Keysha

Keysha
season 2 (Masakan istri)



Hari pertama Indira masuk memegang restaurant, dia sudah sangat sibuk, dia mengecek beberapa


laporan keuangan pemasukan dan pengeluaran, lalu lain sebagainya yang sangat


berbeda dengan pekerjaan Indira dulu, namun meskipun begitu, Indira mencoba menjalaninya


dengan senang hati, dengan begini Indira jadi tahu, seperti apa pekerjaan yang


dilakukan Aditya dulu.


Jam maknan


siang sudah tiba, Indira merasa dia tidak bisa makan sendirian, dia pun meminta


karyawannya untuk membungkus dua makanan, setelah itu Indira meminta supir


menuju ke suatu tempat. Tidak membutuhkan waktu lama bagi Indira menuju temopat


tujuannya, hanya 20 menit, dia masih diam dalam mobil, nampak ragu untuk masuk.


Tapi, dia memantapkan hatinya kembali, bahwa dia akan meperbaiki semuanya.


“Kak


Indira?” sapa Nabila ketika Indira masuk kedalam butik, iya Indira datang ke


Butik Keysha.


Indira


tersenyum canggung, “tante Keysha ada?” lirih Indira.


“Oh


ada kak, mari aku antar,” ajak Nabila, dia mengetuk pintu ruangan Keysha.


“Maaf


tante, ada kak Indira datang,” ujar Nabila.


“Indira?”


alis Keysha berkerut bingung, “ya sudah suruh masuk,” titah Keysha.


Tidak lama,


Indira masuk dengan canggung, hal itu juga diketahui oleh Keysha, dia pun


berinisiatif untuk mendekat dan memeluk Indira dengan penuh kasih sayang.


“Apa


kabar kamu Nak?” tanya Keysha penuh perhatian, mendengar suara lembut Keysha


dan perhatian Keysha kepada Indira, membuatnya menangis haru.


“Kamu


kenapa menangis sayang?” tanya Keysa khawatir.


“Maafin


Indira tante, maaf karena selama ini Indira sudah banyak salah sama tante, maaf


atas semua perilakau buruk Indira … Indira menyesal,” Indira berkata jujur,


jauh dalam lubuk hatinya dia begitu menyesal atas apa yang sudah terjadi


diantara mereka, permasalahan yang terjadi karena Indira, dan tingkah Indira


yang tentunya membuat emosi Indira ingat semuanya.


“Sudah


yaa … tante sudah maafin Indira kok, kita buka lembaran baru Nak, kita mulai


dari awal lagi ya ?” ujar Keysha menenangkan Indira.


“Terimakasih


banyak tante, sudah banyak kesalahan yang Indira lakukan, tapi tante selalu


saja berbuat baik pada Indira, sekali lagi maafin Indira,” isaknya.


“Nak,


kalau tante terus mengingat hal yang dulu-dulu, maka tante tidak akan bisa


melangkah maju kedepan, tante harus bisa ikhlas dan memaafkan, karena tante


sendiri juga manusia biasa, manusia yang tidak luput dari dosa. Lalu apa hak


tante untuk menghakimi kamu? untuk apa kita terus bermusuhan? Untuk apa kita


terus berdebat? Bukankah begini lebih baik?” tanya Keysha.


“Jangan


bersedih lagi, kita sama-sama memaafkan dan mengikhlaskan ya??” ujar Keysha dan


Indira mengangguk, Keysha pun mengajak Indira untuk duduk.


“Ini


tante Indira bawa makan siang, soalnya Indira nggak bisa makan siang sendirian,”


ujar Indira memperlihatkan paperbag dan mengeluarkan dua bungkus makanan.


“Waah


terimakasih, masakannya harum loh, tante jadi laper,” Keysha nampak tidak


sabar.


“Ya


sudah tante, ayo kita makan.” Mereka berdua pun menikmati santap siang bersama,


Keysah juga menanyakan tentang pengalaman Indira yang baru pertama kali ini


memegang sebagai pimpinan restaurant. Indira menjawab dengan jujur bagaimana


perasaannya, yaitu campur aduk , karena ini adalah hal pertama bagi Indira,


jadi dia masih agak kesulitan. Namu, Keysha dengan sabar memberikan arahan


kepada Indira.


Keysha


merasa iba dengan Indira, apalagi ketika Indira menceritakan bagaimana perilaku


ayah dan ibu mertuanya kepada Indira, rasanya hati Keysha ikut sakit mendengar


kata-kata pedas yang selalu keluar dari  mulut kedua mertuanya. Dan lagi, Nando sebagai suami tidak membela


Indira, seharusnya ini juga menjadi PR Nando, supaya kedua orangtuanya bisa


menerima dan menyayangi Indira, padahal almarhum dan almarhumah kedua orangtua


Indira, mau menerima Nando tanpa menuntut apapun dari Nando, tapi respone


berbeda malah diterima oleh Indira.


