
‘AKu yakin aku akan bisa
mendapatkan kamu sayang, hanya tinggal sebentar lagi,’ batin Tama yakin.
Tama pun segera
melanjutkan pekerjaannya, supaya dia bisa menyusul Kanaya ke kamar, memang
kemungkinan mereka melakukan malam pertama seperti pada umumnya pasangan
pengantin baru sangat kecil, tapi hanya dengan tidur satu ranjang dengan Kanaya
sudah sangat membuat Tama bahagia, dia akan menunggu sampai Kanaya benar-benar
memberikan hati dan cintanya untuk Tama dan tidak lagi meragukan cinta Tama.
^^^
Disis lain, Indira masih
belum bisa tidur, sedangkan keempat temannya sudah tertidur pulas. Dalam ruangan
perawatan Indira, ada dua kursi yang bisa dilebarkan, dan satu kursi bisa
ditempati dua orang, Anita dengan Anggel sedangkan Bara dengan Nathan.
Indira menutup mulutnya
agar isak tangis tidak keluar dari mulutnya, dia teringat dengan almarhum kedua
orangtuanya dan juga nenek Desi, Indira harap ini semua hanya mimpi, Indira masih
belum siap dan tidak akan bisa siap kehilangan orang-orang yang sangat Indira
sayangi.
‘Mah .. Pah .. nenek ..
kenapa kalian meninggalkan Indira? kenapa kalian tidak mengajak Indira juga?
Indira sendirian?’ batin Indira terisak, ingin rasanya Indira memutar waktu,
tidak akan Indira biarkan Nando yang memegang kemudi.
‘Mah.. Pah.. keluarga
tante Keysha sangat baik pada ku, mereka semua tidak membenci ku, mereka bahkan
merawat ku, dan semua teman-teman ku begitu perduli dengan ku, aku mendapatkan
sahabat ku kembali, yaitu Kanaya. aku janji aku tidak akan lagi mengulanngi
kesalahan ku yang lalu, aku janji akan menjadi Indira yang lebih baik,’ batin Indira,
karena lelah menangi akhirnya Indira tertidur.
^^^
Sudah pukul 04:30,
Kanaya terbangun dari tidurnya, saat pertama kali membuka mata, pemandangan
pertama kali yang dia lihat adalah wajah tampan Tama yang begitu dekat
dengannya, entah kenapa berdekatan seperti ini membuat debaran jantung Kanaya
menjadi tidak biasa.
‘Gue harus bangun, bisa
malu kalau sampai Tama deknger detak jantung gue,’ batin Kanaya, dia langsung
bangkit dari tidurnya dan mengambil perlengkapan mandi, karena seperti biasa
Tama akan mengajak untuk sholat subuh berjemaah. Setelah Kanaya masuk ke kamar
mandi, rupanya Tama juga bangun, lebih tepatnya Tama bangun lebih dulu, tapi
melihat pergerakan dari Kanaya, akhirnya dia pun kembali memejamkan matanya dia
ingin melihat apa respon Kanaya. tama tersenyum, karena dia bisa mendengar
debaran jantung Kanaya tadi.
‘AKu yakin, benih cinta
itu mulai tumbuh,’ batin Tama dengan penuh percaya diri.
Tama pun beranjak dari
tempat tidur dan melangkah keluar kamar, dia ingin membangunkan putri kecilnya
untuk bersiap sholat subuh berJemaah.
“Sayang … Felly,
bangun Nak…” dengan perlahan Tama
membangunkan putri kecilnya, seperti biasa Felly akan menggeliat dan menatap
wajah tampan ayahnya.
“Selamat pagi Papah …”
sapa Felly.
“Pagi sayang ..” Tama
mencium kening Felly dengan penuh rasa kasih sayang.
“Mamah mana??” tanya
Felly, mendengarr pertanyaan dari putri kecilnya, Tama tersneyum karena
sepertinya Kanaya benar-benart sudah memenagkan hati Felly, hal itu terbukti
karena Felly selalu menanyakan dimana Kanaya jika Felly belum melihat Kanaya,
dan itu berarti Kanaya sudah menggeser posisi Tama dihati Felly. Tapi, itu
tidak masalah bagi Tama, karena itu semua membuktikan bahwa Kanaya memang menyayangi
Felly dengan tulus.
“Mamah sedang mandi,
sekarang Felly mandi ya? Papah udah siapin air hangat buat Felly, setelah itu
nanti Felly siap-siap kita sholat subuh berjamaah,” ujar Tama.
“Oke Papah,” jawab Felly
dengan semangat, setelah itu Tama pun keluar dari kamar putrinya.
