Keysha

Keysha
#2 Draco



“Mata lo cantik”


***


Keysha ditugaskan oleh Bu Andin—guru sejarah— untuk mengambil buku paket di perpustakaan. Setelah menemukan apa yang ia cari Keysha melapor apa yang ia pinjam pada petugas perpustakaan. Menata buku itu dan mulai membawanya ke kelas.


Keysha berjalan sempoyongan karena buku yang ia bawa cukup berat dan berjumlah 15 buku. Hanya dirinya saja yang Bu Andin minta untuk mengambil buku tersebut, jadi Keysha membawa 15 buku berat sendirian. Buku itu bertumpuk tingginya hingga di tengah jalan tak sengaja Keysha menabrak seseorang.


“Aduh..” pekik Keysha kesakitan. Buku yang tadi ia bawa juga sudah berantakan. Cowok yang tadi Keysha tabrak tak jatuh sama sekali. Cowok itu melangkah mundur


“Ngapain lo ndeprok di lantai?” ujar cowok itu santai


“Ndeprok jidat lo segede GBK. Gara gara lo gue jatoh gini. Dan liat bukunya jatoh semua kan jadinya”


“Orang lo yang nabrak, minta maaf kek. Malah ngomel”


“Yodah MAAF. Bantuin kek malah liatin doang. Ga guna banget lo”


Keysha POV


Cowok tadi yang gue tabrak malah melengos pergi gitu aja tanpa bantuin gue. Heh songong banget tu cowok. Mana jutek lagi. Ahh.. terpaksa gue susun buku buku ini lagi dan.. gue bawa sendiri.. Huaaa.. oh tuhaaann.. kasianilah ciptaan mu yang cantik bin imut ini.


“Lah.. hahahaaa..” Oh.. tidak gue denger suara dedemit nyebelin disini..


“Siskaa.. ngapain lo ngesot disitu? Mau ngepel neng?” Astajim.. ngapain gue ngepel? Ngeselin banget gue punya sahabat satu. Udah tau gue lagi kesusahan bukannya ditolong malah diketawain, dikatain ngesot pula.


“Eh Vero.. ga guna banget lo. Udah tau gue lagi susah, tolongin kek”


“Iya iya.. sini gue bantu. Ulululuuu kacian”


Akhirnya gue ada yang bantu... Walaupun pake acara ngatain dulu tapi gapapa deh.


Author POV


Kini Keysha sedang berada di kantin bersama.. siapa lagi jika bukan kedua sahabatnya. Keysha tak punya teman lain, bukannya ia nolep. Hanya saja ia merasa dua sahabat sudah cukup. Mereka memilih meja kosong di pojokan kantin. Meja itu ada empat kursi, yang artinya bisa ditempati empat orang. Keysha duduk disamping Naufan, ia tak pernah mau duduk disamping Kavi karena Kavi selalu saja usil saat ia sedang makan. Seperti biasa Kavi yang memesan makanan


“Siska, lo mau mesen apa?”


“Siomay, yang pedes. Sama lemon tea aja deh”


“Gue samain Siska aja Ver”


Kavi bangkit dari duduk dan mulai berjalan ke tukang siomay. Kavi menjadi pusat perhatian di kantin. Bagaimana tidak? Parasnya yang tampan membuat para kaum hawa melongo melihatnya. Apalagi saat Kavi bermain basket, banyak kaum hawa berteriak teriak menyorakan nama Kavi. Hal itu yang membuat Keysha malas jika harus menemaninya latihan basket. Tiba tiba Arsha datang menghampiri meja mereka, kali ini ia tak bersama antek anteknya.


“Hai, gue boleh gabung ga?” tanya Arsha dengan halus dan tak lupa ia memberikan senyum. Bukan kepada Keysha melainkan senyum untuk Naufan


“Duduk aja” timpal Naufan dingin. Ia selalu dingin dengan orang yang tak dikenalnya. Apalagi spesies human macam Arsha


“Boleh duduk samping lo Naufan?”


“Duduk dibangku kosong yang Ada” dengan ekspresi kecewa Arsha duduk di bangku kosong sebelah Kavi.


