Keysha

Keysha
Season 2 (harmonis)



Tama dan Kanaya pun berbaring mengapit tubuh mungil Felly,


hal seperti ini memang jarang terjadi, karena Kanaya lah yang lebih sering


menemani Felly tidur, sedangkan Tama lebih sering berada di ruang kerjanya


menemani berkas-berkas kantor.


“Felly coba cerita ke Papah dan Mamah, apa saja kegiatan


Felly tadi disekolah?” Tama mulai mencari kira-kira apa ada yang mencurigakan


dari anaknya, dan Felly pun menceritakan dengan detail apa saja yang dia


lakukan disekolah, termasuk pembicaraannya dengan teman-temannya disekolah tadi


pagi.


“Apa yang Felly dan teman-teman Felly bicarakan sayang?”


kali ini Kanaya yang bertanya.


“Eeeemm mereka bicara soal adik Mah,” jawab Felly jujur,


Tama dan Kanaya saling menatap penuh tanya.


“Coba Felly ceritakan apa saja yang teman-teman Felly katakana


sayang …” pinta Tama, karena Felly tipikal anak penurut jadi Tama dan Kanaya


tidak terlalu sulit membujuk Felly. Putri mereka pun mulai bercerita panjang


lebar tentang pembicaraannya dengan teman-teman di sekolah. Dari yang Kanaya


dan Tama tangkap tentang cerita Felly, ternyata Felly termakan omongan


teman-temannya, dan hal ini tidak bisa terus dibiarkan.


“Felly sayang … dengarkan Papah ya Nak, Papah dan Mamah


ingin bicara dengan Felly,” ujar Tama dengan nada selembut mungkin.


“Iya Pah …” Felly nampak memperhatikan Tama dan Kanaya.


“Setelah Papah dengar dari cerita Felly tadi, Papah


menyimpulkan, kalau apa yang teman-teman katakana itu tidak tepat sayang  … mereka salah kalau menilai Mamah dan Papah


tidak akan menyayangi Felly lagi kalau Felly punya adik. Dan kata siapa Mamah


Kanaya tidak menyayangi Felly karena Mamah bukan ibu kandung Felly, apa Felly


nggak ingat waktu dulu Felly pernah hampir kecelakaan motor?” tanya Tama.


Felly pun mengangguk, dia ingat kejadan itu persis terjadi


di depan butik Keysha, saat itu Felly baru selesai membeli ice cream.


“Inget Pah … Mamah,” jawab Felly.


“Nah … dari sini Felly harusnya tidak meragukan kasih sayang


Mamah dong, Mamah malah mempertaruhkan keselamatannya demi menyelamatkan Felly


kan Nak?” tanya Tama masih dengan nada halus.


“Iya Pah … Felly harus nya nggak dengerin ucapan teman-teman


Felly yang menjelakkan Mamah, mereka nggak tahu kan kalau Mamah Felly sangat


sayang sama Felly, jadi harusnya Felly nggak usah takut kan Pah kalau nanti


Felly punya adik,” Felly langsung bisa menagkap apa yang dibicarakan oleh Tama.


“Iya sayang ….” Tama mengelus puncak kepalanya putrinya, ternyata


Felly sangat peka dengan apa yang dia bicarakan.


“Mamah … maafin Felly yaa?” dari sorot matanya Felly


terlihat sangat menyesal karena tadi siang dia bahkan sudah membuat Kanaya menangis


karena perkataannya.


“Mamah udah maafin Felly kok sayang … asalkan Felly juga


harus menjadikan ini pelajaran bagi Felly ya Nak, supaya kamu tidak mudah


percaya dengan ucapan oran lain,” Kanaya mengulas senyum tulus untuk putrinya.


“Iya Mah … Felly janji …” Felly langsung memeluk Kanaya


dengan erat, begitupun Kanaya memeluk putrinya seraya mengelus puncak kepala


Felly, sedangkan Tama mengecup kening istri dan putrinya dengan sayang. Bahagia


benar-benar selalu datang ke keluarga kecil Tama dan Kanaya, mereka sangat


bersyukur, karena setiap masalah apapun apalagi yang menyangkut Felly, baik Kanaya


maupun Tama selalu bertindak cepat.


Kanaya dan Tama menemani Felly hingga Felly benar-benar


tertidur pulas, dengan perlahan Kanaya turun dari ranjang dan meyelimuti tubuh


Felly, tidak lupa dia mencium kening putrinya denga penuh kasih sayang, lalu


menyusl Tama yang sudah lebih dulu ke kamar mereka.


“Bagaimana perasaan kamu sekarang sayang?” tanya Tama kepada


Kanaya.


“Aku sudah jauh lebih lega mas … tapi ….” Nampak raut waja


keraguan yang ingin Kanaya sampaikan.


“Tapia pa sayang??” tanya Tama penasaran.


