
Dari penjelasan Tama tadi, tamu undangan yang sudah sempat
membaca berita miring beberapa waktu lalu akhirnya tahu, kalau berita itu semua
bohong, karena Tama benar-benar menjelaskan secara detail kapan pertemuannya
kembali dengan Kanaya, dan Tama juga mengatakan kalau dia pernah menikah
sebelumnya dengan wanita lain, namun Tama sama sekali tidak mengatakan atau
menyinggung wanita itu.
Saat semua tamu undangan merasa terbawa suasana dan ikut
merasakan bahagia atas pernikahan Kanaya dan Tama, hal itu malah dirasakan
berbeda oleh Nando, dia terlihat sangat cemburu dan kesal melihat kemesraan
yang ditunjukkan oleh Tama dan juga Kanaya.
‘Rupanya begini sakitnya Kanaya? dulu apa kamu juga
merasakan sakit seperti ini ketika kamu tahu aku menikah dengan Indira? bolehkah
aku menyesal? Kalau saja aku bisa memutar waktu, aku tidak akan melepaskan kamu
Kanaya,’ batin Nando penuh sesal, namun penyesalan Nando kini sudah tidak ada
artinya, dia harus menerima konsekuensi atas apa yang sudah dia pilih.
Acara masih terus dilanjutkan, tapi karena Indira tengah
hamil muda, jadi dia tidak betah duduk terlalu lama, karena melihat kondisi
yang nampaknya sudah lelah, akhirnya keluarga Aditya memutuskan untuk
berpamitan lebih dulu.
Selama perjalanan Nando masih terus memikirkan bagaimana
mesranya Kanaya dan Tama tadi, secara tiidak sadar Nando mencengkram stir
kemudi dengan erat dan melaju dengan cukup cepat, hal itu dirasakan aneh oleh
Indira, dia cukup takut dengan Nando yang nampak mengebut.
“Nando, jangan terlalu ngebut,” tergur Indira yang duduk
disamping suaminya.
“Oh iya maaf …” Nando yang tersadar bahwa kini dia tidak
sendirian pun sedikit menurunkan kecepatannya.
“Pasti Nando lelah dan ingin cepat sampai, kalau begitu biar
Papah yang memegang kemudi,” tawar Aditya kepada menantunya, karena akan sangat
bahaya kalau menyetir dalam keadaan lelah.
“Enggak kok Pah, Nando masih bisa,” tolak Nando.
“Yakin kamu?” tanya Indira memastikan.
“Iyaa ..” jawab Nando yakin, dia pun kembali fokus ke
jalanan, namun bayang-bayang Kanaya kembali muncul dihadapannya, sampai lampu
rambu-rambu lalu lintas yang berubah merah Nando tidak tahu.
“Nando! Lampu merah!” seru Kanaya memperingati suaminya,
namun terlambat, dari arah samping ada truk yang melaju dengan cukup kencang
sampai akhirnya …
Brukkk !!!!! suara hantaman benda keras begitu nyaring
terdengar, mobil yang ditumpangi oleh Nando dan keluarga Aditya langsung
terguling beberapa kali. Melihat ada kecelekaan beberapa orang langsung mencoba
menghubungi polisi dan memanggil ambulance.
Bella masih sedikit membuka matanya, samar dia melihat kaki
Indira yang mengeluarkan darah, “In …diraaaa,” lirih Bella, setelah itu mata
Bella terpejam.
Tidak lama, polisi dan mobil beberapa mobil ambulance
datang, mereka langsung mengevakuasi korban dan juga memberikan pertolongan
pertama.
“Mereka sepertinya pasangan suami istri, dan sudah meninggal
ditempat,” ujar petugas ambulance.
“Baiklah, lalu bagaimana yang lain?”
“Lalu dua korban yang lain?”
“Mereka masih hidup tapi dalam keadaan kritis.”
“Baik, jadi dua selamat dan 3 meninggal ditempat.” Mereka
pun langsung membawa dua korban selamat sedangkan 3 korban yang sudah
dipastikan meningeal langsung dievakuasi untuk di autopsy.
Polisi juga mencari barang korban seperti data diri dan juga
ponsel, karena dari sana mereka bisa mendapatkan nomor telepon sanak keluarga
yang mungkin bisa dihubungi.
Sedangkan disisi lain, acara pernikahan Kanaya dan Tama juga
sudah selesai, namun Kanaya dan Tama akan stay di hotel lebih dulu, sedangkan
kedua orangtua Tama dan Kanaya akan pulang bersama dengan Felly juga. Saat
Keysha baru saja sampai dikediamannya, tiba-tiba ponselnya berdering dan itu
dari ibu Desi. Keysha pikir mungkin saja Bu Desi ingin mengucapkan selamat atas
pernikahan Kanaya.
“Hallo Bu …”
“Selamat malam Bu.”
“Malam, maaf ini dengan siapa?” Keysha nampak bingung kenapa
suara lelaki yang terdengar.
“Kami dari pihak kepolisian Bu, plat mobil dengan no pol
Bxxxx mengalami kecelakaan dan sekarang berada di rumah sakit sejahtera, kami
menemukan salah satu ponsel korban untuk menghubungi keluarga korban.”
Keysha langsung lemas setelah mendengar ucapan dari polisi,
Keysha tahu itu adalah nomor plat mobil Aditya, beruntung Marvel sigap dan
langsung menahan tubuh Keysha.
“Bagaimana kondisi mereka Pak?” tanya Keysha dengan suara
bergetar.
“3 korban tewas ditempat dan 2 korban dalam keadaan kritis.”
“Meninggal?” Keysha langsung histeris dibuatnya, dia tidak
mampu lagi bertahan dan akhirnya pingsan.
“Mah … bangun Mah …” Raka dan Marvel berusaha membangunkan
Keysha, Marv el pun segera menggendong Keysha dan membawa masuk kedalam,
sedangkan Raka mencoba berbicara dengan ponsel milik Keysha yang masih
terhubung dengan panggilan.
Raka sama terkejutnya dengan Keysha, setelah mendengar bahwa
keluarga Aditya mengalami kecelakaan dan menawaskan 3 orang, tapi mereka masih
belum tahu siapakah korban yang selamat dan siapakah korban yang meninggal.
Setelah Raka masuk kedalam rumah, dia menjelaskan kepada
Marvel tentang apa yang membuat Keysha pingsan, mendengar hal itu Marvel pun
ikut khawatir, dia mencoba menghubungi sahabat Keysha seperti Alena dan Zahra
untuk ikut mengecek ke rumah sakit karena Marvel nampaknya butuh waktu karena
Keysha pingsan, namuan Marvel mewanti-wanti agar tidak memberitahukan kepada
Kanaya dan juga Tama perihal ini.
Tentu saja, baik Alena, Zahra dan yang lain langsung
bersedia untuk mengecek ke rumah sakit dan melihat kondisi keluarga Aditya,
meskipun apa yang sudah Bella dan Indira lakukan pernah menyakiti keluarga
Keysha, namun sebagai manusia mereka masih punya rasa iba dan rasa belas kasih,
mereka juga tidak lagi memikirkan tentang permasalahan tersebut, yang mereka
pikirkan semoga saja dugaan polisi salah, semoga semua keluarga Aditya
baik-baik saja.