Keysha

Keysha
Berita duka



Arya masih sangat terkejut dengan berita yang di sampaikan oleh Bi Nawang, sebenarnya tadi Arya juga sedang dalam perjalanan pulang, dia berniat memberikan kejutan kepada istri tercintanya itu, namun sayang rupanya Arya lebih dulu di beri kejutan atas musibah yang menimpa Zahra.


Arya pun menemui keluarganya yang tengah duduk di depan ruang UGD, mereka menantikan kabar dari Arya tentang keadaan Zahra.


"Arya, bagaimana dengan keadaan Zahra?" Tanya Agam.


"Zahra akan melakukan operasi sesar pah, karena air ketubannya sudah kering, otomatis anak kamu lahir prematur" Jawab Arya sendu.


"Sabar nak, mungkin ini jalan terbaik bagi Yang Maha Kuasa" Ucap Yuda.


"Iya pah" jawab Arya sendu.


Sedangkan Alena tengah fokus dengan pikirannya sendiri, ucapan Zahra masih terngiang - ngiang di kepalanya.


"Len, nggak usah dipikirin kita berdoa aja supaya Zahra dan anaknya bisa selamat dan dalam keadaan sehat" Ucap Keysha, dia tahu kegundahan hati Alena.


"Iya Key" Jawab Alena.


"Gue hubungin Marvel dulu ya" Ucap Keysha, dia pun pergi sebentar untuk menghubungi Marvel tentang keberadaan nya sekarang.


Beberapa saat kemudian dokter pun mulai melakukan tindakan operasi, mereka semua menunggu dengan harap cemas.


Lantunan doa tidak lepas mereka panjatkan untuk keselamatan Zahra dan anaknya, Arya berdiri sambil mondar mandir, dia terus melihat ke arah pintu berharap dokter segera keluar dan membawa kabar baik.


Tak lama suara bayi terdengar dari dalam ruangan Zahra,


"Arya itu suara anak kamu" Ucap Helen.


"Iya mah" Jawab Arya tersenyum, dan tidak lama seorang suster keluar membawa bayi.


"Selamat pak Arya bayi anda laki - laki" Ucap suster.


"Alhamdulillah" Ucap semua orang memanjatkan rasa syukur.


"Tapi kami harus membawa bayi Bu Zahra ke ruang inkubator, karena kondisi bayi yang prematur" Suster pun segera membawa bayi tersebut ke ruang inkubator.


"Kami adzani dulu anak kamu" Ucap Agam menasehati menantunya.


"Baik pah, aku titip Zahra" Ucap Arya, dia pun segera menyusul suster.


"Sus boleh saya adzani anak saya?" Tanya Arya meminta izin.


"Silahkan pak, tapi tidak perlu di angkat dari inkubator ya pak" Ucap suster.


"Baik sus" Jawab Arya, dia pun menunduk mensejajarkan dengan inkubator. Arya mulai mengadzani putranya hingga selesai, tidak terasa air mata mulai menetes di pipi Arya.


Setelah selesai, Arya pun keluar dari ruang inkubator, karena Arya tidak di perbolehkan berlama - lama disana, Arya pun kembali keruang istrinya yang masih operasi.


"Key, perasaan gue nggak enak" Bisik Alena kepada Keysha.


"Ssttt jangan bilang begitu" Ucap Keysha, "semuanya akan baik - baik saja" Keysha mencoba menenangkan Alena. Tapi sebenarnya Keysha juga merasakan hal yang sama.


Disisi lain di ruang operasi tengah terjadi kepanikan, karena kondisi Zahra yang terus menurun.


"Dok, kondisi Bu Zahra kritis" Ucap suster.


"Dok detak jantung pasien lemah" Ucap suster lagi.


"Siapkan defribrilator sus " ucap dokte, (defribrilator\= alat pacu jantung)


"Baik dok" Suster pun segera mempersiapkan peralatan, setelah selesai dokter memberi aba - aba dan menempelkan alat tersebut di tubuh Zahra hingga beberapa kali.


Namun kondisi Zahra benar - benar melemah, detak jantungnya pun sudah tidak berdetak.


"Innalilahiwainnailaihirojiun" Ucap dokter, "tolong catat jam nya sus" Ujar dokter.


"Baik dok" Jawab suster.


