
Nando sudah bersiap, dia mencium kening Indira sebelum
memasuki taksi yang akan mengantarnya ke Bandara, sebenarnya Indira ingin
mengantar, namun Nando menolak dengan alasan supaya Indira langsung ke
restaurant karena Indira memang tengah sibuk-sibuknya.
“Andai saja kamu tidak sedang melanjutkan bisnis sayang,
mungkin aku akan mengajak kamu kesana,” ucap Nando basa-basi, padahal dalam
hatinya dia malah senang Indira sekarang sibuk.
“Maaf yaa aku nggak bisa nemenin kamu, karena aku juga
sedang mendalami bisnis ini,” ucap Indira merasa bersalah.
“Nggak apa-apa kok sayang, aku mengerti, kamu sedang banyak
belajar sekarang ini …dan sekarang kita sama-sama berjuang ya untuk masa depan
kita,” Nando benar-benar berkata manis, membuat Indira tentunya tidak akan menyangka,
kalau lelaki dihadapannya yang tidak lain suaminya sendiri sudah tega
mengkhianatinya.
“Ya sudah, sekarang kamu berangkat, nanti ketinggalan
pesawat lagi,” ujar Indira mengingatkan.
“Nggak apa-apa, jadi aku nggak jauh-jauh dari kamu,” lain di
mulut lain di hati, ucapan Nando ingin bersama Indira, tapi dalam hatinya dia
ingin segara bertemu dengan istri barunya.
Indira tertawa mendengar gombalan Nando, “jangan
aneh-aneh, udah sanah berangkat,” Indira
mengecup pipi kanan Nando, dan meminta Nando masuk kedalam taksi. Dia
melambaikan tangannya saat taksi mulai menjauh dari pekarangan rumah, dalam
hati Indira berdoa semoga perjalanan suaminya dimudahkan dan diberi kelancaran,
supaya Nando bisa pulang kembali ke rumah dengan selamat.
Nando sudah menyiasati semuanya, Nando tidak duduk dalam
satu kursi bersama Amanda, karena Nando tidak pergi sendirian ke Amsterdam,
melainkan ada rekan tenaga medis lainnya. Hari-hari Nando tidak akan sepi
rasanya, karena dia ditemani dengan istri keduanya yang dinikahi secara siri.
Disisi lain, ketika Indira malah tengah menjalani rumah
tangga yang penuh kepalsuan, hal berbeda malah dirasakan berbeda oleh Kanaya,
dia malah tengah merasakan bahagianya menjadi seroang istrinya yang dicintai
dengan tulus oleh suaminya dan juga putrinya. Kanaya menjalani biduk rumah
tangga menjadi seorang istri dan ibu sekeligus, meski dirumah semua keperluan
sudah disiapkan oleh oleh Tama, namun Kanaya ingin tetap bisa mengurus suami dan anaknya, apalagi Felly. Selama ini
Felly belum pernah tahu rasanya sekolah dibangunkan oleh Ibu, dimasakkan oleh
Ibu, namun kini semuanya terbayarkan setelah kehadiran Kanaya.
Kanaya bagaikan warna bagi Tama dan Felly, Kanaya datang
memberikan cinta dan harapan untuk mereka yang hampa, yang seolah pasrah dengan
hidup, namun setelah kehadiran Kanaya, semuanya berubah, semua terasa jauh
lebih baik dan hidup terasa lebih berarti.
“Mas hari ini aku libur jadi siang nanti biar aku yang
jemput Fell,” ucap Kanaya kepada Tama suaminya.
“Benarkah? Kamu yakin sayang? mungkin kamu ingin menikmati
hari libur kamu bersama teman-teman,” ujar Tama, bagaimanapun Tama ingin Kanaya
tetap masih bisa bergaul dengan teman-temannya.
Kanaya tersenyum, “iya maka dari itu aku juga mau izin, aku
mau ajak Felly ketemu sama temen-temen, bolehkan?” tanya Kanaya.
“Boleh dong sayang, bentar yaa …” Tama mengeluarkan
ponselnya, “udah masuk?” rupanya Tama mentransfer sejumlah uang ke rekening
istrinya.
Kanaya terkejut dengan nominal yang Tama berikan, “50 juta?
Buat apa?” tanya Kanaya, pasalnya baru kemarin Tama memberikan uang belanja
untuk nya, dan sekarang malah 50 juta.
“Uang jajan, kenapa kurang?” tanya Tama, dia malah ingin
mengambil ponselnya lagi, dan langsung ditahan oleh Kanaya.
“Nggak-nggak ini sudah lebih dari cukup,” ucap Kanaya, “uang
jajan tapi kenapa banyak banget?” tanya Kanaya heran.