“Aku jadi berpikir mas, apa sebaiknya kita tunda dulu untuk


memiliki momongan ? maksud ku supaya kita bisa fokus dulu kepada Felly, dan aku


juga ingin memberikan kasih sayang ku kepada Felly, aku yakin Felly belum


merasa puas denga kasih sayang yang aku berikan padanya sekarang ini mas,


karena Felly sangat ingin memiliki ibu dan sangat ingin mendapatkan sosok kasih


syang dari ibu.”


“Jadi aku ingin kita tunda dulu rencana kita menambah


momongan lagi, kita tunda sampai Felly berusia 8 tahun, aku yakin diusianya itu


Felly sudah sedikit lebih dewasa,” ujar Kanaya memberika ide.


“Kamu benar sayang … yaa apapun yang menurut kamu itu adalah


hal yang terbaik maka lakukan saja, aku akan mendukung kamu,” ucap Tama, dia


percaya kalau keputusan Kanaya sudah dipikirkan dengan matang tentunya.


“Makasih ya mas…” Kanaya memeluk suaminya, dia bahagia


karena setiap langkah yang Kanaya ambil mendapatkan support dari suaminta.


Mungkin ada beberapa orang yang berpikiran bahwa apa yang


Kanaya lakukan salah, karena menganggap Kanaya tidak mensyukri nikmat dari Yang


Maha Kuasa memiliki momongan, namun disini Kanaya hanya ingin memikirkan


perasaan Felly lebih dulu, saat ini Felly sedang menikmati masa-masanya


memiliki seorang ibu, dan merasakan rasanya kasih sayang dari ibunya, jadi


Kanaya memutuskan untuk fokus pada Felly, Karena setelah memiliki momongan


lagi, pastinya Kanaya tidak bisa 100% fokus pada Felly, dan Kanaya rasa ini


adalah keputusan yang terbaik bagi mereka, membiarkan Felly lebih dulu merasakan


menjadi anak tunggal.


Beberapa hari kemudian


Kanaya baru saja sampai di rumah sakit, seperti biasa dia


antar oleh suami tampannya, tampan? Iya Kanaya tidak lagi sungkan memuji


ketampanan suaminya sekarang. Saat Kanaya tengah melangkah menuju ruangannya,


dia bertemu dengan rekan sejawatnya.


“Leo!” seru Kanaya.


“Haii,” Leo melambaikan tangan, setelah Kanaya mendekat dia


memberikan paperbag berisi oleh-oleh.


“Wow … dari Amsterdam?” tanya Kanaya sembari tersenyum, Leo


adalah perwakilan yang berangkat ke Amsterdam untuk seminar.


“Iya dong…” jawab Leo dengan bangga, padahal itu adalah


candaan semata.


“Waah loe kok cepet banget baliknya?” tanya Kanaya.


“Kan total seminar sama PP cuman 4 hari Nay,” jawab Leo.


“Hah 4 hari?” tanya Kanaya memastikan.


“Iya, kenapa sih kok kaget, kan seminar cuman satu hari,”


“Oh iya-iya,” Kanaya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, “loe


kesana sama siapa aja?” Kanaya mencoba mencari tahu apakah ada Nando juga.


“Ada Dokter Andrew, terus Dokter Lisa dan Dokter Nando,”


jawab Leo menyebutkan semua Dokter yang menjadi perwakilan tanpa terlewat


sedikitpun.


“Kalian semua pulang bareng dihari yang sama?” tanya Kanaya,


dia mencoba mencari informasi lebih detail.


“Eeem kayaknya ada satu yang enggak, yaitu Dokter Nando,


katanya dia mau liburan disana sama istrinya,” jawab Leo seraya tertawa, dia


bahkan memuji bagaimana Nando mempersipkan semuanya seolah mereka tengah


berbulan madu.


“Loe lihat istrinya?” tanya Kanaya memastikan, dia yakin ada


yang janggal.


“Enggak, gue nggak pernah lihat,” jawab Leo, dia melihat jam


yang melingkar di tangannya dan segera berpamitan karena sudah ada janji dengan


seseorang.


Kanaya melanjutkan langkahnya menuju ruangannya, dia kembali


memikirkan perkataan Leo yang berkata bahwa Nando berlibur di Amsterdam bersama


istrinya, ditambah Nando seolah memepersiapkan hal romantic untuk istrinya,


seolah mereka tengah berbulan madu.


“Jelas-jelas Indira nggak ikut kesana? Jangan- jangan Nando


berbohong kepada Indira, dia bilang akan di Amsterdam selama 7 hari? Tapi Leo


dan yang lain malah udah pada pulang,” Kanaya yakin kalau ada hal yang Nando


sembunyikan dari Indira.


“Kalau sampai kamu berkhianat dari Indira, berarti kamu


adalah pria yang tidak bisa dipegang janjinya Nando, kamu adalah pria yang


mudah mengobral janji,” batin Kanaya.


Jika sampai dugaan Kanaya benar, bahwa Nando berkhianat dari


Indira, Kanaya benar-benar tidak habis pikir dengan Nando. Padahal perjalanan


cinta Nando dan Indira saja sudah sangat berat, mereka harus dibenci oleh


orang-orang terdekat mereka, bahkan sampai bersitegang, kini giliran mereka


semua sudah mulai memaafkan apa yang sudah terjadi di masa lalu, Nando malah


mendua kembali?


