawab Tama.
"Akhirnya ya, perjuangan kita untuk mendapatkan restu nggak sia-sia," ucap Vanes bangga.
"Tapi sebenarnya Kanaya juga ikut andil dalam hal ini," ucap Tama hati-hati.
"Kanaya?" nada bicara Vanes nampak tak suka.
"Iya, waktu itu mamah pernah pergi dari rumah karena berantem sama aku, dan ternyata dia pergi sama Kanaya, kamu tahu nggak? setelah itu mamah langsung mau maafin aku dan dia bilang dia mau merestui aku dan kamu," jelas Tama seraya tersenyum.
"Kok bisa sih mamah kamu semudah itu ngasih restu ke kita, setelah dia bicara dengan Kanaya?" tanya Vanes penuh selidik.
"Ya aku nggak tahu sayang, yang penting kan kita udah dapet restu dari mamah dan papah ku."
"Aku harus bisa menjauhkan Tante Anisa dan Kanaya, aku nggak mau Tama dan Anisa menjadi dekat karena Tama merasa berhutang Budi kepada Kanaya," batin Vanes seraya tersenyum licik.
"Sayang, tapi aku lihat mamah kamu belum bisa dekat banget sama aku deh," ucap Vanes, dia sudah memulai aksinya.
"Butuh proses dong sayang, tapi aku lihat itu semua sudah lebih baik kok," ujar Tama.
"Nah butuh proses kan? jadi dalam proses ini aku harus diberi waktu sama mamah kamu, jangan ada orang lain." ucap Vanes.
"Ya maksud aku ... kamu bilang ke Kanaya, supaya dia nggak terlalu dekat dulu sama mamah kamu, jadi aku bisa lebih mengambil hati dan simpati mamah kamu, gimana?" tanya Vanes meminta persetujuan.
Tama berpikir sejenak, "iya deh, nanti aku bicara dengan Kanaya, toh itu semua demi kebaikan hubungan kita juga kan?" ucap Tama.
"Makasih ya Sayang," Vanes pun memeluk Tama dengan manja.
"Sayang, bagaimana kalau kita merencanakan pernikahan?" tanya Tama.
"Pernikahan?" beo Vanes, ada semburat keraguan di wajahnya.
"Iya sayang, apa lagi yang kita tunggu? orang tua kita sudah sama-sama menyetujui hubungan kita, bagaimana?" tanya Tama lagi.
"Tapi ... bagaimana dengan karier ku yang sudah ku bangun Tam?."
"Kamu tenang saja, aku tidak akan melarang kamu untuk berkarir, asalkan kamu juga tidak melupakan kewajiban kamu sebagai istri ku." jawab Tama.
Vanes pun tersenyum cerah ketika mendengar jawaban dari Tama, "baiklah, aku bersedia."
Tama mencium sebelah tangan Vanes, karena dia juga tengah fokus menyetir, "baiklah, nanti kita bicarakan hal ini juga ya dengan kedua orang tua kita," pasalnya, bukan hanya Vanes yang di undang makan malam, tapi kedua orang tua Vanes juga, karena Anisa dan Oki ingin mengenal kedua orang tua calon menantunya.
Kini mereka semua tengah berkumpul, kedua keluarga antara Tama dan Vanes bahkan sudah menentukan hari pernikahan Tama dan Vanes, senyum bahagia tak pernah luntur dari keduanya.
Keesokan harinya jam makan siang, Kanaya sudah bersiap untuk pergi, dia nampak sangat bersemangat siang ini.
"Loe, mau kemana Nay?" tanya Indira.
"Makan siang," jawab Kanaya penuh semangat.
"Sapa siap? keliatan seneng banget," ujar Indira menggoda Kanaya.
"Sama ... Tama," jawab Kanaya, ketika menyebut nama Tama, entah kenapa wajah Kanaya berubah senang, tadi sekitar jam 8 Tama menghubungi Kanaya, dia mengajak Kanaya untuk makan siang, dan hanya berdua.
