
Hari pertama Indira masuk memegang restaurant, dia sudah sangat sibuk, dia mengecek beberapa
laporan keuangan pemasukan dan pengeluaran, lalu lain sebagainya yang sangat
berbeda dengan pekerjaan Indira dulu, namun meskipun begitu, Indira mencoba menjalaninya
dengan senang hati, dengan begini Indira jadi tahu, seperti apa pekerjaan yang
dilakukan Aditya dulu.
Jam maknan
siang sudah tiba, Indira merasa dia tidak bisa makan sendirian, dia pun meminta
karyawannya untuk membungkus dua makanan, setelah itu Indira meminta supir
menuju ke suatu tempat. Tidak membutuhkan waktu lama bagi Indira menuju temopat
tujuannya, hanya 20 menit, dia masih diam dalam mobil, nampak ragu untuk masuk.
Tapi, dia memantapkan hatinya kembali, bahwa dia akan meperbaiki semuanya.
“Kak
Indira?” sapa Nabila ketika Indira masuk kedalam butik, iya Indira datang ke
Butik Keysha.
Indira
tersenyum canggung, “tante Keysha ada?” lirih Indira.
“Oh
ada kak, mari aku antar,” ajak Nabila, dia mengetuk pintu ruangan Keysha.
“Maaf
tante, ada kak Indira datang,” ujar Nabila.
“Indira?”
alis Keysha berkerut bingung, “ya sudah suruh masuk,” titah Keysha.
Tidak lama,
Indira masuk dengan canggung, hal itu juga diketahui oleh Keysha, dia pun
berinisiatif untuk mendekat dan memeluk Indira dengan penuh kasih sayang.
“Apa
kabar kamu Nak?” tanya Keysha penuh perhatian, mendengar suara lembut Keysha
dan perhatian Keysha kepada Indira, membuatnya menangis haru.
“Kamu
kenapa menangis sayang?” tanya Keysa khawatir.
“Maafin
Indira tante, maaf karena selama ini Indira sudah banyak salah sama tante, maaf
atas semua perilakau buruk Indira … Indira menyesal,” Indira berkata jujur,
jauh dalam lubuk hatinya dia begitu menyesal atas apa yang sudah terjadi
diantara mereka, permasalahan yang terjadi karena Indira, dan tingkah Indira
yang tentunya membuat emosi Indira ingat semuanya.
“Sudah
yaa … tante sudah maafin Indira kok, kita buka lembaran baru Nak, kita mulai
dari awal lagi ya ?” ujar Keysha menenangkan Indira.
“Terimakasih
banyak tante, sudah banyak kesalahan yang Indira lakukan, tapi tante selalu
saja berbuat baik pada Indira, sekali lagi maafin Indira,” isaknya.
“Nak,
kalau tante terus mengingat hal yang dulu-dulu, maka tante tidak akan bisa
melangkah maju kedepan, tante harus bisa ikhlas dan memaafkan, karena tante
sendiri juga manusia biasa, manusia yang tidak luput dari dosa. Lalu apa hak
tante untuk menghakimi kamu? untuk apa kita terus bermusuhan? Untuk apa kita
terus berdebat? Bukankah begini lebih baik?” tanya Keysha.
“Jangan
bersedih lagi, kita sama-sama memaafkan dan mengikhlaskan ya??” ujar Keysha dan
Indira mengangguk, Keysha pun mengajak Indira untuk duduk.
“Ini
tante Indira bawa makan siang, soalnya Indira nggak bisa makan siang sendirian,”
ujar Indira memperlihatkan paperbag dan mengeluarkan dua bungkus makanan.
“Waah
terimakasih, masakannya harum loh, tante jadi laper,” Keysha nampak tidak
sabar.
“Ya
sudah tante, ayo kita makan.” Mereka berdua pun menikmati santap siang bersama,
Keysah juga menanyakan tentang pengalaman Indira yang baru pertama kali ini
memegang sebagai pimpinan restaurant. Indira menjawab dengan jujur bagaimana
perasaannya, yaitu campur aduk , karena ini adalah hal pertama bagi Indira,
jadi dia masih agak kesulitan. Namu, Keysha dengan sabar memberikan arahan
kepada Indira.
Keysha
merasa iba dengan Indira, apalagi ketika Indira menceritakan bagaimana perilaku
ayah dan ibu mertuanya kepada Indira, rasanya hati Keysha ikut sakit mendengar
kata-kata pedas yang selalu keluar dari mulut kedua mertuanya. Dan lagi, Nando sebagai suami tidak membela
Indira, seharusnya ini juga menjadi PR Nando, supaya kedua orangtuanya bisa
menerima dan menyayangi Indira, padahal almarhum dan almarhumah kedua orangtua
Indira, mau menerima Nando tanpa menuntut apapun dari Nando, tapi respone
berbeda malah diterima oleh Indira.
