Keysha

Keysha
Season 2 (Keseharian baru)



‘AKu yakin aku akan bisa


mendapatkan kamu sayang, hanya tinggal sebentar lagi,’ batin Tama yakin.


Tama pun segera


melanjutkan pekerjaannya, supaya dia bisa menyusul Kanaya ke kamar, memang


kemungkinan mereka melakukan malam pertama seperti pada umumnya pasangan


pengantin baru sangat kecil, tapi hanya dengan tidur satu ranjang dengan Kanaya


sudah sangat membuat Tama bahagia, dia akan menunggu sampai Kanaya benar-benar


memberikan hati dan cintanya untuk Tama dan tidak lagi meragukan cinta Tama.


^^^


Disis lain, Indira masih


belum bisa tidur, sedangkan keempat temannya sudah tertidur pulas. Dalam ruangan


perawatan Indira, ada dua kursi yang bisa dilebarkan, dan satu kursi bisa


ditempati dua orang, Anita dengan Anggel sedangkan Bara dengan Nathan.


Indira menutup mulutnya


agar isak tangis tidak keluar dari mulutnya, dia teringat dengan almarhum kedua


orangtuanya dan juga nenek Desi, Indira harap ini semua hanya mimpi, Indira masih


belum siap dan tidak akan bisa siap kehilangan orang-orang yang sangat Indira


sayangi.


‘Mah .. Pah .. nenek ..


kenapa kalian meninggalkan Indira? kenapa kalian tidak mengajak Indira juga?


Indira sendirian?’ batin Indira terisak, ingin rasanya Indira memutar waktu,


tidak akan Indira biarkan Nando yang memegang kemudi.


‘Mah.. Pah.. keluarga


tante Keysha sangat baik pada ku, mereka semua tidak membenci ku, mereka bahkan


merawat ku, dan semua teman-teman ku begitu perduli dengan ku, aku mendapatkan


sahabat ku kembali, yaitu Kanaya. aku janji aku tidak akan lagi mengulanngi


kesalahan ku yang lalu, aku janji akan menjadi Indira yang lebih baik,’ batin Indira,


karena lelah menangi akhirnya Indira tertidur.


^^^


Sudah pukul 04:30,


Kanaya terbangun dari tidurnya, saat pertama kali membuka mata, pemandangan


pertama kali yang dia lihat adalah wajah tampan Tama yang begitu dekat


dengannya, entah kenapa berdekatan seperti ini membuat debaran jantung Kanaya


menjadi tidak biasa.


‘Gue harus bangun, bisa


malu kalau sampai Tama deknger detak jantung gue,’ batin Kanaya, dia langsung


bangkit dari tidurnya dan mengambil perlengkapan mandi, karena seperti biasa


Tama akan mengajak untuk sholat subuh berjemaah. Setelah Kanaya masuk ke kamar


mandi, rupanya Tama juga bangun, lebih tepatnya Tama bangun lebih dulu, tapi


melihat pergerakan dari Kanaya, akhirnya dia pun kembali memejamkan matanya dia


ingin melihat apa respon Kanaya. tama tersenyum, karena dia bisa mendengar


debaran jantung Kanaya tadi.


‘AKu yakin, benih cinta


itu mulai tumbuh,’ batin Tama dengan penuh percaya diri.


Tama pun beranjak dari


tempat tidur dan melangkah keluar kamar, dia ingin membangunkan putri kecilnya


untuk bersiap sholat subuh berJemaah.


“Sayang … Felly,


bangun  Nak…” dengan perlahan Tama


membangunkan putri kecilnya, seperti biasa Felly akan menggeliat dan menatap


wajah tampan ayahnya.


“Selamat pagi Papah …”


sapa Felly.


“Pagi sayang ..” Tama


mencium kening Felly dengan penuh rasa kasih sayang.


“Mamah mana??” tanya


Felly, mendengarr pertanyaan dari putri kecilnya, Tama tersneyum karena


sepertinya Kanaya benar-benart sudah memenagkan hati Felly, hal itu terbukti


karena Felly selalu menanyakan dimana Kanaya jika Felly belum melihat Kanaya,


dan itu berarti Kanaya sudah menggeser posisi Tama dihati Felly. Tapi, itu


tidak masalah bagi Tama, karena itu semua membuktikan bahwa Kanaya memang menyayangi


Felly dengan tulus.


“Mamah sedang mandi,


sekarang Felly mandi ya? Papah udah siapin air hangat buat Felly, setelah itu


nanti Felly siap-siap kita sholat subuh berjamaah,” ujar Tama.


“Oke Papah,” jawab Felly


dengan semangat, setelah itu Tama pun keluar dari kamar putrinya.


