
Sore hari, Kanaya mampir ke salah satu mall untuk membeli beberapa perlengkapan nya yang sudah habis, saat melewati salah satu toko mainan, Kanaya teringat dengan Felly, dia pun masuk kedalam toko mainan untuk membela mainan yang sekiranya Felly suka.
Pilihan Kanaya jatuh di boneka beruang berwarna biru.
"Semoga Felly suka," batin Kanaya. Setelah membayar tagihan nya, Kanaya pun segera pulang. Kanaya masih memikirkan tentang Tama, yang dengan berbesar hati mau menerima dan merawat Felly menjadi putrinya, sampai-sampai, nama baik Tama dipertaruhkan.
"Kamu memang sudah banyak berubah Tam," batin Kanaya. Dia mengingat kembali pertemuan nya dengan Tama, yang waktu itu Kanaya menemukan Felly terluka karena jatuh dari sepeda, dari sana Kanaya melihat, betapa khawatir nya Tama melihat luka di siku Fellysia yang lecet, itu menandakan betapa sayangnya Tama kepada Fellysia.
Di lain sisi, Nando juga hendak pulang, saat Nando baru sampai di parkiran, Nando melihat Indira yang tengah menunggu seseorang di depan gerbang rumah sakit.
"Indira," sapa Nando.
"Iya Nan?" tanya Indira.
"Nunggu siapa?" tanya Nando.
"Taksi, soalnya gue nggak bawa mobil, mobil gue mogok tadi pagi," jawab Indira.
"Pulang bareng gue yuk, mau hujan," ujar Nando. Indira menatap langit yang mulai mendung.
"Benar apa kata Nando, sebentar lagi akan turun hujan," Batin Indira.
"Ayo Ra," ajak Nando lagi.
"Iya-iya," Indira pun masuk ke dalam mobil milik Nando.
"Nggak papa emang Nan, gue balik sama loe?" tanya Indira.
"Nggak papa lah, emang kenapa?" tanya Nando seraya mengemudikan mobilnya.
"Gue nggak enak sama Kanaya," ujar Indira.
"Tenang aja, kan kita satu rumah sakit, loe juga teman Kanaya, pasti Kanaya nggak keberatan." Jawab Nando.
"Ya udah kalau gitu," jawab Indira. Mobil pun melaju menuju kediaman Indira.
Setelah beberapa menit mengemudi, akhirnya mobil Nando sampai di kediaman Indira, Bella yang tengah menantikan Indira pulang heran, karena ada mobil asing yang berhenti tepat di depan rumahnya.
"Indira pulang dengan siapa?" batin Bella.
"Thanks ya Nan," ucap Indira.
"Sama-sama," jawab Nando.
"Mampir dulu yuk," ajak Indira.
"Enggak deh Ra, makasih, lain kali aja ya..." tolak Nando halus.
"Oke deh," jawab Indira.
"Ya udah, gue langsung balik ya," pamit Nando.
"Hati-hati," seru Indira. Dia pun masuk ke dalam rumah, dan terkejut karena melihat Bella.
"Mamah, ngagetin aja," ucap Indira seraya mengelus dadanya.
"Cie... pacar baru ya?" Ledek Bella.
"Enggak kok mah, cuman temen" jawab Indira.
"Masa sih? ganteng loh," ucap Bella, pasalnya dia sempat melihat wajah Nando lewat jendela.
"Mah, dia itu pacar Kanaya," ucap Indira.
"Pacar Kanaya? kamu nggak papa sayang kalau pulang bareng pacar kanaya?" tanya Bella, pasalnya dia ingin menjaga Indira, agar jangan sampai dicap, perusak hubungan orang.
"Aku juga nggak bakalan mau mah kalau nggak terpaksa banget, mobil ku tadi pagi mogok, dan ditinggal di bengkel, aku berniat menghubungi papah, tapi ponselku habis baterai." Keluh Indira.
"Ya udah deh sayang, yang penting nanti kamu bilang sama Kanaya, dan jangan keseringan, biar nggak salah paham," ucap Bella menasehati.
"Iya mamah... Ya udah, aku ke kamar dulu ya mah, pengen mandi," pamit Indira.