“Karena kamu dibesarkan dengan baik oleh orangtua kamu
sayang, dan aku nggak mau kalau setelah kamu menikah dengan aku malah kamu
kehidupan kamu jadi jauh berbeda dengan dulu, aku mau membuat kamu lebih
bahagia, karena itu adalah tugas ku sebagai suami kamu,” Tama mengelus pipi
Kanaya dengan sayang. Ini yang membuat Kanaya bangga dengan Tama, lelaki yang
selalu berusaha membuatnya bahagia.
“Bersama kamu, disamping kamu adalah kebahagian ku, apalagi
dengan adanya putri kecil kita,” mereka menatap Felly yang tegah asik menyantap
rotinya.Selesai sarapan Tama dan Felly berpamitan kepada Kanaya , Tama kan
pergi ke kantor sedangkan Felly ke sekolah.
Kanaya menatap mobil yang mulai menjauh, dia bersyukur karena
Yang Maha Kuasa memberikannya jodoh yang terbaik, meskipu Kanaya pernah
merasakan apa itu kecewa dan pengkhianatan, namun kini dia sudah menuai
hasilnya. Kanaya menjadi pribadi yang jauh lebih kuat, dan dia belajar
bagaimana memaafkan dengan mengikhlaskan. Kini Kanaya merasakan semuanya,
setela dia melepas amarahnya, dia melupakan semua yang sudah terjadi antara
dirinya Nando dan Indira, dan mengikhlaskan semuanya, hati Kanaya menjadi jauh
lebih baik, dia merasa perasaannya jauh lebih lega dibanding ketika Kanaya
masih menyimpan rasa sakit hatinya.
Dalam benak Kanaya, dia sudah memikirkan kalau suatu saat
dia ingin menjadi ibu rumah tangga, dia ingin fokus pada anak-anaknya kelak,
iya tentu saja meskipun Kanaya sudah memiliki anak yaitu Felly, namun tidak
bisa Kanaya pungkiri kalau dia juga ingin memiliki keturunan yang lahir dari
harimnya sebagai pelengkap keluarga mereka, dan Kanaya sudah berjanji dalam
hatinya bahwa suatu saat ketika dia sudah dipercaya oleh Yang Maha Kuasa, maka
Kanaya akan fokus menjadi ibu rumah tangga, dan meninggakan karirnya.
Bagaimanapun Kanaya tidka mau suami dan anak-anaknya
merasakan kekurangan perhatian dan kasih sayang dari Kanaya sebagai seorang
istri dan ibu, Kanaya ingin memberikan cinta dan perhatian yang lebih untuk keluarganya.
^^^
Sebelum berangkat ke restaurant Indira menyempatkan diri
untuk mampir ke apartement mertuanya, dia ingin memperbaiki hubungannya dengan
kedua mertuanya, karena biar bagaimanapun juga kini Indira sudah tidak lagi
memiliki orangtua, dan hanya ada kedua orangtua Nando. Pagi-pagi sekali, Indira
sengaja memasak makanan kesukaan kedua mertuanya, berharap mereka akan suka
dengan makanan Indira dan bisa membuat mereka menyayangi Indira dan menerima
sendiri.
Terkadang Indiria merasa iri ketika melihat menantu dan
mertua begitu akrab, Indira juga ingin merasakan rasanya disayang, Indira juga
ingin merasakan bagaimana rasanya diperhatikan oleh ibu mertua, karena selama
ini baik ipu maupun ayah Nando selalu saja bersikap acuh pada Indira.
Indira menekan bel apartement, dia berharap kedatangannya
dipagi hai tidak akan berakhir dengan diusir.
“I … Indira??” Lailla nampak terkejut dengan kedatangan
menantunya yang pertama.
“Mah …” Indira mencium tangan Lailla, kemudian Lailla pun
mengajak Indira untuk masuk.
“Waah pagi-pagi sudah anak perempuan Papah sudah datang,”
Harlan menyambut menantunya dengan ramah, bahkan mengatakan Indira adalah anak perempuannya, membuat hati Indira
begitu berdesir, dia seolah tidak percaya kalau orangtua Nando bisa berkata
demikian. Padahal pertemuan mereka terkahir kali sempat terjadi perdebatan.
“Iya dong Pah … pake repot-repot bawa makanan juga loh …”
Lailla juga menunjukkan keramahannya.
“Nggak repot kok Mah, Pah … semoga Mamah dan Papah suka ya?
aku sengaja masak makanan kesukaan Mamah dan Papah,” ucap Indira.
“Oh pasti kami suka Nak, bau masakannya juga harum,” Lailla
mencium masakan Indira, membuat Indira tersipu malu.
Lailla dan Harlan pun mengajak Indira untuk duduk.
“Mah, Pah … sebelumnya Indira minta maaf ya? karena hubungan
kita selama ini kurang berjalan dengan baik, tapi Indira akan berusaha menjadi
menantu yang Mamah dan Papah harapkan,” ujar Indira dengan yakin.