Saat Tama kembali ke
kamar, rupanya Kanaya sudah selesai mandi, wangi segar buah tercium diindra
“Kamu udah bangunin
Felly?” tanya Kanaya.
“Udah, tadi dia mau
mandi kok,” jawab Tama.
“Ya udah kamu mandi
dulu, aku mau ke Felly nanti,” ujar Kanaya dan diangguki oleh Tama.
Sebagai seorang istri
Kanaya tentu tahu apa saja tugasnya, dia menyiapkan pakaian yang akan dipakai
Tama ke kantor nanti, Kanaya juga menyiapokan baju koko serta sarung untuk
Tama, setelah itu barulah Kanaya akan menuju ke kamar Felly untuk menyiapkan
pakaian serta mukenah untuk putri kecilnya.
Terlepas dari masalalu
Tama dulu, nyatanya kini Tama menjadi prubadi yang jauh lebih baik, hal itu
membuat Kanaya merasa kagum atas perubahan besar yang terjadi pada diri Tama,
itu semua terjadi setelah hadirnya Felly, Tama menjadi lelaki yang lebih
bertanggung jawab, bahkan dia kini menjadi sosok lelaki yang lebih mengutamakan
keluarga.
Tama bahkan dengan bijak
mengizinkan Kanaya tetap bekerja, padahal uang bulanan dari Tama saja sudah
lebih dari cukup, Tama memberikan black card untuk Kanaya, serta beberapa ATM
yang memiliki nominal cukup banyak, itu semua Tama percayakan kepada Kanaya yang
kini sudah sah menyandang status Nyonya Tamasha.
Kanaya masih akan tetap
bekerja, karena Tama tahu tidak mudah tentunya bagi Kanaya berada di posisi
sekaramg ini, butuh perjuangan untuk bisa memiliki posisi Kanaya sekarang, dan
Tama tidak akan melarang Kanaya untuk tetap bekerja sebagai tenaga medis. Lagi pula
Tama juga yakin kalau Kanaya bisa mengatur waktu.
Dalam sujud Tama, dia
selalu berdoa untuk keutuhan rumah tangganya, semoga pernikahan ini menjadi
pernikahan yang pertama dan terakhir untuk mereka berdua.
Setiap hari Felly akan
diantar oleh Tama dan Kanaya, tapi saat pulang sekolah akan dijemput oleh Anisa
atau Keysha, tapi mungkin untuk beberapa waktu ini Felly akan dijemput oleh
Anisa, karena Keysha sedang bola-balik mengurus Indira.
Beberapa hari kemudian
Indira sudah
diperbolehkan untuk pulang, karena kondisinya sudah pulih, namun Indira meminta
untuk diantar kemakam orangtua serta neneknya, karena saat pemakaman Indira
tidak bisa ikut mengantarkan kedua orangtua serta neneknya ketempat
peristirahatan teriakhir. Karena hari weekend, jadi semua sahabat Indira dan
sahabat Keysha ikut menjemput Indira, mereka bahkan sudah menyiapkan bunga tabor
segar yang akan dibawa ke pemakaman.
Saat baru sampai
dipemakaman, Indira langsung terduduk lemas, dia menangis sejadi-jadi didepan
makam keluargnya, suasana sedih tangisan pilu Indira membuat mereka ikut
menitikkan air matanya kembali. Keysha selalu setia mendapingi Indira,
takut-takut kalau Indira jatuh pingsan, mereka juga tidak lupa melantunka doa dan ayat suci untuk para almarum dan
almarhumah.
‘Bell, kami datang, kami
datang bersama Indira, sekarang kondisi Indira sudah jauh lebih baik, kalian
semua yang tenang disana ya? karena kami berjanji akan menjaga Indira seperti
anak kami sendiri,’ batin Keysha.
karena sudah cukup sore,
mereka pun mengajak Indira untuk pulang, agar bisa beristirahat lebih dulu.
“Indira, kamu ikut tante
dulu yaa??” ajak Keysha, kini mereka sudah berada dalam mobil.
“Makasih tante, tapi aku
mau pulang ke rumah aja,” tolak Indira halus.
“Tapi Nando belum pulang
Nak,” ujar Keysha.
“Kan ada bi Nawang
tante, jadi tante nggak perlu khawatir,” ujar Indira menangkan.
Akhirnya Keysha
mengalah, tapi ternyata, Nabila, Natsha, Anita dan Anggel akan menginap dirumah
Indira untuk menemani sahabat mereka. Melihat ada banyak sahabat yang menemani
Indira, Keysha pun bisa tenang, karena setidaknya Indira tidak sendirian, jadi
ada yang menemani agar Indira tidak merasa kesepian.