Keysha hanya diam. Ia menatap Arsha, begitupun Arsha yang balik menatap Keysha. Tapi tatapan Arsha ke Keysha berbeda. Seperti ada rasa kebencian. Sementara Keysha menatap Arsha santaai.


“Pesanan dat...” ucapan Kavi terjeda, mata Kavi melotot kaget. Sepertinya kaget dengan keberadaan Arsha disamping bangkunya


“Loh..loh..loh.. sejak kapan lo disini? Syuh syuh..” sambung Kavi. Ia mengusir Arsha. Sementara Arsha hanya acuh sambil meminum jusnya yang tadi dia bawa


Kavi mulai membagikan pesanan masing masing, ia mengalah dan membiarkan Arsha duduk disampingnya. Percuma saja jika Kavi mengusirnya, Arsha juga tak akan pergi. Dan cacing cacing diperutnya sudah mulai demo.


Keysha tak berniat memakan siomaynya, ia hanya meminum lemon tea nya saja. Dan bagaimana siomaynya? Cuman ia tatap.


“Makan Siska, siomaynya malu lo liatin mulu” celetuk Naufan


“Tangan gue sakit” Naufan menghentikan makannya begitupun Kavi


“Sakit kenapa?” Kavi ikut nimbrung pembicaraan


“Gara gara tadi pas gue bawa buku paket itu. Tadi gue jatoh karena ditabrak orang” Arsha memandang Keysha tanpa minat ia hanya menganggap Keysha caper saja


“Ditabrak atau lo yang nabrak” timpal Naufan


“Gue yang nabrak hehe” Keysha nyengir kuda, dua sahabatnya ini terlalu tau kebiasaan Keysha yaitu menabrak orang.


“Nabrak siapa? Cowok cewek?”


“Gatau, ga kenal”


Tiba tiba Naufan menyodorkan sendok berisikan siomay. Ia berniat menyuapi Keysha. Keysha membuka mulutnya. Berlanjutlah kegiatan Naufan menyuapi Keysha itu. Tak peduli banyaknya pasang mata yang sedang memperhatikannya. Termasuk Arsha, ia memandang Keysha dengan tatapan sinis.


✨✨✨


Setelah tadi dari kantin, Keysha pergi kekamar mandi dan membiarkan kedua sahabatnya itu pergi ke kelas mereka terlebih dahulu. Lagi pula kelas mereka berbeda jangankan kelas, jurusan mereka saja berbeda. Naufan dan Kavi mengambil IPA. Sedangkan Keysha IPS. Jelas saja mereka tak sekelas.


“Heh lo, gue peringatin sama lo ya. Jauhi Naufan” ancam Arsha kepada Keysha


“Naufan itu sahabat gue. Ya ga bisalah gue jauhin dia”


“Murahan banget sih lo, gausah genit sama caper ya. Gue enek tau ga”


“Lebih enekan gue. Liat kakak kelas, yang beraninya sama adek kelas doang. Berani ngancem. Mana bawa antek anteknya lagi” Tantang Keysha balik. Secara tak langsung ia meminta untuk mempunyai masalah dengan Arsha


.


Apa Keysha tak tau? Jika Arsha adalah senior yang paling ditakuti oleh adik kelasnya selain Mona? Arsha tak akan segan segan membully targetnya sepuasnya. Sudah banyak adik kelas yaitu teman seangkatan Keysha yang menjadi korban dari keganasan Arsha. Dan tak jarang dari mereka yang mengundurkan diri dari sekolah ini.


“Lo ini ya..” Arsha mengangkat tangannya yang akan bersiap siap menampar Keysha. Keysha sudah memejamkan mata. Namun tangan itu hanya melayang diudara saja


“Cemen, beraninya sama adik kelas. Kroyokan lagi” itu suara seorang cowok. Cowok itu yang menahan tangan Arsha untuk menampar Keysha


Arsha mengenali suara cowok itu, bahkan ia kenal dengan pemilik suara itu. Arsha dan antek anteknya memilih pergi daripada harus berurusan dengannya.


