Keysha

Keysha
Season 2 (bermuka dua)



Nando sudah bersiap, dia mencium kening Indira sebelum


memasuki taksi yang akan mengantarnya ke Bandara, sebenarnya Indira ingin


mengantar, namun Nando menolak dengan alasan supaya Indira langsung ke


restaurant karena Indira memang tengah sibuk-sibuknya.


“Andai saja kamu tidak sedang melanjutkan bisnis sayang,


mungkin aku akan mengajak kamu kesana,” ucap Nando basa-basi, padahal dalam


hatinya dia malah senang Indira sekarang sibuk.


“Maaf yaa aku nggak bisa nemenin kamu, karena aku juga


sedang mendalami bisnis ini,” ucap Indira merasa bersalah.


“Nggak apa-apa kok sayang, aku mengerti, kamu sedang banyak


belajar sekarang ini …dan sekarang kita sama-sama berjuang ya untuk masa depan


kita,” Nando benar-benar berkata manis, membuat Indira tentunya tidak akan menyangka,


kalau lelaki dihadapannya yang tidak lain suaminya sendiri sudah tega


mengkhianatinya.


“Ya sudah, sekarang kamu berangkat, nanti ketinggalan


pesawat lagi,” ujar Indira mengingatkan.


“Nggak apa-apa, jadi aku nggak jauh-jauh dari kamu,” lain di


mulut lain di hati, ucapan Nando ingin bersama Indira, tapi dalam hatinya dia


ingin segara bertemu dengan istri barunya.


Indira tertawa mendengar gombalan Nando, “jangan


aneh-aneh,  udah sanah berangkat,” Indira


mengecup pipi kanan Nando, dan meminta Nando masuk kedalam taksi. Dia


melambaikan tangannya saat taksi mulai menjauh dari pekarangan rumah, dalam


hati Indira berdoa semoga perjalanan suaminya dimudahkan dan diberi kelancaran,


supaya Nando bisa pulang kembali ke rumah dengan selamat.


Nando sudah menyiasati semuanya, Nando tidak duduk dalam


satu kursi bersama Amanda, karena Nando tidak pergi sendirian ke Amsterdam,


melainkan ada rekan tenaga medis lainnya. Hari-hari Nando tidak akan sepi


rasanya, karena dia ditemani dengan istri keduanya yang dinikahi secara siri.


Disisi lain, ketika Indira malah tengah menjalani rumah


tangga yang penuh kepalsuan, hal berbeda malah dirasakan berbeda oleh Kanaya,


dia malah tengah merasakan bahagianya menjadi seroang istrinya yang dicintai


dengan tulus oleh suaminya dan juga putrinya. Kanaya menjalani biduk rumah


tangga menjadi seorang istri dan ibu sekeligus, meski dirumah semua keperluan


sudah disiapkan oleh oleh Tama, namun Kanaya ingin tetap bisa mengurus  suami dan anaknya, apalagi Felly. Selama ini


Felly belum pernah tahu rasanya sekolah dibangunkan oleh Ibu, dimasakkan oleh


Ibu, namun kini semuanya terbayarkan setelah kehadiran Kanaya.


Kanaya bagaikan warna bagi Tama dan Felly, Kanaya datang


memberikan cinta dan harapan untuk mereka yang hampa, yang seolah pasrah dengan


hidup, namun setelah kehadiran Kanaya, semuanya berubah, semua terasa jauh


lebih baik dan hidup terasa lebih berarti.


“Mas hari ini aku libur jadi siang nanti biar aku yang


jemput Fell,” ucap Kanaya kepada Tama suaminya.


“Benarkah? Kamu yakin sayang? mungkin kamu ingin menikmati


hari libur kamu bersama teman-teman,” ujar Tama, bagaimanapun Tama ingin Kanaya


tetap masih bisa bergaul dengan teman-temannya.


Kanaya tersenyum, “iya maka dari itu aku juga mau izin, aku


mau ajak Felly ketemu sama temen-temen, bolehkan?” tanya Kanaya.


“Boleh dong sayang, bentar yaa …” Tama mengeluarkan


ponselnya, “udah masuk?” rupanya Tama mentransfer sejumlah uang ke rekening


istrinya.


Kanaya terkejut dengan nominal yang Tama berikan, “50 juta?


Buat apa?” tanya Kanaya, pasalnya baru kemarin Tama memberikan uang belanja


untuk nya, dan sekarang malah 50 juta.


“Uang jajan, kenapa kurang?” tanya Tama, dia malah ingin


mengambil ponselnya lagi, dan langsung ditahan oleh Kanaya.


“Nggak-nggak ini sudah lebih dari cukup,” ucap Kanaya, “uang


jajan tapi kenapa banyak banget?” tanya Kanaya heran.