"Iya sayang," jawab Bella.
Bella menatap Indira, yang tengah melangkah kan kakinya menaiki anak tangga, Bella tersenyum bahagia.
"Rania, lihat lah peri kecil kita, dia sudah tumbuh besar, dan dia menjadi seorang dokter, kalau kamu masih ada di sini, kamu pasti bangga dengannya," Batin Bella.
Di sisi lain Kanaya baru saja sampai di kediaman Tama, dia langsung mampir ke rumah Tama untuk memberikan boneka yang dia beli di mall tadi.
Dan kebetulan, Felly tengah bermain bersama Anisa di teras rumahnya.
"Assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam"
"Dokter cantik," seru Felly seraya tersenyum.
"Haii sayang, lagi apa?" tanya Kanaya.
"Lagi main," jawab Felly dengan suara cadelnya.
"Wah main? oh iya Tante bawa ini buat Felly, semoga Felly suka ya," Kanaya memberikan boneka beruang biru kepada Felly.
"Wah boneka," Felly langsung memeluk boneka yang Kanaya berikan, dia nampak senang menerima nya.
"Bilang apa ke dokter cantik?" tanya Anisa kepada cucunya.
"Terimakasih dokter cantik," ucap Felly gemas.
"Sama-sama sayang," jawab Kanaya.
"Aduh, Kanaya ... kenapa repot-repot segala sih nak," ucap Anisa tak enak.
"Terimakasih ya Nak," ucap Anisa.
"Sama-sama Tante, ya sudah Kanaya pamit ya Tante, soalnya pulang langsung kesini, takut mamah nyariin," ujar Kanaya.
"Loh, nggak masuk dulu?" tanya Anisa.
"Enggak deh Tante, makasih... Ya sudah Kanaya pamit ya... bye Felly Tante pulang dulu ya, Felly sering-sering dong main ke rumah Tante," ucap Kanaya seraya berjongkok di depan Felly.
"Iya dokter cantik, nanti Felly main," jawab Felly.
"Oke sayang, bye..." Kanaya melambaikan tangan ke arah Felly, kemudian masuk ke dalam mobil dan melaju menuju rumahnya.
Kanaya pulang dengan perasaan bahagia, entahlah dia juga tidak tahu, setelah bertemu dengan Felly mood nya sangat baik.
"Ciee senyum-senyum sendiri," Ledek Raka kepada kakaknya.
"Apa sih, jangan usil deh," ucap Kanaya.
"Kenapa? dapet hal romantis apa dari kak Nando?" tanya Raka.
"Nando? ah iya, seharian ini aku belum ngabarin Nando, pasti dia nyariin aku deh," Batin Kanaya.
Tanpa menjawab pertanyaan Raka, Kanaya malah langsung masuk ke dalam rumah menuju kamar nya, membuat Raka mencak-mencak karena tidak di respon oleh kakaknya.
"Kakak.... Aku tuh lagi ngomong!" seru Raka seraya mengerucutkan bibirnya lucu.
Sedangkan Kanaya merasa aneh, kenapa dia tidak mendapatkan pesan apapun dari Nando, biasanya Nando yang selalu mengirim pesan lebih dulu, bahkan pesan Kanaya yang dikirim sejak tadi pagi belum di balas.
"Tumben Nando nggak kirim aku pesan?" batin Kanaya.
"CK, udahlah mungkin Nando sibuk, dan dia lelah, jadi tunggu aja besok," batin Kanaya. Dia pun bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan badannya yang terasa lengket.
Tama sendiri baru saja pulang dari kantor, lelahnya langsung menghilang begitu saja ketika melihat putri kecilnya tersenyum, namun Tama nampak asing dengan boneka beruang berwarna biru.
"Aku baru lihat ada boneka itu," batin Tama.
"Horeee daddy pulang," itulah sambutan yang diberikan oleh Felly kepada Tama.
"Wah putri kecil Daddy sedang main boneka ya" Tanya Tama seraya mengelus rambut putrinya dengan sayang.
"Iya dad, ini dari dokter cantik," jawab Felly.