Arya dan keluarga pun lega ketika lampu penanda operasi sudah mati, itu berarti operasi sudah selesai, dan tidak lama dokter keluar.


"Bagaimana kondisi istri saya dok?" Tanya Arya.


"Kami sudah melakukan yang terbaik pak, namun .. kondisi Bu Zahra sudah sangat lemah, dan dengan berat hati kami sampaikan istri bapak meninggal dunia" Ujar dokter.


Degg.. deggg bagaikan dunia Arya terhenti ketika dokter menjelaskan kondisi Zahra, rasanya dunia nya hancur seketika, wanita yang teramat dia cintai meninggalkan nya untuk selama - lamanya.


"Nggak mungkin dok" Ucap Arya tak percaya.


"Ini memang berat pak, tapi bapak harus tabah" Ucap dokter. Arya langsung terduduk lemas.


Sedangkan Andin dan Helen sudah menangis histeris. Mereka tidak menyangka Zahra akan pergi secepat itu, padahal sudah ada rencana indah yang mereka rangkai. Mereka akan mempersiapkan kamar anak Laura bersama Minggu ini, namun hari ini bagaikan mimpi buruk bagi mereka semua.


Alena dan Keysha pun sudah tidak bisa menahan tangis mereka, Zahra yang dikenal ceria dan Zahra yang selalu bisa menghibur sahabat nya dikala sedih.


Alena dan Keysha saling berpelukan mereka saling menguatkan satu sama lain, mereka berharap ini adalah mimpi buruk yang tidak akan pernah terjadi. Rasanya sangat sulit bagi mereka untuk percaya bahwa Zahra sudah tiada sekarang.


Dimas dan Alby pun tak kuasa menahan tangisnya, Dimas dan Alby pun belum bisa menerima kenyataan pahit ini, kenyataan bahwa sahabat mereka telah tiada.


"Zahra!!" Teriak Arya, dia berlari masuk kedalam ruangan dimana Zahra berada.


Wajah teduh sang istri dia pandang lekat, wajah tenang yang kini tengah tertidur namun untuk selamanya, Arya tidak bisa lagi menahan tangisnya. Dia menggenggam tangan Zahra berharap wanitanya mau membuka matanya kembali.


"Sayang.. aku mohon bangun, anak kita sudah lahir sayang.." Ucap Arya terisak.


"Zahra...." Panggil Arya, "anak kita baby boy seperti yang kamu inginkan, ayo sayang buka mata kamu jangan tidur terus" Ucap Arya sambil menangkup kedua pipi Zahra.


Yuda tidak tega melihat putranya yang nampak sangat hancur sekarang, bahkan bukan hanya Yuda semua orang yang melihat Arya sekarang pun pasti akan ikut merasakan kepedihan nya.


Arya yang dingin bisa luluh di tangan seorang Zahra yang dikenal tak bisa diam karena akan ada saja tingkahnya yang membuat orang lain tertawa.


"Sayang, kamu nggak capek tidur terus hmmm?"ucap Arya lagi, dia masih terus mengajak Zahra berbicara.


"Sayang.. kamu kan minta aku cepat pulang, sekarang aku sudah pulang, aku sudah di sini. Ayo sayang bangun" Ucap Arya.


"Mas Arya??" Panggil Dimas, dia tidak tega melihat kakak sepupunya itu.


"Dimas, panggil Zahra.. suruh Zahra bangun, dia harus bangun.. putra kecil ku dan Zahra sudah menunggu, ayo Dimas suruh Zahra bangun" Ucap Arya.


"Mas.. sabar mas, yang tabah" Ucap Dimas sambil terisak, rasanya ada yang menyayat hati Dimas ketika mendengar permintaan Arya agar Dimas membangunkan Zahra.


"Mas... Zahra udah nggak ada mas, mas harus ikhlas" Ucap Dimas.


"Nggak Dimas, Zahra cuman tidur, ayo bantu aku bangunin Zahra Dimas" ucap Arya kekeh. Dimas semakin tidak kuat melihat Arya yang hancur atas kepergian Zahra.


"Ra, loe harus bangun Ra.. mas Arya butuh loh, di hancur tanpa loe.. bangun Ra" Ucap Dimas membangunkan Zahra.


.


.


... **Ada yang nangis nggak di part ini 😌...


...Jangan lupa ya Readers Lik, vote dan komen nyaa ...


...Terimakasih**...