^^^


Tepat sekali, jam makan siang ini Kanaya dan teman-temannya


memilih untuk makan siang di restaurant Indira.


“Masih bobo sendiri Ra?” tanya Anita meledek.


“Iya … Nando kan pulang masih 2 hari lagi,” jawab Indira.


“Pasti sepi ya Ra…” Kanaya ikut menimpali untuk meledek


Indira.


Indira tersenyum malu, “iya … gue kangen banget sama Nando,


kangen manjanya dan kangen romantisnya …” Indira tersenyum mengingat hal indah


yang Nando berikan padanya.


“Nando udah banyak berubah kayaknya,” tebak Anggel, itu


adalah kesimpulan yang sering Anggel dengar dari cerita Indira.


“Iya .. Nando emang banyak berubah sekarang ini, gue bahkan


kadang masih nggak nyangka dengan perubahan sikap Nando, apalagi orangtuanya,”


ujar Indira membuat semua teman-temannya saling menatap bingung.


“Kenapa orangtuanya?” tanya Kanaya penasaran.


“Mereka sudah bersikap lebih baik ke gue Nay, tau nggak? Gue


tuh ngerasa bahagia dan lega banget sekarang, karena udah bisa memperbaiki


hubungan gue dan kedua orangtua Nando yang sempat renggang. Mereka udah mau nerima


gue dan bahkan mereka udah ngenggep gue sebagai putri mereka, gue sampe susah


mengekspresikan rasa bahagia gue ini …” sangat terlihat dalam raut wajah


Indira, kalau dia begitu bahagia sudah bisa diterima oleh orantua Nando, namun


hal itu malah memancing kecurigaan Kanaya.


“Kita ikut seneng, akhirnya hubungan kekeluargaan kamu bisa


bak-baik aja Ra, semoga aja hubungann pernikahan kamu sama Nando langgeng yaa ?”


harap Anita.


“Ammiiin makasih yaaa… ”


“Kasihan Indira, dari sorot matanya sangat terlihat kalau


Indira begitu bahagia dengan perubahan sikap Nando dan orantuanya, namun hal


ini malah membuat aku curiga, jangan-jangan Nando dan kedua orangtua Nando


melakukan ini untuk menutupi suatu rahasia besar,” batin Kanaya.


‘Bukankah, kalau laki-laki berlaku manis malah dia tengah


menutupi kesalahannya?’ batin Kanaya lagi. jam makan siang hampir selesai,


Kanaya, Anita dan ANggel pun berpamitan pada Indira untuk kembali ke tempat


kerja mereka masing-masing.


“Loe ngerasa aneh nggak sama Nando dan orangtuanya?” tanya Anita


tiba-tiba saat mereka melangkah menuju tempat parkir.


“Gua kirain cuman gue yang berpikir gini,” timpal Anita.


“Nay… kok loe diem aja,” Anggel menyenggol lengan Kanaya.


“Kita bicara didalam mobil aja,” pinta Kanaya, karena dia


takut nanti ada orang yang mencuri dengar pembicaraan mereka. Memang Kanaya dan


ketiga temannya datang dengan satu mobil, karena mereka masih satu arah, mereka


mnggunakan mobil Anita.


“Jadi gimana Nay?” tanya Anggel penasaran.


“Tadi pagi gue ketemu temen gue yang juga ikut seminar ke


Amsterdam, dia bilang PP cuman 4 hari, terus kenapa Nando bilang disana 7 hari?


Anehnya lagi gue coba tanya dong sama temen gue, apa semua Dokter langsung


balik? Jawabannya enggak, karena Nando mau liburan dulu sama istrinya,


sedangkan Indira aja disini kan?” Kanaya menjelaskan secera detail tentang


pertemuannya dengan Leo tadi pagi, bahkan mereka sangat terkejut ketika Kanaya


menjelaskan bahwa Nando seolah mempersiapakan hal romantic.”


“Apa??” Anggel dan Anita begitu terkejut. Mereka benar-benar


nggak nyangkan dengan apa yang tengah terjadi dalam rumah tangga Indira, Anggel


dan Anita sangat yakin kalau memang ada yang disembunyikan oleh keluarga Nando.


Tapi baik Kanaya maupun teman-temannya tidak ada yang berani menceritakan


kepada Indira, karena mereka tkut nantinya Indira tidak percaya dan malah membuat


hubungan pertemanan mereka kembali rusak.


“Kalau sampai bener Nando punya simpanan? Gue orag pertama


yang bakal pukul dia,” ujar Anita kesal.


“Tapi kasihan Indira,” ANggela tidak tega membayangkan


bagaimana nantinya kalau Indira tahu kelakuan suaminya di luar rumah.


“Ya udah lah yaa … kita liat dulu gimana orangtua Nando,


kita juga bisa coba mulai sekarang buat cari bukti, supaya Indira ngak terus


menerus menjadi korban dari keluarga suaminya yang berasal dari keluarga


terpandang.