Tentu saja Kanaya menerimanya, sangat jarang Kanaya dan Tama bisa makan siang bersama, katakan Kanaya plin-plan, namun perasaan memang tak bisa bohong, cinta untuk Tama masih ada, bahkan masih begitu besar.
"Ya sudah gue pergi ya." pamit Kanaya, dia pun langsung pergi meninggalkan Indira.
"Kanaya ... Kanaya, kenapa sih masih mengharapkan Tama terus, kamu itu cantik, karier bagus, apa kurang nya?" batin Indira sambil menggelengkan kepalanya.
Kanaya mengemudikan mobilnya menuju restoran yang sudah di tentukan oleh Tama, raut wajah bahagia tak pernah luntur dari Kanaya, dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Tama.
Kini Kanaya pun sudah sampai di restoran tempatnya bertemu dengan Tama, Kanaya langsung di sambut oleh pelayan restoran.
"Selamat datang, ada yang bisa kami bantu?" sapa pelayan.
"Reservasi atas nama pak Tama?" tanya Kanaya.
"Oh iya Bu, mari ikut saya," Pelayan pun mengantarkan Kanaya menuju ruang VIP.
"Ini ruangan nya Bu, silahkan."
"Terimakasih mba," Kanaya pun masuk ke dalam ruang VIP, dan ternyata di dalam sudah ada Tama.
"Hai Tam, udah lama?" sapa Kanaya.
"Hai ... belum kok, duduk Nay," ujar Tama.
Kanaya pun duduk berhadapan dengan Tama, di meja sudah tersedia makanan yang Kanaya dan Tama suka, Kanaya tidak menyangka Tama masih ingat makanan kesukaan nya.
"Gue udah pesen makanan kesukaan loe, mau nambah nggak? Mungkin ada yang kurang," tanya Tama.
"Enggak kok, ini udah lebih dari cukup," ujar Kanaya.
"Jadi Tam, ada hal apa sampe loe ngajak gue ketemu?" tanya Kanaya penasaran.
"Eemm jadi gini Nay, sebelum nya gue makasih banget, berkat loe nyokap gue mau ngerestuin hubungan gue sama Vanes, bahkan kami sudah menentukan tanggal hari bahagia kami," ujar Tama seraya tersenyum.
Mata Kanaya sudah memanas ketika mendengar penjelasan Tama, "oh ya? selamat ya ... dan masalah waktu itu, gue nggak ngomong apa-apa kok, itu semua keputusan Tante Anisa sendiri."
"Tapi menurut gue, loe tetep andil dalam keputusan nyokap gue, karena gue tau nyokap gue sama loe itu deket banget, dan oleh karena itu, gue mau minta tolong Nay," Tama nampak berhati-hati dalam berbicara.
"Minta tolong apa?" tanya Kanaya.
"Gue minta tolong, supaya loe bisa agak menjauh dari nyokap gue, gue gak masalah kok loe deket sama nyokap, tapi ini masalah nya Vanes, dia ngerasa dia perlu waktu supaya bisa lebih deket sama nyokap, apa lagi gue sama Vanes mau nikah. " ujar Tama.
Kanaya menghela napas panjang, lalu sedetik kemudian Kanaya langsung berdiri dari tempatnya.
"Loh Nay, mau kemana?" tanya Tama bingung.
"Gue nurutin kemauan loe, ngejauh dari nyokap loe, dan gue yakin, Vanes juga nggak akan suka kalau gue deket sama loe juga, jadi gue inisiatif buat ngejauh dari loe, gue cukup tau diri. Makasih buat makan siangnya, gue permisi," Kanaya langsung pergi meninggalkan Tama, tanpa menoleh lagi kebelakang.
"Kanaya!" seru Tama, namun Kanaya sama sekali tidak menghentikan langkahnya, air mata yang sudah dia bendung akhirnya terjun membasahi pipi.