
Kanaya pulang ke rumahnya dengan suasana yang ringan, karena
dia merasa masalahnya sudah selesai dengan hanya mengandalkan Tama, namun
betapa terkejutnya Kanaya ketika dia masuk kedalam rumah, Kanaya melihat
keluarga Tama tengah berbincang dengan kedua orangtuanya, yang membuat Kanaya
semakin terkejut disana ada Tama juga.
“Kok begini sih,” batin Kanaya.
“Kanaya, sayang kamu sudah pulang Nak,” sapa Annisa.
“Iya tante,” Kanaya menyalimi tangan kedua orangtuanya serta
kedua orangtua Tama.
“Sini sayang duduk dulu,” ucap Keysha menepuk kursi yang
kosong disebelahnya.
“Nak, kedatangan Tama dan beserta tante Annisa dan om Oki
kemari adalah, mereka bermaksud untuk melamar kamu,” jelas Marvel.
Sontak Kanaya langsung terkejut mendengar ucapan Marvel,
padahal Kanaya sudh sangat yakin kalau Tama bisa menyelesaikan semua ini, tapi
Kanaya salah.
“Om, Tante, boleh saya minta izin untuk bicara dengan
Kanaya?” tanya Tama.
“Silahkan,” ucap Marvel, kemudian Kanaya dan Tama pun
melangkah menuju gazebo yang terletak di taman rumah.
“Tama, kan aku bilang kamu harusnya menghentikan niatan
kedua orangtua kamu,” ucap Kanaya kesal.
“Aku berubah pikiran,” jawab Tama santai.
“Hah? Berubah pikiran? Maksudnya?”
“Kamu tahu, aku akan mewujudkan apapun yang Fellycia inginkan, dan Fellycia sangat
ingin kamu menjadi ibunya, tentu aku akan mewujudkannya.” Jelas Tama.
Kanaya pun membelalakkan matanya, “jadi kamu benar-benar
setuju kedua orangtua kamu melamar ku?”
“Iya, aku setuju dengan rencana kedua orangtua ku, dan aku
akan siap menikahi kamu dalam waktu dekat,” jawab Tama tegas.
Kanaya tertawa sumbang, “nggak usah ngarang deh Tam, nggak
aka nada pernikahan dan aku jamin itu,” ucap Kanaya dengan yakin.
“Oh ya? kamu yakin? Bagaimana dengan kedua orantua kamu? apa
kamu yakin kedua orangtua kamu akan bisa menolak lamaran ku?” tanya Tama dengan
wajah yang sangat menyebalkan bagi Kanaya, Kanaya semakin kesal karena apa yang
Tama katakana memang benar.
Kanaya merasa pembicaraan ini tidak memiliki titik ttemu,
dari pada dia terus bersama Tama yang akhirnya membuat kedua orangtua mereka
semakin salah paham, Kanaya memutuskan untuk masuk kedalam rumah, Kanaya
melangkah dengan menghentakkan kakinya, hal itu membuat Tama tersenyum lucu.
“Bagaimana, kalian sudah selesai?” tanya Oki dengan senyum meledek.
“Sudah Pah, dan Kanaya sangat senang, dia bilang dia
menerima lamaranku,” jawab Tama bohong, sontak Kanaya langsung membelalakkan
matanya, dia bahkan menatap Tama dengan tatapan tajam.
“Benrakah?” Keysha berucap dengan senyum dan tidak percaya,
rupanya Kanaya sudah bisa melupakan Nando dan membuka hati untuk orang lain.
“Benar tante,” jawab Tama, dia seolah tidak memberikan
Kanaya kesempatan untuk menjawab.
“Ya sudah, jika kalian memamng sudah merasa cocok, kita
langsung saja membahas pernikahan, bukankah lebih cepat lebih baik?” saran
Marvel, dan kedua keluarga pun setuju.
Kanaya semakin pusing mendengar perencanaan kedua belah
pihak, Kanaya pun meminta izin untuk ke toilet, namun saat Kanaya melewati kamar adiknya, samar-samar Kanaya
mendengar suara Raka yang tengah berbicara lewat telepon.
“Iya sayang, kak Kanaya beneran dilamar sama kak Tama, dan
mereka berencana menikah dalam waktu dekat, aku janji setelah kak Kanaya
menikah aku akan melamar kamu, dan kita bertunangan … sekarang kamu senang kana
pa yang kamu inginkan sebentar lagi tercapai? Aku minta maaf yak arena aku baru
bisa mewujdukan semua keinginan kamu sekarang, karena aku tidak mau melangkahi
kakak ku,” jelas Raka.