‘Untung
aja, Kanaya nggak jadi sama Nando, tapi … kasihan Indira. Kalau aku bertemu
dengan orangutua Nando, aku harus bicara dengan mereka,’ batin Keysha.
^^^
SepuLang
dari rumah sakit, Nando tidak langsung pulang, melainkan dia mampir ke rumah
kedua orangtuanya. Tentu saja dia menceritakan semua perlakuan dan ketusnya Indira
terhadap Nando. Mendengar cerita Nando, membuat Lailla semakin naik darah,
kalau tidak ingat, Indira pernah mengancam akan melaporkan Nando ke polisi
tentang kejadian kecelakaan itu, pasti Lailla dan Harlan sudah meminta Nando
untuk berpisah dari Indira.
“Nando,
berate Mamah dan Papah nggak akan bisa menimang cucu?” tanya Lailla kesal.
“Ya
gimana lagi Mah? Indira kan nggak bisa hamil,” jawab Nando.
“Nando,
bagaimana pun keturunan itu penting, kamu harus punya keturunan untuk masa tua
kamu nanti,” ujar Halan menimpali.
“Nah
bener kata Papah kamu, kalau kamu sudah tua? Lalu siapa yang akan mengurus kamu
kalau bukan anak?” ujar Lailla menambahkan, mendengar ucapan kedua orangtuanya,
membuat Nando berpikir, dan dia pun membenarkan.
“Mamah
dan Papah emang bener sih … tapi gimana? Apa aku adopsi anak aja?” tanya Nando meminta
pendapat kedua orangtuanya, tapi … tentu saja langsung ditolak mentah-mentah
baik Lailla maupun Harlan.
“Mamah
sama Papah maunya cucu yang dari kamu, bukan adopsi,” ujar Lailla tidak mau
diganggu gugat, baginya anak adopsi belum tahu asal-usulnya.
Nando
menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia bingung dengan kedua orangtuanya, “terus
Nando musti gimana? Sedangkan Rahim Indira udah diangkat, dan sudah dipastikan Indira udah nggak bisa hamil,” ujar Nando
frustasi.
“Kenapa
kamu nggak nikah lagi aja?” tanya Harlan.
“Apa?!
Nikah lagi??” Nando menatap kedua orangtuanya tidak percaya, “Papah mau aku
dipenjara? Aku yakin Indira nggak akan pernah mau dimadu.”
“Urusan
itu sih gampang, yang penting kamu mau apa enggak?” tanya Lailla.
ini cara satu-satunya Nando,” ujar Harlan.
Ini adalah
keputusan yang berat bagi Nando, disisi lain dia takut akan ancaman Indira,
tapi disatu sisi dia juga ingin memiliki momongan darah daging sendiri, tapi
itu tidak mungkin berasal dari Indira.
“Iya Nando
mau, tapi apa bisa supaya Indira nggak tahu tentang ini?” tanya Nando.
“Gampang
Nando, kamu tinggal nikah siri aja secara diam-diam jangan beritahu Indira,
kamu hanya perlu membagi waktu, untuk Indira dan istri siri kamu,” ucap Lailla
menjelaskan.
“Tapi …
emang ada Mah wanita yang mau dinikahi siri?”
“Ada,
nanti Mamah carikan, dan kamu hanya tinggal terima beres,” ucap Lailla dengan
santai, padahal dia juga sesame wanita tapi dia tega menyakiti perasaan wanita
lain, apalagi menantunya.
^^^
Kanaya
pulang dari rumah sakit lebih dulu dari Tama, karena dia belum pernah sekalipun
memasakkan untuk suami dan anaknya, hari ini Kanaya berencana memasak makanan
kesukanan Tama, dibantu Felly juga. Padahal para palayan dirumah sudan meminta
Kanaya duduk saja dan menunggu masakan matang, namun Kanya menolak, keinginannya
memasak untuk suami dan anaknya tidak bisa dibendung lagi, akhirnya semua
pelayan pun mengalah, mereka memberikan ruang untuk Kanaya dan felly didapur.
“Jadi
kita mau masak apa Mah?” tanya Felly penasaran.
“Ayam
kecap, sama sosis saus tiram,” jawab Kanaya, dua menu itu adalah makanan
favorite Tama dan Felly.
“Waah
Felly suka, itu kan makanan kesukaan Felly sama Papah.”
“Iya …
makanya Felly nemenin Mamah ya disini?” Kanaya menggendong Felly dan
mendudukkan dikursi pantry, dengan patuh Felly duduk dengan tenang seraya
melihat Kanaya yang begitu cekatan kesana kemari mengambil semua bahannya.