Saat Tama kembali ke


kamar, rupanya Kanaya sudah selesai mandi, wangi segar buah tercium diindra


“Kamu udah bangunin


Felly?” tanya Kanaya.


“Udah, tadi dia mau


mandi kok,” jawab Tama.


“Ya udah kamu mandi


dulu, aku mau ke Felly nanti,” ujar Kanaya dan diangguki oleh Tama.


Sebagai seorang istri


Kanaya tentu tahu apa saja tugasnya, dia menyiapkan pakaian yang akan dipakai


Tama ke kantor nanti, Kanaya juga menyiapokan baju koko serta sarung untuk


Tama, setelah itu barulah Kanaya akan menuju ke kamar Felly untuk menyiapkan


pakaian serta mukenah untuk putri kecilnya.


Terlepas dari masalalu


Tama dulu, nyatanya kini Tama menjadi prubadi yang jauh lebih baik, hal itu


membuat Kanaya merasa kagum atas perubahan besar yang terjadi pada diri Tama,


itu semua terjadi setelah hadirnya Felly, Tama menjadi lelaki yang lebih


bertanggung jawab, bahkan dia kini menjadi sosok lelaki yang lebih mengutamakan


keluarga.


Tama bahkan dengan bijak


mengizinkan Kanaya tetap bekerja, padahal uang bulanan dari Tama saja sudah


lebih dari cukup, Tama memberikan black card untuk Kanaya, serta beberapa ATM


yang memiliki nominal cukup banyak, itu semua Tama percayakan kepada Kanaya yang


kini sudah sah menyandang status Nyonya Tamasha.


Kanaya masih akan tetap


bekerja, karena Tama tahu tidak mudah tentunya bagi Kanaya berada di posisi


sekaramg ini, butuh perjuangan untuk bisa memiliki posisi Kanaya sekarang, dan


Tama tidak akan melarang Kanaya untuk tetap bekerja sebagai tenaga medis. Lagi pula


Tama juga yakin kalau Kanaya bisa mengatur waktu.


Dalam sujud Tama, dia


selalu berdoa untuk keutuhan rumah tangganya, semoga pernikahan ini menjadi


pernikahan yang pertama dan terakhir untuk mereka berdua.


Setiap hari Felly akan


diantar oleh Tama dan Kanaya, tapi saat pulang sekolah akan dijemput oleh Anisa


atau Keysha, tapi mungkin untuk beberapa waktu ini Felly akan dijemput oleh


Anisa, karena Keysha sedang bola-balik mengurus Indira.


Beberapa hari kemudian


Indira sudah


diperbolehkan untuk pulang, karena kondisinya sudah pulih, namun Indira meminta


untuk diantar kemakam orangtua serta neneknya, karena saat pemakaman Indira


tidak bisa ikut mengantarkan kedua orangtua serta neneknya ketempat


peristirahatan teriakhir. Karena hari weekend, jadi semua sahabat Indira dan


sahabat Keysha ikut menjemput Indira, mereka bahkan sudah menyiapkan bunga tabor


segar yang akan dibawa ke pemakaman.


Saat baru sampai


dipemakaman, Indira langsung terduduk lemas, dia menangis sejadi-jadi didepan


makam keluargnya, suasana sedih tangisan pilu Indira membuat mereka ikut


menitikkan air matanya kembali. Keysha selalu setia mendapingi Indira,


takut-takut kalau Indira jatuh pingsan, mereka juga tidak lupa melantunka  doa dan ayat suci untuk para almarum dan


almarhumah.


‘Bell, kami datang, kami


datang bersama Indira, sekarang kondisi Indira sudah jauh lebih baik, kalian


semua yang tenang disana ya? karena kami berjanji akan menjaga Indira seperti


anak kami sendiri,’ batin Keysha.


karena sudah cukup sore,


mereka pun mengajak Indira untuk pulang, agar bisa beristirahat lebih dulu.


“Indira, kamu ikut tante


dulu yaa??” ajak Keysha, kini mereka sudah berada dalam mobil.


“Makasih tante, tapi aku


mau pulang ke rumah aja,” tolak Indira halus.


“Tapi Nando belum pulang


Nak,” ujar Keysha.


“Kan ada bi Nawang


tante, jadi tante nggak perlu khawatir,” ujar Indira menangkan.


Akhirnya Keysha


mengalah, tapi ternyata, Nabila, Natsha, Anita dan Anggel akan menginap dirumah


Indira untuk menemani sahabat mereka. Melihat ada banyak sahabat yang menemani


Indira, Keysha pun bisa tenang, karena setidaknya Indira tidak sendirian, jadi


ada yang menemani agar Indira tidak merasa kesepian.