
Seorang wanita berjalan seraya menyeret kopernya keluar dari
stasiun, dia adalah Anyelir Maudy Baskoro, Anyelir mengenakan celana jeans
panjang dan dipadukan dengan kemeja berwarna putih, tidak lupa sepatu snikers
yang menghiasi kaki jenjangnya, penampilan yang cukup sederhana, namun dibalik
penampilannya tak ada yang tahu kalau Anyelir adalah cucu satu-satunya seorang
Malik Baskoro, pemilik perkebunan terbesar di desa.
Anyelir menatap sekeliling, matanya mencari seseorang, dan
datanglah seorang laki-laki yang ditengarai sopir dari utusan keluarga Devan, sopir
pun membukakan pintu untuk Anyelir, didalam mobil sopir tersebut menatap remeh
Anyelir yang berasal dari kampung.
“Apa tidak salah tuan besar menjodohkan tuan Devan dengan
gadis seperti ini?” batin sopir tersebut.
Selama Perjalanan Anyelir hanya diam, dia tahu supir yang
menjemputnya ini tengah memandang remeh dirinya, namun Anyelir tak mau ambil
pusing, dia memilih menatap kearah luar mobil, menatap pemandangan kota yang
selama 3 bulan ini akan dia tempati.
Setelah menempuh perjalanan hampir 2 jam, akhirnya Anyelir
pun tiba di salah satu rumah yang cukup megah, Anyelir tebak ini adalah
kediaman Devan, lelaki yang akan di jodohkan dengannya. Anyelir turun dari
mobil dan dari arah pintu ada dua orang wanita yang tengah menatapnya dengan tatapan sinis dan meremehkan.
“ Selamat sore,” sapa Anyelir dengan sopan.
“Kamu yang bernama Anyelir?” tanya wanita paruh baya itu
seraya menatap remeh kearah Anyelir.
“Benar bu,” jawab Anyelir seraya tersenyum.
Senyum wanita itu terbit, namun bukan senyum tulus yang dia
tunjukkan, namun senyum yang terkesan merendahkan Anyelir.
“Tante heran Olivia, kenapa papah menjodohkan Devan dengan
wanita seperti ini,” Farah berbicara dengan Olivia, gadis yang berdiri disampingnya.
“Lihat saja penampilannya,” mata Farah mengabsen penampilan
Anyelir dari atas sampai bawah, pandangan yang terkesan merehkan dan itu
membuat Anyelir jengkel.
“Maaf bu, kadatangan saya kemari atas permintaan kakek Ilham
sendiri, dan untuk masalah perjodohan itu semua juga ide dari kakek Ilham, jadi
kalau ibu mau protes silahkan ibu protes kepada kakek Ilham,” jawab Anyelir
dengan tenang.
Farah mulai tersulut emosi, namun tangan Olivia mengelus
pundak Farah seraya mengatakan, “tante sabar … kalau sampai tante emosi nanti
kakek Ilham marah,” lirih Olivia menasehati Farah.
Farah menuruti perkataan Olivia, dia pun mengatur nafasnya
dan memilih masuk kedalam rumah, kalau dia terus berada disana maka dia akan
sulit mengatur emosinya, Olivia pun mengajak Anyelir untuk masuk kedalam rumah.
Anyelir menatap sekeliling, ruang tamu yang nampak luas dilengkapi parabotan
yang modern.
“Oh iya dimana kamarku?” tanya Anyelir, pasalnya dia sudah
merasa lelah dan ingin beristirahat.
Olivia tersenyum devil, “ ayo ikut aku,” ajak Olivia. Dia
pun mengajak Anyelir kelantai dua, dan berhenti disalah satu pintu.
“Masuklah,” ucap Olivia, Anyelir pun masuk kedalam kamar dan
melihat sekeliling, kamar dengan cat dominan abu-abu.
“Beristirahatlah, pasti kamu lelah kan? Kalau begitu aku
keluar dulu,” Olivia pun keluar dari kamar tersebut, meninggalkan Anyelir
sendirian.