Kanaya
mengambil ayam bagian sayap dan paha, sayap adalah kesukaan Tama sedangkan paha
kesukaan Felly, supaya Felly tidak bosan, Kanaya memberikan rainbow cake untuk
putrinya, kenapa tidak ponsel? Kanaya tidak mau putrinya bergantungan dengan
gadget, bahkan Kanaya sangat membatasi Felly dalam bermain ponsel, 30 menit
saat sore dan 30 menit saat malam, itu pun harus dalam pengawasannya.
Kanaya
dan Tama sama-sama ketat dalam mengurus dan mengawasi Felly, mereka bahkan
lebih suka jika Felly bersosialisasi di luar rumah, namun hanya dengan
anak-anak satu komplek yang Felly kenal, karena biar bagaimanapun juga mereka
harus hati-hati dengan orang asing.
Hampir
30 menit Kanaya memasak, akhirnya masakannya pun sudah jadi, dia manata dimeja
makan dan dibantu oleh pelayan menata piring dan lain sebagainya. Karena merasa
lengket Kanaya memutuskan untuk mandi lebih dulu, sedangkan Felly Kanaya
titipkan pada salah satu pelayan agar mengawasi Felly bermain.
Selesai
sholat maghrib berjamaah, Kanaya, Tama dan Felly menuju meja makan untuk
menikmati santap malam. Tadi Kanaya sudah meminta pada Felly untuk tidak bicara
pada Tama lebih dulu siapa yang sudah memasak, Kanaya ingin jawaban jujur dari
Tama tentang rasa masakannya.
“Bagaimana
Tama makanannya?” tanya Kanaya.
“Kok
beda ya??” alis Tama berkerut.
“Apanya
yang beda rasanya? Nggak enak?” tanya Kanaya was-was, dia sudah mulai lemas
karena mugkin lih Tama tidak cocok dengan masakan Kanaya.
“Bukan
begitu, ini malah enak banget … siapa yang masak ya hari ini,” Tama nampak
lahap memakan masakan istrinya.
“Mamah,”
akhirnya Felly buka suara.
“Apanya
yang Mamah sayang?” tanya Tama belum paham.
“Yang
masak Mamah Pah … aku yang nemenin Mamah masak tadi,” jawab Felly jujur, seraya
menyuapkan makanan kemulutnya.
“Benarkah?”
Tama meminta jawaban dari istrinya, dan Kanaya mengangguk malu.
“Kenapa
kamu masak?” tanya Tama halus.
“Aku
kan istri kamu, jadi wajar kalau seorang istri memasak untuk suami dan anaknya,
dan juga senang karena kamu dan putri kita suka dengan masakan ku,” ujar Kanaya
dengan mengulas senyum manisnya.
“Tapi
kamu pasti lelah kan?”
“Enggak
kok,” Kanaya menggelengkan kepalanya.
“Kamu
boleh masak, tapi jangan setiap hari ya? karena aku nggak mau kamu terlalu
capek,” Tama mengelus punggung tangan Kanaya.
“Iyaa …”
Kanaya paham, kalau Tama melakukan itu karena tidak mau memberatkan Kanaya.
Kanaya merasa sangat beruntung karena bisa memiliki suami seperti Tama yang
tidak banyak menuntutnya banyak hal, bahkan Tama benar-benar memperlakukan
Kanaya dengan baik.
Selesai
makan malam seperti biasa, Kanaya aka menemani putrinya mengerjakan tugas
sekolah, bahkan ada Tama juga, meski Tama juga mengecek beberapa berkas kantor
tapi dia jujuga memperhatikan istri dan anaknya. Kanaya begitu telaten membantu
dan mengajarkan hal-hal yang mungkin belum di pahami Felly disekolah, disela
belajarnya biasanya Felly akan bercerita tentang kegiatannya disekolah tadi,
tentang bagaimana teman-temannya, dan apa perasaan Felly. Disini Kanya begitu
antusias mendengarkan cerita Felly yang terkadang juga berkeluh kesah tentang
kegiatan sekolah yang melelahkan bagi Felly.
Tapi,
sebagai seorang Ibu, Kanaya selalu memberikan semangat untuk putrinya, Kanaya
juga memberikan nasihat kepada Felly sekiranya perlu. Setelah Kanaya dan Tama
menikah, Felly terlihat semakin bahagia, apalagi kini dia memiliki teman curhat
yang selalu siap sedia mendengarkan ceritanya, hal itu belum tentu bisa Tama
lakukan, karena Tama pasti memiliki kesibukan sendiri, tapi sebisa mungkin Tama
selalu memberikan waktu luang agar putrinya tidak merasa jauh dengan Tama.