‘Untung


aja, Kanaya nggak jadi sama Nando, tapi … kasihan Indira. Kalau aku bertemu


dengan orangutua Nando, aku harus bicara dengan mereka,’ batin Keysha.


^^^


SepuLang


dari rumah sakit, Nando tidak langsung pulang, melainkan dia mampir ke rumah


kedua orangtuanya. Tentu saja dia menceritakan semua perlakuan dan ketusnya Indira


terhadap Nando. Mendengar cerita Nando, membuat Lailla semakin naik darah,


kalau tidak ingat, Indira pernah mengancam akan melaporkan Nando ke polisi


tentang kejadian kecelakaan itu, pasti Lailla dan Harlan sudah meminta Nando


untuk berpisah dari Indira.


“Nando,


berate Mamah dan Papah nggak akan bisa menimang cucu?” tanya Lailla kesal.


“Ya


gimana lagi Mah? Indira kan nggak bisa hamil,” jawab Nando.


“Nando,


bagaimana pun keturunan itu penting, kamu harus punya keturunan untuk masa tua


kamu nanti,” ujar Halan menimpali.


“Nah


bener kata Papah kamu, kalau kamu sudah tua? Lalu siapa yang akan mengurus kamu


kalau bukan anak?” ujar Lailla menambahkan, mendengar ucapan kedua orangtuanya,


membuat Nando berpikir, dan dia pun membenarkan.


“Mamah


dan Papah emang bener sih … tapi gimana? Apa aku adopsi anak aja?” tanya Nando meminta


pendapat kedua orangtuanya, tapi … tentu saja langsung ditolak mentah-mentah


baik Lailla maupun Harlan.


“Mamah


sama Papah maunya cucu yang dari kamu, bukan adopsi,” ujar Lailla tidak mau


diganggu gugat, baginya anak adopsi belum tahu asal-usulnya.


Nando


menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia bingung dengan kedua orangtuanya, “terus


Nando musti gimana? Sedangkan Rahim Indira udah  diangkat, dan sudah dipastikan Indira udah nggak bisa hamil,” ujar Nando


frustasi.


“Kenapa


kamu nggak nikah lagi aja?” tanya Harlan.


“Apa?!


Nikah lagi??” Nando menatap kedua orangtuanya tidak percaya, “Papah mau aku


dipenjara? Aku yakin Indira nggak akan pernah mau dimadu.”


“Urusan


itu sih gampang, yang penting kamu mau apa enggak?” tanya Lailla.


ini cara satu-satunya Nando,” ujar Harlan.


Ini adalah


keputusan yang berat bagi Nando, disisi lain dia takut akan ancaman Indira,


tapi disatu sisi dia juga ingin memiliki momongan darah daging sendiri, tapi


itu tidak mungkin berasal dari Indira.


“Iya Nando


mau, tapi apa bisa supaya Indira nggak tahu tentang ini?” tanya Nando.


“Gampang


Nando, kamu tinggal nikah siri aja secara diam-diam jangan beritahu Indira,


kamu hanya perlu membagi waktu, untuk Indira dan istri siri kamu,” ucap Lailla


menjelaskan.


“Tapi …


emang ada Mah wanita yang mau dinikahi siri?”


“Ada,


nanti Mamah carikan, dan kamu hanya tinggal terima beres,” ucap Lailla dengan


santai, padahal dia juga sesame wanita tapi dia tega menyakiti perasaan wanita


lain, apalagi menantunya.


^^^


Kanaya


pulang dari rumah sakit lebih dulu dari Tama, karena dia belum pernah sekalipun


memasakkan untuk suami dan anaknya, hari ini Kanaya berencana memasak makanan


kesukanan Tama, dibantu Felly juga. Padahal para palayan dirumah sudan meminta


Kanaya duduk saja dan menunggu masakan matang, namun Kanya menolak, keinginannya


memasak untuk suami dan anaknya tidak bisa dibendung lagi, akhirnya semua


pelayan pun mengalah, mereka memberikan ruang untuk Kanaya dan felly didapur.


“Jadi


kita mau masak apa Mah?” tanya Felly penasaran.


“Ayam


kecap, sama sosis saus tiram,” jawab Kanaya, dua menu itu adalah makanan


favorite Tama dan Felly.


“Waah


Felly suka, itu kan makanan kesukaan Felly sama Papah.”


“Iya …


makanya Felly nemenin Mamah ya disini?” Kanaya menggendong Felly dan


mendudukkan dikursi pantry, dengan patuh Felly duduk dengan tenang seraya


melihat Kanaya yang begitu cekatan kesana kemari mengambil semua bahannya.