"Dokter cantik? Siapa?" tanya Tama bingung.
"Itu dari Kanaya Tam, tadi sore Kanaya kemari, sekedar mampir untuk memberikan boneka itu, Kanaya terlihat sangat tulus menyayangi Felly," ucap Anisa.
"Siapapun akan menyayangi Felly, kan Felly anak baik, iya kan sayang?" tanya Tama kepada putrinya.
Sedangkan Felly hanya merespon dengan senyum.
"Kak Kanaya juga kerja di rumah sakit papah loh, bareng sama aku," ujar Natasha.
"Oh ya?" tanya Anisa.
"Iya," jawab Natasha semangat. Kemudian Natasha melangkah menuju kamarnya.
"Mah, aku mandi dulu ya" pamit Tama.
"Iya Nak," jawab Anisa.
"Nanti ya sayang, Daddy mandi dulu," pamit Tama pada putrinya.
"Iya Daddy," jawab Felly.
Tama melangkah menuju kamar, dan langsung menutup rapat pintu kamarnya, dia menatap pantulan dirinya di cermin.
Di meja nakas, Tama melihat foto-foto dirinya dan teman-temannya, yang berati ada Kanaya juga. Tama mengambil foto, namun hanya ada satu wajah yang Tama pandangi lekat-lekat.
"Kanaya, setelah 5 tahun kamu pergi, kini kamu sudah kembali, tapi aku malu Kanaya," Tama menunduk dalam, "semua kebodohan ku yang membuat kamu pergi, aku menyesal," Batin Tama, dia menaruh kembali foto itu di tempatnya, lalu berlalu menuju kamar mandi.
Di sisi lain, Kanaya Kanaya masih terus menantikan chat dari Nando, tapi lelaki itu sama sekali beluk mengirimkan pesan, akhrinya Kanaya mencoba mengirim pesan menanyakan keberadaan Nando, namun tetap tak ada jawaban.
"Apa Nando sedang istirahat? Mungkin dia kelelahan," ujar Kanaya mencoba berpikir positif.
Keesokan harinya Kanaya Terkejut, karena Nando sudah datang dan mengatakan ingin mengantar kan Kanaya ke rumah sakit tempat Kanaya bekerja, tentu saja Kanaya mau, setelah sarapan bersama, Kanaya dan Nando pun langsung berpamitan dan berangkat.
"Kamu kemarin kemana? kok aku chat nggak dibales?" tanya Kanaya.
"Maaf ya sayang, aku kelelahan, jadi aku tidur cepat," jawab Nando.
"Ohh begitu," ucap Kanaya seraya tersenyum.
"Oh iya, kamu tahu nggak, aku kerja di tempat Rania loh," ucap Nando tersenyum.
"Oh ya? wah bisa kebetulan banget ya?" ucap Kanaya.
"Iya sayang, ya seenggaknya aku jadi udah punya temen deh," ucap Nando.
Namun dalam hati Kanaya, dia takut kalau Nando dan Indira menjadi dekat, tapi Kanaya buang jauh-jauh pemikiran itu, Kanaya percaya kepada Nando dan Indira, apa lagi Indira adalah sahabat nya sedari kecil, jadi tidak mungkin Indira merusak kepercayaan nya.
Akhirnya mobil pun sampai di depan gerbang, Kanaya pun berpamitan kepada Nando, tak lupa dia memberikan semangat kepada Nando, begitu juga sebaliknya, Kanaya melambaikan tangan nya ke arah mobil Nando yang mulai melaju.
Rupanya hal itu disaksikan oleh Tama dan juga Natasha. Natasha langsung menghampiri Kanaya untuk menanyakan siapa yang mengantarkan Kanaya tadi.
"Kak, tadi siapa?" Tanya Natasha penasaran.
"Tadi? Pacarku" jawab Kanaya.
"Oh begitu, ya sudah ayo kak masuk ... Kak Tama aku masuk ya," ucap Natasha kepada kakaknya. Dan respon Tama hanya menganggap sebagai jawaban. Kanaya juga sempat tersenyum ke arah Tama, meskipun hanya dibalas tipis oleh Tama serta anggukan kepala.