Lailla mendekat kearah Indira, dan menggenggam tangannya,
“Mamah dan Papah yang seharusnya minta maaf Nak, karena kami sudah terlalu
jahat pada kamu, bahkan kami tidak pernah menganggap kamu dan memperlakukan
kamu sebagai menantu kami, Mamah dan Papah sangat menyesal Nak, maafkan kami
ya?” Lailla menunjukkan wajah sendunya.
“Aku sudah melupakan semua itu kok Mah, dan aku berharap
Mamah dan Papah mau membuka lembaran baru dan kita memulai semuanya dari awal,”
harap Indira.
“Tentu Nak, kami pun ingin memperbaiki hubungan kita, Papah
ingin kita bisa semakin dekat satu sama lain, karena bagi kami, kamu adalah
putri kami,” timpal Harlan.
Hari ini Indira begitu bahagia, dia sudah melihat suaminya
yang sudah berubah jauh lebih baik, dan mertuanya yang sudah mau memberikan
restu dan menerima Indira sebagai menantu mereka, bahkan menganggapa Indira
seperti anaknya sendiri. Karena waktu
sudah menunjukkan pukul 08-15 pagi, akhirnya Indira pun berpamitan.
Setelah Indira pergi,
Lailla membawa rantang milik Indira masuk ke dapur, dan melihat isinya, namun
bukannya memindahkan dalam piring, Lailla malah membuang masakan Indira dalam
tempat sampah. Rupanya kata-kata manis yang mereka keluarkan tadi hanyalah
bohong belaka, mereka tidak benar-benar menerima Indira, dan lebih tepatnya
mereka bersandiwara.
Itu semua mereka lakukan demi terjaganya rahasia pernikahan
Nando dan juga Amanda, mereka ingin pernikahan siri putra mereka dengan Amanda
aman dan tidak diketahui oleh Indira,
karena kalau sampai Indira tahu, mereka yakin Indira benar-benar akan
melaporkan Nando ke penjara, dan tentu saja sebagai orangtua mereka tidak mau
hal itu terjadi.
“Bagaimana?” Harlan menyusul Lailla ke dapur.
“Sudah aku buang,” jawab Lailla seraya menunjuk kearah
tempat sampah dengan ekor matanya.
“Ya memang disana kan tempatnya?” ucap Harlan dengan senyum
meremehkan, “dari pada memakan masakannya, sebaiknya kita makan masakan Amanda
saja,” ucap Harlan lagi, dan disetujui oleh Lailla. Ternyata sebelum Amanda
pergi ke Bandara, dia membuatkan makanan untuk kedua mertuanya, dari Nando,
Amanda jadi tahu apa makanan kesukaan Lailla dan Harlan.
“Gawat kalau Indira datang dengan cara seperti ini,” ujar
Harlan.
“Kamu benar Pah, kalau Indira datang tanpa memberikan kabar,
aku takut kalau suatu waktu Nando sedang
bersama dengan Amanda disini, dan akhirnya rahasia kita semua terbongkar,” ucap
Lailla was-was.
“Kita harus melakukan sesuatu,” ucap Harlan.
“Apa itu?” tanya Lailla penasaran.
“Kita kirim mata-mata ke rumah Indira, jadikan dia pekerja
di rumah Indira supaya kita tahu apa yang akan Indira lakukan selanjutnya,”
ujar Harlan memebrikan ide.
“Kamu benar mas … nanti kita bicarakan dengan putra kita
setelah mereka pulang berbulan madu ya??”
“Iya Mah …” kerjasama yang sangat menyakitkan, Indira
dibohongi dan dikhianati oleh orang-orang terdekatnya, seolah ini semua seperti
karma yang harus Indira dapatkan.
Hati Indira begitu bahagia hari ini, dia merasa duanianya
seakan sempurna, dia memiliki suami yang mencintainya dengan tulus dan juga
ayah dan ibu mertua yang begitu menyayanginya sekarang, namun tanpa Indira
ketahui, sebenarnya kehancuran rumah tangganya sudah ada didepan mata, hanya
saja Indira belum bisa melihatnya, Indira belum bisa merasakannya dan mungkin
belum waktunya semua terbongkar.
Disaat Indira tengah bekerja dengan sibuk-sibuknya, dan
dipusingkan dengan beberapa hal yang baru, Nando malah tengah asyik dengan
pikirannya sendiri, dia tengah merancang hal indah yang akan dia berikan untuk
Amanda saat mereka berbulan madu nanti, dia tengah merancang akan pergi kemana
dia dan Amanda nanti untuk menghabiskan waktu berdua mereka. Nando seolah
dibutakan dengan cintanya, kerja keras Indira untuk rumah tangga mereka tidak
sdikitpun mengetuk hati Nando untuk memikirkan sedikit saja perasaan Indira,
jikalau Indira tahu apa yang sudah Nando lakukan dibelakang Indira, Nando sudah
buta, buta akan cinta dan nafsunya sendiri.