“Jadi aku sudah menjadi penghalang bagi hubungan adik ku
bersama akan semakin jauh,” batin Kanaya.
“Tapi menikah dengan Tama …. Ah tidak-tidak, aku tidak boleh
menolak Tama, ini semua demi Raka, dia sudah terlalu banyak berkorban untuk
ku.” Kanaya pun memutuskan untuk kembali berkumpul dengan kedua orangtuanya
beserta kedua orangtua Tama.
“Sayang, menurut kamu bagaimana dengan rencana pernikahan
kalian, mau di tahun ini atau tahun depan?” tanya Keysha.
“Lebih cepat lebih baik Mah,” jawab Kanaya tanpa ragu.
“Ada apa dengan Kanaya? jawabannya yakin begitu, apa yang
membuatnya berubah pikiran dan akhirnya mau menikah dengan ku?” batin Tama
bertanya.
Akhirnya kedua keluarga pun sudah memutuskan tanggal
pernikahan Tama dan Kanaya, mereka sangat bahagia karena akan menjadi besan,
lalu bagaimana dengan Tama dan juga Kanaya, akankah pernikahan yang didasari
tanpa cinta bisa berjalan dengan baik? Benarkah Tama melakukan ini atas dasar
putrinya?
Pagi ini Indira memasak untuk diantarkan kepada mertuanya,
dia sangat semangat sekali, ditambah lagi Bella juga memberikan semangat dan
mengajari Indira memasak.
“Ya udah Mah, Indira sama Nando pamit dulu ya?”
“Iya, kalian hati-hati ya?”
Kini Nando dan Indira pun sampai di apartemen tempat dimana
kedua orangtua Nando tinggal selama berada di Jakarta, Indira sangat berharap
kalau kedua mertuanya itu akan menyukai masakannya, dan semoga apa yang Bella katakana
itu benar, lewat masakan bisa saja akhirnya kedua mertua Indira akan cocok dan
akhirnya bisa menerima dan menyayangi Indira.
Nando menekan bel apartement, dan tidak lama muncullah
Lailla membukakan pintu untuk putranya.
“Nando kamu datang Nak?” Lailla menyambut dengan hangat
putra semata wayangnya itu, namun saat dia melihat adanya kehadiran Indira,
senyum itu luntur seketika.
“Mah …” Indira bermaksud menyalimi tangan Lailla, namun
agaknya Lailla nampak sungkan, hingga akhirnya Nando memberikan kode.
“Kamu ngapain sih ngajak istri kamu segala,” ketus Lailla.
“Loh Indira kan istriku Mah, wajar kalau aku ajak Indira,”
jawab Nando, “Inidira udah masak loh Mah, dan masakannya itu enak banget.” Nando
menunjuk rantang yang Indira bawa.
Tanpa menjawab, Lailla langsung masuk kedalam rumah, dengan
diikuti oleh Nando dan Indira, Nando mencoba meyakinkan Indira bahwa dia akan
bisa mengambil hati kedua mertuanya, Indira pun berpamitan untuk menyiapkan
makanan di dapur.
Laila nampak melihat situasi, setelah dirasa aman dia
mendekati Nando, “Nando…”
“Ada apa Mah?” tanya Nando bingung.
“Kemarin Mamah ketemu Kanaya loh.”
“Oh ya? dimana?”
“Di toko kue, ternyata kalau disbanding dengan Indira,
Kanaya jauh lebih cantik,” Lailla bercerita memuji kecantikan, dan kesopanan
Kanaya.
“Kamu sih, harusnya kamu tidak meninggalkan Kanaya, jadi
kamu masih berhubungan baik dengan dia sampai sekarang,” ucap Lailla, kemudian
dia nampak mendapatkan sebuah ide, “atau begini saja Nando, mumpung belum
terlambat, kamu berpisah saja dengan Indira, mumpung kalian belum punya anak,
jadi masih mudah untuk berpisah, jadi kamu bisa kembali dengan Kanaya, Mamah
yakin Kanaya masih mencintai kamu,” ujar Lailla yakin.
“Mamah tuh ngomong apa sih, jangan ngawur Mah, lagi pula
Mamah masa tega mau memisahkan aku dan Indira, Mamah ini orangtua macam apa
yang menginginkan anaknya malah gagal berumah tangga?” Nando nampak kesal
dengan ucapan Lailla, dia pun mencari Indira yang ada di dapur dan mengajaknya
untuk pulang, tanpa berpamitan.