Kanaya


mengambil ayam bagian sayap dan paha, sayap adalah kesukaan Tama sedangkan paha


kesukaan Felly, supaya Felly tidak bosan, Kanaya memberikan rainbow cake untuk


putrinya, kenapa tidak ponsel? Kanaya tidak mau putrinya bergantungan dengan


gadget, bahkan Kanaya sangat membatasi Felly dalam bermain ponsel, 30 menit


saat sore dan 30 menit saat malam, itu pun harus dalam pengawasannya.


Kanaya


dan Tama sama-sama ketat dalam mengurus dan mengawasi Felly, mereka bahkan


lebih suka jika Felly bersosialisasi di luar rumah, namun hanya dengan


anak-anak satu komplek yang Felly kenal, karena biar bagaimanapun juga mereka


harus hati-hati dengan orang asing.


Hampir


30 menit Kanaya memasak, akhirnya masakannya pun sudah jadi, dia manata dimeja


makan dan dibantu oleh pelayan menata piring dan lain sebagainya. Karena merasa


lengket Kanaya memutuskan untuk mandi lebih dulu, sedangkan Felly Kanaya


titipkan pada salah satu pelayan agar mengawasi Felly bermain.


Selesai


sholat maghrib berjamaah, Kanaya, Tama dan Felly menuju meja makan untuk


menikmati santap malam. Tadi Kanaya sudah meminta pada Felly untuk tidak bicara


pada Tama lebih dulu siapa yang sudah memasak, Kanaya ingin jawaban jujur dari


Tama tentang rasa masakannya.


“Bagaimana


Tama makanannya?” tanya Kanaya.


“Kok


beda ya??” alis Tama berkerut.


“Apanya


yang beda rasanya? Nggak enak?” tanya Kanaya was-was, dia sudah mulai lemas


karena mugkin lih Tama tidak cocok dengan masakan Kanaya.


“Bukan


begitu, ini malah enak banget … siapa yang masak ya hari ini,” Tama nampak


lahap memakan masakan istrinya.


“Mamah,”


akhirnya Felly buka suara.


“Apanya


yang Mamah sayang?” tanya Tama belum paham.


“Yang


masak Mamah Pah … aku yang nemenin Mamah masak tadi,” jawab Felly jujur, seraya


menyuapkan makanan kemulutnya.


“Benarkah?”


Tama meminta jawaban dari istrinya, dan Kanaya mengangguk malu.


“Kenapa


kamu masak?” tanya Tama halus.


“Aku


kan istri kamu, jadi wajar kalau seorang istri memasak untuk suami dan anaknya,


dan juga senang karena kamu dan putri kita suka dengan masakan ku,” ujar Kanaya


dengan mengulas senyum manisnya.


“Tapi


kamu pasti lelah kan?”


“Enggak


kok,” Kanaya menggelengkan kepalanya.


“Kamu


boleh masak, tapi jangan setiap hari ya? karena aku nggak mau kamu terlalu


capek,” Tama mengelus punggung tangan Kanaya.


“Iyaa …”


Kanaya paham, kalau Tama melakukan itu karena tidak mau memberatkan Kanaya.


Kanaya merasa sangat beruntung karena bisa memiliki suami seperti Tama yang


tidak banyak menuntutnya banyak hal, bahkan Tama benar-benar memperlakukan


Kanaya dengan baik.


Selesai


makan malam seperti biasa, Kanaya aka menemani putrinya mengerjakan tugas


sekolah, bahkan ada Tama juga, meski Tama juga mengecek beberapa berkas kantor


tapi dia jujuga memperhatikan istri dan anaknya. Kanaya begitu telaten membantu


dan mengajarkan hal-hal yang mungkin belum di pahami Felly disekolah, disela


belajarnya biasanya Felly akan bercerita tentang kegiatannya disekolah tadi,


tentang bagaimana teman-temannya, dan apa perasaan Felly. Disini Kanya begitu


antusias mendengarkan cerita Felly yang terkadang juga berkeluh kesah tentang


kegiatan sekolah yang melelahkan bagi Felly.


Tapi,


sebagai seorang Ibu, Kanaya selalu memberikan semangat untuk putrinya, Kanaya


juga memberikan nasihat kepada Felly sekiranya perlu. Setelah Kanaya dan Tama


menikah, Felly terlihat semakin bahagia, apalagi kini dia memiliki teman curhat


yang selalu siap sedia mendengarkan ceritanya, hal itu belum tentu bisa Tama


lakukan, karena Tama pasti memiliki kesibukan sendiri, tapi sebisa mungkin Tama


selalu memberikan waktu luang agar putrinya tidak merasa jauh dengan Tama.