Olivia menatap pintu kamar tersebut, “bodoh, aku yakin kak
Devan akan sangat marah kalau melihat ada oorang lain dikamarnya, karena kak
Devan paling tidak suka kamarnya atapun barang-barangnya di sentuh oleh orang
lain,” batin Olivia seraya tersenyum smirk, dia pun segera pergi dari sana,
Anyelir baru saja membersihkan diri, dia ingin istirahat
dulu meregangkan ototnya yang kaku karena terlalu lama duduk selama perjalanan,
Anyelir merebahkan tubuhnya diatas ranjang, dia kembali teringat dengan
perdebatannya dengan kakek Malik yang meminta Anyelir untuk segera menikah,
dengan alasan umurnya yang sudah memasuki usia 23 tahun.
Flashback on
“Apa? Dijodohkan?” tanya Anyelir terkejut.
“Iya, kamu tenang saja Anyelir Devan ini cucu dari sahabat
kakek, dia anak yang baik, dan lagi pula ini adalah permintaan dari kakek Ilham
sendiri, sahabat baik kakek dari dulu, yang sampai sekarang hubungan kami masih
terjalin baik,” jelas Malik.
“Kek … tapi aku nggak mau, aku masih bisa mencari jodohku
sendiri,” tolak Anyelir halus.
“Kapan? Sampai usia kamu menginjak 23 tahun saja, kakek
tidak pernah melihat kamu membawa kekasih kerumah ini.”
Anyelir nampak bingung untuk menjawab, karena apa yang
kakeknya ucapkan memang benar, sudah 23 tahun tapi Anyelir nampak enggan
menjalin hubungan, bahkan ketika dia menempuh pendidikan di salah satu
Universitas di Jakarta dulu, Anyelir sangat mnjaga jarak dengan lelaki,
alasannya karena dia ingin fokus dengan pendidikannya, dan sekarang? Anyelir
pun masih betah sendirian.
“Dengarkan kakek Anyelir, teman-teman seusia kamu, sudah
memiliki tunangan, menikah, bahkan ada yang sudah memiliki anak, sedangkan kamu
kapan? Kakek ingin melihat cucu kakek satu-satunya ini menikah dengan lelaki
yang tepat, karena kamu hanya punya kakek, lalu kalau kakek pergi, siapa yang
akan menjaga kamu?” suara Malik kini mulai bergetar karena menahan isakannya,
raut wajah Malik pun mulai berubah sendu.
Anyelir nampak tak tega melihat wajah Malik yang mulai
sendu, apa yang Malik katakana memang benar, Anyelir hanya punya kakeknya
sekarang, karena kedua orangtuanya sudah meninggal dunia akibat kecelakaan.
“Kakek … jangan berbicara seperti itu,” ujar Anyelir Sendu.
“Maka dari itu, kakek mohon terimalah perjodohan ini,” ucap
Malik dengan penuh permohonan.
“Tapi Anyelir tidak mengenalnya Kek,” keluh Anyelir, dia
berharap kakeknya akan bisa mengerti dengan apa yang dipikirkan Anyelir, kalau
Anyelir saja tidak mengenal lelaki itu, lalu bagaimana cinta akan tumbuh?
“Untuk masalah itu mudah, kakek Ilham sudah berbicara dengan
kakek, dan dia bilang kalian diberi waktu selama 3 bulan untuk tinggal bersama
dan kamu juga harus menjadi sekretaris Devan, jika dalam waktu 3 bulan tidak
ada perasaan yang tumbuh antara kalian berdua, maka perjodohan ini dianggap
batal,” jelas Malik.
Anyelir nampak berpikir sejenak, “3 bulan? hanya 3 bulan
kan? Itu waktu yang cukup singkat, aku yakin tidak akan mungkin cinta tumbuh
dalam waktu sesingkat itu,” batin Anyelir.
“Baiklah kek, aku setuju,” jawab Anyelir.
Senyum Malik terbit, “benarkah?” tanya Malik memastikan,
Anyelir mengangguk sebagai jawaban.
“baiklah kalau begitu kakek akan menghubungi kakek Ilham,
dan mengatakan kalau kamu setuju dengan perjanjian 3 bulan itu,” setelah itu
Malik pun menghubungi Ilham untuk menyampaikan berita baik itu.
Anyelir menatap punggung kakeknya yang nampak mulai menjauh
itu, dalam hati kecilnya Anyelir bertanya apakah ini semua kaputusan yang
tepat? namun Anyelir juga tak tega melihat kakeknya yang nampak menaruh harapan
besar kepada Anyelir.
Flashback off