Sementara Keysha masih memejamkan matanya, ia tak sadar jika Arsha sudah pergi. Cowok itu memandang Keysha yang lucu. Ia mendekatkan tubuhnya ke tubuh Keysha yang sudah terpojok ditembok dan mengunci pergerakan dengan kedua tangannya berada disamping tubuh Keysha. Mata tajamnya memandang setiap lekuk wajah Keysha. Kulit putih bersih, bibir mungil, bulu mata lentik. Ia jadi berminat menjahili gadis yang menabraknya tadi


“Kenapa lo merem gitu? Minta gue cium?”


Keysha tersentak, ia menahan nafasnya sambil terus memejamkan mata.


'****** ini siapa didepan gue. Kok suara cowok sih. Mak lampirnya mana?'


“Beneran mau gue cium?” goda cowok itu lagi.


Tiba tiba...


“Aaaaaa... Siapa lo pergi sono” Keysha berteriak dengan mata yang masih penutup dan tangannya yang memukul mukul..


“Melek. Ngapain lo mukul angin?”


Keysha membuka matanya, mata birunya beradu dengan mata hitam elang milik Draco.


Ya, namanya Draco. Cowok yang tadi ditabrak Keysha dan cowok yang tadi menolong Keysha dari Arsha itu Draco. Dia anak kelas 10 IPS 4 yang terkenal dikalangan guru guru karena kenakalannya. Tatapan mereka masih beradu hingga suara Draco mengakhiri sesi adu tatap itu


“Mata lo cantik” dengan spontan Draco mengatakan itu.


“Lo yang tadi gue tabrak itu kan? Ga ada rasa setia kawan banget ninggalin gue gitu aja” Keysha berontak dari posisi mereka tadi


“Emang lo temen gue?” jawab Draco enteng


“Oh iya.. kita bukan temen dan sampai kapanpun lo ga akan pernah jadi temen gue” nada suara Keysha naik beberapa oktaf


Keysha melengos pergi namun suara Draco menghentikan langkah kakinya yang belum begitu jauh


“Lo ga ada niatan ngucapin makasih karena udah gue tolong?”


Keysha berbalik badan dan menghampiri Draco, “Makasih...” Gadis itu menggantungkan ucapannya berniat mencari name tag cowok dihadapannya ini. Namun nihil. Cowok ini tak memakai name tag. Draco tau apa yang Keysha cari, dan ia menyambung ucapan Keysha


“Draco”


“Makasih Draco” Keysha mengulang ucapan terimakasihnya setelah mengetahui nama cowok dihadapannya ini


“Sama sama Aurell” Keysha tersentak kaget. Draco orang yang pertama kali memanggilnya dengan nama itu dan dari mana Draco tau namanya? Oh pasti dari name tag yang ia pakai


“Panggil gue Keysha”


“Emang kenapa kalo gue manggil lo Aurell?”


“Aneh”


“Jadi belom ada yang manggil lo Aurell? Kalo gitu nama panggilan itu milik gue”


“Terserah lo aja”


Keysha memilih untuk mengalah dan pergi karena bel masuk kelas sebentar lagi berbunyi. Draco membiarkan gadis itu pergi, ia cukup tau siapa Keysha. Keysha cewek yang masuk Delton dengan nilai paling tinggi dan hampir sempurna. Maka dari itu, Draco tak berniat mengusiknya apalagi jika mengganggu belajarnya yang membuat nilainya turun.


Semakin lama Keysha semakin jauh dan tubuhnya menghilang diujung koridor. Draco beranjak pergi dari tempatnya dan ia memilih pergi ke rooftop saja agar aman dari guru.


“Lama amat lo co” ujar Chiko—sahabat Draco—sambil bersalaman ala cowok


“Sorry, ada urusan tadi”


“Ntar malem clubbing kaga, lama lo ga ikut” Chiko berdiri dari duduknya dan menyodorkan rokok pada Draco, Draco menerimanya. Mereka termasuk anak nakal disekolah yang biasa langganan keluar masuk ruang BK


“Jadi, jam 7. Club biasa aja”