“Karena kamu dibesarkan dengan baik oleh orangtua kamu


sayang, dan aku nggak mau kalau setelah kamu menikah dengan aku malah kamu


kehidupan kamu jadi jauh berbeda dengan dulu, aku mau membuat kamu lebih


bahagia, karena itu adalah tugas ku sebagai suami kamu,” Tama mengelus pipi


Kanaya dengan sayang. Ini yang membuat Kanaya bangga dengan Tama, lelaki yang


selalu berusaha membuatnya bahagia.


“Bersama kamu, disamping kamu adalah kebahagian ku, apalagi


dengan adanya putri kecil kita,” mereka menatap Felly yang tegah asik menyantap


rotinya.Selesai sarapan Tama dan Felly berpamitan kepada Kanaya , Tama kan


pergi ke kantor sedangkan Felly ke sekolah.


Kanaya menatap mobil yang mulai menjauh, dia bersyukur karena


Yang Maha Kuasa memberikannya jodoh yang terbaik, meskipu Kanaya pernah


merasakan apa itu kecewa dan pengkhianatan, namun kini dia sudah menuai


hasilnya. Kanaya menjadi pribadi yang jauh lebih kuat, dan dia belajar


bagaimana memaafkan dengan mengikhlaskan. Kini Kanaya merasakan semuanya,


setela dia melepas amarahnya, dia melupakan semua yang sudah terjadi antara


dirinya Nando dan Indira, dan mengikhlaskan semuanya, hati Kanaya menjadi jauh


lebih baik, dia merasa perasaannya jauh lebih lega dibanding ketika Kanaya


masih menyimpan rasa sakit hatinya.


Dalam benak Kanaya, dia sudah memikirkan kalau suatu saat


dia ingin menjadi ibu rumah tangga, dia ingin fokus pada anak-anaknya kelak,


iya tentu saja meskipun Kanaya sudah memiliki anak yaitu Felly, namun tidak


bisa Kanaya pungkiri kalau dia juga ingin memiliki keturunan yang lahir dari


harimnya sebagai pelengkap keluarga mereka, dan Kanaya sudah berjanji dalam


hatinya bahwa suatu saat ketika dia sudah dipercaya oleh Yang Maha Kuasa, maka


Kanaya akan fokus menjadi ibu rumah tangga, dan meninggakan karirnya.


Bagaimanapun Kanaya tidka mau suami dan anak-anaknya


merasakan kekurangan perhatian dan kasih sayang dari Kanaya sebagai seorang


istri dan ibu, Kanaya ingin memberikan cinta dan perhatian yang lebih untuk keluarganya.


^^^


Sebelum berangkat ke restaurant Indira menyempatkan diri


untuk mampir ke apartement mertuanya, dia ingin memperbaiki hubungannya dengan


kedua mertuanya, karena biar bagaimanapun juga kini Indira sudah tidak lagi


memiliki orangtua, dan hanya ada kedua orangtua Nando. Pagi-pagi sekali, Indira


sengaja memasak makanan kesukaan kedua mertuanya, berharap mereka akan suka


dengan makanan Indira dan bisa membuat mereka menyayangi Indira dan menerima


sendiri.


Terkadang Indiria merasa iri ketika melihat menantu dan


mertua begitu akrab, Indira juga ingin merasakan rasanya disayang, Indira juga


ingin merasakan bagaimana rasanya diperhatikan oleh ibu mertua, karena selama


ini baik ipu maupun ayah Nando selalu saja bersikap acuh pada Indira.


Indira menekan bel apartement, dia berharap kedatangannya


dipagi hai tidak akan berakhir dengan diusir.


“I … Indira??” Lailla nampak terkejut dengan kedatangan


menantunya yang pertama.


“Mah …” Indira mencium tangan Lailla, kemudian Lailla pun


mengajak Indira untuk masuk.


“Waah pagi-pagi sudah anak perempuan Papah sudah datang,”


Harlan menyambut menantunya dengan ramah,  bahkan mengatakan Indira adalah anak perempuannya, membuat hati Indira


begitu berdesir, dia seolah tidak percaya kalau orangtua Nando bisa berkata


demikian. Padahal pertemuan mereka terkahir kali sempat terjadi perdebatan.


“Iya dong Pah … pake repot-repot bawa makanan juga loh …”


Lailla juga menunjukkan keramahannya.


“Nggak repot kok Mah, Pah … semoga Mamah dan Papah suka ya?


aku sengaja masak makanan kesukaan Mamah dan Papah,” ucap Indira.


“Oh pasti kami suka Nak, bau masakannya juga harum,” Lailla


mencium masakan Indira, membuat Indira tersipu malu.


Lailla dan Harlan pun mengajak Indira untuk duduk.


“Mah, Pah … sebelumnya Indira minta maaf ya? karena hubungan


kita selama ini kurang berjalan dengan baik, tapi Indira akan berusaha menjadi


menantu yang Mamah dan Papah harapkan,” ujar Indira dengan yakin.


Lailla mendekat kearah Indira, dan menggenggam tangannya,


“Mamah dan Papah yang seharusnya minta maaf Nak, karena kami sudah terlalu


jahat pada kamu, bahkan kami tidak pernah menganggap kamu dan memperlakukan


kamu sebagai menantu kami, Mamah dan Papah sangat menyesal Nak, maafkan kami


ya?”  Lailla menunjukkan wajah sendunya.


“Aku sudah melupakan semua itu kok Mah, dan aku berharap


Mamah dan Papah mau membuka lembaran baru dan kita memulai semuanya dari awal,”


harap Indira.


“Tentu Nak, kami pun ingin memperbaiki hubungan kita, Papah


ingin kita bisa semakin dekat satu sama lain, karena bagi kami, kamu adalah


putri kami,” timpal Harlan.


Hari ini Indira begitu bahagia, dia sudah melihat suaminya


yang sudah berubah jauh lebih baik, dan mertuanya yang sudah mau memberikan


restu dan menerima Indira sebagai menantu mereka, bahkan menganggapa Indira


seperti anaknya sendiri.  Karena waktu


sudah menunjukkan pukul 08-15 pagi, akhirnya Indira pun berpamitan.


 Setelah Indira pergi,


Lailla membawa rantang milik Indira masuk ke dapur, dan melihat isinya, namun


bukannya memindahkan dalam piring, Lailla malah membuang masakan Indira dalam


tempat sampah. Rupanya kata-kata manis yang mereka keluarkan tadi hanyalah


bohong belaka, mereka tidak benar-benar menerima Indira, dan lebih tepatnya


mereka bersandiwara.


Itu semua mereka lakukan demi terjaganya rahasia pernikahan


Nando dan juga Amanda, mereka ingin pernikahan siri putra mereka dengan Amanda


aman  dan tidak diketahui oleh Indira,


karena kalau sampai Indira tahu, mereka yakin Indira benar-benar akan


melaporkan Nando ke penjara, dan tentu saja sebagai orangtua mereka tidak mau


hal itu terjadi.


“Bagaimana?” Harlan menyusul Lailla ke dapur.


“Sudah aku buang,” jawab Lailla seraya menunjuk kearah


tempat sampah dengan ekor matanya.


“Ya memang disana kan tempatnya?” ucap Harlan dengan senyum


meremehkan, “dari pada memakan masakannya, sebaiknya kita makan masakan Amanda


saja,” ucap Harlan lagi, dan disetujui oleh Lailla. Ternyata sebelum Amanda


pergi ke Bandara, dia membuatkan makanan untuk kedua mertuanya, dari Nando,


Amanda jadi tahu apa makanan kesukaan Lailla dan Harlan.


“Gawat kalau Indira datang dengan cara seperti ini,” ujar


Harlan.


“Kamu benar Pah, kalau Indira datang tanpa memberikan kabar,


aku takut kalau suatu waktu  Nando sedang


bersama dengan Amanda disini, dan akhirnya rahasia kita semua terbongkar,” ucap


Lailla was-was.


“Kita harus melakukan sesuatu,” ucap Harlan.


“Apa itu?” tanya Lailla penasaran.


“Kita kirim mata-mata ke rumah Indira, jadikan dia pekerja


di rumah Indira supaya kita tahu apa yang akan Indira lakukan selanjutnya,”


ujar Harlan memebrikan ide.


“Kamu benar mas … nanti kita bicarakan dengan putra kita


setelah mereka pulang berbulan madu ya??”


“Iya Mah …” kerjasama yang sangat menyakitkan, Indira


dibohongi dan dikhianati oleh orang-orang terdekatnya, seolah ini semua seperti


karma yang harus Indira dapatkan.


Hati Indira begitu bahagia hari ini, dia merasa duanianya


seakan sempurna, dia memiliki suami yang mencintainya dengan tulus dan juga


ayah dan ibu mertua yang begitu menyayanginya sekarang, namun tanpa Indira


ketahui, sebenarnya kehancuran rumah tangganya sudah ada didepan mata, hanya


saja Indira belum bisa melihatnya, Indira belum bisa merasakannya dan mungkin


belum waktunya semua terbongkar.


Disaat Indira tengah bekerja dengan sibuk-sibuknya, dan


dipusingkan dengan beberapa hal yang baru, Nando malah tengah asyik dengan


pikirannya sendiri, dia tengah merancang hal indah yang akan dia berikan untuk


Amanda saat mereka berbulan madu nanti, dia tengah merancang akan pergi kemana


dia dan Amanda nanti untuk menghabiskan waktu berdua mereka. Nando seolah


dibutakan dengan cintanya, kerja keras Indira untuk rumah tangga mereka tidak


sdikitpun mengetuk hati Nando untuk memikirkan sedikit saja perasaan Indira,


jikalau Indira tahu apa yang sudah Nando lakukan dibelakang Indira, Nando sudah


buta, buta akan cinta dan nafsunya sendiri.